February 11, 2021

Dua Telinga Satu Mulut - KAMISAN 11.02.202

Kita semua pernah memiliki pengalaman seperti itu, dan dengan malu mengakui bahwa kita juga pernah membuat orang lain kesulitan karena tak berhasil-berhasil menemukan topik yang menarik minat kita. Ini satu persoalan yang mesti guru pertimbangkan. Ada ribuan topik yang bisa kita pelajari secara memadai sampai bisa membicarakannya secara cerdas; tapi kok kita malah menyiapkan kertas ujian dengan pertanyaan komprehensif yang umum, sehingga yang para siswa kita cari sebatas informasi sepotong-sepotong supaya bisa menuliskan jawaban esai yang ala kadarnya? ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.261

Sampai sebelum diskusi, saya meyakini bahwa mudah saja bagi seseorang dengan karakter ekstrovert untuk memulai sebuah pembicaraan - jauh lebih baik daripada orang - orang dengan karakter introvert. Namun, dalam bahan bacaan diskusi kali ini, Charlotte Mason menegaskan sekali lagi pentingnya pengetahuan dalam kehidupan sosial kita - jelas sudah mengapa memberikan pertanyaan komprehensif (yang minggu lalu dibahas), menjadi kurang relevan dalam membangun kemampuan anak seperti kemampuan sosialnya. Saya membayangkan percakapan orang yang terbiasa menjawab soal komprehensif seperti ini :

A : "wah, kamu kerja dimana?"

B : "di kantor bla bla..., kalo kamu?"

A : " aku di bla bla bla."

Lalu saat A dan B sama sama hanya memiliki kemampuan komprehensif, maka pembicaraan hanya sebatas tanya jawab saja, tanpa relasi mendalam (apalagi jika tujuannya mengobrol adalah untuk bonding, maka bonding tersebut tidak akan terjadi - terbayang dalam benak saya kalau Keona kelak pacaran dan hanya punya kemampuan komprehensi, ya kira-kira percakapan dengan pacarnya hanya seputar tanya jawab "uda makan belom?" :D - membagongkan kalau istilah anak muda jaman sekarang).

picture from here

Belum cukup di situ, saat diskusi saya juga mencatat skill penting yang sama pentingnya selain pengetahuan itu. Sepanjang diskusi hari ini, saya merenungkan tentang mengapa Tuhan menciptakan lebih banyak telinga daripada mulut - terutama saat saya "curhat" tentang kesulitan saya menjalin komunikasi dengan orang yang memiliki interest  yang berbeda dari saya. Saya cenderung menghindari obrolan yang "menurut saya" hanya bersifat "ngomongin orang" - lebih baik tidak ikut-ikut lah. Namun diskusi tadi mencerahkan :)). Dalam sebuah obrolan, penting bagi kita menentukan tujuan obrolan tersebut, maka jika tujuannya adalah untuk menjalin relasi yang baik, tidak ada salahnya jika kita tetap memberikan telinga untuk mendengarkan meskipun obrolan tersebut terasa tidak nyaman. Di situ saya merenung "oh iya bener ding, makanya Tuhan kasih 2 telinga satu mulut karena supaya manusia bisa lebih banyak mendengarkan daripada bicara - hal yang kadang orang-orang ekstrovert macam saya lupakan saat mengobrol dengan orang lain. 

Maka, menyeimbangkan seluruh organ saat mengobrolpun juga bisa menjadi hal yang esensial.

Jangan hanya mau didengar, tapi coba mendengarkan.


lagi-lagi tertampar, tertohok, dan tertusuk, terima kasih diskusinya kawan-kawan



February 04, 2021

Tidak Merendahkan Anak (part 2) - KAMISAN 04.02.202

Asalkan bukunya berkualitas sastrawi dan tepat untuk usianya, anak-anak akan tahu cara mencernanya tanpa harus dijelas-jelaskan. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 260

Seakan menegaskan sekali lagi, pada bagian inipun Charlotte Mason mengingatkan bahwa ceramah tidaklah diperlukan untuk anak - asal sudah "disuguhi" buku berkualitas sastrawi cukup.

