May 14, 2026

Bahaya dalam Kerajaan Jiwa - Kajian, 13 Mei 2026 (Bab 2, Vol. 4)

picture from here

tentang hal-hal kecil yang diam-diam menguasai manusia

Kadang kita membayangkan jiwa manusia sebagai sesuatu yang indah dan megah, penuh kemungkinan, penuh kehidupan. Namun seperti kerajaan mana pun, ia juga bisa retak dari dalam. Dan sering kali, kerusakan itu tidak datang sekaligus. Ia datang pelan-pelan, dari hal-hal yang dibiarkan.

Ada masa ketika seseorang masih menjalani hidup seperti biasa, tetapi sebenarnya sudah kehilangan daya hidupnya. Bukan tidak bergerak, justru mungkin terlalu sibuk. Namun ada bagian dalam dirinya yang perlahan mati rasa. Ia berhenti merasa ingin tahu, berhenti merawat hal-hal yang dulu ia cintai. Mungkin itulah bentuk kemalasan yang paling sunyi, ketika jiwa tidak lagi benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri.

Lalu ada “api-api kecil” yang tampaknya sepele seperti amarah singkat, iri hati kecil, luka yang tidak dibereskan. Tetapi beberapa kehancuran besar justru dimulai dari percikan yang dianggap tidak penting. Dan anehnya, manusia sering lebih waspada terhadap ancaman dari luar dibanding terhadap hal-hal yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya sendiri.

Kerajaan jiwa juga bisa jatuh sakit karena hal-hal yang menumpuk terlalu lama. Pikiran yang dibiarkan kusut, kecewa yang dipendam, kelelahan yang diabaikan. Bukankah banyak orang baru menyadari dirinya sedang runtuh setelah semuanya terasa terlalu berat untuk dibawa?

Namun tidak semua bencana hanya membawa kehancuran. Ada masa-masa yang meluap seperti banjir yang tampak seperti mengacaukan hidup, memaksa banyak hal berubah. Tetapi kadang justru setelah itu seseorang menjadi lebih jujur terhadap dirinya sendiri. Mungkin beberapa bagian dalam diri memang perlu dihancurkan agar sesuatu yang baru bisa bertumbuh.

Ada juga musim-musim tandus ketika usaha tidak langsung menghasilkan apa-apa. Saat seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri: “Apa gunanya terus berjalan?” Tetapi mungkin jiwa juga memiliki musimnya sendiri. Tidak semua hal tumbuh secepat yang kita inginkan.

Dan mungkin salah satu penderitaan terbesar manusia adalah ketika ada terlalu banyak suara di dalam dirinya. Keinginan yang saling bertabrakan. Idealisme melawan kenyamanan. Kewajiban melawan kelelahan. Kadang perang paling melelahkan bukan yang terjadi dengan dunia, tetapi dengan diri sendiri.

Lalu datanglah kegelapan itu, bukan selalu dalam bentuk tragedi besar, melainkan kabut yang perlahan menutup cahaya. Seseorang kehilangan arah, kehilangan makna, lalu mulai percaya bahwa memang tidak pernah ada terang sejak awal. Barangkali itu sebabnya harapan begitu penting: bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena manusia membutuhkan sesuatu untuk tetap dilihat ketika semuanya terasa gelap.

Pada akhirnya, setiap orang sedang memimpin “kerajaan” di dalam dirinya sendiri. Dan mungkin pertanyaan yang paling penting bukan apakah hidup kita sempurna, melainkan: bagian mana dari jiwa kita yang diam-diam sedang meminta untuk diperhatikan?


Lucunya, lagi-lagi aku merasa seperti baru saja ditegur pelan oleh pikiranku sendiri,



April 22, 2026

Sketsa Dua Diri - Kajian, 22 April 2026

pict. from here

Aku..

Ada aku yang berdiri tegak,
menatap lurus ke arah terang,
dan ada aku yang bersembunyi,
menggenggam bayangannya sendiri.

Kami hidup dalam tubuh yang sama
yang satu ingin memimpin,
yang satu selalu menarik ke belakang,
seperti ombak yang tak pernah sepakat dengan lautnya.

Aku bertanya
jika seorang guru tak mampu mengajar
disebut tak cakap,
lalu bagaimana dengan manusia
yang gagal menjadi manusia?

Apakah itu sekadar salah arah,
atau kegagalan yang lebih sunyi
yang tak pernah diberi nama?

Di dalam diriku ada suara
yang tahu apa yang benar,
dan ada yang pura-pura lupa,
yang memilih jalan mudah
meski tahu ujungnya gelap.

Ada diri yang mengamati,
dan diri yang diam-diam diamati
canggung, keras, ingin dipuji,
takut ditolak,
dan diam-diam merasa… mengerikan.

Ia bukan monster,
hanya terlalu sadar
akan setiap retak kecil
yang orang lain mungkin tak lihat.

Ia tumbuh dari pengetahuan
buah yang pernah kita makan
saat kita berhenti menjadi anak-anak
dan mulai mengenal diri
sebagai sesuatu yang bisa gagal.

Namun di tempat yang sama,
di tanah yang belum dijelajahi itu,
ada sesuatu yang lain
diam, luas, tak tergesa.

Diri yang agung.

