Showing posts with label parent(alk). Show all posts
Showing posts with label parent(alk). Show all posts

October 28, 2026

Hasrat yang Perlu Diberi Arah - Narefleksi Kajian Rabu, 28 Oktober 2026

pict. from here

tentang Vol. IV, Bab VII, Akal Budi Harus Diberi Makan hingga Hasrat Akan Keunggulan

_______________________________________

Di dalam diri, ada hasrat yang diam-diam menggerakkan langkah.
Ingin diakui, ingin dihargai,
ingin menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Tak semuanya buruk.
Kadang, senyum seseorang membuat kita berani mencoba lagi.
Kadang, melihat orang lain melangkah lebih jauh
membuat kita ingin ikut bertumbuh.

Namun, hasrat juga tahu cara menyesatkan.
Kita bisa begitu sibuk ingin dilihat
hingga lupa apa yang sebenarnya perlu dilakukan.
Kita bisa begitu ingin menjadi yang terbaik
hingga tak lagi peduli apa yang sedang kita pelajari.

Seperti pedang bermata dua
dengannya, tak hanya bisa menjaga diri,
tapi juga bisa melukai diri sendiri dalam perlombaan memenangkan kerajaan diri
yang tak pernah benar-benar selesai.

Sama seperti prinsip YOLO
you only live once
yang bisa menjadi keberanian untuk menjalani hidup,
tetapi juga alasan untuk bertindak tanpa berpikir panjang.
Satu dorongan, dua kemungkinan.
Maka, bukan hanya hasratnya yang perlu diperiksa,
melainkan juga ke mana ia membawa kita.

Sebab mungkin yang perlu kita tanyakan
bukan sekadar seberapa jauh kita telah melangkah,
seberapa tinggi kita telah berdiri,
atau berapa banyak mata yang memandang kita.

Melainkan:
Apa yang sedang kita kejar,
dan apakah itu sungguh layak dikejar?

Aku jadi memeriksa diri, ternyata

aku ingin tetap punya hasrat untuk bertumbuh,
tanpa harus selalu mengalahkan orang lain.
Ingin diakui, tanpa kehilangan harga diri.
Ingin menjadi lebih baik,
tanpa lupa bahwa belajar bukan sekadar perlombaan.

Barangkali, hasrat memang perlu diberi makan.
Tetapi ia juga perlu diberi arah
agar aku tidak menghabiskan hidup
untuk menjadi unggul dalam hal-hal
yang sebenarnya tak perlu kumenangkan.

September 23, 2026

Ketika Nalar Belajar Bertanggung Jawab - Narefleksi Kajian Rabu, 23 September 2026

Nalar bisa menunjukkan cara, tapi kita tetap perlu tahu kemana harus pergi.
Gambar dari sini

tentang Charlotte Mason, Vol. 4, Bab VI, Nalar Orang Baik, Kerja Nalar Dalam Pekerjaan Baik dan Penemuan Besar, dan Apa yang Dimaksud Dengan Akal Sehat

________________________________________________________

Ada satu hal yang makin terasa ketika membaca bagian tentang Nalar: ternyata kemampuan untuk berpikir dan menemukan jalan keluar bukanlah jaminan bahwa seseorang akan memilih yang benar. Nalar bisa bekerja dengan sangat baik untuk membela apa pun yang sudah lebih dulu dikehendaki hati. Karena itu, mungkin kehendak yang benar juga perlu dilatih, dengan terus mendekatkan diri pada hal-hal yang benar, pada orang-orang yang baik, pada lingkungan yang menolong kita menjaga arah. Seperti yang diingatkan Kitab Suci, “jangan menjauhkan diri dari persekutuan.” Sebab kebiasaan baik pun bisa rusak oleh pergaulan yang buruk. Maka aku mulai bertanya: ketika seseorang berbuat baik, apakah itu otomatis berarti hatinya baik? Atau bisa jadi Nalar hanya sedang sangat pandai menemukan alasan untuk melakukan sesuatu yang tampak baik?

Di sisi lain, aku juga melihat betapa luar biasanya kerja Nalar. Hampir segala sesuatu yang kita gunakan hari ini pernah bermula dari seseorang yang memikirkan sesuatu yang sebelumnya belum ada. Penemuan bukan hanya tentang menciptakan sesuatu dari ketiadaan, tetapi juga memikirkan apa yang bisa dilakukan selanjutnya dari sesuatu yang sudah ada. Minuman kemasan, misalnya, mungkin lahir untuk membuat hidup lebih praktis; lalu masalah limbahnya memunculkan kebutuhan akan cara baru untuk mengolahnya. Satu penemuan melahirkan persoalan, persoalan melahirkan penemuan berikutnya. Tapi kalau begitu, aku jadi bertanya: kenapa rasanya penemuan besar sekarang tidak sebanyak dulu? Atau mungkin sebenarnya kita hanya melihat penemuan sebagai sesuatu yang spektakuler, sementara banyak penemuan hari ini bekerja diam-diam di balik kehidupan kita?

Yang lebih menggangguku justru pertanyaan tentang apakah semua yang bisa ditemukan memang sebaiknya ditemukan? Nalar adalah hadiah Tuhan yang luar biasa, tetapi ia sendiri tidak otomatis bekerja di wilayah moral. Ia dapat menyelesaikan masalah tanpa terlebih dahulu bertanya apakah solusi itu akan membawa kebaikan. Bom, misalnya, bisa saja diciptakan dengan alasan praktis untuk pekerjaan tertentu, tetapi ketika kemampuan itu dipakai tanpa pertimbangan moral, ia dapat mencelakakan manusia dan lingkungan. Jadi mungkin persoalannya bukan lagi sekadar “Bisakah kita membuatnya?”, melainkan “Setelah kita bisa membuatnya, apa yang akan kita lakukan dengannya?” Dan sekarang, ketika kita berhadapan dengan AI yang kemampuannya terus berkembang, pertanyaan itu terasa semakin dekat. Apakah ia akan menjadi alat yang memperluas kebaikan, atau justru menjadi sesuatu yang suatu hari berbalik menjadi bumerang? Jawabannya mungkin tidak terletak pada kecanggihan teknologinya saja, tetapi pada manusia yang memegangnya.

Maka penemuan pun rasanya perlu terus diperiksa dan diuji. Bukan untuk mematikan rasa ingin tahu, tetapi justru supaya rasa ingin tahu tidak berjalan tanpa tanggung jawab. Ada perbedaan antara “aku menemukan bahwa ini bisa dilakukan” dan “karena ini bisa dilakukan, maka ini baik untuk dilakukan.” Nalar dapat membawa kita dari masalah menuju solusi. Tetapi ia membutuhkan sesuatu di luar dirinya untuk menilai ke mana solusi itu membawa kita. Mungkin di situlah kehendak, hati nurani, nilai, dan iman mendapat tempatnya.

Lalu aku sampai pada common sense. Aku langsung teringat pada Keona ketika mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang bagi orang dewasa sudah terasa begitu biasa: “Kenapa aku harus begini? Kenapa begitu?” Kadang itu adalah rasa ingin tahu yang sungguh-sungguh. Kadang mungkin hanya cara halus untuk mencari alasan agar tidak melakukannya. Dan aku mendadak merasa pertanyaan yang sama perlu diarahkan kepadaku sendiri. Ketika aku mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap common sense, apakah aku sedang sungguh-sungguh ingin memahami atau sebenarnya hanya sedang mencari pembenaran untuk tidak mengikutinya? Sebab common sense pun tidak selalu universal. Sesuatu yang masuk akal dan cocok bagi hidupku belum tentu cocok bagi orang lain, begitu pula sebaliknya.

Maka mungkin menjadi dewasa bukan berarti selalu mengikuti apa yang sudah dianggap masuk akal, tetapi juga bukan selalu merasa harus berbeda. Kita perlu cukup rendah hati untuk menerima kebijaksanaan yang sudah teruji, sekaligus cukup berani untuk mengujinya kembali ketika memang ada alasan.