Tentu saja mereka tidak akan bisa menjawab pertanyaan komprehensi, karena pertanyaan seperti itu adalah bentuk sikap meremehkan yang semua kita benci, tapi mereka akan bisa menceritakan padamu semua isi buku itu dengan sedikit sentuhan pribadi individual dalam narasi mereka.  ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 260

Kemudian kalimat berikutnya seakan menampar saya. Komprehensi - sebuah kegiatan yang selama ini selalu saya lakukan dengan tujuan "tahu sampai dimana pemahaman anak" - ahhh dan ternyata itu salah, itu merendahkan anak. Diskusi tadi siangpun membawa pada ingatan semasa masih sekolah, saat stereotype "hafalan" menempel pada subjek-subjek ilmu sosial seperti Sejarah misalnya. Setelah dipikir-pikir, stereotype itu ada karena soal ujian yang kebanyakan bersifat komprehensi itu - maka siswa merasa terbeban merasa "harus menghafal". Tertawa dalam hati saya berpikir "pantas saja, saya dulu anak IPS tapi tidak suka menghafal dan pelajaran yang terasa seperti menghafal - ternyata penyebabnya adalah soal-soal komprehensi itu yang membuat saya merasa terbeban - yang justru malah saya teruskan ke siswa maupun Keona sampai kemarin. Di akhir narasinya, saya masih sering "bertanya" mengenai bacaan - untung hari ini tertegur. Semoga belum terlambat bagi saya mengubah kebiasaan komprehensi ini, karena kalau dipikir-pikir, dampak jangka panjang yang saya alami sangat buruk. Dulu, saat SD-SMP, saya dapat menghabiskan novel-novel tebal hanya dalam 2-3 hari, namun sejak SMA saya butuh lebih dari seminggu bahkan untuk buku yang tipis saja, dan belum lama, saat membaca Pendidikan Yang Memiskinkan tulisan Pak Darmaningtyas saja saya butuh 4 hari untuk satu bab karena terbiasa membaca dengan beban "menghafalkan" saya jadi lambat karena melihat angka-angka tahun serasa baca buku pelajaran Sejarah dan mau ulangan - hahahaha.... 

Biarkan anak itu membaca dan menjadi tahu, dalam arti, kalau diminta dia bisa menceritakan kembali yang dia telah baca.  ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 261

Jadi, kalau efek jangka panjang yang saya alami sudah seburuk itu, saya tidak bisa membiarkan efek yang sama "merasa bersalah kalau tidak hafal" membebani Keona kelak. Sayapun harus berlatih menahan diri untuk tidak memberi pertanyaan yang bersifat komprehensi mengenai bacaan. Maka kemudian muncul pertanyaan, "kemampuan dasar apa yang perlu dimiliki fasilitator dalam mendampingi anak membaca?" - untuk saya saat ini, hal yang perlu saya latih adalah kemampuan menahan diri bertanya komprehensi tentang bacaan, skill dasar yang kalau saya luput, efek jangka panjangnya besar.

picture from here


Perlakukan anak-anak dengan metode ini, akal budi bertemu akal budi; bukan akal budi guru bertemu akal budi anak,–– itu malah berarti mendesakkan pengaruh yang tak semestinya, melainkan akal budi dari para pemikirlah yang harus bertemu dengan si anak, akal budi bertemu akal budi, lewat buku-buku mereka, sementara guru menjalankan peran elegan memperkenalkan akal budi antusias pengarang di satu pihak dengan akal budi antusias anak di pihak lain.  ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 261

Kutipan di atas jadi kesimpulan refleksi saya sore ini - tidak merendahkan kemampuan anak dengan memberi pertanyaan yang bersifat komprehensi dan juga membiarkan anak bertemu guru yang sesungguhnya yaitu si pengarang buku.



