Showing posts with label photographs gallery. Show all posts
Showing posts with label photographs gallery. Show all posts

September 17, 2021

Awas Manusia! - Nature Walk Kamis, 16 Sept 2021

photo from here

Beberapa hari yang lalu, buku pesanan PO dari bulan lalu akhirnya datang. Buku yang saya pesan dari kawan di CMid Semarang yang saya pesan berjudul AWAS, MANUSIA! ini ternyata memiliki sekitar 40 halaman, cukup banyak untuk "dilahap" Keona dalam sekali sesi "reading aloud".
Keona baru saja menyelesaikan membaca buku itu bersama saya tadi malam. Keona yang dulu selalu takut binatang (khususnya serangga), sekarang mulai perlahan luntur.


2019, ketika beberapa bagian rumah kami terkena rayap, saya sempat terpikir satu hal :
"Sebenarnya, kalau mau dirunut, yang seharusnya marah bukan saya tapi si rayap, kan memang mereka sudah lebih dulu ada di tanah ini, saya yg membangun rumah di atas lahan yang sebenarnya milik mereka loh.", Sejak itu, kalau melihat Keona takut pada binatang, saya selalu bilang "harusnya mereka loh yang takut sama Keona, wong Keona lebih besar, bisa menyakiti mereka."

Nah, selesai baca buku Awas, Manusia! ini semalam, Keona terpikir kata2 saya ttg binatang sejak 2019 itu ttg binatang yg justru takut sama dia. Keona teringat saat nature walk kemarin pagi saat saya berusaha mengambil gambar capung unik yg sayapnya kalau mengembang berwarna biru metalik, "oh, pantas ya ma, capungnya klo pas mau dipegang malah lari.". Mungkin capungnya juga bilang "Awas, Manusia!" kali ya 🤭

Tp saya senang sekali lo ada kupu2 yang mau hinggap di pundak dan tangan saya kmrn, 🤭


PeeR kami skrng, "kalau kita jd ... (orang lain atau makhluk di sekitar kita), apakah kita akan nyaman pd diri kita sekarang?"
Respon orang memang di luar kendali kita, tapi perilaku kita ada di dalam kendali kita... Begitu kan?

Happy Friday (sudah tak sabar menunggu nature walk berikutnya),

📸:

1  Buku "Awas, Manusia!"

2 Keona asik banget mainan batu, disusun, ambruk, susun lagi, campur pasir, kasih air, and repeat.

3 saya yg kegirangan dihinggapi kupu2 🤭 mungkin kupu yg hinggap itu namanya Park Jae Eon #ups 😂😂😂

October 16, 2020

Berdampak - Penerapan Teori part V (KAMISAN 15.10.2020)

"Guru membaca dengan itikad membantu anak-anak paham, karenanya, dia membaca dengan jelas, lantang, dan pengucapan yang saksama; guru berusaha membantu sebaik-baiknya, meski tentu saja guru tetap berhati-hati agar pemikiran si pengarang dan bukan pikirannya sendiri yang dia sajikan." - Charlotte Mason, vol.6, hlm.244

Jelas sekali dalam bacaan tersebut bahwa anak dibacakan bacaan terlebih dahulu sebelum menarasikan bacaan. Guru atau orangtua yang membacakan juga diminta untuk berhati-hati agar menyajikan pesan penulis dengan baik. Bahasa tertulis tidaklah sama dengan bahasa lisan, maka perlu sekali bagi orang dewasa yang membacakan tulisan untuk anak mengerti betul isi tulisan tersebut, berhenti dan bernada turun saat titik, dan memperhatikan tanda baca lainnya - karena kalimat yang sama jika dibaca dengan letak tanda baca yang berbeda pun akan menjadi berbeda artinya, contoh :

Menurut kabar burung, Andi sedang sakit.

Coba saja membaca tanpa jeda atau jeda tidak pada letak koma yang ada pada kalimat tersebut, pasti kalimat tersebut akan memiliki arti yang lain. Menurut saya, melatih diri untuk dapat membaca sesuai dengan tanda baca dan pesan yang ingin disampaikan penulis perlu dilakukan orangtua atau guru yang mendampingi anak belajar - sehingga lagi-lagi dalam bacaan inipun saya tertegur apakah sudah membacakan bacaan untuk Keona dengan benar sesuai dengan yang dimaui penulis. Setelah saya pikir-pikir, jika kita sebagai pendidik melatih diri pada bagian ini pun akan membantu mengembangkan kemampuan sosial kita, paling mudah adalah dengan membaca pesan teks dari teman atau kerabat. Lucu, saya teringat seorang kawan yang mengira temannya sedang melucu padahal teman tersebut sedang marah, hanya karena ia tidak memperhatikan tanda baca. 

 "Banyak orang berbicara tentang mengentaskan kemiskinan, tapi sudahkah kita betul-betul menyadari bahwa, kalau diberi pendidikan yang lebih berkualitas, aneka masalah untuk mencapai kehidupan yang layak akan bisa dibereskan sendiri oleh kaum miskin itu?" - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 245

Saya pernah melihat sebuah meme di media sosial yang isinya adalah protes seorang anak yang merasa sudah 8 jam sekolah, 4 jam les, lalu sampai di rumah baru duduk bermain sudah mendapat komplen orangtuanya "anak koq mainan aja kerjaannya, kapan belajarnya!", kemudian ada gambar si anak berkata "lha yang 8 jam sekolah sama 4 jam les itu bukan belajar?". Dari segi kuantitas, tentu saja siswa Indonesia memiliki lebih banyak jam belajar dibanding siswa di negara lain, namun kenyataannya masih saja banyak pengangguran yang datang dari kaum sarjana, atau koruptor yang datang dari kaum terpelajar (mendapat pendidikan yang layak). Lalu mengapa banyak sekali orangtua berlomba-lomba anaknya masuk sekolah favorit, anaknya jadi bintang kelas, kalau dalam prakteknya malah hasil dari pendidikan tersebut justru tidak mengentaskan kemiskinan. 