Dan mungkin inilah pelajaran Nalar yang paling penting bagiku: berpikir bukan hanya tentang menemukan jawaban, tetapi juga tentang memeriksa ke mana jawaban itu akan membawa kita. Kita boleh menemukan, menciptakan, mempertanyakan, dan memikirkan ulang. Tetapi setelah itu, kita tetap harus bertanya: apakah ini benar? apakah ini baik? dan yang paling penting—apakah ini akan membuat kehidupan menjadi lebih baik, atau justru mencelakakan orang lain?



August 12, 2026

Pikiran Yang Terlalu Penuh - Kajian Rabu, 12 Agustus 2026

Tentang Volume IV, Bab II, Kehidupan Intelektual

picture from here


Aku pikir kehidupan intelektual
adalah tentang banyaknya hal
yang mampu kita ketahui.

Ternyata mungkin bukan.

Melainkan tentang
berapa banyak dunia
yang masih sanggup kita biarkan
tinggal di dalam kepala.

Ada hari-hari ketika kepalaku terlalu penuh
kepalaku penuh oleh angka,
oleh hari-hari yang belum datang,
oleh kemungkinan-kemungkinan
yang ingin kupastikan aman.

Tentang apa yang harus cukup,
apa yang harus disiapkan,
apa yang mungkin hilang
sebelum sempat selesai.

Semua itu penting, setidaknya bagiku.

Mungkin terlalu penting
sampai hal-hal lain
tak lagi mendapat tempat.

Padahal di luar sana
masih ada pertanyaan-pertanyaan
yang tidak meminta jawaban hari ini,
buku-buku yang belum selesai dibaca,
langit yang mungkin sedang berubah warna,
dan dunia yang masih menyimpan
begitu banyak pintu.

Aku ingin anakku
suatu hari membuka buku
bukan karena seseorang menyuruhnya,
melainkan karena ada sesuatu
yang ingin ia ketahui.

Tapi malam ini
aku justru bertanya kepada diriku sendiri:

"Kapan terakhir kali aku membuka sebuah pintu
hanya karena ingin tahu apa yang ada di baliknya?"

Mungkin aku belum kehilangan
kehidupan intelektual itu.

Mungkin ia hanya sedang menunggu
di antara daftar kebutuhan,
perhitungan masa depan,
dan segala hal yang harus kuselesaikan.

Dan mungkin belajar menjadi manusia
bukan tentang mengetahui sebanyak-banyaknya,

melainkan tentang tidak membiarkan
hal-hal yang mendesak
menghabiskan seluruh ruang
untuk hal-hal yang membuat kita hidup.

Karena aku tidak ingin
menjadi budak dari semua yang kutahu.

Aku ingin pengetahuan
menjadi jendela.

Supaya meski hidup sedang sempit,
aku masih ingat
bahwa dunia ternyata jauh lebih luas
daripada apa yang sedang kupikirkan malam ini.



July 08, 2026

Tiga Jalan Memetakan Kerajaan Jiwa - Kajian Rabu, 8 Juli 2026

picture from here

Tentang Volume IV, Bab II, Matematika, Filsafat, dan Sastra

Semula aku mengira Charlotte Mason sedang memperkenalkan mata pelajaran. Matematika, Filsafat, Sastra yang masing-masing dengan wilayahnya sendiri. Namun tiba-tiba aku merasa bahwa ia sedang memperkenalkan cara sebuah jiwa bertumbuh. Ada kalanya kita mendaki pegunungan matematika, tempat setiap langkah meminta pijakan yang kokoh. Ada kalanya kita memasuki hutan filsafat, tempat tidak semua jalan segera memperlihatkan ujungnya, berkabut, bahkan terkadang pijakannya tidak kokoh walau mungkin berada di pegunungan yang sama. Dan ada saatnya kita singgah di 'pasaraya' sastra, tempat kita belajar melihat dunia melalui kehidupan orang lain.

Mungkin menjadi manusia yang dewasa bukanlah memilih salah satu dari ketiganya. Mungkin menjadi manusia bukan berarti selalu memiliki jawaban yang benar. Kita membutuhkan matematika agar tidak kehilangan pijakan, filsafat agar tidak berhenti bertanya, dan sastra agar tidak kehilangan belas kasih. Terlalu mengejar kepastian dapat membuat kita menutup diri terhadap misteri kehidupan. Sebaliknya, terlalu nyaman dalam kemungkinan dapat membuat kita kehilangan arah. Tanpa sastra, kita bahkan bisa lupa bahwa di balik setiap pendapat ada seorang manusia dengan cerita yang tidak seluruhnya kita pahami sama seperti tokoh-tokoh dalam bacaan kita yang mungkin saling berprasangka, padahal kita tahu intensi yang mereka miliki untuk satu sama lain, mereka tidak.

Tak satu pun dari perjalanan itu ditempuh dalam sehari. Seperti mendaki gunung, kita perlu berlatih, jatuh, mengatur napas, lalu mencoba lagi. Kemampuan bernalar, menimbang, membayangkan, dan berempati tidak lahir dari satu pelajaran, melainkan dari kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit. Pendidikan, rupanya, bukan perlombaan untuk cepat sampai, tetapi latihan seumur hidup agar langkah kita semakin matang, tidak terengah-engah.

Dan mungkin inilah yang sedang dibangun Charlotte Mason: bukan anak yang pandai mengerjakan soal, bukan pula anak yang pandai berpendapat, atau gemar membaca semata. Ia sedang membayangkan manusia yang mampu berpijak pada kebenaran, rendah hati di hadapan pertanyaan, dan tetap memiliki hati yang cukup luas untuk memahami kehidupan orang lain.

Sebab pada akhirnya, ketiga perjalanan itu selalu bermuara ke tempat yang sama: Kerajaan Jiwa. Semakin jauh kita mendaki, semakin berani kita menjelajah, dan semakin banyak kehidupan yang kita jumpai, semakin utuh pula cara kita mengenali diri sendiri dan semakin bijaksana kita belajar hidup bersama sesama, dan bahwa pendidikan yang sejati bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan tentang bagaimana kita mengenal diri sendiri dan seperti apa kita mau dibentuk.



June 24, 2026

Setelah Membaca Peta yang Sama Berkali-kali - Kajian 24 Juni 2026, CM Vol. 4, Bag II, Bab 1

picture from here


Dulu, aku kira mengenal diri
adalah menghafal hal-hal sederhana
apa yang kusukai,
apa yang kutakuti,
apa yang membuatku bertahan
di hari-hari yang panjang.

Ternyata tidak.

Ternyata ia lebih mirip
membaca sebuah peta wilayah yang luas,
lalu menyadari
betapa banyak bagian yang belum kumengerti.
Ada batas-batas yang selama ini
ingin kuubah menjadi jalan.
Ada sungai yang selalu meluap
setiap kali harapan bertemu kenyataan.
Ada daerah yang tampak tenang dari jauh,
namun selalu bergemuruh di dalam.
Dan ada musim-musim tertentu
yang datang tanpa bisa dicegah.

Malam ini aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku mengira
aku sedang memperjuangkan keadilan.
Padahal mungkin
aku sedang berhadapan
dengan batas-batas diriku sendiri.

Dengan kenyataan bahwa
tidak semua hal bisa kuatur sesuai mauku
hanya karena aku menginginkannya.
Tidak semua pintu terbuka
hanya karena aku sudah menunggu lama.
Tidak semua perjalanan
memiliki lintasan yang sama.

Mungkin pengendalian diri
bukan tentang mematikan keinginan.
Melainkan tetap bersikap lembut dan tenang
ketika keinginan itu tidak menemukan jalannya.
Tetap menjaga hati
ketika dunia berjalan
dengan ukurannya sendiri.

Dan mungkin karena itulah
mengenal diri terasa begitu penting.
Karena suatu hari,
anak yang sedang kutuntun
akan memiliki peta dirinya sendiri
menemukan batas-batasnya sendiri.

Dan aku berharap,
saat hari itu tiba,
aku tidak mengajarinya
cara memenangkan segala sesuatu.
Aku berharap aku bisa mengajarinya
cara tetap utuh
ketika tidak semua hal dapat dimenangkan.



