| picture from here |
Tentang Volume IV, Bab II, Matematika, Filsafat, dan Sastra
Semula aku mengira Charlotte Mason sedang memperkenalkan mata pelajaran. Matematika, Filsafat, Sastra yang masing-masing dengan wilayahnya sendiri. Namun tiba-tiba aku merasa bahwa ia sedang memperkenalkan cara sebuah jiwa bertumbuh. Ada kalanya kita mendaki pegunungan matematika, tempat setiap langkah meminta pijakan yang kokoh. Ada kalanya kita memasuki hutan filsafat, tempat tidak semua jalan segera memperlihatkan ujungnya, berkabut, bahkan terkadang pijakannya tidak kokoh walau mungkin berada di pegunungan yang sama. Dan ada saatnya kita singgah di 'pasaraya' sastra, tempat kita belajar melihat dunia melalui kehidupan orang lain.
Mungkin menjadi manusia yang dewasa bukanlah memilih salah satu dari ketiganya. Mungkin menjadi manusia bukan berarti selalu memiliki jawaban yang benar. Kita membutuhkan matematika agar tidak kehilangan pijakan, filsafat agar tidak berhenti bertanya, dan sastra agar tidak kehilangan belas kasih. Terlalu mengejar kepastian dapat membuat kita menutup diri terhadap misteri kehidupan. Sebaliknya, terlalu nyaman dalam kemungkinan dapat membuat kita kehilangan arah. Tanpa sastra, kita bahkan bisa lupa bahwa di balik setiap pendapat ada seorang manusia dengan cerita yang tidak seluruhnya kita pahami sama seperti tokoh-tokoh dalam bacaan kita yang mungkin saling berprasangka, padahal kita tahu intensi yang mereka miliki untuk satu sama lain, mereka tidak.
Tak satu pun dari perjalanan itu ditempuh dalam sehari. Seperti mendaki gunung, kita perlu berlatih, jatuh, mengatur napas, lalu mencoba lagi. Kemampuan bernalar, menimbang, membayangkan, dan berempati tidak lahir dari satu pelajaran, melainkan dari kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit. Pendidikan, rupanya, bukan perlombaan untuk cepat sampai, tetapi latihan seumur hidup agar langkah kita semakin matang, tidak terengah-engah.
Dan mungkin inilah yang sedang dibangun Charlotte Mason: bukan anak yang pandai mengerjakan soal, bukan pula anak yang pandai berpendapat, atau gemar membaca semata. Ia sedang membayangkan manusia yang mampu berpijak pada kebenaran, rendah hati di hadapan pertanyaan, dan tetap memiliki hati yang cukup luas untuk memahami kehidupan orang lain.
Sebab pada akhirnya, ketiga perjalanan itu selalu bermuara ke tempat yang sama: Kerajaan Jiwa. Semakin jauh kita mendaki, semakin berani kita menjelajah, dan semakin banyak kehidupan yang kita jumpai, semakin utuh pula cara kita mengenali diri sendiri dan semakin bijaksana kita belajar hidup bersama sesama, dan bahwa pendidikan yang sejati bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan tentang bagaimana kita mengenal diri sendiri dan seperti apa kita mau dibentuk.