"... suatu pribadi yang berkarakter dan cerdas, warga negara yang layak dikagumi karena hidupnya terlalu penuh dan kaya, sehingga tak ada waktu untuk bikin masalah dalam masyarakat." - Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 245-246

Karena ternyata menjadi cerdas saja tidak cukup - padahal yang terjadi di masyarakat saat ini adalah banyaknya sekolah yang berlomba dengan tagline "mendidik anak menjadi generasi yang unggul", tentu saja yang dimaksud dengan unggul adalah unggul dalam hal akademis  karena disamping tagline itu ada gambar anak dengan piala juara lomba Matematika dan lomba lainnya. Saya jadi teringat pada sesi kelas gender yang saya ikuti bersama teman-teman CMid Semarang tahun lalu, saat membahas tentang istri yang memiliki penghasilan lebih besar dari suaminya - tidak akan ada masalah ketika kita duduk berdampingan dengan baik, masalah akan muncul ketika salah satu "menginjak kaki" teman duduknya karena merasa superior. Maka cerdas secara intelektual tidak menjamin seseorang hidupnya "penuh dan kaya" jika tidak diimbangi dengan karakter yang baik - rasa superior yang saya sebutkan pada kalimat sebelum ini tidak akan terjadi saat seseorang yang cerdas tadi memiliki karakter untuk mengimbangi kecerdasan yang ia miliki - sehingga tentu saja ia tidak akan membuat masalah dalam masyarakat karena tidak ada lagi rasa superior karena merasa dirinya "cerdas" tadi. 

Untuk pendidik maupun anak yang didampingi belajarnya, melatih diri untuk dapat menjadi bijak akan membawa diri menjadi pribadi yang bajik; contoh kecilnya adalah ketika kita sebagai pendidik belajar untuk tidak mengasumsikan tulisan dengan interpretasi pribadi, maka masalah yang muncul dari asumsi yang salah pun akan dengan sendirinya hilang. Menjadi individu yang berdampak bukan perkara seberapa besar cakupan dampak yang akan dihasilkan, namun bagaimana hal kecil dapat membawa pengaruh positif dimulai dari orang-orang terdekat - karena sekecil apapun dampak yang kita buat, jika dilakukan dengan hati yang tulus, tetap akan menjadi berkat bagi penerimanya.

A flower does not think of competing to the flower next to it, it just blooms.
picture from here

Terima kasih lagi-lagi kawan-kawan sepercenutan CMid Semarang untuk diskusinya, seperti biasa, membuat saya berefleksi pribadi, lagi dan belajar menjadi pribadi yang berdampak untuk orang di sekitar saya, bertumbuh tanpa harus berkompetisi menjadi yang lebih unggul.



August 07, 2020

KAMISAN - Geografi part II 06.08.2020

"Peta dan garis kontur semacam itu bukanlah esensi dari geografi, melainkan simpulan-simpulan yang lambat laun akan diperoleh oleh siapapun ketika akal budinya sudah intim dengan suatu wilayah." ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm 227


Minggu ini, kami membahas pelajaran Geografi untuk Tingkat III. Jika pada tingkat sebelumnya anak belajar mengenal lingkungan terdekatnya, kali ini anak mulai "menjelajahi" negara di sekitar negaranya. Pendidik membantu anak untuk membayangkan gambaran dari negara tersebut yang diawali dari survey tentang negara-negara tersebut. Dalam diskusi, saya menangkap adanya perbedaan antara pembelajaran Geografi dan Sejarah. Jika Sejarah yang mempelajari waktu tertentu dimulai dengan cakupan yang luas lalu mengerucut kecil, sebaliknya, Geografi yang mempelajari ruang dimulai dari lingkungan terkecil lalu mencangkup lingkungan besar di sekitarnya. Seperti yang disampaikan oleh Mba Putri dengan mengaitkan hal tersebut dengan kondisi Indonesia, yaitu jika pada tingkat sebelumnya anak belajar mengenai Indonesia, pada Tingkat III ini, anak belajar bagaimana posisi Indonesia di dunia (Asia Tenggara, Asia, dst) dan negara di sekitarnya. Sehingga sampai di sini saya dapat memahami bagaimana peta bukanlah merupakan esensi utama belajar Geografi namun membantu kita untuk menarik simpulan dari setiap tempat yang sudah dijelajahi baik lewat tulisan maupun saat berhadapan menjelajahi secara langsung.

"Dari petilan itu terlihat bagaimana fakta-fakta geografis diperkenalkan secara santai, seolah-olah cerita seorang musafir yang bepergian melintasi negara itu." 
~ Charlotte Mason, vol.6, hlm 226


Bagian ini mengingatkan saya tentang seorang kawan yang merupakan penulis novel fiksi. Saat menggarap novel-novelnya, ia selalu mengambil waktu untuk travelling. Ia sering bercerita tentang tempat yang ia kunjungi dan berharap suatu hari dapat mengunjungi Semarang juga. Saya pernah bertanya padanya, jika ia terlalu repot mengurus naskah dan lain-lain, mengapa masih harus meluangkan waktu menjelajah Indonesia. Waktu itu, Mba Enno (ya nama novelis kawan saya itu Mba Enno atau biasa disebut dengan nama pena nya yaitu Kireina Enno) mengatakan bahwa untuk menulis novel fiksi saja, ia tetap perlu memetakan lokasi yang ia pakai sebagai setting cerita dalam naskah novelnya. Ia menambahkan bahwa ia mau pembacanya mendapat sensasi sedang menjelajah tempat tersebut saat membaca novel fiksi nya sekalipun itu novel dengan genre roman. 