May 11, 2023

Hati Hati Gunakan Mulutmu - KAMISAN, 11 Mei 202

"Bangsa Yunani lebih paham dibanding kita bahwa kata-kata lebih dari sekadar benda, lebih dari sekadar peristiwa;" ~ Charlotte Mason, vol.6. hlm. 331

pict. from here

Setelah sebelumnya membahas tentang akal budi yang diibaratkan seperti gurita spiritual yang akan menjulurkan tentakel-tentakelnya ke segala arah untuk menarik banyak asupan yang nantinya akan dijadikan pengetahuan, kemudian topik berlanjut mengenai bagaimana asupan tersebut diolah dan keluar dalam bentuk ucapan seseorang. 

Hati-Hati Gunakan Mulutmu, saya langsung teringat lagu Sekolah Minggu ini ketika berbicara mengenai bagaimana ucapan dan pikiran kita sebenarnya berdampak besar, mulai dari "nilai diri" misalnya, hal sepele seperti berkata "Aku tuh ga lucu soalnya." ternyata dapat begitu mempengaruhi bagaimana tubuh ini selanjutnya bekerja.

Hati hati gunakan mulutmu ) 2x

 Allah Bapa di Surga melihat ke bawah

Hati hati gunakan mulutmu

Nyatanya berhati hati dalam berucap bukan cuma perkara "takut dilihat Allah" tapi lebih dari itu yaitu bertanggung jawab atas diri sendiri dengan segala ucapan yang keluar dari mulut.


Terima kasih reminder nya ya teman-teman,


October 27, 2022

Pengetahuan dan Akal Budi - KAMISAN 13 dan 27 Oktober 2022

Dikatakan bahwa pengetahuan datangnya dari karunia Allah (Charlotte Mason, vol.6, hlm.322), orang-orang Florentine pada masa itu percaya bahwa ada Tiga Kebajikan Injili (iman, pengharapan, dan kasih), juga ada Empat Kebajikan Utama (kesederhanaan, keadilan, hikmat, ketabahan) di bawahnya, serta kepercayaan akan roh Allah memiliki kuasa untuk mengajar, setiap ide bersumber dari Illahi.

Setuju atau tidak, namun ini beberapa manfaat saat kita percaya bahwa pengetahuan bersumber dari Illahi:

Yang pertama, ada ketenangan dan perasaan lega saat kita tahu bahwa pengetahuan dibagikan kepada kita sesuai dengan kesiapan kita.

Yang berikutnya adalah tidak ada lagi mengkotak-kotakan pengetahuan berdasarkan kesakralannya (sakral atau sekuler), seberapa besar pengetahuan itu (atau seberapa sepelenya pengetahuan itu), juga praktis dan teoritis - karena semua pengetahuan bersifat suci dan dibagikan sesuai kesiapan masing-masing individu untuk menerimanya. Semua pengetahuan penting, tidak ada yang lebih penting dari yang lainnya karena pengetahuan itu sebuah kumpulan kesatuan yang besar (bukan potongan kecil-kecil) yang keseluruhannya indah mencangkup Allah, manusia, dan alam semesta.

pict. from here

Manfaat yang ketiga yaitu bahwa pengetahuan dan akal budi ibarat paru-paru dan udara - tanpa pengetahuan, akal budi tidak dapat bertumbuh, lemah, dan kemudian mati. Maka, kita butuh pengetahuan itu, orangtua tidak dapat memilihkan jenis pengetahuan tertentu saja yang boleh diterima akal budi anak, semua pengetahuan layak masuk sesuai porsinya.

Lalu apakah itu berarti pengetahuan tentang yang buruk juga perlu diberikan?

Manusia dianugrahi akal budi untuk menimbang, kita tidak dapat menghindarkan anak-anak dari hal-hal buruk, tapi bukan berarti hal tersebut harus diajarkan, alih-alih mengajarkan hal itu, orangtua dapat membantu anak untuk memiliki kemampuan berefleksi tentang hal baik/buruk itu.

Tidak boleh membatasi pengetahun bukan tentang menjadi asal-asalan "asal pengetahuan diberikan" tidak memilah mana yang baik dan buruk, tidak boleh membatasi maksudnya adalah anak-anak berhak menerima asupan pengetahuan yang baik sebanyak yang mereka mampu terima, contoh membatasi misalnya seperti ini, ada orangtua yang musisi kemudian mereka membatasi anak-anak mereka hanya boleh menerima pengetahuan tentang musik saja dengan mengesampingkan pengetahuan lainnya. 

Lalu apakah mungkin terjadi "over asupan pengetahuan"?

Tidak akan terjadi "over pengetahuan" itu karena pada dasarnya pengetahuan adalah sesuatu yang diserap, bukan ditimbun, dan akal budi akan menerima pengetahuan yang siap diterima.


Yah, begitulah, dibuat berpikir dan bertanya-tanya lagi oleh Ibu Charlotte Mason, terima kasih diskusinya kawan-kawan.... Happy Thursday,



June 23, 2022

Renjana - KAMISAN, 23 Juni 2022

Sains berkata pada Sastra, “Aku tidak butuh kamu!” padahal sains adalah bintang pujaan di zaman kita. Semua materi pelajaran wajib dikuliti sampai ke tulang, sementara ruh kehidupan yang ada dalam dagingnya justru dibuang: dalam proses ini sejarah tersia-sia, puisi tak bisa lahir, agama sekarat; kita duduk menghadapi tulang-tulang garing pengetahuan ilmiah dan berkata: Inilah pengetahuan, semua pengetahuan yang dapat diketahui ada di sini. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.317

Sejak era saat Charlotte Mason hidup, rupanya pengelompokan jenis bidang study sudah terjadi. Kalau sekarang sastra dikesampingkan (fakultas diganti nama jadi Fakultas Ilmu Budaya alih alih Fakultas Sastra contohnya) di era Charlotte Mason pun demikian. 

Di luar sains, sulit mengukur kebenaran, sehingga banyak orang "mendewakan" sains. Sains nya tidak buruk, namun saat orang tidak memberi ruang untuk pengetahuan yang lain, maka nantinya akan ada "ekstrim kanan" dan "ekstrim kiri". 

Dalam diskusi, Bu Ellen memberi contoh Mendel-seorang biarawan yang juga "membuka" matanya untuk ilmu pengetahuan dengan menyusun konsep dasar genetika. Sedikit sekali orang yang saat sudah mendalami agama misalnya, terbuka juga untuk pengetahuan alam, vice versa. Yang terjadi kebanyakan justru "perebutan otoritas" mana yang benar, agama atau sains. 

Dalam tulisannya, Charlotte Mason mengibaratkan dengan "tulang-tulang garing pengetahuan", padahal jelas, tubuh yang hanya terdiri dari tulang tanpa ruh dan daging bukanlah tubuh yang hidup. Lalu apa ruh dan dagingnya? Yang tertulis "justru dibuang"?

“Aku pikir, ini luar biasa sekali,” tulis seorang anak perempuan di kertas ujian setelah berusaha menguraikan mengapa daun berwarna hijau. Anak ini telah mendapatkan ruhnya – kekaguman, rasa takjub – yang membuat sains itu hidup. Tanpa rasa takjub, nilai tertinggi seorang ilmuwan tidak lagi spiritual, melainkan utilitarian. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.317

Rasa takjub membuat sains itu hidup. Rasa takjub ini juga yang kebanyakan dianggap tidak penting dan dibuang. Utilitarian lebih mengedepankan prosedur dan teknis sehingga esensi dari pengetahuan itu sendiri terbuang. Rasa takjub akan memunculkan kesenangan belajar, kesenangan belajar akan memunculkan rasa "aku ternyata banyak tidak tahunya ya", dan perasaan itu akan tumbuh menjadi kerendah hatian. Tanpa rasa takjub, ego kita jadi besar.

Teringat perjalanan kami ke Jakarta minggu lalu, saat itu saya harus menghadiri rapat di hotel besar. Saat di toilet, Keona takjub akan sistem flush toilet itu - alih-alih menggunakan pencetan untuk flush, pengguna toilet hanya tinggal berdiri dan flush akan terjadi secara ototmatis. Bagi orang dewasa yang sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi saat ini, hal itu mungkin akan biasa saja. Tapi bagi Keona, itu menimbulkan ketakjubannya "Lohh, koq bisa ya ma?" dan "Dia tahu darimana kalau kita sudah selesai pakai lalu harus flush?". Kami menghabiskan waktu sedikit lebih lama di kamar mandi untuk menjawab rasa takjub Keona itu. 

