May 25, 2026

Perempuan Milenial

Perempuan milenial lahir
di sela dua dunia.

Dibesarkan oleh generasi
yang percaya perempuan baik
tidak banyak bertanya,
tidak pulang terlalu malam,
dan terlalu keras tertawa
untuk disebut anggun.

Tapi tumbuh di zaman
yang membuat perempuan akhirnya berani berkata:
“aku lelah,”
“aku marah,”
“aku ingin hidup untuk diriku sendiri.”

Lalu semua itu disebut
terlalu modern,
terlalu banyak teori,
terlalu standar TikTok.

Perempuan milenial belajar mencintai diri sendiri
di sela mencuci piring,
mengantar anak sekolah,
membalas pesan pekerjaan,
dan pura-pura baik-baik saja
karena hidup tetap harus berjalan besok pagi.

Memeluk anaknya erat-erat,
sambil diam-diam
masih mencoba menyembuhkan
anak kecil di dalam dirinya sendiri.

Ingin bebas,
ingin punya ruang sendiri,
ingin bisa berdiri tanpa rasa takut—
namun berkali-kali diingatkan
bahwa dunia masih sering
memihak siapa yang membawa nafkah pulang.

Perempuan milenial pernah duduk
di depan tape recorder,
mencatat lirik
Backstreet Boys
dengan tombol pause-play-pause
berulang kali,
takut ada satu kata yang tertinggal.

Dan mungkin sejak dulu
hidup memang terasa seperti itu:
mengulang banyak hal,
mengoreksi diri berkali-kali,
berusaha menjadi cukup
untuk semua orang.

Terlalu modern untuk diam,
terlalu diajari bertahan
untuk benar-benar pergi.

Mengerti tentang healing,
boundaries, self worth,
namun masih merasa bersalah
saat memilih dirinya sendiri sebentar saja.

Perempuan milenial hidup
dengan banyak kontradiksi di kepalanya.
Kuat, tapi lelah.
Mandiri, tapi tetap bergantung pada banyak hal.
Ingin sederhana,
namun tumbuh di dunia
yang terus menuntut lebih.

Meski begitu,
ia tetap menemukan tenang
di hal-hal kecil:
teh hangat yang diminum pelan-pelan,
bau baju yang baru dijemur,
tawa anak-anak di ruang tengah,
dan keyakinan kecil
bahwa mungkin—
generasi setelahnya
tidak perlu sekeras ini
untuk merasa berharga.

picture from here

Untuk semua perempuan milenial, dari seorang perempuan milenial,



May 14, 2026

Bahaya dalam Kerajaan Jiwa - Kajian, 13 Mei 2026 (Bab 2, Vol. 4)

picture from here

tentang hal-hal kecil yang diam-diam menguasai manusia

Kadang kita membayangkan jiwa manusia sebagai sesuatu yang indah dan megah, penuh kemungkinan, penuh kehidupan. Namun seperti kerajaan mana pun, ia juga bisa retak dari dalam. Dan sering kali, kerusakan itu tidak datang sekaligus. Ia datang pelan-pelan, dari hal-hal yang dibiarkan.

Ada masa ketika seseorang masih menjalani hidup seperti biasa, tetapi sebenarnya sudah kehilangan daya hidupnya. Bukan tidak bergerak, justru mungkin terlalu sibuk. Namun ada bagian dalam dirinya yang perlahan mati rasa. Ia berhenti merasa ingin tahu, berhenti merawat hal-hal yang dulu ia cintai. Mungkin itulah bentuk kemalasan yang paling sunyi, ketika jiwa tidak lagi benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri.

Lalu ada “api-api kecil” yang tampaknya sepele seperti amarah singkat, iri hati kecil, luka yang tidak dibereskan. Tetapi beberapa kehancuran besar justru dimulai dari percikan yang dianggap tidak penting. Dan anehnya, manusia sering lebih waspada terhadap ancaman dari luar dibanding terhadap hal-hal yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya sendiri.

Kerajaan jiwa juga bisa jatuh sakit karena hal-hal yang menumpuk terlalu lama. Pikiran yang dibiarkan kusut, kecewa yang dipendam, kelelahan yang diabaikan. Bukankah banyak orang baru menyadari dirinya sedang runtuh setelah semuanya terasa terlalu berat untuk dibawa?

Namun tidak semua bencana hanya membawa kehancuran. Ada masa-masa yang meluap seperti banjir yang tampak seperti mengacaukan hidup, memaksa banyak hal berubah. Tetapi kadang justru setelah itu seseorang menjadi lebih jujur terhadap dirinya sendiri. Mungkin beberapa bagian dalam diri memang perlu dihancurkan agar sesuatu yang baru bisa bertumbuh.

Ada juga musim-musim tandus ketika usaha tidak langsung menghasilkan apa-apa. Saat seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri: “Apa gunanya terus berjalan?” Tetapi mungkin jiwa juga memiliki musimnya sendiri. Tidak semua hal tumbuh secepat yang kita inginkan.