Maka, ketika membaca lagi petikan kalimat bahan diskusi kemarin, saya menyimpulkan bahwa membaca itu perlu, namun sebaiknya tetap disertai dengan pengalaman menjelajah langsung (baik langsung berhadapan dengan tempat yang dipelajarai, maupun mengimajinasikannya seperti yang dikatakan bu Ellen tentang gundukan pasir yang diibaratkan Gunung Sahara). Jika sebelum ini perjalanan saya keluar kota hanya sebatas perjalanan pekerjaan atau hiburan jalan-jalan semata, lain waktu saya berharap dapat diberi Tuhan kesempatan menjelajah lagi bersama Keona dan suami tentunya selain hiburan jalan-jalan, saya tahu saya punya tujuan lebih mulia yaitu mengenalkan dunia ini pada Keona.

Bromo, 27 Juni 2017


Terakhir, semoga pandemi ini segera berakhir sehingga cita-cita mulia para orangtua lain yang akan mengenalkan dunia ini kepada anaknya akan segera terlaksana. 


Sudah rindu jalan-jalan,



April 13, 2019

OBEY not OBEY

Prinsip otoritas dan ketaatan harus dibatasi oleh respek pada kepribadian anak. Otoritas bukanlah lisensi untuk menyakiti anak. Orangtua dilarang mempermainkan rasa cinta, rasa takut, sugesti, atau kharisma, atau hasrat – hasrat alamiah anak lainnya. ~ Butir keempat dari 20 butir filosofi pendidikan Charlotte Mason
…

Keona yang sedang memotret papa mamanya waktu liburan beberapa minggu yang lalu.


Dalam bukunya, bu Ellen menulis :
Charlotte mengkritik keras orangtua yang menyelewengkan otoritasnya. Otoritas, kata Charlotte, seharusnya diabdikan untuk memberi manfaat dan melayani kepada pihak yang berada di bawah otoritas itu. “Orangtua yang sewenang-wenang, yang rewel, yang menuntut sikap hormat dan ketaatan semata-mata karena dia adalah orangtua, demi kebanggaan dan kesombongannya sendiri, sama payahnya dengan orangtua yang (tidak bisa menjalankan otoritas sama sekali dan) menghamba kepada anak-anaknya” (Vol. 2, hlm. 13).
Batasan yang jelas terhadap otoritas orangtua adalah kedudukan anak sebagai pribadi yang unik, istimewa, dan berharga. Menaruh respek pada kepribadian anak berarti orangtua secara tulus memberi ruang kepada anak untuk menjadi dirinya sendiri, menghargai hak anak untuk memilih dan menjadi individu yang autentik. Orangtua melanggar batas – batas otoritasnya jika mulai memanipulasi rasa takut anak (“Kalau kamu ga nurut, mama ga sayang lagi sama kamu!”), rasa cinta atau kekaguman anak terhadapnya (“kalau kamu sayang mama, nurut dong!”), dst.
~ Cinta Yang Berpikir, halaman 24 dan 26
…

Jika membaca buku tulisan bu Ellen secara utuh, saya merefleksikannya dengan perilaku orangtua (mungkin saya pun masih sesekali begitu) yang “memanfaatkan” cinta anak untuk meMENANGkan kepatuhan mereka.
Belum sampai di situ karena yang menggangu pikiran saya adalah ketika saya merelasikan butir keempat tadi dengan relasi saya dengan orang dewasa (tidak hanya dengan anak-anak). Hal ini kemudian membawa saya pada ingatan menonton episode MasterChef (baca kisahnya di sini) beberapa minggu yang lalu ketika dua peserta harus keluar karena inti dari masakan mereka (daging ayam dan bebek) belum matang. Jika dirunut, kesemua butir filosofi ini sebenarnya membantu kita menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik, seperti misalnya habit of perfect execution yang saya bahas pada post sebelum ini.
Ada seorang peserta lain yang saya perhatikan, yaitu Rama. Saat juri sedang menilai hasil masakan dua peserta yang dagingnya belum matang tersebut, Rama berkata hal semacam “wah kalau dia lolos padahal dagingnya belum matang, besok lagi saya bakal masak enak tapi dagingnya ga perlu matang gapapa”. Statement tersebut sudah mengganggu saya untuk lebih dari seminggu saya pikirkan. Mari berefleksi, berapa dari kita yang masih suka “aku bakal begitu, kalau kamu begini”?