Bukan karena ia selalu baik,
tapi karena ia mungkin.
Karena ia menyimpan
segala yang hal yang kita pikir itu baik.

Tapi batasnya kabur
yang agung bisa jatuh,
yang mengerikan bisa belajar berdiri.
Keduanya saling menyelinap,
saling meminjam wajah.

Dan kita
terjebak di antaranya,
mencoba menjadi nahkoda
bagi kapal yang bahkan
tak kita kenali sepenuhnya.

Mungkin tugas kita sederhana,
meski tak pernah mudah:
bukan memusnahkan salah satunya,
melainkan belajar mengemudi
di antara Scylla dan Charybdis
yang kita bawa dalam dada.

belajar memegang kemudi
tanpa membenci lautnya.

Karena menjadi manusia
bukan tentang menjadi utuh
melainkan tentang berani melihat
kedua wajah itu,

dan tetap memilih
untuk menjadi manusia seutuhnya.


tentang Bab Pendahuluan Charlotte Mason Vol.4,



May 11, 2023

Hati Hati Gunakan Mulutmu - KAMISAN, 11 Mei 202

"Bangsa Yunani lebih paham dibanding kita bahwa kata-kata lebih dari sekadar benda, lebih dari sekadar peristiwa;" ~ Charlotte Mason, vol.6. hlm. 331

pict. from here

Setelah sebelumnya membahas tentang akal budi yang diibaratkan seperti gurita spiritual yang akan menjulurkan tentakel-tentakelnya ke segala arah untuk menarik banyak asupan yang nantinya akan dijadikan pengetahuan, kemudian topik berlanjut mengenai bagaimana asupan tersebut diolah dan keluar dalam bentuk ucapan seseorang. 

Hati-Hati Gunakan Mulutmu, saya langsung teringat lagu Sekolah Minggu ini ketika berbicara mengenai bagaimana ucapan dan pikiran kita sebenarnya berdampak besar, mulai dari "nilai diri" misalnya, hal sepele seperti berkata "Aku tuh ga lucu soalnya." ternyata dapat begitu mempengaruhi bagaimana tubuh ini selanjutnya bekerja.

Hati hati gunakan mulutmu ) 2x

 Allah Bapa di Surga melihat ke bawah

Hati hati gunakan mulutmu

Nyatanya berhati hati dalam berucap bukan cuma perkara "takut dilihat Allah" tapi lebih dari itu yaitu bertanggung jawab atas diri sendiri dengan segala ucapan yang keluar dari mulut.


Terima kasih reminder nya ya teman-teman,


February 23, 2023

Live the Life to the Fullest - narefleksi KAMISAN, 9 dan 23 Februari 2023

Membaca judul bagian V dari volume VI ini tentang Pendidikan dan Kepenuhan Hidup membawa saya pada sebuah kata yang akhir-akhir ini populer - YOLO.

YOLO yang merupakan singkatan You Only Live Once sebenarnya sejalan dengan istilah carpe diem yang berarti seize the day atau live to the fullest yang merupakan ajakan untuk menjalani hidup sepenuhnya, serta mencoba banyak hal baru dalam hidup (take every opportunity). Selain definisi mengambil semua kesempatan, YOLO juga dapat menjadi alasan atas perilaku "bodoh" yang pernah dilakukan (or to excuse something stupid that you have done). (sumber definisi dari sini)

Sayangnya pengertian ini disalahartikan oleh banyak orang menjadi hidup semaunya, sesukanya, tak jarang malah menimbulkan kerugian untuk orang tersebut hingga orang di sekitarnya. Alih-alih mengisi hidup dengan mencoba hal baru yang positif, YOLO digunakan untuk alasan atas perilaku semaunya seenaknya live my life to the fullest dengan pembenaran "Lha wong urip mung sepisan koq digawe angel!" atau "Hidup cuma sekali, yaudah lah puas-puasin!".

pict. from here

Lalu bagaimana untuk mendapatkan kepenuhan hidup ala Charlotte Mason?

Saya menghighlight beberapa poin dari empat paragraf pertama bagian lima volume enam ini dituliskan bahwa untuk dapat hidup dengan kepenuhan hidup, kita tetap dapat menjalani banyak hal, mencoba banyak hal dengan memperhatikan hal berikut :

1. tidak merugikan kepentingan umum, tidak mengorbankan sesamanya (kalau merugikan kepentingan umum saja tidak dianjurkan, maka jika hal tersebut merugikan diri sendiri juga mestinya bikin mikir sih ya, kan diri kita juga bagian dari masyarakat umum) 

2. menikmati prosesnya, tidak hanya berorientasi pada hasil karena kegembiraan-kegembiraan yang dihasilkan dari proses akan sesuatu juga dapat membuat kita merasakan kepenuhan hidup

Semuanya itu tentu saja tetap berlandaskan pada pengetahuan yang didapatkan dari pengenalan akrab terhadap sesama, alam dan penciptanya yang disajikan dalam bentuk sastrawi sebagai nampan peraknya (pernah tulis soal nampan perak ini di sini).

Akhirnya, obrolan ngalor ngidul soal rumah makan padang pun membuat saya merasa kepenuhan bahagia dengan membayangkan rendang dan kuahnya di atas nasi panas yang mengepul, jadi lapar :D

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...