Dan mungkin salah satu penderitaan terbesar manusia adalah ketika ada terlalu banyak suara di dalam dirinya. Keinginan yang saling bertabrakan. Idealisme melawan kenyamanan. Kewajiban melawan kelelahan. Kadang perang paling melelahkan bukan yang terjadi dengan dunia, tetapi dengan diri sendiri.

Lalu datanglah kegelapan itu, bukan selalu dalam bentuk tragedi besar, melainkan kabut yang perlahan menutup cahaya. Seseorang kehilangan arah, kehilangan makna, lalu mulai percaya bahwa memang tidak pernah ada terang sejak awal. Barangkali itu sebabnya harapan begitu penting: bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena manusia membutuhkan sesuatu untuk tetap dilihat ketika semuanya terasa gelap.

Pada akhirnya, setiap orang sedang memimpin “kerajaan” di dalam dirinya sendiri. Dan mungkin pertanyaan yang paling penting bukan apakah hidup kita sempurna, melainkan: bagian mana dari jiwa kita yang diam-diam sedang meminta untuk diperhatikan?


Lucunya, lagi-lagi aku merasa seperti baru saja ditegur pelan oleh pikiranku sendiri,



April 22, 2026

Sketsa Dua Diri - Kajian, 22 April 2026

pict. from here

Aku..

Ada aku yang berdiri tegak,
menatap lurus ke arah terang,
dan ada aku yang bersembunyi,
menggenggam bayangannya sendiri.

Kami hidup dalam tubuh yang sama
yang satu ingin memimpin,
yang satu selalu menarik ke belakang,
seperti ombak yang tak pernah sepakat dengan lautnya.

Aku bertanya
jika seorang guru tak mampu mengajar
disebut tak cakap,
lalu bagaimana dengan manusia
yang gagal menjadi manusia?

Apakah itu sekadar salah arah,
atau kegagalan yang lebih sunyi
yang tak pernah diberi nama?

Di dalam diriku ada suara
yang tahu apa yang benar,
dan ada yang pura-pura lupa,
yang memilih jalan mudah
meski tahu ujungnya gelap.

Ada diri yang mengamati,
dan diri yang diam-diam diamati
canggung, keras, ingin dipuji,
takut ditolak,
dan diam-diam merasa… mengerikan.

Ia bukan monster,
hanya terlalu sadar
akan setiap retak kecil
yang orang lain mungkin tak lihat.

Ia tumbuh dari pengetahuan
buah yang pernah kita makan
saat kita berhenti menjadi anak-anak
dan mulai mengenal diri
sebagai sesuatu yang bisa gagal.

Namun di tempat yang sama,
di tanah yang belum dijelajahi itu,
ada sesuatu yang lain
diam, luas, tak tergesa.

Diri yang agung.

Bukan karena ia selalu baik,
tapi karena ia mungkin.
Karena ia menyimpan
segala yang hal yang kita pikir itu baik.

Tapi batasnya kabur
yang agung bisa jatuh,
yang mengerikan bisa belajar berdiri.
Keduanya saling menyelinap,
saling meminjam wajah.

Dan kita
terjebak di antaranya,
mencoba menjadi nahkoda
bagi kapal yang bahkan
tak kita kenali sepenuhnya.

Mungkin tugas kita sederhana,
meski tak pernah mudah:
bukan memusnahkan salah satunya,
melainkan belajar mengemudi
di antara Scylla dan Charybdis
yang kita bawa dalam dada.

belajar memegang kemudi
tanpa membenci lautnya.

Karena menjadi manusia
bukan tentang menjadi utuh
melainkan tentang berani melihat
kedua wajah itu,

dan tetap memilih
untuk menjadi manusia seutuhnya.


tentang Bab Pendahuluan Charlotte Mason Vol.4,



May 11, 2023

Hati Hati Gunakan Mulutmu - KAMISAN, 11 Mei 202

"Bangsa Yunani lebih paham dibanding kita bahwa kata-kata lebih dari sekadar benda, lebih dari sekadar peristiwa;" ~ Charlotte Mason, vol.6. hlm. 331

pict. from here

Setelah sebelumnya membahas tentang akal budi yang diibaratkan seperti gurita spiritual yang akan menjulurkan tentakel-tentakelnya ke segala arah untuk menarik banyak asupan yang nantinya akan dijadikan pengetahuan, kemudian topik berlanjut mengenai bagaimana asupan tersebut diolah dan keluar dalam bentuk ucapan seseorang. 

Hati-Hati Gunakan Mulutmu, saya langsung teringat lagu Sekolah Minggu ini ketika berbicara mengenai bagaimana ucapan dan pikiran kita sebenarnya berdampak besar, mulai dari "nilai diri" misalnya, hal sepele seperti berkata "Aku tuh ga lucu soalnya." ternyata dapat begitu mempengaruhi bagaimana tubuh ini selanjutnya bekerja.

Hati hati gunakan mulutmu ) 2x

 Allah Bapa di Surga melihat ke bawah

Hati hati gunakan mulutmu

Nyatanya berhati hati dalam berucap bukan cuma perkara "takut dilihat Allah" tapi lebih dari itu yaitu bertanggung jawab atas diri sendiri dengan segala ucapan yang keluar dari mulut.


Terima kasih reminder nya ya teman-teman,


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...