| Nalar bisa menunjukkan cara, tapi kita tetap perlu tahu kemana harus pergi. Gambar dari sini |
tentang Charlotte Mason, Vol. 4, Bab VI, Nalar Orang Baik, Kerja Nalar Dalam Pekerjaan Baik dan Penemuan Besar, dan Apa yang Dimaksud Dengan Akal Sehat
________________________________________________________
Ada satu hal yang makin terasa ketika membaca bagian tentang Nalar: ternyata kemampuan untuk berpikir dan menemukan jalan keluar bukanlah jaminan bahwa seseorang akan memilih yang benar. Nalar bisa bekerja dengan sangat baik untuk membela apa pun yang sudah lebih dulu dikehendaki hati. Karena itu, mungkin kehendak yang benar juga perlu dilatih, dengan terus mendekatkan diri pada hal-hal yang benar, pada orang-orang yang baik, pada lingkungan yang menolong kita menjaga arah. Seperti yang diingatkan Kitab Suci, “jangan menjauhkan diri dari persekutuan.” Sebab kebiasaan baik pun bisa rusak oleh pergaulan yang buruk. Maka aku mulai bertanya: ketika seseorang berbuat baik, apakah itu otomatis berarti hatinya baik? Atau bisa jadi Nalar hanya sedang sangat pandai menemukan alasan untuk melakukan sesuatu yang tampak baik?
Di sisi lain, aku juga melihat betapa luar biasanya kerja Nalar. Hampir segala sesuatu yang kita gunakan hari ini pernah bermula dari seseorang yang memikirkan sesuatu yang sebelumnya belum ada. Penemuan bukan hanya tentang menciptakan sesuatu dari ketiadaan, tetapi juga memikirkan apa yang bisa dilakukan selanjutnya dari sesuatu yang sudah ada. Minuman kemasan, misalnya, mungkin lahir untuk membuat hidup lebih praktis; lalu masalah limbahnya memunculkan kebutuhan akan cara baru untuk mengolahnya. Satu penemuan melahirkan persoalan, persoalan melahirkan penemuan berikutnya. Tapi kalau begitu, aku jadi bertanya: kenapa rasanya penemuan besar sekarang tidak sebanyak dulu? Atau mungkin sebenarnya kita hanya melihat penemuan sebagai sesuatu yang spektakuler, sementara banyak penemuan hari ini bekerja diam-diam di balik kehidupan kita?
Yang lebih menggangguku justru pertanyaan tentang apakah semua yang bisa ditemukan memang sebaiknya ditemukan? Nalar adalah hadiah Tuhan yang luar biasa, tetapi ia sendiri tidak otomatis bekerja di wilayah moral. Ia dapat menyelesaikan masalah tanpa terlebih dahulu bertanya apakah solusi itu akan membawa kebaikan. Bom, misalnya, bisa saja diciptakan dengan alasan praktis untuk pekerjaan tertentu, tetapi ketika kemampuan itu dipakai tanpa pertimbangan moral, ia dapat mencelakakan manusia dan lingkungan. Jadi mungkin persoalannya bukan lagi sekadar “Bisakah kita membuatnya?”, melainkan “Setelah kita bisa membuatnya, apa yang akan kita lakukan dengannya?” Dan sekarang, ketika kita berhadapan dengan AI yang kemampuannya terus berkembang, pertanyaan itu terasa semakin dekat. Apakah ia akan menjadi alat yang memperluas kebaikan, atau justru menjadi sesuatu yang suatu hari berbalik menjadi bumerang? Jawabannya mungkin tidak terletak pada kecanggihan teknologinya saja, tetapi pada manusia yang memegangnya.
Maka penemuan pun rasanya perlu terus diperiksa dan diuji. Bukan untuk mematikan rasa ingin tahu, tetapi justru supaya rasa ingin tahu tidak berjalan tanpa tanggung jawab. Ada perbedaan antara “aku menemukan bahwa ini bisa dilakukan” dan “karena ini bisa dilakukan, maka ini baik untuk dilakukan.” Nalar dapat membawa kita dari masalah menuju solusi. Tetapi ia membutuhkan sesuatu di luar dirinya untuk menilai ke mana solusi itu membawa kita. Mungkin di situlah kehendak, hati nurani, nilai, dan iman mendapat tempatnya.
Lalu aku sampai pada common sense. Aku langsung teringat pada Keona ketika mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang bagi orang dewasa sudah terasa begitu biasa: “Kenapa aku harus begini? Kenapa begitu?” Kadang itu adalah rasa ingin tahu yang sungguh-sungguh. Kadang mungkin hanya cara halus untuk mencari alasan agar tidak melakukannya. Dan aku mendadak merasa pertanyaan yang sama perlu diarahkan kepadaku sendiri. Ketika aku mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap common sense, apakah aku sedang sungguh-sungguh ingin memahami atau sebenarnya hanya sedang mencari pembenaran untuk tidak mengikutinya? Sebab common sense pun tidak selalu universal. Sesuatu yang masuk akal dan cocok bagi hidupku belum tentu cocok bagi orang lain, begitu pula sebaliknya.
Maka mungkin menjadi dewasa bukan berarti selalu mengikuti apa yang sudah dianggap masuk akal, tetapi juga bukan selalu merasa harus berbeda. Kita perlu cukup rendah hati untuk menerima kebijaksanaan yang sudah teruji, sekaligus cukup berani untuk mengujinya kembali ketika memang ada alasan.
Dan mungkin inilah pelajaran Nalar yang paling penting bagiku: berpikir bukan hanya tentang menemukan jawaban, tetapi juga tentang memeriksa ke mana jawaban itu akan membawa kita. Kita boleh menemukan, menciptakan, mempertanyakan, dan memikirkan ulang. Tetapi setelah itu, kita tetap harus bertanya: apakah ini benar? apakah ini baik? dan yang paling penting—apakah ini akan membuat kehidupan menjadi lebih baik, atau justru mencelakakan orang lain?