"Ojo gumunan!" - begitu kata proverb Jawa terkenal yang dilontarkan mba Putri dalam diskusi. Menarik, karena sepintas rasanya pepatah itu kontras sekali dengan yang disampaikan Charlotte Mason dalam tulisannya. Tapi kalau saya boleh satukan, yang dimaksud dengan "ojo gumunan" itu adalah jika kita hanya nggumun saja, tanpa memaknai peristiwa nggumun atau takjub itu. Kalau Keona cuma takjub "wahhh bagus yaa ma!" dan stop sampai di situ saja itu yang dimaksud dengan "ojo gumunan!", lebiih dari itu, seharusnya ketakjuban akan memunculkan RENJANA atau hasrat untuk tahu lebih dalam apa dan mengapa hal itu terjadi.


pict. from here
Yang dilihat orang = anak mainan pasir
Yang dirasakan anak = belajar bermain hati-hati, pasir kalau kena mata sakit, belajar bentuk partikel pasir yang semakin digenggam semakin lepas, belajar memasukkan pasir pakai sekop, belajar bahwa tangannya dapat kotor kalau bermain pasir, dan masih banyak lagi belajar lainnya jika pendamping mau mendampingi proses belajarnya serta MEMAKNAI setiap kegiatannya.

Belajar tidak hanya sekedar memasukan ilmu itu ke dalam diri kita, tapi bagaimana kita dapat menikmati proses belajar itu menjadi sesuatu yang menyenangkan - RENJANA.

Ahhh, senang sekali rasanya hari ini lagi-lagi diingatkan oleh Charlotte Mason untuk terus berproses, setia pada proses karena nantinya hasil akan mengikuti proses tersebut. 

Thank you kawan diskusi CMers,



May 20, 2022

Nampan Perak - Narefleksi KAMISAN, 19 Mei 2022

Sikap dan nasib manusia dibentuk oleh pengetahuan, maka kita perlu paham apa saja yang disebut pengetahuan itu. Agar mudah dipahami orang awam, Matthew Arnold mengklasifikasikan pengetahuan menjadi tiga, yaitu pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan tentang manusia, dan pengetahuan tentang alam - atau istilah lainnya Ketuhanan, Humaniora, dan Sains.

picture from here

Namun menurut Charlotte Mason, walaupun bukan sebagai "menu utama", Sastra sama pentingnya, terutama untuk menyajikan ketiga pengetahuan tadi - diibaratkan bahwa jika ketiga pengetahuan tadi adalah menu utamanya, Sastra adalah nampan perak atau buli-buli pualam wadah minyak yang digunakan untuk meminyaki kaki Yesus. 

Namun, aku pikir kita bisa melangkah lebih jauh dan berpendapat bahwa Sastra, andai tidak bisa dibilang sebagai konten utama pengetahuan (seperti yang saya sampaikan sebelumnya), paling sedikit adalah wadah untuk menyajikan buli-buli pualam yang berisi minyak wangi (NB : seperti yang dipakai oleh perempuan yang meminyaki kaki Yesus).   ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.316

Dari sini saya jadi berpikir "Ohh, pantas saja, dalam proses belajarnya, anak-anak CM disarankan untuk menggunakan living book. Sama-sama terlihat indah (buku-buku twaddle dan living book) namun kualitas kedua wadah parfum ini berbeda".

Pertanyaan selanjutnya adalah kalau begitu apakah belajar menggunakan non living book menjadi sia-sia? Padahal ada subjek yang membutuhkan penjelasan presisi sepeti Matematika misalnya, apakah bahasa sastrawi perlu selalu dipakai untuk belajar ilmu pengetahuan itu? Karena seperti Matematika, tidak semua konsepnya bisa disajikan dengan Sastra, contoh lainnya adalah Ilmu Hukum misalnya, adakalanya ide yang disampaikan harus presisi agar tidak ada tafsir yang membuat salah paham.

Kapan atau apa indikatornya kita sebaiknya menggunakan bahasa sastrawi atau presisi? Apakah usia anak saat diberikan asupan sastrawi dan presisi akan mempengaruhi? Diberikan secara bertahap? Ataukah living book seperti "jembatan" yang dapat membantu kita memahami buku presisi "yang garing"?

Dari diskusi, saya menyimpulkan bahwa kecintaan anak pada ilmu pengetahuan lebih penting daripada memikirkan teknis "pakai buku apa". Karena, saat anak tertarik pada ilmu pengetahuan apapun, jika buku itu garing sekalipun akan tetap "dilahap". Jangan sampai yang teknis malah menjadi prinsip. 

Bertahap, efektif, dan efisien adalah tiga hal yang saya catat sebagai indikator teknis penggunaan buku dalam mendampingi anak belajar. Sebagai fasilitator anak belajar, kita punya kewajiban untuk memfasilitasi anak agar cinta pada pengetahuan itu sendiri, tidak terpaku pada teknisnya saja.


Terima kasih diskusinya,



March 31, 2022

Nalar, Nurani, dan Kehendak - narefleksi KAMISAN, 31 Maret 2022

Apa yang sudah kita kerjakan dalam mengupayakan pendidikan? Pada paragraf pertama bagian III ini, Charlotte Mason bertanya apakah benar bahwa karakter generasi saat ini adalah generasi dengan kurangnya rasa tanggung jawab padahal sistem pendidikan sudah dibentuk sedemikian rupa - pendidik disebutkan berusaha menggali, menyiangi, dan menyirami. 
Tapi tetap saja pohon dan buahnya bermasalah, apa yang salah?

Butuh waktu yang tidak sedikit untuk "memeriksa" bagian mana yang salah sehingga buahnya tidak baik - orang yang mementingkan kepentingan pribadi, merusak properti orang lain, hingga memprovokasi orang lain. Padahal, mereka yang disebut "buah yang tidak baik" ini adalah mereka dengan gelar sarjana, mahir menulis dan berorasi, berpikir logis hingga memiliki aneka ketrampilan. 

Kita tidak perlu mendetilkan apa saja pasangan untuk tiap ciptaan, tapi tampaknya memang nalar yang kaku, saat mencoba mencari kebenaran akan suatu isu, cenderung selalu dikawani oleh pemberontakan. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 314

 Memang benar bahwa anak (bahkan diri kita sendiripun) perlu melatih nalar - memberi kebiasaan baik untuk berpikir logis. Tapi kemudian nalar ini bisa jadi sangat berbahaya apalagi jika kita melakukan sesuatu yang tidak benar lalu melakukan pembenaran diri atas dasar nalar.

Berpikir logis tidak melulu tentang menghasilkan simpulan yang mutlak benar. Nalar seharusnya menjadi pelayan, bukan tuan, sehingga nalar tidak berakhir sebagai pembenaran atas apa yang diingini kehendak ingin yakini.

Saya tiba-tiba teringat akan fenomena "kaum pelangi" yang sering saya dapati di media sosial belakangan ini. Saat melihat konten tentang "kaum pelangi" ini, saya tertarik untuk memperhatikan kolom komen, memperhatikan pandangan orang mengenai "kaum pelangi" ini. Banyak sekali komen menghakimi seperti "Tuhan menciptakan hanya laki-laki dan perempuan, kamu apa?", atau saat berita Dorce tutup usia, alih alih melihat komen turut berduka cita, saya malah banyak mendapati komen sejenis "dia dikubur jenis kelaminnya apa tuh?". Yang berkomentar sudah pasti sekolah (lha wong bisa ketik komen), punya pengetahuan (sudah pasti-lha wong bisa menyebutkan basis dasar yang ia yakini benar), terus apa yang kurang?

Nurani. Rasanya saat nalar berjalan sendiri tanpa diiringi nurani, sia-sia saja pengetahuan. Saat membuat komen pada konten-konten tentang "kaum pelangi", jika nalar berjalan berdampingan dengan nurani, maka ketika menemukan hal yang tidak sesuai dengan prinsip sekalipun, kita akan tetap dapat menghargai orang lain sebagai SESAMA MANUSIA.

pict from here

nalar manusia akan berupaya membenarkan dengan segala macam bukti untuk setiap gagasan yang telah dia putuskan untuk pertahankan. Kita tak bisa membebaskan diri dari kecenderungan ini, tak ada jalan pintas mengatasinya. Seni butuh waktu panjang, terutama menguasai seni hidup.~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 314

Bagian akhir dari bacaan hari ini jadi penutup diskusi bulan Maret ini. Kita tidak bisa lepas dari kecenderungan untuk melakukan "pembenaran diri" ini, butuh waktu panjang untuk mendidik nurani dan melatih nalar agar keduanya dapat menjadi pelayan yang baik bagi tuannya yaitu kehendak.

