Showing posts with label optimistic. Show all posts
Showing posts with label optimistic. Show all posts

July 31, 2020

Aku Mengingat Tanggal Bukan Karena Sakit Hati

"Dia kan keluar karena sakit hati tuh"  
"Kamu jangan kumpul sama dia, nanti ketularan pahit" 
...

Aku mengingat tanggal bukan berarti aku dendam.
15 Maret 2019, 26 Mei 2019, 29 Juni 2019, 29-30 Agustus 2019, 2 Oktober 2019, 20 Desember 2019, 27 Maret 2020, atau 
tanggal-tanggal lain menyakitkan sebelum itu yang tak mungkin kusebutkan satu persatu.

Kalau kumau, aku juga bisa menyebutkan tanggal dengan kenangan baik akanmu....
Cuma rasanya koq tak ingin ya.

Aku mengingat tanggal bukan berarti aku dendam.
Dulu, kukira mengampuni itu sama dengan melupakan
Sehingga aku menghabiskan waktuku sia-sia untuk berusaha melupakan

Aku mengingat tanggal bukan berarti aku dendam.
Menghabiskan waktu untuk melupakan justru membuat luka yang kau buat semakin lebar.
Aku tak mau begitu, jadi kubiarkan saja

Aku mengingat tanggal bukan karena aku dendam.
Kalau kamu sudah bilang begitu ke setiap orang, aku bisa apa
Yang kubisa adalah menjaga hatiku agar tidak terluka lagi, aku pergi

Aku mengingat tanggal bukan karena dendam.
Tuhan tahu hatiku, aku bahkan belajar mengampuni sejak 20 Juni 2020, aku akan ingat itu.

Aku mengingat tanggal bukan karena aku dendam.
Bukankah kita belajar tentang sejarah penjajahan Belanda dan mengingatnya?
Tapi itu tidak berarti kita dendam pada Belanda kan?



...

"As I walked out the door toward the gate that would lead to my freedom, I knew if I didn't leave my bitterness and hatred behind, I'd still be in prison." ~ Nelson Mandela

seperti kata Nelson Mandela,
dunia terlalu indah jika hanya dilihat dari
sudut pandang napi di dalam penjara,
maka, keluarlah.
picture from here


Aku mengingat tanggal bukan karena dendam,
Aku justru mengingatnya karena aku tahu 
sekarang saat mengingatnya aku sudah tidak apa-apa

Aku mengingat tanggal bukan karena dendam,
terima kasih sudah berpikir begitu, 
setidaknya bebanku lebih ringan 
karena masih ada yang berpikir begitu...

Aku mengingat tanggal bukan karena dendam,
tapi karena aku bersyukur dapat melalui masa pahit nan kelam.


March 30, 2019

(not) being perfectionist

The unexamined life is not worth living. ~ Socrates
..................................................................