Butir keempat filosofi Charlotte Mason ini menjawab sudah kegundahan hati saya saat mendengar statement Rama tersebut. Ketaatan/ kepatuhan/ kebaikan/ habit tertentu TIDAK BOLEH TERPENGARUH pada perilaku orang lain, let me simplify, kalau mau baik ya baik aja ga usah nunggu orang lain baik dulu. Rama kalau mau baik, mau masak dengan sempurna, ya buat aja sempurna, ga perlu terpengaruh sama hasil orang lain yang mungkin ga sempurna tapi diterima. In addition, kita tidak boleh menjadikan “ketidaksempurnaan” orang lain untuk menjadi “excuse” kita agar bisa “ikutan” tidak sempurna juga. Contoh, di tempat kerja (yang lama), suami hanya berdua saja di kantor dengan partmernya karena itu adalah kantor cabang. Tidak ada bos, teman kantor yang satu-satunya sering telat, menggoda sekali untuk suami ikut-ikutan “ga patuh” dan ikut terlambat. Tapi waktu itu, suami memilih untuk tetap datang tepat waktu dengan alasan sederhana yang dia bilang “ya neg aku mau ontime ya ontime aja, ngopo ngenteni mas *** ontime sik” (translate : ya kalau saya mau datang tepat waktu ya tepat waktu aja, ga perlu menunggu si teman kantor untuk datang tepat waktu juga.).

Conclusion : kalau kita sudah punya metal “GA TERPENGARUH” dengan perilaku orang lain ini, mau habit dan kebiasaan baik apapun pasti tidak akan sulit dilakukan.
So, readers be good all the time to all people no matter what.



Xoxo, 



PS : kemarin saya dapat mention di akun Instagram saya dari seorang reader blog saya ini. Terima kasih buat semua yang sudah baca tulisan - tulisan saya ini, semoga tulisan saya bisa terus bermanfaat buat teman-teman ya :)

March 30, 2019

(not) being perfectionist

The unexamined life is not worth living. ~ Socrates
..................................................................


Happy New Year !!!
Ini post pertama saya di tahun 2019. Akhirnya bisa mampir lagi setelah berkutat dengan “dunia nyata” yang selalu saya dambakan ketika dulu hanya sibuk di “dunia maya”.
Tahun ini, setelah pada tahun sebelumnya saya bertemu dengan banyak orang (yang menurut saya berada dalam frekuensi yang sama), saya (si tukang mikir ini) memutuskan untuk belajar selalu merefleksikan semua yang saya pikirkan, tidak berhenti sampai hanya dipikirkan, tapi kembali ke kebiasaan lama untuk merenungkannya. Jika ada dari teman sekalian yang suka berefleksi juga, mari saya ajak untuk kita memikirkannya bersama.
Well, singkatnya, beberapa hari yang lalu, saya berefleksi setelah melihat acara TV tentang memasak. Dalam acara itu, ada beberapa peserta lomba memasak yang dinilai gagal mengeksekusi tantangan sehingga mereka yang gagal ini (ada 6 orang) diminta untuk mengikuti pressure test yang mana mereka harus memasak dengan bahan yang unexpected dan alat seadanya dalam waktu hanya 60 menit saja. Dalam pressure test  tersebut, ada 2 peserta yang melakukan “kesalahan”. Kesalahan mereka sama, yaitu ayam dan bebek yang mereka masak BELUM MATANG. Reaksi kecewa juri dan peserta lain membuat saya berpikir, mereka beberapa kali mengatakan bahwa kedua orang yang gagal dan pulang ini adalah orang-orang dengan POTENSI baik, yang sebenarnya hanya melakukan “KESALAHAN KECIL” saja. Kalau dari kacamata orang biasa, memang kesalahannya “HANYA” pada inti masakan yang tidak matang, padahal yg lain makanannya ga istimewa tp kenapa lolos?
Kemudian saya teringat tentang “HABIT OF PERFECT EXECUTION” yang memang baru-baru ini saya highlight (karena sayapun merasa saya masih butuh belajar menerapkan hal ini). Perfect execution tidak sama dengan being perfectionist, OCD, atau nilai 100. Jika kita merelasikannya dengan acara TV tentang memasak ini, perfect execution itu tentang mengerjakan sesuatu dengan SEBAIK-BAIKNYA. Baik itu ukurannya apa? Ukurannya adalah POTENSI DIRI. Jadi, definisi habit of perfect execution dr hasil refleksi saya adalah MELAKUKAN SESUATU SEBAIK-BAIKNYA sesuai dengan POTENSI diri. Maka, ini berarti untuk memunculkan “Habit of Perfect Execution” ini, yang pertama dilakukan adalah mengukur potensi diri sendiri terlebih dahulu. Jika kita tahu dan sadar bahwa potensi itu belum (atau tidak ada) ada, maka sama saja dengan bunuh diri jika kita memaksakannya. Sehingga ada baiknya bagi kita untuk memapukan diri terlebih dahulu, memunculkan potensi, supaya dapat melakukan habit of perfect execution ini.
Chef juri dalam acara TV tersebut kecewa karena dua orang yang gagal dan pulang adalah orang yang sesungguhnya memiliki POTENSI, mereka mampu, namun eksekusinya TIDAK MAKSIMAL. Saya sempat berdiskusi dengan suami mengenai waktu memasak yang menurut suami sangat pendek. Namun coba bandingkan dengan peserta lain yang mampu membuat masakannya matang dalam waktu yang sama. Jadi sesungguhnya waktu bukanlah excuse untuk tidak mengerjakan tugas sebaik-baiknya jika memang kita punya POTENSI. Sama halnya dengan deadline pekerjaan misalnya, bukan berarti karena deadline yang mepet membuat tugas dikerjakan asal-asalan hanya demi memenuhi deadline saja kan?
Maka, akan menjadi wajar jika orang lain yang sudah melihat potensi kita menjadi kecewa ketika kita tidak mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Kecewa karena sudah expect sesuatu dari kita dengan potensi yang kita miliki, tapi kita tidak memenuhi ekspektasi tersebut. Rasa kecewa tersebut dapat berupa omelan, surat peringatan, dan lain-lain.
Renang pertama Keona di usia 3 tahun :)
Jika ada ibu-ibu yang membaca tulisan saya ini, mari kita relasikan hal ini pada pengasuhan anak. Jelas dengan pasti bahwa anak belum bisa menilai potensi kita untuk menjadi ibu yang baik bagi mereka (toh mereka juga tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana), tapi anak-anak dapat merasakannya. Mereka tak berdaya, berbeda dengan atasan yang mungkin bisa langsung memecat, anak akan cenderung mengekspresikan kecewanya dengan beragam cara seperti misalnya tantrum, berteriak, dan banyak hal ajaib lain yang justru akan semangin membuat ibu semakin jengkel.
Saya bukan ibu yang sempurna yang selalu memaksimalkan potensi. Tapi sebuah pengingat saya putar selalu “jika saya tahu hal yang benar namun tidak melakukannya, maka saya berdosa”, sehingga proses belajar menggali potensi tersebut akan menjadi bermakna karena saya ingin melakukan yang benar dengan sebaik-baiknya. Semoga refleksi ini dapat membuat hari-hari kita menjadi lebih baik.
Terima kasih