Perih setelah dikuliti bu Charlotte Mason hari ini,



February 11, 2022

Menjadi R̶a̶t̶a̶ ̶-̶ ̶R̶a̶t̶a̶Bagian Dari Sistem (Sebuah Refleksi - KAMISAN, 10 Februari 2022)

Sebagian orang memang cocok menjadi akademisi, sesuai dengan kapasitas kepala mereka. Kita yang lain senang melihat kecemerlangan itu, tapi tidak perlu iri hati, sebab menjadi akademisi bukanlah prestasi tertinggi dalam hidup ini, dan tidak menjamin seseorang tergugah pikirannya oleh pengetahuan dan perjumpaan dengan ide hidup. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 310

Seringkali saat melewati beberapa ruas jalan, ada banyak baliho iklan sekolah-sekolah apalagi jika dekat-dekat tahun ajaran baru. Isinya hampir sama walau beda kalimat, yaitu mempromosikan bagaimana sekolah tersebut akan mencetak generasi-generasi unggul di masa depan. Iklan-iklan tadi membawa saya pada kenangan saat masih memberi les privat untuk beberapa murid - "miss, tolong ya miss, masa dia nilainya tujuh, temannya yang lain ada yang delapan." dan "ini badannya agak hangat miss, tapi gapapa tetap les aja, biar ga ketinggalan pelajaran.". Jadi ya begitulah isi di dalamnya, anak mendapat tuntutan untuk menjadi yang terbaik seakan memiliki nilai 100 adalah prestasi tertinggi dalam hidup.  

Bahkan kisah pasaran, pentas wayang, atau bunga pinggir jalan sudah bisa memantik semangat belajar mereka, kita tidak perlu mengkhawatirkan mereka, Kita pikirkan dulu anak dari kelompok rata-rata. Anak rata-rata ini juga butuh belajar Bahasa Yunani dan Latin, tapi ada jalan lebih mudah untuk itu. Gadis-gadis kecil di surat yang tadi aku kutip sudah mendapatkan poinnya. Ada seorang anak perempuan, murid kesayangan Vittorino, yang bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Latin dengan "kemurnian menakjubkan" pada usia 12 tahun, karena dia telah belajar sejak masih lebih kecil lagi - kita yakin dia bukan produk sekolahan elit. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 310-311

Lalu bagaimana dengan anak dari kelompok rata-rata? Dalam diskusi Kamis kemarin,  saya terpikirkan "apa indikator anak disebut rata-rata?", teringat bagaimana para orangtua membandingkan anaknya dengan anak lain, melabeli yang tidak unggul dengan rata-rata, serta menggunakan nilai untuk mengukur. Saya bersyukur bertemu dengan banyak teman seperjalanan yang meyakini bahwa semestinya membandingkan anak adalah dengan diri anak itu sendiri (lihat pada progressnya) bukan dengan teman sebayanya, karena kita tahu bahwa anak adalah pribadi yang utuh yang masih-masing memiliki fitrahnya sendiri. 

Yang menarik adalah saat ada "celetukan" dari ci Indri "kalau kita selalu ingin jadi yang terbaik, ga akan ada habisnya karena bila di satu tempat kita menjadi yang terbaik, lalu pindah ketempat lain, pasti ada yang lebih baik kan?". Mau sampai kapan jika tolak ukur menjadi pribadi terbaik adalah orang lain dan bukan diri sendiri dan semangat belajar diri sendiri?

Kita tahu mereka dinikahkan di usia dini, tapi mereka sudah tahu banyak tentang karya-karya klasik (meski tidak membacanya utuh), mereka bisa bercakap dalam dua tiga bahasa modern, bisa merawat orang terluka, merawat orang sakit, membuat obat-obatan herbal, memanajemen rumah tangga dengan banyak pelayan, menunggang kuda, bahkan menangkap buruan! Mereka juga bisa menjahit dan merenda dengan pola yang rumit. ~Charlotte Mason, vol.6, hlm. 311

Bagian ini mengingatkan saya pada satu bahasan di buku CYB halaman 162. Di situ saya memberi tanda pada skill yang saya belum dan sudah saya kuasai. Dulu, sewaktu membaca list itu, saya tertawa dan berpikir, semestinya list ini kalau dibuat pribadi masih bisa lebih panjang lagi karena ternyata banyak skill dasar yang saya sendiri belum kuasai - apakah anak yang termasuk "di atas rata-rata" sudah menguasai skill itu? 

Kalau semua orang menjadi dokter, lalu siapa yang menjadi petani menghasilkan bahan pangan yang dibutuhkan manusia? Kalau semua orang pintar memasak dan jadi chef, lalu siapa yang menerbangkan pesawat terbang. Rasanya saat konsep "children are born persons" sungguh dihidupi tiap orangtua, orangtua akan sanggup menerima bahwa semua jenis pekerjaan adalah baik. Seorang teman yang tinggal di Jerman bercerita pada saya bahwa anak - anak Jerman misalnya yang bercita-cita menjadi supir truk sampah saja tetap akan didukung cita-citanya, karena orangtua tahu bahwa tanpa supir truk sampah, sampah-sampah mereka tidak akan terkelola dengan baik. Semua pekerjaan baik dan saat anak dapat mengambil bagian dalam sistem kemasyarakatan dan menjadi berguna sesungguhnya itu adalah prestasi tertinggi tanpa harus menjadi unggul dari yang lainnya. 

picture from here
sekali-sekali ya pakai ilustrasi gambar hewan buat gambarin ilustrasi
orangtua adalah support system anak

Kalau sudah sadar sepenuhnya tentang konsep "children are born persons", pertanyaan berikutnya adalah, siapkah orangtua (saya) mendukung apapun cita-cita anak kelak?



November 18, 2021

Nutrisi Intelektual - KAMISAN, 18 Nov 202

Pengetahuan itu bukan pelatihan, informasi, kajian akademis, atau hafalan di luar kepala. Pengetahuan diteruskan bagai api obor, dari akal budi ke akal budi, dan nyalanya hanya bisa dikobarkan dalam akal budi yang betul-betul berpikir. Kita tahu bahwa pikiran melahirkan lebih banyak pikiran; hanya pada saat ada ide memantik akal budi kita, maka akal budi itu akan tergugah untuk melahirkan ide-idenya sendiri, dan ide-ide kita itu akan melahirkan perilaku keseharian kita. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 303

Hari ini hari pertama diskusi dalam grup kecil. Masuk ke halaman 303 membahas tentang bagaimana pengetahuan masuk ke dalam akal budi. Dalam bacaan dituliskan bahwa pengetahuan ibarat api obor yang diteruskan dari satu akal budi ke akal budi lain-dan hanya dapat berkobar pada akal budi yang betul-betul berpikir. Pengetahuan itu juga nantinya yang akan mempengaruhi perilaku keseharian kita.

picture from here

Bagi kebanyakan orang, perjumpaan itu bisa dilakukan terutama lewat bukubuku; dan kalau kita ingin tahu seberapa jauh suatu sekolah menyediakan nutrisi intelektual bagi para siswanya, kita tinggal melihat daftar buku materi bacaan siswa selama periode belajar tersebut. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 303

Lalu pada bagian berikutnya, digambarkan bahwa buku merupakan "jembatan" antara akal budi orang dewasa dengan anak. Mudah bagi kita mengukur sebuah sekolah (dalam konteks ini kita orangtua yang berperan sebegai guru) seberapa jauh nutrisi intelektual diberikan kepada anak-lihat daftar bukunya.

