buku adalah jendela dunia,
dan membaca itu
menambah kosakata.
Tapi hari ini aku menemukan
sesuatu yang menarik,
tentang membaca, kata, dan bahasa.
Lebih lucu lagi,
Mengutak-atik bunyi,
membalik kata,
hingga Mirror of Erised
berubah menjadi Cermin Tarsah
karena bahkan 'hasrat'
ingin diberi rumah
dalam bahasanya sendiri.
Lucunya,
dibelahan bumi yang lain,
ada yang begitu fasih mengucapkan
'memanusiakan manusia'
namun melihat manusia
tak lebih dari sebuah vas
punya nilai selama belum retak.
Lebih lucu lagi,
seseorang yang lain
mengira bahwa semua waktu
adalah panggung untuk bercanda.
mengira bahwa semua waktu
adalah panggung untuk bercanda.
Seolah air mata dan tai mata
hanya dipisahkan oleh satu pilihan kata.
Lucu.
Betapa mudahnya
bahasa menjadi indah,
namun gagal menjadi hangat.
Lalu aku tersadar satu hal,
Lucu.
Betapa mudahnya
bahasa menjadi indah,
namun gagal menjadi hangat.
Lalu aku tersadar satu hal,
kemampuan berbahasa
ternyata bukan hanya tentang
seberapa banyak buku yang dibaca
seberapa indah tulisan yang dicerna
juga bukan tentang
seberapa banyak kata yang dikuasai.
Melainkan,
bagaimana bacaan dan kata yang dicerna
membuat manusia menghormati makna
membuat manusia melihat
manusia lainnya
secara utuh.
------------
sebuah obrolan di sela2 buku-buku di toko buku dengan Pramesti berbuah sebuah puisi wkwkwkkwkwk...