June 09, 2011

Bukan Milikku Lagi

Pastikan kamu selalu ada untuk mereka yang kamu kasihi, sehingga saat mereka pergi, tak akan ada kata-kata sesal. Yang ada adalah BANGGA karena telah memiliki serta mengenal orang terkasih, walau hanya sesaat saja waktu yang Tuhan berikan untuk memiliki..   .quote by glo.
...

 Seorang sahabat papa menulis dalam notes pada akun jejaring sosialnya, tulisan indah yang membuat saya semakin BANGGA pernah memiliki papa yang luar biasa. Tulisan saat beliau mendengar papa sakit.
...

Berapa orang dari kita yang ada di sini mengenal seorang bernama WIDIHADI?
Aku nyaris melupakannya. Namun beberapa hari lalu Batara mengingatkanku atas dirinya dengan mengabarkan bahwa Widi sakit. Ingatanku langsung pulang ke 1980, saat Widi bekerja di Prambors Rasisonia sebagai operator merangkap Asisten Teknik. Anak lugu. Tidak bertipe ibukota. Banyak kenangan bersamanya.

Mendengar dia sakit, aku langsung menghubungi istrinya, Tiur. Singkat cerita, Tiur mengabarkan, mereka kini sudah kembali ke rumahnya di Semarang, setelah beberapa waktu Widi dirawat di Rumah Sakit Solo. Aku sengaja menghubungi Tiur, karena dari Batara aku mendapat kesan bahwa penyakit yang diderita Widi sangat berat. Dia sudah tidak bisa lagi berdiri dan duduk, hanya berbaring saja di tempat tidur, begitu setiap hari.

Tiur banyak bercerita.

Kata istrinya ini, menurut dr. Mika Tobing SpPD, hasil pemeriksaan laboratorium Widi di Solo menunjukkan ada:
1. Tumor di bahu yaitu di persendian peluru antara bahu dan lengan.
2. FNA Plasma Cell Myeloma (GANAS)

Sementara menurut hasil pemeriksaan laboratorium di Semarang yang diikuti dengan bone survey (pemeriksaan tulang) menunjukkan adanya:
1. Makroscopic – Keping2 jaringan + -1cc
2. Microscopic – Sediaan biopsi FNAB menunjukkan kelenjar limfe mengandung banyak sel plasma atipik.

Jadi kesimpulan penyakit Widi adalah: Myeloma Multiple
Hasil pemeriksaan bone-survey: Seluruh tubuh sudah kena, bahkan pada tulang tengkorak pun sudah ada.
Saran tindakan: Pengecatan IHC untuk konfirmasi.
Tindakan: Sejak 8 November 2010, Widi sudah menjalani pengobatan terapi Myeloma Multiple dengan penggunaan obat-obat seperti Melphalan, Prednisolone, Zometa.

Ini adalah data-data medis yang dikirim Tiur lewat SMS. Sementara secara lisan dia dengan terbata-bata mengabarkan bahwa kondisi Widi sudah memburuk. Tanpa mendahului Yang Maha Kuasa, dokter memprediksikan bahwa kans Widi untuk bertahan hidup hanya sekitar 26 persen. Sangat mengharukan!

 Aku saat itu menjaga sikap agar tidak bicara langsung dengan Widi, karena selain kondisinya lemah, dia selalu terbaring dan tidur. Aku khawatir dia akan letih. Juga khawatir dia tersentuh dan ‘broke into tears’. Apalagi besar kemungkinan Widi sendiri tidak mengetahui secara lengkap kondisinya. Aku juga pasti akan mengalami kesulitan berkata-kata, karena kondisi Widi yang ringkih bisa membuat dia jadi sensitif.

Tapi pagi tadi Tiur menelpon dan mengatakan Widi ingin bicara. Aku tergetar. What should I say?Namun ketika kami sudah mulai bersapaan, aku memperoleh kesan bahwa Widi tetap Widi yang dulu. Logat Jawa-nya masih kental, kalimat-kalimatnya masih panjang dan irama bicaranya masih penuh semangat. Sulit untuk mendeteksi penderitaannya lewat suara. Kalau tidak mendapat informasi awal dari istrinya, aku akan beranggapan bahwa Widi is fine-fine saja.

Kami pun mengobrol tentang segala. Widi bilang bahwa dia tidak bisa berdiri dan duduk. Cuma tidur telentang tanpa dapat bergerak, terutama ke arah sebelah kiri. Punggungnya sudah mulai lecet karena lembab. Tapi masih memiliki spirit of life. Saat ini dia dirawat di rumah, karena biaya untuk rumah sakit sangat tinggi dan tidak terjangkau. Sewaktu di RS Solo dia sudah keluar uang sekitar Rp. 25.000.000.- Di RS Semarang sekitar Rp. 30.000.000.-

"Susah, Har!” katanya. “Selama ini mesin uang keluarga ini kan aku, jadi ketika mesinnya rusak, maka tidak ada lagi uang masuk. Mobil sudah kujual untuk biaya obat.”