Berdasarkan bahan bacaan hari ini, saya mencatat beberapa kriteria buku yang dimaksud :

1. daftarnya tidak boleh pendek (artinya tidak boleh hanya sedikit buku yang diberikan),

2. bukunya bervariasi (banyak pun akan menjadi tidak baik saat jenis buku yang diberikan itu itu saja-ditulis bahwa kekuatan kehendak siswa tidak akan berkembang secara holistik),

3. buku yang bukan berbentuk ringkasan,

4. buku yang merupakan tulisan asli pemikir,

5. tidak menggurui dan tidak menyimpulkan (agar siswa tetap berpikir dan mencerna apa yang dibaca),

6. berbentuk sastrawi seperti terutama puisi.

Sama seperti makanan jasmani yang terbagi dalam jenis menyehatkan (kadang tidak enak) dan yang tidak menyehatkan, buku dan kebiasaan pun juga terbagi dalam dua jenis seperti itu, dan padahal biasanya anak cenderung memilih "permen" yang tidak sehat sebagai kudapan mereka sehari-hari. Lalu bagaimana? dipaksa? Tetap paparkan anak dengan nutrisi yang menyehatkan, tetap beriman bahwa anak suatu saat akan "makan" yang sehat yang selalu kita paparkan. Lalu bagaimana dengan "permen" nya? perlu dibatasikah?

Dari diskusi, saya mencatat poin seperti "jangan mencobai anak" artinya, jangan paparkan anak terhadap "permen" itu tadi. Tapi kemudian, kita juga tidak bisa terus-terusan menjauhkan anak dari paparan "permen" itu kan? Menggunakan ilustrasi Putri Tidur dimana ia "dihindarkan" dari jarum pintal oleh raja karena kutukan jarum pintal, saya berpikir bahwa anak semestinya juga "diedukasi" tentang keberadaan "permen" tersebut walaupun kita tidak menyediakan "permen" di rumah. Edukasi bukan berbentuk larangan atau ceramah, tapi bantu anak untuk berpikir sendiri baik buruknya "permen" tadi. Lalu dari ilustrasi tentang Adam dan Hawa yang tetap makan buah terlarang walaupun sudah diedukasi, saya berpikir bahwa sebagai orangtua kita perlu tetap "memberikan supervisi" agar anak tetap dapat melalui cobaan (terutama di awal-awal ia tahu tentang "permen pencobaan" tadi).

 Anak harus membaca agar mendapatkan pengetahuan dan tugas guru adalah memastikan dia tahu. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 303

Jika sudah memenuhi kriteria tersebut di atas, lalu selanjutnya adalah kita sebagai "guru" bertugas untuk memastikan anak "tahu" dengan meminta anak menarasikan bacaan yang ia baca tanpa ceramah, menjelas-jelaskan, apalagi memberi pertanyaan komprehensif. Tapi yang kemudian terpikir adalah, jika tugas guru adalah MEMASTIKAN ANAK TAHU, bagaimana jika dalam narasinya, guru mendapati anak tersebut "belum tahu", apa yang mesti dilakukan jika bertanya komprehensif maupun menjelas-jelaskan tidak dianjurkan?

Dari cerita kawan-kawan, saya belajar bahwa saat mendapati anak yang dari narasinya tampak ia belum tahu, pertama yang mesti kita pastikan adalah akar penyebab mengapa anak tidak tahu, apakah saat membaca anak belum fokus, jika belum fokus, maka kita "benahi" dl bagian itu. Tapi bolehkah kita bertanya "namanya tokohnya siapa?" untuk memastikan anak paham? Sebaiknya jangan. Jika anak mengalami kesulitan mengingat nama tokoh misalnya (padahal dalam beberapa paragraf yang lalu kita tahu bahwa siswa-siswa Charlotte dapat menghafal ratusan nama dengan ejaan yang tepat), kita dapat membantu anak dengan beberapa metode seperti meminta anak mencatat nama yang muncul dalam bacaan yang ia baca. Prinsipnya tetap, kita tidak boleh merendahkan anak menganggap mereka tidak paham apa yang kita pahami lalu berusaha menjelas-jelaskan.


Wah, diskusinya dalam sekali ya, ngalor ngidul dari dongeng sampai Adam dan Hawa, tapi seru, terima kasih kawan-kawan CMid Semarang,



October 07, 2021

Banteogapepra - KAMISAN, 7 Oktober 2021

"Soal pendidikan, kondisi kita memprihatinkan. Beberapa waktu lalu di Across the Bridges, kita membaca tentang seorang siswa cerdas dan bersemangat yang telah lulus sekolah dengan predikat memuaskan tapi setelahnya mengalami penurunan kondisi yang drastis." ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 300

 Membaca bagian ini mengingatkan saya masa ketika saya menjadi guru. Waktu itu, saya menjadi wali kelas anak dari pemilik yayasan sekolah. Mendengar dari guru sebelumya bahwa anak ini memiliki "bakat" untuk membully temannya bahkan berani mengancam guru "I'll tell my mom so she will deduct your sallary." saya waktu itu bersemangat sekali untuk "mendidik" anak ini supaya tidak hanya tumbuh jadi anak yang cerdas tapi juga punya hati - bajik dan bijak kalau meminjam istilah yang sering Bu Ellen katakan. Entah karena beruntung atau apes, kecelakaan dan "cacat" pada kaki saya di tengah tahun ajaran mengajar anak tersebut seperti menumbuhkan empatinya. Saya tidak mendapati anak itu mengancam saya selama setahun saya menjadi wali kelasnya, ibunya yang ketua yayasan pun sering memanggil saya bukan untuk dihukum tapi bertanya seperti "Ms. Glo, yang kemarin Ms Glo cerita soal wisata ke anak-anak itu dimana?" juga hal seperti "Batik yang Ms.Glo ceritakan tu Batik yang dari mana?". Saya bersyukur waktu itu tidak hanya berhasil menerapkan "smart is nothing when you dont have attitude." tapi juga dapat membuat anak itu "melokal" dengan membicarakan wisata lokal, produk lokal, saat sebelumnya topik obrolan anak-anak hanya seputar piknik ke Disneyland dan destinasi lainnya di luar negri. 

"Kharisma wajah adalah manifestasi dari pemikiran, perasaan, inteligensi; tapi ketiganya sudah tak kita lihat lagi terpancar dari wajah-wajah yang hidup di hari ini, yang ada hanyalah orang-orang yang secara fisik sehat tapi dingin, acuh tak acuh." ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 301

Kalau ditanya bagaimana anak itu setelah bertahun-tahun saya resign dari sekolah, kabar yang saya dengar adalah ia "berhasil" membuat seorang temannya keluar dari  sekolah karena tidak tahan menjadi sasaran bullying terus. Waktu mendengar berita itu, saya kaget, bagaimana bisa seorang anak kelas satu SD (atau 2 kurang ingat pastinya), terpikir untuk mengambil tempat pensil temannya, membawanya lari sambil dikejar temannya yang memiliki tempat pensil itu lalu begitu sampai di lantai teratas, ia menjatuhkannya dan berkata "tuh ambil". Padahal saya ingat betul bagaimana manisnya anak itu saat masih TK. 

Tapi lalu bagian bacaan hari ini juga mengingatkan saya tentang bagaimana orangtua juga berperan penting pada pertumbuhan anak. Guru yang hanya bertemu 3-5 jam sehari di sekolah tidak akan banyak pengaruhnya dibanding orangtua yang memiliki lebih banyak waktu dengan anak di rumah. Pemikiran ini juga yang akhirnya membawa saya untuk sepenuhnya mengambil peran dalam pengasuhan Keona. Saya tidak bisa pasrah hanya pada sekolah saja karena ada banyak hal yang semestinya menjadi porsi orangtua. Jika banyak orangtua beranggapan bahwa belajar adalah "mengerjakan lembar kerja", sejak mengenal banyak metode pendidikan (Charlotte Mason salah satunya), ternyata belajar itu adalah semua hal yang dilakukan anak. Anak dapat belajar kapan saja dan dimana saja termasuk hal kecil seperti mencuci piring misalnya.

