July 08, 2026

Tiga Jalan Memetakan Kerajaan Jiwa - Kajian Rabu, 8 Juli 2026

picture from here

Tentang Volume IV, Bab II, Matematika, Filsafat, dan Sastra

Semula aku mengira Charlotte Mason sedang memperkenalkan mata pelajaran. Matematika, Filsafat, Sastra yang masing-masing dengan wilayahnya sendiri. Namun tiba-tiba aku merasa bahwa ia sedang memperkenalkan cara sebuah jiwa bertumbuh. Ada kalanya kita mendaki pegunungan matematika, tempat setiap langkah meminta pijakan yang kokoh. Ada kalanya kita memasuki hutan filsafat, tempat tidak semua jalan segera memperlihatkan ujungnya, berkabut, bahkan terkadang pijakannya tidak kokoh walau mungkin berada di pegunungan yang sama. Dan ada saatnya kita singgah di 'pasaraya' sastra, tempat kita belajar melihat dunia melalui kehidupan orang lain.

Mungkin menjadi manusia yang dewasa bukanlah memilih salah satu dari ketiganya. Mungkin menjadi manusia bukan berarti selalu memiliki jawaban yang benar. Kita membutuhkan matematika agar tidak kehilangan pijakan, filsafat agar tidak berhenti bertanya, dan sastra agar tidak kehilangan belas kasih. Terlalu mengejar kepastian dapat membuat kita menutup diri terhadap misteri kehidupan. Sebaliknya, terlalu nyaman dalam kemungkinan dapat membuat kita kehilangan arah. Tanpa sastra, kita bahkan bisa lupa bahwa di balik setiap pendapat ada seorang manusia dengan cerita yang tidak seluruhnya kita pahami sama seperti tokoh-tokoh dalam bacaan kita yang mungkin saling berprasangka, padahal kita tahu intensi yang mereka miliki untuk satu sama lain, mereka tidak.

Tak satu pun dari perjalanan itu ditempuh dalam sehari. Seperti mendaki gunung, kita perlu berlatih, jatuh, mengatur napas, lalu mencoba lagi. Kemampuan bernalar, menimbang, membayangkan, dan berempati tidak lahir dari satu pelajaran, melainkan dari kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit. Pendidikan, rupanya, bukan perlombaan untuk cepat sampai, tetapi latihan seumur hidup agar langkah kita semakin matang, tidak terengah-engah.

Dan mungkin inilah yang sedang dibangun Charlotte Mason: bukan anak yang pandai mengerjakan soal, bukan pula anak yang pandai berpendapat, atau gemar membaca semata. Ia sedang membayangkan manusia yang mampu berpijak pada kebenaran, rendah hati di hadapan pertanyaan, dan tetap memiliki hati yang cukup luas untuk memahami kehidupan orang lain.

Sebab pada akhirnya, ketiga perjalanan itu selalu bermuara ke tempat yang sama: Kerajaan Jiwa. Semakin jauh kita mendaki, semakin berani kita menjelajah, dan semakin banyak kehidupan yang kita jumpai, semakin utuh pula cara kita mengenali diri sendiri dan semakin bijaksana kita belajar hidup bersama sesama, dan bahwa pendidikan yang sejati bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan tentang bagaimana kita mengenal diri sendiri dan seperti apa kita mau dibentuk.



July 01, 2026

Perkara Kata - Yang Sulit Diterjemahkan

picture from here


Orang-orang bilang,
buku adalah jendela dunia,
dan membaca itu 
menambah kosakata.

Tapi hari ini aku menemukan
sesuatu yang menarik,
tentang membaca, kata, dan bahasa.

Mengutak-atik bunyi,
membalik kata,
hingga Mirror of Erised
berubah menjadi Cermin Tarsah
karena bahkan 'hasrat'
ingin diberi rumah
dalam bahasanya sendiri.

Lucunya,
dibelahan bumi yang lain,
ada yang begitu fasih mengucapkan
'memanusiakan manusia'
namun melihat manusia
tak lebih dari sebuah vas
punya nilai selama belum retak.

Lebih lucu lagi,
seseorang yang lain
mengira bahwa semua waktu
adalah panggung untuk bercanda.
Seolah air mata dan tai mata
hanya dipisahkan oleh satu pilihan kata.

Lucu.

Betapa mudahnya
bahasa menjadi indah,
namun gagal menjadi hangat.

Lalu aku tersadar satu hal,
kemampuan berbahasa
ternyata bukan hanya tentang
seberapa banyak buku yang dibaca
seberapa indah tulisan yang dicerna
juga bukan tentang
seberapa banyak kata yang dikuasai.