Selamat malam
Image and video hosting by TinyPic


PS: berikut saya post beberapa foto liburan dua minggu yang lalu ke Jogja saat merayakan ulang tahun Keona.



dan dia sudah berani
tiup lilin di samping kolam hotel, one of her bucket list


June 21, 2018

Edumommies 7 Days of Art Challenge

Wake up and make your dreams come true!

....
persiapan bahan bahan

Akhir bulan April yang lalu, saya menemukan postingan di Instagram Edumommies (sebuah kumpulan mama mama yang peduli akan pendidikan) tentang challenge 7 hari membuat art and craft bersama anak.
Awalnya saya males buangeeeeetttttt, karena ampun deh mikirnya kan masih kerja, pulang sore, ya apa cukup waktunya buat bikin. Tapi lalu tiba tiba, dua hari sebelum saya akhirnya posting kegiatan pertama saya di Instagram, Keona yang saya jemput dari tempat penitipan kalau saya kerja bikin saya nggregel sore itu :)) dia iseng saya tanya "Keona besok sekolah, ikut mama apa di tempat ibu (yg momong)?" trus jawaban dia sebenernya standart "mama" gitu aja tapi tarikan tangan dan pandangan matanya itu yang bikin saya "ohhhhhhh, I have to make some quality time with her".
Dan Jumat, pulang sekolah, saya mampir toko peralatan pernak - pernik untuk beli bahan bahan craft dan Sabtu nya kami mulai membuat.......Setelah sebelumnya saya menyusun plan activitynya.....yeayyy

Hari pertama,
Kami membuat "Ms. K's Fancy Bubble Maker"

Karena boleh ga urut, untuk memenuhi weekly plan yg saya buat, pertama harus bikin Bubble Maker ini dulu.
Bahannya dari Pipe Cleaner, atau yang kalau beli di toko disebut Bulu Mersi...
Keona saya minta meronce aneka manik manik kedalam Pipe Cleaner, lalu saya eksekusi bentuk bubble makernya...
Hal positif dari aktifitas ini adalah : .

  • menambah rentang konsentrasi anak, karena butuh ketelitian, aktifitas meronce manik manik ini juga membantu anak mengembangkan kemampuan motorik halus nya, klo motorik halus nya oke, mau di suruh duduk anteng lama juga bakal oke.... .
  • karena hari itu kebetulan juga hari Kartini, kami have fun sama manik manik dan pipe cleaner ini untuk bikin kalung kalungan dan gelang gelangan juga....alesan buat ga kebayaan hari ini, cukup centil centilan aja (Ga di post gambarnya krn ga berkaitan sama open ended project kami, ini cm sisi positif lain aja) hehehee
➡ kegiatan ini cocok untuk anak umur 18 bulan - 3 tahun yg masih belajar banyak motorik halus sebagai kegiatan "pra menulis"
Bubble maker yg ada tulisan "KEONA" nya itu bikinan saya, yg dua sisanya hasil ronce an Keona....it takes about 2 hours to finish this project....




Hari kedua,
Kami membuat "Ms.K's Bubble Art"
the bubble art

Beberapa minggu yang lalu, disekolah Keona 
ada pelajaran craft, bikin painting pake bubble... Dan sepertinya Keona terkesan dengan aktifitas tersebut (thanks to ms Vianny yang uda keren bgt bawain kelasnya sampe Keona terkintil kintil hahaha), jadi ceritanya Keona ceritain ke papa nya, ke oma nya, ke semua yg dia kenal tentang cara niup bubble.

Saya, yg bikin kurikulum dan lesson plan niup bubble itu agak trenyuh "ya ampun, anakku suka sama hal yg aq arrange, walo bukan aq yg bawain kelasnya", makanya, sekarang ada kesempatan acara challenge ini saya mau ulang aktifitas yang saya buat untuk sekolah buat senang senang sama Keona....
FUN
Oya aktifitas ini juga ada bnyk maksudnya looooo, 
Untuk seusia Keona :

1. Latihan meniup itu baik untuk rangsangan rahang, terutama untuk anak usia bicara...rangsangan otot rahang yg baik akan membantu anak bicara dengan jelas

2. Tema day3 nya kali ini kan cat air (water color), kali ini kita bikin sendiri water colornya dari pewarna makanan, air matang, dan shampoo bayi (yg aman kalo terpercik percikan bubble ke mulut atau kena mata). Jadi dengan kegiatan #DIYbikin cat air ini, Keona juga belajar ketrampilan mengaduk (dia belajar ketika tidak hati2, air akan tumpah).
Oya, kita pake ms.K's Fancy Bubble Maker yg hari sebelumnya dibuat untuk aktifitas ini.