Maka ketika ada banyak orangtua mengeluhkan tentang anaknya "yang tidak peka", pertanyaan berikutnya adalah "apakah pernah orangtuanya memadamkan kemauannya belajar lewat rasa ingin tahunya?" seperti misalnya "ga usah nyuci piring, nanti mama harus nyuci 2 kali malah repot" - tanpa sadar, kalimat itu akan "memadamkan" tidak hanya rasa ingin tahu dan kemauannya belajar tapi juga "kepekaan" dan "empati" anak.

pict from here

banteogapepra [ban-teo-ga-pe-pra]

noun.  orang dengan banyak teori namun tidak pernah mempraktekannya ~ Stephen 

Mendengar sebuah kata tadi di dalam diskusi, banteogapepra, kata itu seakan menampar saya, mengingatkan betapa saya hafal dan tahu banyak teori pengasuhan anak, tapi NOL BESAR dalam hal PRAKTEK ke anak sendiri - masih tertatih untuk bajik dan bijak berjalan beriringan terutama dalam pengasuhan anak. Maka, lagi-lagi kajian Kamisan mengingatkan saya akan tujuan saya memilih "sepenuhnya" mengasuh Keona. 

Terima kasih teman-teman untuk diskusinya,



August 19, 2021

Mempersiapkan Pembelajaran yang Merdeka - KAMISAN, 19 Agustus 2021

Baru dua hari yang lalu, seluruh rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan, dalam bacaan hari ini saya sedikit merelasikannya dengan peristiwa besar Bangsa Indonesia ini ya.

Namun kita bukannya tanpa harapan. Suatu ladang menakjubkan telah dibukakan bagi kita; ribuan anak di sekolah-sekolah kita menunjukkan aneka prestasi dalam kemerdekaan dan sukacita. Mereka telah menjadi pemegang kendali atas proses pendidikan mereka sendiri dan rakus akan pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri, pengetahuan dalam ketiga bidang yang tadi aku sebut. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 290

Kemudian jadi memikirkan lagi apa sesungguhnya makna "merdeka belajar" dan "pembelajar  yang merdeka" yang selama ini digadang gadang oleh Mentri Pendidikan kita yang baru. Kemudian, pertanyaan berikutnya adalah, "apakah yang selama ini saya kerjakan sudah memerdekakan anak?"

Mendengarkan diskusi teman-teman memberikan insight tersendiri bagi saya yang baru seujung kuku menapaki dunia homeschooling. 

Coleridge tidak menganggap akal budi yang menerima ide-ide besar ini sebagai akal budi yang hebat, tidak ada kualifikasi yang berbeda, hanya saja, katanya, mereka itu “telah sejak lama dipersiapkan untuk menerima ide-ide besar itu”. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 290

Dari bagian ini, saya menangkap bahwa pada dasarnya semua anak memiliki porsi akal budi dan kapasitas yang sama, yang membedakan hanyalah bagaimana akal budi ini dipersiapkan untuk menerima ide. Lalu bagaimana cara mempersiapkan akal budi ini agar dapat menerima ide? Beragam pendapat disampaikan oleh kawan-kawan CMId Semarang tadi, saya masih mencerna diskusi dan bacaan sambil meraba-raba. Lalu saat mulai mengetik narasi tertulis ini, saya terpikirkan bagaimana selama ini saya mempersiapkan Keona menerima ide.

Beberapa hari yang lalu, saya sedang berdiskusi dengan Rina (salah seorang anggota CMId Semarang juga) tentang keterkaitan peran seorang aktor dan aktris dalam drama Korea. Dalam drama yang sebelumnya, si aktor adalah pria baik yang tersakiti, namun dalam drama yang sedang kami bahas si aktor ini jadi pria yang suka mempermainkan wanita. Simpel, awalnya saya hanya komen "wah fakboi ternyata berasal dari goodboy yang tersakiti.", lalu obrolan panjang hingga Cinta Yang Berpikir masuk kedalamnya (bab2, halaman 19, tentang potensi anak menjadi baik atau buruk - setiap orang punya potensi untuk menjadi baik atau buruk tergantung bagaimana lingkungannya, terlebih bagaimana ia bereaksi akan peristiwa yang terjadi pada dirinya).

Intinya, sebagai orangtua, saya merasa harus menggarisbawahi dulu hakikat anak, sadar betul-betul bahwa ia bukan ember kosong atau kertas kosong, ia punya potensi menjadi baik atau buruk - dengan kesadaran ini, sudah pasti input "sajian perjamuan akal budi" yang diberikan orangtua bukanlah sajian yang hanya mengenyangkan tapi juga "mengandung gizi". Kemudian, setelah memahami hakikatnya tersebut, persiapkan dengan kemampuan berefleksi juga, sehingga saat ada ide masuk, anak mampu mengolahnya bukan hanya sekedar "informasi" belaka. Kemudian, narasi akan membantu orangtua mengukur bagaimana akal budi benak anak mengolah informasi tadi.

gambar dari sini

Sama halnya dengan mempersiapkan makan bersama keluarga, perlu adanya sesi persiapan, merapikan meja makan, membumbui bahan masakan, mengolah bahan, sebelum makanan tersebut dapat dinikmati, maka sebelum ide dapat dicerna dan diolah anak, saya sebagai orangtua, perlu mempersiapkannya matang-matang.

Terima kasih kawan-kawan atas diskusinya yang mencerahkan pikiran tadi,

July 22, 2021

Pengayaan Akal Budi - KAMISAN, 22 Juli 2021

"Banyak ya!", begitu pikir saya saat hendak menulis narasi ini lalu membaca lagi bacaan diskusi tadi pagi. Banyak, dua halaman dan menyisakan satu halaman untuk minggu depan - tidak seperti minggu-minggu sebelumnya yang biasanya hanya 2-3 paragraf saja.

Saat membaca bagian tentang Denmark dan sektor pertaniannya yang menghasilkan kualitas mentega yang baik secara nasional, saya kembali ke bacaan beberapa minggu lalu 

"Bangsa kita tidak lebih buruk dibanding bangsa lain, dan bukan hal yang keliru membanggakan bangsa sendiri, sebab kebanggaan nasional dan kerendahan hati personal bisa berjalan beriringan; di masa damai kita suka mengkritik orang-orang negeri kita sendiri, tapi kita tetap punya kebanggaan pada watak bangsa kita dibanding watak buruk bangsa lain,..." - Charlotte Mason, vol.6, hlm.282

Saya membayangkan bagaimana jika suatu saat saya berada di belahan dunia yang lain lalu sedang menikmati teh sore dengan kukis buatan mentega Indonesia. Muluk? Mungkin kalau dibayangkan sekarang iya, tapi mengingat Indonesia adalah negara agraris dan maritim, dari segi sumber daya alam nya saja, sebenarnya kita bisa lakukan hal yang sama. Nah, pertanyaannya, lalu bagaimana SDM yang mengelolanya?

"Bukankah di luar negeri kita ada juga para provokator yang kerjanya menebarkan benih ketidakpuasan di tengah massa yang benaknya melompong? Mereka yang benaknya berisi tidak akan terpengaruh, tapi mereka yang berotak kosong akan meraup tawaran pemikiran baru apa saja dengan super antusias, dan sulit disalahkan atas sikap itu; benak yang kelaparan melahap apa saja yang bisa diperolehnya, bahkan pemilik toko roti biasanya tidak tega menghukum berat orang yang mencuri roti karena kelaparan." - Charlotte Mason, vol.6, hlm.286

Familiar dengan kondisi dari sepenggal bacaan di atas? Saya koq membacanya teringat betapa "jahatnya" jempol netijen hingga ada yang berkata "Kalau baca berita atau konten media sosial, lebih seru klo  kamu baca bagian komen terutama komen orang-orang Indonesia.". Banyak hal yang membuat kebiasaan membaca generasi muda semakin bergeser, salah satunya adalah kecanggihan teknologi. Rasanya berbagai bacaan dapat diakses sekarang ini, sayangnya kecanggihan teknologi ini tidak diikuti dengan kemampuan memfilter bacaan, mana hoax, mana berita, mana yang bisa ditelan mentah-mentah, mana yang harus dikunyah dan dicerna dulu. Makanya ga heran benak yang kelaparan itu kalau isinya "junk food" ya outputnya juga junk.