 

January 28, 2021

Berjalan dalam Iman - KAMISAN 28.01.2021

Kita telah berhenti beriman pada akal budi, dan walaupun kita tidak bicara terus terang bahwa “otak mensekresi pikiran sama seperti liver mensekresi empedu”, tapi tetaplah otak jasmaniah dan bukannya akal budi spiritual yang menjadi sasaran kita dalam pendidikan; karena itu “materi duduk di pelana dan menunggangi umat manusia”,  dan kita berbalik mengimani bahwa ide atau pengetahuan tak akan bisa menjangkau akal budi anak-anak. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 259-260

Di awal karier saya sebagai seorang guru, saya hanya bermodalkan "suka anak-anak" dan mengimani bahwa anak adalah ember kosong atau kertas kosong. Yang saya tahu dan saya imani waktu itu bahwa sebagai guru, saya berperan menjadi krayon warna - warni yang mengisi si kertas kosong tadi dan berprinsip bahwa jika warna yang saya coretkan tidak baik, maka bekal masa depan anak itupun juga tidak baik.  Iman yang salah itu akhirnya membawa saya jauuh dari hakikat anak sesungguhnya yaitu children are born persons. Saya selalu berupaya "menyuapi" anak karena khawatir ilmu pengetahuan yang saya sampaikan tidak dapat menjangkau akal budi mereka, sehingga ceramah panjang dan rentetan kegiatan yang fun akhirnya menjadi modal saya dulu mengajarNamun kemudian, prinsip tersebut justru membuat saya kelelahan - bagai krayon yang mulai patah, dan sumur yang mulai kering tak bisa lagi mengisi si ember kosong - exhausted

Namun seorang guru tentu tidak digerakkan oleh kesombongan, melainkan oleh hasrat untuk melayani. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 260

Sadar bahwa modal saya "suka anak-anak" kurang untuk menjadi guru, maka saya membuka diri untuk belajar - ditawari berbagai macam pelatihan saya selalu "iya", "mau". Tujuan awalnya memang karena sadar bahwa modal saya kurang, saya ingin memperlengkapi diri untuk dapat melayani anak-anak itu. Sayangnya, tujuan itu waktu itu tidak disertai dengan sikap kerendahan hati. Setelah sadar bahwa "ilmu" yg tadinya untuk memperlengkapi diri berubah menjadi kesombongan, saya butuh dua tahun untuk mendetoks kesombongan - merasa sudah tahu lebih banyak dibanding di awal saya menjadi guru - tahu banyak metode, tahu bahwa anak bukan kertas kosong, dsb. Saya tersesat untuk kedua kalinya. 

picture from here

Imanilah akal budi dan biarkan pendidikan menyambar langsung bagaikan petir ke akal budi siswa. Konsekuensinya, buku-buku harus digunakan, karena siapa yang berani menyombong bahwa dia mampu mengajarkan semua mata pelajaran dengan kurikulum lengkap dengan pemikiran yang orisinil dan pengetahuan yang tepat seperti yang ditunjukkan oleh para penulis buku yang menulis tentang bidang yang mereka geluti seumur hidup? ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 260

Berjalan di jalan yang salah sebanyak dua kali itu melelahkan. Saya harus berputar balik ke jalan awal untuk dapat menemukan jalan yang benar. Kalaupun sekarang sudah mulai berada di jalur yang benar, tetap saja jalannya tertatih karena benturan untuk menjadi rendah hati dan membuka diri untuk menjadi pembelajar abadi membuat langkah yang diambil menjadi tidak ringan - belum lagi usaha untuk mengendalikan diri sendiri yang terus masih harus dilatih. Setiap orangtua memiliki kesulitannya sendiri - saat mendengar Bu Ellen mengatakan hal itupun saya juga merasa bahwa memang kita tidak seharusnya menggunakan alat ukur yang sama untuk membandingkan diri sendiri dengan orangtua yang lain - sama halnya ketika saya memutuskan untuk tidak membandingkan Keona dengan anak lain, karena tentu saja perkembangan tiap anak pasti berbeda. Satu hal yang membuat saya lega adalah saat ini saya memiliki teman seperjalanan sehingga jalan panjang menemani Keona dalam proses belajarnya menjadi terasa lebih ringan. 

