February 26, 2011

Arti Sebuah Koma

Aku tak pernah percaya pada peribahasa 
"Kita baru akan menyesali keadaan, ketika seseorang / sesuatu yang kita sayangi pergi."
Bagiku peribahasa itu terlalu naif. aku pikir hanya orang bodoh yang beranggapan seperti itu. Buat apa kita menyesali sesuatu yang sudah pergi. Lalu apa arti waktu yang pernah ada untuk saling mengisi????
tapi......

...

"Hey Muth, lagi sibuk gak?" tanyaku pada Muthia yang sedang mengobrol di tangga kampus. "Ummm, ngga koq, ada apa?" Muthia menjawab sambil menghampiriku.
"Gini, gw maw cerita, soal..... Aji". Muthia tertawa mendengarku, "memangnya ada apa lagi?"
Mungkin bagi Muthia masalahku adalah masalah sepele, tapi buatku masalahku membuatku bukan lagi seperti Rea yang dulu. Oh ya, namaku Rea, aku dan Muthia sudah bersama sama sejak semester 1 di Universitas dan Fakultas yang sama. Saat ini kami sama-sama semester IV.
Kami menemukan tempat yang nyaman untuk bercerita, dan "gw bingung Muth, gw gak pernah bisa jujur sama perasaan gw sendiri. Aji mempermasalahkan DIAM ku. Menurut lo, gw salah?"
Muthia tampak berpikir sejenak, kemudian, "menurut gw ya elu salah Re, Aji uda beritikat baik, dia jujur sama lo, lalu kurang bukti apa lagi, dan apalagi yang masih membuat lo sendiri takut untuk jujur?"

...

Perkataan Muthia tadi siang di kampus memenuhi benakku. Apa mungkin seorang Rea jatuh cinta pada Aji?? Aji yang selama satu bulan ini sudah mengisi hari hariku, Aji yang selama ini menyayangi seorang Rea, Aji yang...   ahhhhhhhhhh, banyak hal tentang Aji, termasuk sosoknya yang jujur apa adanya itu. Haruskah seorang Rea yang kali ini harus jujur?

...

"Hai Re, gimana?  udah jujur sama Aji soal perasaan lo?" sepertinya Muthia membaca raut wajahku, karena tiba tiba, "pasti belum yaaaa??? wah payah lu? Mau sampe kapan? Kasihan Aji dong kalo terus terusan lo bohongi dengan perasaan lo sendiri!!"
"Gimana dong Muth? gw gak bisa!" "Gw terlalu takut dengan arti berkomitmen...salah ya kalau gw takut?" Muthia membalas, "Ngga salah sih, tapi mau sampe kapan? Kasihan Aji lo!! Katanya lo gak mau kehilangan dia, tapi kalau terus terusan kayak gini lo bisa aja suatu saat kehilangan dia!"

...

Aku merenungi perkataan Muthia beberapa siang lalu saat di kampus, tapi terlambat, aku melewatkan waktu yang ada.
Kini aku hanya mampu melihat tubuh tak bergerak itu, tidak ada lagi panggilan sayang untukku. Karena yang ada hanya suara suara detak jantung diiringi nafas beratnya.

...

"Re, ada telpon dari Joni," mama memanggilku. "Hey, kenapa Jon?? tumben telpon," aku tertawa membayangkan wajah lucu sahabat Aji itu, Joni adalah sahabat Aji yang menurutku punya selera humor tinggi.
"Aji, Re!!" Joni mulai bicara, "kenapa Aji, Jo?" Aku tak lagi membayangkan wajah lucu Jo, karena "Aji kecelakaan Re, dia baru menuju rumahmu untuk kasih surprise, saat sebuah mobil menabrak motornya!"  Aku kaget, tak mampu berkata kata lagi.

...

Sudah berhari hari aku disini. Duduk melihat tubuh Aji yang hanya mampu bernafas seiring detak jantungnya. Aji koma, itu yang dikatakan dokter mengenai apa yang dialaminya. Dan aku tak tau, sampai kapan Aji hanya diam tak bergerak di sini.

...

Aku kangen, Aku kangen Aji yang periang yang selalu memanggilku "babe". Sekarang yang ada hanya Aji yang terbaring tanpa bisa apa apa. Aku malu karena kini aku menyesal. Mengapa hari hari yang sudah aku lewati terlewat begitu saja. Kenapa aku tak jujur padanya? Kenapa?

...

Aku terbangung oleh genggaman di jemariku. Aji sadar dan langsung saja kupanggil dokter untuk memastikannya. Operasi yang ia jalani setelah kecelakaan itu membuatnya koma 2 minggu. Dan sekarang aku bahagia, Aji sudah sadar dari koma nya.

...

"Ji, maafin aku selama ini gakl jujur, tapi peristiwa ini membuatku semakin yakin bahwa aku tak mau kehilanganmu. Aku mau jadi pacarmu."
Aji tersenyum mendengar kalimatku, tapi sejurus kemudian senyumnya berubah jadi seringai kesakitan. Aku memanggil dokter dan suster yang kemudian menyuruhku meninggalkan ruangan, meninggalkan AJI-ku yang kesakitan tanpa kutemani.

...

"Ji, terimakasih, sudah beri warna dalam hidupku walau sebentar, dan aku tak pernah menyesali waktu yang pernah ada, karena ketakutanku sudah aku kalahkan." Sebelum pergi, sekali lagi kutatap nisan itu, "Selamat Jalan AJI-ku"


No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...