Aku berpikir. Mudah-mudahan perawatan di rumah yang dianjurkan dokter semata-mata untuk langkah penghematan. Bukan karena dokter sudah menyerah terhadap penyakit Widi. Kini dia dirawat dokter tetangganya yang berjarak tiga rumah dengan perawat-perawat yang terdiri dari mahasiswa/i kedokteran.
“Jadi berapa biaya yang harus kau keluarkan sebulan untuk perawatan / pengobatan?” tanyaku ati-ati.
“Ya, sekitar 15 sampai 20juta-lah,” jawab Widi. “Aku susah, Har!”

Oh ya, perlu kusampaikan bahwa kekerabatanku dengan Widi sejak di Prambors memang tercipta dengan keterusterangan dan keterbukaan. Sebagai sesama pekerja/karyawan di Prambors, kami sering berdebat, berkelahi, bersuka dan berduka. Tidak ada rahasia Widi yang aku tidak tahu. Bahkan ketika sama-sama sudah tidak di Prambors lagi, kami masih sering bertemu, apalagi waktu dia masih tinggal di Cibinong yang dekat dengan rumahku di Bogor. Aku juga pernah beberapa kali berangkat bersama Widi ke luar kota, misalnya Kutai Kertanegara, Pekanbaru dan kota-kota lain untuk urusan radio. Jadi bicara hal-hal yang sensitif seperti uang, bukan hal yang tabu bagiku dan Widi.

Begitupun, sebagai teman aku harus menjaga martabatnya. Apalagi Widi masih punya pride dan marwah. Dia tidak minta uang. Dia tidak minta bantuan. Dia hanya mau minta maaf. Tiur mengingatkannya untuk meminta maaf atas kesalahan / keteledoran / kealpaan yang pernah dilakukannya, secara sengaja atau tidak sengaja. Keluarga pemeluk teguh ini ingin meminta maaf kepada kita semua. Tentu kita semua mafhum atas arah tujuan tindakan ini dan mengapa ini perlu dilakukan oleh keluarganya.

Pride dan marwah Widi kemudian lebih mengemuka ketika SMS-nya masuk saat aku sedang mengetik tulisan ini. Maaf, begini bunyi persisnya: “Har, yg perlu diingat, aku awalnya hub. Malik untuk minta MAAF, bukan minta DIKASIHANI. Aku minta dikasihani hanya pada Tuhan yg mempunyaiku saja.” 

Akupun merasa terbentur dan terhuyung-huyung di hari Minggu ini. Kepalaku seakan di-jedot-kan berulang-ulang ke dinding besi. Widi pernah menjadi bagian dari hari-hariku dalam hidup yang cuma satu kali ini. Aku sering tersenyum melihat tingkah lakunya, sering tertawa mendengar logat bicaranya, sering nakal mempermainkannya. Widi, tak bisa disangkal, telah mewarnai radio (kita) di masa lalu. Dengan gadget buatannya, Prambors pernah melejit tinggi dalam acara ‘Anu-nya Kamu’, karena dengan alat buatannya, para pendengar bisa berinteraksi langsung dengan penyiar di studio.

Ini sejarah besar! Sebelum hari itu tidak ada radio di Indonesia yang bisa melakukan acara interactivekarena gadget untuk berkomunikasi itu belum pernah diproduksi manusia.

Kemudian, karena pada saat itu pendengar-pendengar kita juga masih brutal dan sering mengucapkan kata-kata kotor lewat proses interaktif itu, Widi lantas menciptakan delay device (perangkat tunda) untuk menyensor ucapan pendengar. Dengan menggunakan echo-tape yang biasa dipakai group band jadul, Widi membuat operator radio bisa lebih dulu mendengar ucapan pendengar, beberapa detik lebih dulu dari audience lain, sehingga operator kita di Prambors bisa menyensor kata-kata yang tidak senonoh.

Kita memang sering lupa pada hal-hal kecil. Dan celakanya, kita juga tanpa sengaja atau sengaja melupakan hal-hal besar, menilai itu hanya sebagai kewajaran. Dan kita sering merasa bahagia atas itu. Aku juga merasa semua itu OK-OK saja.

papa, november 2010, sewaktu biopsi
Tapi ini hari kebahagiaanku terusik. Ketika sedang duduk senang menikmati kopi di Coffee Bean, aku tak bisa menolak berpikir tentang Widi yang terbaring tanpa daya. Itulah yang membuat aku lantas menularkannya, agar kebahagiaan teman-teman lain juga terusik. Apa boleh buat, maaflah.