Happy New Year !!!
Ini post pertama saya di tahun 2019. Akhirnya bisa mampir lagi setelah berkutat dengan “dunia nyata” yang selalu saya dambakan ketika dulu hanya sibuk di “dunia maya”.
Tahun ini, setelah pada tahun sebelumnya saya bertemu dengan banyak orang (yang menurut saya berada dalam frekuensi yang sama), saya (si tukang mikir ini) memutuskan untuk belajar selalu merefleksikan semua yang saya pikirkan, tidak berhenti sampai hanya dipikirkan, tapi kembali ke kebiasaan lama untuk merenungkannya. Jika ada dari teman sekalian yang suka berefleksi juga, mari saya ajak untuk kita memikirkannya bersama.
Well, singkatnya, beberapa hari yang lalu, saya berefleksi setelah melihat acara TV tentang memasak. Dalam acara itu, ada beberapa peserta lomba memasak yang dinilai gagal mengeksekusi tantangan sehingga mereka yang gagal ini (ada 6 orang) diminta untuk mengikuti pressure test yang mana mereka harus memasak dengan bahan yang unexpected dan alat seadanya dalam waktu hanya 60 menit saja. Dalam pressure test  tersebut, ada 2 peserta yang melakukan “kesalahan”. Kesalahan mereka sama, yaitu ayam dan bebek yang mereka masak BELUM MATANG. Reaksi kecewa juri dan peserta lain membuat saya berpikir, mereka beberapa kali mengatakan bahwa kedua orang yang gagal dan pulang ini adalah orang-orang dengan POTENSI baik, yang sebenarnya hanya melakukan “KESALAHAN KECIL” saja. Kalau dari kacamata orang biasa, memang kesalahannya “HANYA” pada inti masakan yang tidak matang, padahal yg lain makanannya ga istimewa tp kenapa lolos?
Kemudian saya teringat tentang “HABIT OF PERFECT EXECUTION” yang memang baru-baru ini saya highlight (karena sayapun merasa saya masih butuh belajar menerapkan hal ini). Perfect execution tidak sama dengan being perfectionist, OCD, atau nilai 100. Jika kita merelasikannya dengan acara TV tentang memasak ini, perfect execution itu tentang mengerjakan sesuatu dengan SEBAIK-BAIKNYA. Baik itu ukurannya apa? Ukurannya adalah POTENSI DIRI. Jadi, definisi habit of perfect execution dr hasil refleksi saya adalah MELAKUKAN SESUATU SEBAIK-BAIKNYA sesuai dengan POTENSI diri. Maka, ini berarti untuk memunculkan “Habit of Perfect Execution” ini, yang pertama dilakukan adalah mengukur potensi diri sendiri terlebih dahulu. Jika kita tahu dan sadar bahwa potensi itu belum (atau tidak ada) ada, maka sama saja dengan bunuh diri jika kita memaksakannya. Sehingga ada baiknya bagi kita untuk memapukan diri terlebih dahulu, memunculkan potensi, supaya dapat melakukan habit of perfect execution ini.
Chef juri dalam acara TV tersebut kecewa karena dua orang yang gagal dan pulang adalah orang yang sesungguhnya memiliki POTENSI, mereka mampu, namun eksekusinya TIDAK MAKSIMAL. Saya sempat berdiskusi dengan suami mengenai waktu memasak yang menurut suami sangat pendek. Namun coba bandingkan dengan peserta lain yang mampu membuat masakannya matang dalam waktu yang sama. Jadi sesungguhnya waktu bukanlah excuse untuk tidak mengerjakan tugas sebaik-baiknya jika memang kita punya POTENSI. Sama halnya dengan deadline pekerjaan misalnya, bukan berarti karena deadline yang mepet membuat tugas dikerjakan asal-asalan hanya demi memenuhi deadline saja kan?
Maka, akan menjadi wajar jika orang lain yang sudah melihat potensi kita menjadi kecewa ketika kita tidak mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Kecewa karena sudah expect sesuatu dari kita dengan potensi yang kita miliki, tapi kita tidak memenuhi ekspektasi tersebut. Rasa kecewa tersebut dapat berupa omelan, surat peringatan, dan lain-lain.
Renang pertama Keona di usia 3 tahun :)
Jika ada ibu-ibu yang membaca tulisan saya ini, mari kita relasikan hal ini pada pengasuhan anak. Jelas dengan pasti bahwa anak belum bisa menilai potensi kita untuk menjadi ibu yang baik bagi mereka (toh mereka juga tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana), tapi anak-anak dapat merasakannya. Mereka tak berdaya, berbeda dengan atasan yang mungkin bisa langsung memecat, anak akan cenderung mengekspresikan kecewanya dengan beragam cara seperti misalnya tantrum, berteriak, dan banyak hal ajaib lain yang justru akan semangin membuat ibu semakin jengkel.
Saya bukan ibu yang sempurna yang selalu memaksimalkan potensi. Tapi sebuah pengingat saya putar selalu “jika saya tahu hal yang benar namun tidak melakukannya, maka saya berdosa”, sehingga proses belajar menggali potensi tersebut akan menjadi bermakna karena saya ingin melakukan yang benar dengan sebaik-baiknya. Semoga refleksi ini dapat membuat hari-hari kita menjadi lebih baik.
Terima kasih

Selamat malam
Image and video hosting by TinyPic


PS: berikut saya post beberapa foto liburan dua minggu yang lalu ke Jogja saat merayakan ulang tahun Keona.



dan dia sudah berani
tiup lilin di samping kolam hotel, one of her bucket list


July 01, 2014

This is (not) a Fairytale. It's (not) Eternal.

The two hardest things to say in life are hello for the first time dan goodbye for the last.
- quote from here - 
 ...
Tak ada yang abadi di dunia ini, bahkan ketika kamu berjanji untuk sehidup semati bersama pasanganmu. Tak ada yang pernah tahu kan, kapan maut memisahkan. Ketika kamu memeluknya pun, bisa saja itu menjadi moment terakhirmu mendengar detak jantungnya, merasakan hembus nafasnya, di tengkukmu.
Tak ada yang abadi di dunia ini, walaupun kamu sudah berjanji, bisa saja suatu saat kamu lupa akan janjimu kan. Sesempurna apapun seseorang, akuilah bahwa ia pun pernah alpa.

Tak ada yang abadi saat Tuhan memberimu hadiah terbaik dalam hidupmu, tapi kemudian DIA mengambilnya lagi darimu.
Tak ada yang abadi, saat kamu mengucapkan "hello" , pada akhirnya akan ada "goodbye" sebelum berjumpa dengan "hello" yang lainnya.
well, tak ada yang abadi di dunia ini,
.......
.......
kecuali Tuhan......
....

picture from here


Many things happen in my (and my husband) life, which I (and him) do not understand, WHY...
The path in front of me (and him) is getting darker...is not getting necessarily 
but I (we) do believe that everything happens for a reason.
Good reason that HE prepares for me (and him), my (his) life, 
my (his) future, in the period ahead...
this...might be the saddest goodbye for me (and him)...but we do believe we'll find another hello, ahead
and again I (we) DO believe that I am (we are) not alone....
HE holds my (his) hands, and I (he) surrender my (his) life to HIM.....
Image and video hosting by TinyPic

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...