Hari ketiga,
Kami membuat "Ms.K's illegible scratch"

Untuk challenge berikutnya, kami menggunakan daun...
Dalam prosesnya, Keona mengenal berbagai jenis daun di sepanjang jalan dekat rumah. Yang paling dia suka adalah daun putri malu yang tumbuh liar di trotoar depan rumah, semacam "peek a boo" gitu mungkin buat Keona.
Well, anyway, karena waktu itu masih dalam nuansa HARI BUMI, jadi kami ga metik banyak banyak daun untuk aktivitas ini, hanya 3 ukuran daun berbeda dari pohon mangga depan rumah.
Daun daun tsb kemudian di tempelkan kebelakang kertas dengan tulang daun menghadap kertas, lalu diselotip supaya tidak bergeser. Keona kemudian mengarsir di sisi satunya jd kertas tersebut. Awalnya FUN dia corat coret (fyi, klo anak tmn2 seumur Keona blm bs pegang crayon dg benar jgn panik ya, mereka masih tahap eksplore alat tulis, bdasarkan hasil observasi saya, anak yg bisa mandiri makan pegang sendok sendiri cenderung lbh cepat adaptasi dg alat tulis), tapi lalu lama2 dia lebih asik sama crayon, disusun2 memanjang kaya kendaraan lg macet 😂 ya gitu deh, karena coret coret nya Keona tipis banget, jadi mama lanjut biar agak tebal sehingga tekstur tulang daunnya terlihat...
Fyi, yg daun hijau itu hasil karya mama seorang, yg 2 sisanya punya Keona
Hari keempat,
Kami membuat "Ms. K's Mosaic Flower Pot"


Ga gampang memikirkan "apa yang harus dilakukan" sama anak 25 bulan, krn kemampuan motoriknya masih terbatas (beda cerita kalo anak uda gedean dikit yahhhh 3-4th lah).
Jadi ini kreasi tersimpel yang bisa dikerjakan oleh Keona SENDIRI setelah 3 challenge sebelum ini (yahh dibantu dikit2 pasti lah), karena saya mau dia belajar banyak hal dr kegiatan 7hari ini).
Kali ini, menggunakan kertas lipat, kami membuat kreasi sederhana... Hanya ada 4 step lipatan saja sekali buat serta ditambah potongan kertas lipat kecil kecil yang di lem dan di susun di atasnya (tangan belepotan lem, krn Keona suka sekali mainan lem)....mulai dengan memilih kertas lipat, Keona pilih hijau dan kuning lalu lipat lipat, dan tempel tempel 🙌


Hari kelima,

Kami membuat "Ms. K' Millennial Flowers"

Kreasi dengan kemasan snack ini, Keona mama ajak untuk membuat mosaic bunga.... Awalnya, mama buat pola bunga dulu pake kertas, lalu mama yg aplikasikan lem diatas kertas dan Keona menempel potongan kemasan snack...baru 1 bunga, Keona menyadari bahwa mainan lem nya lebih seru. Jadi, bunga kedua (yg warna hijau sebelah kanan) dia minta dia yg ngelem dan mama gantian yang nempel nyusun kemasan snack nya, efeknya adalah yg pas bunga kedua mama ga bs pegang hp buat motret gimana excited nya Keona sama lem, krn tangan mama sendiri uda belepotan lem 😂 lem nya dituang semua diatas kertas dannnnnn hasilnyaaaaa lem satu wadah yg tadinya utuh jadi HABISSSSS !!! (warbyasakkk ya Keona kalo ketemu lem bisa seneng buangetttt)...

Lewat aktivitas ini, mama juga mau ajarin Keona tentang pentingnya buang sampah pada tempatnya (kebetulan juga masih nuansa earth day), Keona uda bisa disuruh buang sampah sendiri juga sekarang....yahhh, walau respon Keona masih "wahhhhh" atau hanya anggukan, mama percaya tangannya suatu saat jd tangan berguna yg ikut serta membantu upaya menjaga lingkungan... dihalaman rumah ada bunga mawar, mama ajak keona juga lihat dan compare bahwa bunga yg asli lebih bagus drpd bunga yang penuh sampah.... Yahhhhh, semoga bs nyantol di alam bawah sadarnya yaaaaaa 🙏

Hari keenam,
Kami membuat "Ms. K's Pompom Stem"

Untuk kegiatan kali ini, mama dan Keona butuh 2 hari untuk menyelesaikan nya... Kenapa?
Karena Keona butuh waktu sekitar 1jam an untuk "sorting pompoms" berdasar warna nya.
Kaya kurang kerjaan ya?? tapi maksud dari kegiatan ini adalah untuk memantabkan kemampuan Keona membedakan warna. Kalo diperhatikan, dari awal challenge saya hanya pakai warna seputar kuning, biru, dan merah (waktu bubble painting pun begitu) krn supaya Keona mantab dl di warna primer sebelum mulai mengenal warna campuran (memang itu goal dr pembelajaran anak usia 1-2th) dan hal membedakan warna dan bentuk juga merupakan bagian dari kegiatan "pra membaca dan pra menulis" 😁 juga melatih rentang konsentrasi Keona agar lbh tahan lama beraktivitas dengan tenang....
Jadi, baru hari ini, hari kedua mainan pompom, kami bisa selesaikan challenge nya (saya kemarin ga mau paksa Keona untuk lanjut menempel bunga dll).
Jadi Millennial Flowers, Illegible Leaf, dan Mosaic Flower Pot dirangkai jadi satu di atas Bubble Art yang dibuat hari kedua, bersama dengan pompom yg di susun menjadi batang bunga.... Tadinya mama mau sekalian ajarin Keona patterning (mengurutkan warna pompom) tapi pas dipikir ulang "mending Keona suka suka dulu lah kreasi nya mau warna apa aja bebas"