Maukah kita mengecualikan sedikit kesenangan kita dan mengorbankan sedikit kenikmatan hidup kita, untuk memikirkan Widi? Untuk kemudian membantunya? Mungkin kita juga bukan orang-orang yang berlebih, sebab masih punya kebutuhan yang belum terpenuhi. Hidup kita juga masih megap-megap. Tetapi di saat ini, kita masih lebih beruntung ketimbang Widi. Dia butuh uluran tangan untuk bisa bertahan hidup.

After all, ini cuma tulisanku. Bukan himbauan. Apalagi permintaan. Dan bukan tagihan. Ini adalah getar hati sesaat setelah berbincang dengan Widi lewat HP. Tapi bagaimana cara membantu Widi? Dua hari lalu Batara sudah menyampaikannya di FB. Jika cara yang diusulkan Batara itu adalah cara yang terbaik, mari kita sama-sama berada di situ untuk membahagiakan jiwa kita.

Sebab, jika kita ingin bahagia satu jam, pergilah tidur. Jika kita ingin bahagia satu hari, pergilah memancing. Jika kita ingin bahagia satu minggu, pergilah berlibur. Jika kita ingin bahagia satu bulan, habiskanlah harta. Jika kita ingin bahagia satu tahun, kawinlah lagi. Tapi jika kita ingin bahagia untuk waktu yang panjang, bantulah orang lain. Bantulah Widi, teman kita.

Belantara Hujan, Minggu 21 November 2010
(*i copied this note from here)
...

Membaca tulisan sahabat papa, saya bangga. Saya tahu sedari dulu kalau papa pernah bekerja di Prambors, tapi saya baru tahu bahwa papa jugalah orang dibalik sukses Prambors masa itu. Papa tidak pernah cerita masa lalu "gemilang" nya dulu. Justru saya tahu dari banyak orang bahwa papa adalah pekerja keras. Dua bulan yang lalu misalnya, papa tetap ngotot pergi ke Lombok mengerjakan sebuah proyek radio karena diminta oleh Walikota, papa bersedia, dan alasan "kebersediaan" papa adalah KAMI, istri dan anak-anaknya.
Atas nama keluarga dan almarhum papa, saya mengucapkan terimakasih dan maaf kalau papa pernah menyakiti teman teman Radio se Indonesia. Mungkin ada yang belum kami kabari kalau papa sudah tiada, itu semua karena keterbatasan kami menghubungi semua link papa yang banyak sekali jumlahnya. 
Papa sudah senang di sana, tak ada lagi penderitaan yang mendera. Dan semoga kami keluarga dapat meneladani sikap pekerja keras serta bertanggung jawab yang papa miliki, terlebih saya sebagai anak pertama, mampu menjadi senyum bagi mama dan adik-adik. Perjuangan papa tidak berhenti sampai di sini.

much thanks for you all,
glo
...

PS : saya juga berterimakasih untuk Radio Trax FM dan mas Udin yang turut menghantar papa sampai peristirahatannya yang terakhir. Walau sebentar saja papa bekerja sama dengan Trax FM, tapi saya yakin papa senang punya teman dan sahabat yang baik disana. Terimakasih juga untuk Amalia dan Paramita ya :) semua teman2 blogger yang sudah support dan doa, big kiss for you all :*

10 comments:

amalia khoirun nisa said...

i made something for you. nnti aku kirm via email ya :D

gloriaputri said...

email? woke...aq tunggu yaaa

Enno said...

speechless.
terharu setengah mati membaca ini....

be tough ya glo :)

l i t a said...

I burst in to tears, Glo.

Wuri SweetY said...

GANBATTE Glo chan!!!!
Aku yakin kamu pasti bisa menjadi kebanggaan keluarga.

Hans Brownsound ツ said...

hug you dear. :|

gloriaputri said...

@enno : iya mba, keadaan memaksaku untuk terlihat tegar :) tengkyu ya

@lita : waduh mba lita jgn nangis :( nanti aq ikutan nangis :)

@wury : aq mau buat papa bangga sama aq, tengs ya wur

@hans : thank you hans, melegakan bgt pelukannya

Dania Adela said...

HUG SUPER TIGHT!! KISS FROM HEREEEEE :* be though yaaaaa :')

bandungboutique said...

Hello!lets be friend and follow each other! would you mind to exchange link with me?

gloriaputri said...

Hai Dania :) thank you yaa

@bandung boutique : let me check ur site first ya

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...