Tentang Volume IV, Bab II, Kehidupan Intelektual
| picture from here |
Aku pikir kehidupan intelektual
adalah tentang banyaknya hal
yang mampu kita ketahui.
Ternyata mungkin bukan.
Melainkan tentang
berapa banyak dunia
yang masih sanggup kita biarkan
tinggal di dalam kepala.
Ada hari-hari ketika kepalaku terlalu penuh
kepalaku penuh oleh angka,
oleh hari-hari yang belum datang,
oleh kemungkinan-kemungkinan
yang ingin kupastikan aman.
Tentang apa yang harus cukup,
apa yang harus disiapkan,
apa yang mungkin hilang
sebelum sempat selesai.
Semua itu penting, setidaknya bagiku.
Mungkin terlalu penting
sampai hal-hal lain
tak lagi mendapat tempat.
Padahal di luar sana
masih ada pertanyaan-pertanyaan
yang tidak meminta jawaban hari ini,
buku-buku yang belum selesai dibaca,
langit yang mungkin sedang berubah warna,
dan dunia yang masih menyimpan
begitu banyak pintu.
Aku ingin anakku
suatu hari membuka buku
bukan karena seseorang menyuruhnya,
melainkan karena ada sesuatu
yang ingin ia ketahui.
Tapi malam ini
aku justru bertanya kepada diriku sendiri:
"Kapan terakhir kali aku membuka sebuah pintu
hanya karena ingin tahu apa yang ada di baliknya?"
Mungkin aku belum kehilangan
kehidupan intelektual itu.
Mungkin ia hanya sedang menunggu
di antara daftar kebutuhan,
perhitungan masa depan,
dan segala hal yang harus kuselesaikan.
Dan mungkin belajar menjadi manusia
bukan tentang mengetahui sebanyak-banyaknya,
melainkan tentang tidak membiarkan
hal-hal yang mendesak
menghabiskan seluruh ruang
untuk hal-hal yang membuat kita hidup.
Karena aku tidak ingin
menjadi budak dari semua yang kutahu.
Aku ingin pengetahuan
menjadi jendela.
Supaya meski hidup sedang sempit,
aku masih ingat
bahwa dunia ternyata jauh lebih luas
daripada apa yang sedang kupikirkan malam ini.