Hari ketujuh,
Kami membuat "Ms. K's Art Holder"

Sudah lama saya berniat bikin art corner di rumah... Fungsinya untuk nge-"display" hasil karya Keona ...
Dan di challenge hari terakhir, saya berhasil membuatnya bareng Keona.
Agak diluar ekspektasi sih, karena ga predict klo Keona bakal pencet pasta langsung banyak.....
Tunggu kering dahulu pasta nya sebelum digunakan untuk menggantung craft.
Jika pasta sudah kering bisa langsung dipakai untuk nge-"display" yang sudah Keona buat pada challenge sebelumnya..........................................................


Saya bersyukur, lewat challenge ini, saya bisa quality time sama Keona, sesuatu yang mungkin hanya saya lakukan ketika hari Minggu atau saat libur saja. Dan, finally setelah lewat sekian bulan, baru bisa post di blog dan di youtube hari ini.


Kedepan, mungkin saya akan posting lebih banyak tentang parenting dan tips tips craft diy sama anak :) karena ternyata saya kecanduan, hehehehe

Goodnite,
Image and video hosting by TinyPic

PS : saya jagoin Inggris di Piala Dunia kali ini, doain menang yaaaakkkkk...hahahahha, kalo mau ngobrol2 live pas piala dunia, biasanya saya on di story IG or twitter (check link on my sidebar)

June 11, 2018

Dash Off (Singapore day 4)

Don’t dash off a six-thousand-word story before breakfast. Don’t write too much. Concentrate your sweat on one story, rather than dissipate it over a dozen. ~Jack London

....

Sudah lewat 3 bulan dari trip saya ke Singapura Maret yang lalu dan semoga saya masih bisa mengingat dengan detail bagaimana trip kami dihari terakhir ini.
Okay, saya akan awali dengan menyapa pembaca saya dulu "Halooooooooo", lama sekali rasanya tak menginjak halaman ini. Saya sibuk, benar benar sibuk. Rapot dan kenaikan kelas menjadi prioritas saya dua bulan terakhir. Jadi maaf ya :) Harapan saya setelah post tentang Singapura trip ini saya bisa mulai post hal hal yang berbau parenting *big grin*. Well, mari kita mulai ceritanya.
...

Pagi itu, Rabu tanggal 7 Maret 2018, kami semua bangun kesiangan sehingga baru pukul 9 kami keluar makan di Lucky Plaza di Orchard Road. Sarapan dengan menu yang sama selama tiga hari sama sekali ga buat bosan. Yang bikin jengkel adalah ketika harus terburu buru karena mengejar kereta ke bandara tapi Keona rewel ga mau makan (ampun DJ ini mah). Untung saya bawa tempat makan kosong, jadi bisa masukkan makanan kesitu nanti biar bisa dimakan lagi ketika Keona sudah mau makan. Oya, penting bagi teman - teman semua yang bepergian membawa anak untuk membawa tempat makan kosong dan peralatan makan kemana saja, ya salah satu manfaatnya adalah yang saya sebutkan tadi, jaga jagan anak belum mau makan saat kita berhenti makan.
Kemudian saat makan saya tiba tiba ingat sesuatu

(((SAYA BELUM BELI OLEH OLEH UNTUK SUAMI SAYA SENDIRI)))

oh Lord, cobaan apa ini :'D Saya ingat akan oleh oleh untuk teman kantor yang lain, keluarga, dan teman teman, tapi lupa sama suami sendiri. Ya sudah, saya waktu itu di Lucky Plaza cepat cepat makan lalu lari ke bagian jualan sepatu untuk beli 1 pasang sepatu buat suami saya. Tips membeli sepatu untuk orang lain di negara lain adalah pastikan kita tahu PANJANG INSOLE sepatu nya. Karena jika hanya mengandalkan ukuran sepatu, pasti kemarin saya akan nangis darah akibat ukuran sepatu tidak selalu sama. Mulus gitu aja? ah tidak..... Saya kena omel si bu bos karena masih sempet mikir beli oleh oleh padahal kami harus cepat cepat ke bandara kalau memang mau explore bandara sebelum terbang kembali ke Indonesia, plusssss, tas bawaan kami yang sudah diatur malamnya demi supaya bisa masuk bagasi dll jadi mau tidak mau kami obrak abrik lagi di tengah jalan.