Terima kasih kawan-kawan CMid Semarang untuk diskusinya yang menggetarkan jiwa hari ini, 




January 14, 2021

Tidak Merendahkan Anak - KAMISAN pertama 2021

Dalam pengajaran sains juga kita perlu menyadari bahwa jalan menuju rahasia-rahasia alam bukanlah melalui kawat berduri teori-teori yang bergulung-gulung rumit sebagaimana biasanya diajarkan, melainkan lewat terjun ke lapangan (field work) atau cara-cara pengamatan langsung lainnya, disertai ilustrasi dan pencerahan dari buku-buku sastrawi. ~ Charlotte Mason - vol 6, hlm. 256

Keracunan sekolah yang sempat dibahas dalam diskusi hari ini, saya definisikan dengan terbiasa membaca buku pelajaran sekolah dan terbatas paham teori saja. Jika mundur kembali ke masa persekolahan dulu, saya tertawa saat mengingat diri saya sendiri membaca buku paket olahraga, menghafal berapa panjang dan lebar lapangan badminton serta teori lainnya yang porsinya jauh lebih banyak daripada prakteknya. Buku yang dibacapun hanya sekedar membeberkan fakta tanpa disertai penulisan sastrawi. Lalu, saya juga jadi teringat beberapa waktu lalu juga sempat berbincang tentang Sejarah Joseon Raja CheolJong dengan teman masa sekolah dulu. Betapa lucunya saat mengingat buku catatan sejarah saya dibuang oleh Guru Sejarah karena ketauan dipakai mencontek :)) ya, akibat terbiasa membaca fakta pendek dan sekedar menghafal lalu lupa, membuat saya sampai hari ini masih berjuang untuk dapat comprehend terutama saat sesi membaca bersama Keona :D saya berjuang.

Bersyukurnya, buku-buku yang disebut living book itu memiliki kata-kata yang tidak disederhanakan agar dapat ditelan oleh anak. Dengan begitu, sayapun belajar, karena banyak kata-kata yang lalu kemudian menjadi pertanyaan bagii Keona "ini artinya apa ma?" atau "itu apa ma maksudnya?". Saya bersyukur karena meski tertatih berlatih kemampuan comprehend tadi, setidaknya melalui diskusi diskusi kami, selain bonding, kami juga belajar banyak hal.

Kita pikir kita akan lebih didengar kalau kita mengulang-ulang dan menekan-nekankan, menjelas-jelaskan dan bercerita panjang lebar. Semua itu kita lakukan bukannya karena kita suka mendengar suara kita sendiri, tapi kita merendahkan pengetahuan, kita merendahkan anak-anak, dankita tidak paham bahwa akal budi dan pengetahuan adalah dua tapi satu yang terikat bagaikan bola mata dan rongganya, tidak bermakna jika berdiri sendiri-sendiri. ~ Charlotte Mason - vol 6, hlm. 258

Lalu, jika kitapun sudah memilih untuk belajar dan melalui proses belajar mengajar menggunakan buku-buku yang hidup yang disertai bahasa sastrawi tadi dengan alasan buku tersebut tidak merendahkan anak, maka kali ini pertanyaannya kembali ke diri sendiri sebagai teman anak belajar. 

"Jika buku ini tidak merendahkan anak dengan menggunakan kata dan kalimat yang seperti bubur sudah dikunyahkan dulu, apakah lantas kita juga sudah tidak merendahkan anak? Mengunyahkan buku yang ia baca agar mudah ia telan?"

 Sepanjang diskusi, saya memikirkan pertanyaan ini (beruntung hari ini peserta diskusi banyak ya, jadi perenungan saya bisa dalam sambil tetap mendengarkan narasi teman-teman, hehehe). Seringkali tanpa saya sadari, sayapun "mengulang ulang" sebuah penjelasan karena merasa Keona belum paham. Wah... rasanya dengan begini, saya tertegur secara tidak langsung untuk tidak mengulanginya.

pict from here

Seberapa kaya diet bagi akalbudi ini telah aku sampaikan dan kita ingat betapa Dr. Arnold mendesak disediakannya “bacaan yang sangat bervariasi” di ketiga bidang pengetahuan: pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan tentang manusia, dan pengetahuan tentang alam semesta. Charlotte Mason - vol 6, hlm. 257

Pada akhirnya (sebenarnya itu bagian tengah bacaan ding, cuma sengaja saya letakkan di akhir supaya jadi kesimpulan akhir), Charlotte Mason menegaskan sekali lagi  bahwa bacaan yang diberikan ke anak harus bervariasi di seputar pengetahuan tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta. 


Selamat menjalani tahun 2021 dengan membaca dan mendampingi anak ya (ngomong ke diri sendiri - dan ke yang baca juga boleh, hehehe),



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...