Melainkan,
bagaimana bacaan dan kata yang dicerna
membuat manusia menghormati makna
membuat manusia melihat
manusia lainnya
secara utuh.



------------
sebuah obrolan di sela2 buku-buku di toko buku dengan Pramesti berbuah sebuah puisi wkwkwkkwkwk...



June 24, 2026

Setelah Membaca Peta yang Sama Berkali-kali - Kajian 24 Juni 2026, CM Vol. 4, Bag II, Bab 1

picture from here


Dulu, aku kira mengenal diri
adalah menghafal hal-hal sederhana
apa yang kusukai,
apa yang kutakuti,
apa yang membuatku bertahan
di hari-hari yang panjang.

Ternyata tidak.

Ternyata ia lebih mirip
membaca sebuah peta wilayah yang luas,
lalu menyadari
betapa banyak bagian yang belum kumengerti.
Ada batas-batas yang selama ini
ingin kuubah menjadi jalan.
Ada sungai yang selalu meluap
setiap kali harapan bertemu kenyataan.
Ada daerah yang tampak tenang dari jauh,
namun selalu bergemuruh di dalam.
Dan ada musim-musim tertentu
yang datang tanpa bisa dicegah.

Malam ini aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku mengira
aku sedang memperjuangkan keadilan.
Padahal mungkin
aku sedang berhadapan
dengan batas-batas diriku sendiri.

Dengan kenyataan bahwa
tidak semua hal bisa kuatur sesuai mauku
hanya karena aku menginginkannya.
Tidak semua pintu terbuka
hanya karena aku sudah menunggu lama.
Tidak semua perjalanan
memiliki lintasan yang sama.

Mungkin pengendalian diri
bukan tentang mematikan keinginan.
Melainkan tetap bersikap lembut dan tenang
ketika keinginan itu tidak menemukan jalannya.
Tetap menjaga hati
ketika dunia berjalan
dengan ukurannya sendiri.

Dan mungkin karena itulah
mengenal diri terasa begitu penting.
Karena suatu hari,
anak yang sedang kutuntun
akan memiliki peta dirinya sendiri
menemukan batas-batasnya sendiri.

Dan aku berharap,
saat hari itu tiba,
aku tidak mengajarinya
cara memenangkan segala sesuatu.
Aku berharap aku bisa mengajarinya
cara tetap utuh
ketika tidak semua hal dapat dimenangkan.



June 06, 2026

Kangen #3

picture from here


Dulu pernah ada kalimat
yang diucapkan sambil lalu,
lalu menetap bertahun-tahun
seperti paku kecil di dinding.

"Nanti kamu akan mengerti."

Dan ternyata waktu memang suka menang.

Pagi ini, entah kenapa,
kalimat itu datang lagi.
Bukan bersama suaranya,
bukan bersama wajahnya,
hanya datang sendiri
saat matahari belum benar-benar tinggi.

Ada rindu yang aneh.

Bukan rindu untuk bertemu.
Bukan rindu untuk mendengar cerita lama.

Hanya rindu pada seseorang
yang pernah begitu yakin
tentang sulitnya hidup.

Dan hidup memang tidak sedang ramah.

Ada langkah-langkah yang terasa lebih berat
karena jalan ini pernah dilalui orang lain terlebih dahulu.
Ada pintu-pintu yang terbuka
karena nama yang ditinggalkan.
Ada pula yang diam-diam terasa harus dijaga
meski pemiliknya sudah lama pergi.

Kadang-kadang kebahagiaan datang.

Sederhana saja.
Secangkir kopi yang hangat.
Kabar baik yang tak diduga.
Tawa yang lolos begitu saja.

Tapi selalu ada sesuatu
yang berdiri di ambang pintu,
seolah bertanya,

"Benarkah semua ini boleh?"

Lalu,
Pagi ini air mata jatuh juga.

Bukan karena kehilangan.
Bukan karena ingin memanggil pulang
yang sudah tak mungkin pulang.

Melainkan karena tiba-tiba ingin bertanya:

Jika seseorang meninggalkan begitu banyak jejak,
apakah orang yang berjalan setelahnya
boleh merasa ringan?

Ataukah sebagian dari hidup
memang harus dijalani
dengan menoleh ke belakang?

Aku tidak tahu.

Yang kutahu,
rindu kali ini tidak berbentuk wajah.

Rindu kali ini berbentuk jeda
di antara syukur dan sesak.

Dan untuk pertama kalinya,
aku menyadari:

mungkin yang paling kurindukan
bukan orangnya

melainkan izin
untuk hidup tanpa merasa sedang meninggalkannya.
_____________________________

baca juga Kangen dan Kangen#2 di sini dan di sini

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...