Singkat cerita, setelah itu kami lanjut naik MRT ke arah bandara Changi ketika tiba tiba bu bos mendapat pesan konfirmasi mengenai penerbangan kami yang DELAYYYYYYY 3 jam. HOREEEEEEEEEEEEEEEEE
Di MRT kami tertawa lega karena kami masih punya banyak waktu untuk bisa eksplore Changi yang kata orang merupakan satu bandara terbaik.
Sesampainya kami di Changi, kami harus menukarkan dulu kartu MRT pass kami dengan 10 dollar Singapore. Awalnya saya sedih karena saya kira saya tidak akan punya kenang kenangan kalau kartu itu dikembalikan. Tapi ternyata, petugas hanya mengambil isi saldo kartu tersebut dan mengembalikannya kepada kami *YEAYYYY*.
Karena hujan deras waktu itu, kami memutuskan untuk berputar di wilayah Terminal 3 saja. Saya sempat menghabiskan dollar yang masih saya punya untuk membeli buku cerita untuk Keona dan jajanan khas Singapore untuk suami saya yang waktu itu pasti akan seaya temui kurang dari 5 jam (jadi saya pede bawa makanan itu).
Ms Eka dan Ms. Ajeng mencoba masakan India ketika di Terminal 3. Saya sebetulnya ingin sekali mencoba banyak makanan di sana. Tapi karena membawa Keona, saya jadi terbatas karena takut kalau pesan 2 porsi berbeda untuk saya dan Keona nantinya malah tidak akan habis.
Kemudian pukul 5 kurang kami mulai masuk pesawat.
Sedih, karena itu berarti liburan kami berakhir. Tapi saya percaya bahwa suatu hari saya pasti bisa ke sana lagi bersama suami juga :)

penampakan si kartu tap tap di MRT yang bikin saya punya 10 dollar tambahan sebelum pulang
terakhir turun lift dari dekat tempat kami menginap
stasiun terakhir sebelum bandara
kawai
guide tempat di bandara ini membantu saya menemukan beberapa tempat bagus :)
ini saya foto karena saya suka KUNINGGGGG

Nah, sudah deh ceritanya day 4.
Thank you ya sudah baca baca tulisan saya :)


Good nite,
Image and video hosting by TinyPic

April 14, 2018

Black or White (Singapore day 3)

Laundry is the only thing that should be separated by COLOR.
*NN* (ini quote tentang rasis yang paling pas dengan hidup emak emak kayak saya yang hampir tiap hari urusan sama cucian hahahahahha)

...
Jadi, hari ke tiga kami di Singapore, tempat yang kami kunjungi adalah tempat ibadat dan daerah dengan culture yang khas.
Pertama, kami ke St. Andrew's Cathedral. Ini satu gereja katolik yang besar di Singapore. Bangunannya megah, sepintas kalau lihat bagian luar dan dalam gereja ini, saya pribadi teringat Greja Blenduk di Semarang, ditambah, di Gereja ini juga ada orgel nya yang juga di miliki Gereja Blenduk Semarang. Keren aja pas sampai sana bisa waw wowww...gitu (hahahaha, ncen ndeso). Ada juga KAFE nya loooo ni gereja. KAFE ya sodara, bukan kantin kaya yang biasa saya lihat di Gereja di Semarang (makin mlongo saya) hahahaha.

salah satu sisi gereja
bagian dalam gereja

Tadinya setelah St. Andrew's, kami masih akan mengunjungi juga Budha Tooth Relic Temple and Museum dan Sri Mariamman Temple. Tapi berhubung waktu yang terasa cepat sekali jalannya, jadi kami skip dan langsung ke Chinatown (oiya, pada hari kedua kami juga ke Little India setelah Haji Lane).


ini foto hari kedua di Little India, maap kelewat ceritanya hehe
Di Chinatown saya ga banyak ambil foto, karena Keona rewel, ngantuk dan lapar. Serba salah, di kasih makan di lepeh lepeh karena pengen tidur, tp di tidurin ngga mau karena laper.......Yah, you can imagine lah rempongnya bawa toddler yang lagi masa mau disapih dan rewel begitu :D

candid by ms Eka :D
Biar begitu, tapi saya senang. Saya cinta Indonesia, sungguh, tapi Singapore yang juga masyarakatnya cenderung beragam, bikin saya angkat jempol. Mereka toleransinya luar biasa sama yang berbeda. Mau putih, item, mau India, mau Chinese, mau Malay, ya pokoknya perlakuannya sama, ga di beda bedain. Mau saya kulit putih juga masuk ke Chinese Resto di sana kalo saya salah antri juga bakal kena omel (hahahahha, sungguh, kalo kamu ke Singapore, jangan gampang baper ya, orangnya straight to the point semua, ga ada basa basi nya kaya orang Indonesia) hehehehe.

Abis dari Chinatown, kita ke Sentosa. Yang single ladies pada jalan motret sana sini, saya sama ms Lingga mah duduk syantik aja ngliatin bocah mainan air hahahahah...
ini sudah di Sentosa, sebelum mainan air

sepertinya ini Keona lagi jadi photobomb nya Kyralee hahahaha
ga afdol rasanya kalo sampe sentosa ga foto disini, hehehe
Terakhir, kita nonton pertunjukan WINGS OF TIME...... Jadi, kalo belum pernah nonton, itu pertunjukan air gitu, tapi ada ceritanya. BAGUSSSSSSS BANGETTTTTTTT, sayang Keona sempet nangis karena kaget sama soundnya...

sebelum pertunjukan dimulai
katanya, di Singapore kalo ga selfie sama kaca begini juga belom afdol :)) 
Sebelum kembali ke penginapan, kami foto foto di Orchard Road juga, karena itu malam terakhir kami disana (bring me back there, God).
Orchard Rd.
Done, itu hari ketiga kami di Singapore.
Next saya cerita hari teakhir yang penuh keterburu buruan dan ketawa. hehehehe..
Goodnight, people.
Image and video hosting by TinyPic

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...