| pict. from here |
Aku..
Ada aku yang berdiri tegak,
menatap lurus ke arah terang,
dan ada aku yang bersembunyi,
menggenggam bayangannya sendiri.
Kami hidup dalam tubuh yang sama
yang satu ingin memimpin,
yang satu selalu menarik ke belakang,
seperti ombak yang tak pernah sepakat dengan lautnya.
Aku bertanya
jika seorang guru tak mampu mengajar
disebut tak cakap,
lalu bagaimana dengan manusia
yang gagal menjadi manusia?
Apakah itu sekadar salah arah,
atau kegagalan yang lebih sunyi
yang tak pernah diberi nama?
Di dalam diriku ada suara
yang tahu apa yang benar,
dan ada yang pura-pura lupa,
yang memilih jalan mudah
meski tahu ujungnya gelap.
Ada diri yang mengamati,
dan diri yang diam-diam diamati
canggung, keras, ingin dipuji,
takut ditolak,
dan diam-diam merasa… mengerikan.
Ia bukan monster,
hanya terlalu sadar
akan setiap retak kecil
yang orang lain mungkin tak lihat.
Ia tumbuh dari pengetahuan
buah yang pernah kita makan
saat kita berhenti menjadi anak-anak
dan mulai mengenal diri
sebagai sesuatu yang bisa gagal.
Namun di tempat yang sama,
di tanah yang belum dijelajahi itu,
ada sesuatu yang lain
diam, luas, tak tergesa.
Diri yang agung.
Bukan karena ia selalu baik,
tapi karena ia mungkin.
Karena ia menyimpan
segala yang hal yang kita pikir itu baik.
Tapi batasnya kabur
yang agung bisa jatuh,
yang mengerikan bisa belajar berdiri.
Keduanya saling menyelinap,
saling meminjam wajah.
Dan kita
terjebak di antaranya,
mencoba menjadi nahkoda
bagi kapal yang bahkan
tak kita kenali sepenuhnya.
Mungkin tugas kita sederhana,
meski tak pernah mudah:
bukan memusnahkan salah satunya,
melainkan belajar mengemudi
di antara Scylla dan Charybdis
yang kita bawa dalam dada.
belajar memegang kemudi
tanpa membenci lautnya.
Karena menjadi manusia
bukan tentang menjadi utuh
melainkan tentang berani melihat
kedua wajah itu,
dan tetap memilih
untuk menjadi manusia seutuhnya.
tentang Bab Pendahuluan Charlotte Mason Vol.4,