"Apa yang disebut makanan akal budi yang layak, kita telah mendiskusikannya. Asumsi kita adalah bahwa pendidikan haruslah membuat anak-anak kita “kaya di hadapan Allah” (mari ingat kembali perumpamaan dalam Lukas 12 tentang orang kaya yang bodoh, yang tidak selamat karena dia tidak “kaya di hadapan Allah”), yang memajukan masyarakatnya, juga memajukan dirinya sendiri." - Charlotte Mason, vol.6, hlm.281

Bacaan tanggal 1 Juli ini relate sekali dengan bacaan hari ini bagian :

"Lebih berharga karena di sana karakter dan perilaku, inteligensi dan inisiatif, muncul sebagai hasil dari pendidikan humanistik yang menempatkan pengenalan akan Tuhan sebagai prioritas. " - Charlotte Mason, vol.6, hlm.287

Pengetahuan tentang Tuhan Allah ini bukan berarti ekstrim menjadi religius, namun bagaimana saat kita berada di dalam dunia, tapi bukan menjadi bagian dari dunia. Kita tidak dapat memisahkan hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan dengan sekuler, karena semua aspek dalam kehidupan ini dan juga tujuan hidup kita adalah bagian dari untuk menjadi "kaya di hadapan Allah".

Ini sepertinya masih bakal berlanjut lagi, karena beberapa kali saja bagian bacaan hari ini membawa saya ke Kamisan tanggal 1 dan 8. Jadi, bersambung ya :))

picture from here


Eh, sudah sore, yuk menghalu dulu makan kukis buatan Indonesia yang sudah mendunia,



June 17, 2021

Worth Living - Kamisan, 17 Juni 2021

Prussia menjadi pelopor reformasi pendidikan. Yang menjadi sasaran pertama-tama bukanlah
kanak-kanak, melainkan para pemuda. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 279

Saat membaca ulang dan mengetik kalimat di atas, saya teringat salah satu ucapan Bung Karno mengenai pemuda "...beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.". Lalu jadi berpikir panjang sekali mengenai kalimat ini. Saya mencari di beberapa sumber, tidak ada yang menyebutkan karakter atau kriteria dari 10 pemuda yang dimaksud oleh Bung Karno. Lalu berpikir lagi, apakah pemuda pada masa Bung Karno berbeda dengan pemuda di masa sekarang?

Memangnya ada apa dengan pemuda di masa sekarang?

Beberapa bulan yang lalu, saya dimintai tolong oleh seorang kenalan, masih muda, baru saja lulus Sarjana. Adik ini bertanya pada saya "Mengapa saya sudah memasukkan banyak lamaran namun satupun panggilan belum saya dapatkan?". Penasaran, saya bertanya tentang bagaimana bentuk lamaran yang ia kirimkan dan memintanya mengirimkan kepada saya. Selanjutnya saya dibuat kaget, karena ia mengirim lamaran hanya email kosong dan lampiran di dalamnya - tidak ada badan surat email. Menghela napas panjang, saya berpikir, "okelah, mungkin dia baru pertama jadi belum tahu cara mengirimkan email lamaran yang pantas." lalu saya memberikan waktu saya untuk mengajarinya cara mengirim email yang pantas saat melamar kerja. Beberapa waktu kemudian, adik itu datang lagi kepada saya, bertanya jika ia ditanya berapa gaji yang diharapkan, dia harus menjawab apa? Saya memancingnya dengan banyak pertanyaan seperti "berapa biaya kos di kota tersebut? berapa biaya hidupnya? berapa banyak harus menabung? " dengan harapan saat menemukan nominal gaji yang diharapkan, ia akan memiliki STRONG WHY. Tapi, ending percakapan kami sungguh membagongkan, ia malah menelan mentah mentah contoh ilustrasi yang saya buat dengan berkata "oh jadi aku minta lima juta aja ya mba?". Saya lemas...

Itu baru satu contoh, saya sudah bertemu ada lebih dari 3 pemuda yang seperti itu, bahkan sudah bertemu juga dengan yang jelas-jelas tidak tahu arah hidupnya kemana - tidak tahu mau melanjutkan ke perguruan tinggi jurusan apa.

Lalu apakah pemuda yang dimaksud Bung Karno sesungguhnya memiliki kriteria tertentu agar dapat mengguncang dunia? Hanya saja belum terucap oleh Bung Karno di saat beliau mengatakan kalimat tersebut?

Dalam panduan filosofi Johann Gottlieb Fichte, dan di bawah pemerintahan Karl Stein, terbentuklah Tugendbund, liga pemuda yang tersohor itu. Prussia sedang miskin-miskinnya, tapi alih-alih memusatkan perhatian pada perbaikan ekonomi, pendidikannya difokuskan pada filsafat yang memberi pemahaman tentang prinsip-prinsip danpada sejarah yang memberi kisah-kisah teladan. Ternyata pendekatan ini berhasil baik untuk negeri itu. 
~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 279

Lalu kriteria pemuda seperti apa yang dapat mengguncangkan dunia?

Lewat bacaan Kamisan hari ini, saya belajar bahwa filsafat tidak hanya dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa jurusan filsafat. Filsafat bukan hanya tentang mempelajari tokoh-tokoh filsuf terkenal - lebih dari itu, yang saya tangkap dari bacaan hari ini adalah anak harus bisa memikirkan banyak hal. Kebiasaan berpikir diperlukan agar anak dapat berefleksi dan bereaksi dengan tepat. Hal kecil seperti berapa biaya hidup yang kita butuhkan saja, jika tidak dipikirkan dengan matang akan membuat hidup kita beratakan tidak tertata. Masalahnya kebiasaan ini tidak dipupuk sejak kecil. Banyak anak tidak dipantik kemampuan berpikirnya, contoh banyak orangtua saat memberi tahu anaknya tentang sesuatu hal biasanya berkata "yowes pokok e gitu, km nurut aja!" - padahal alih-alih menjelaskan alasan panjang lebar, orangtua bisa loh memancing daya berpikir anak dengan melempar pertanyaan balik "menurutmu kalau .... kira-kira yang akan terjadi bagaimana?".

Namun, para pemikir terbaik di negeri itu telah lama sadar bahwa “pendidikan yang didorong oleh kuatnya kepentingan ekonomi, motivasinya rentan menyempit jadi terlalu utilitarian dan kehilangan elemen idealisme yang justru menjadi kunci kekuatan pendidikan dalam membentuk karakter.” ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 280

Kan anak sudah disekolahkan? Masa masih tidak bisa berpikir?

Entahlah, hal ini rumit kalau mau diurai masalahnya karena sebenarnya tujuan orang bersekolah saat ini bukan untuk memberdayakan kemampuan berpikirnya tapi untuk mendapat nilai dan ijazah, benar bukan? Maka, walaupun anak sudah disekolahkan (even sekolah di tempat termahal sekalipun) tidak akan menjamin kemampuan berpikirnya berjalan dengan sebagaimana semestinya. Sehingga, bagian inipun tetap menjadi tanggung jawab orangtua untuk membantu anak menggunakan daya berpikirnya agar dapat berefleksi dan bereaksi dengan tepat dalam segala kondisi. Mengobrol dan membicarakan kejadian sehari hari, merefleksikannya dapat dilakukan sebagai tahap awal membantu memberdayakan kemampuan berpikirnya, sesederhana saat beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan Keona perihal bajunya yang tampak punggungnya sedikit :

Keona : "Ma, aku besok ga mau pakai baju ini lagi kata temanku Keona SARU."

Saya : "Memangnya SARU itu apa?"

Keona : "SARU itu ga pake baju!"

Saya : "Lhah, memangnya Keona tidak pakai baju?"

Keona : "pakai kok!"

Saya : "Berarti SARU ga?"

Keona : "ehh engga ya berarti!"

Lalu ia kembali tersenyum keluar rumah dan bermain lagi karena sudah berhasil berpikir bahwa baju yang ia pakai "TIDAK SARU".

The unexamined life is not worth living. ~ Socrates
picture from here


Selamat memikirkan banyak hal ya teman-teman,

May 20, 2021

Fondasi Kurikulum yang Prinsipiil (2) - SEJARAH, Kamisan 20 Mei 2021

Seperti kita ketahui, mendapatkan buku bacaan yang ideal itu tidak selalu memungkinkan, jadi kami memakai buku terbaik yang bisa kami temukan, dengan suplemen esai-esai historis yang berkualitas sastrawi. - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 274

Pada tulisannya, Charlotte Mason menulis bahwa Sejarah sepatutnya dipelajari menggunakan buku-buku sastrawi. Saya membayangkan pelajaran Sejarah layaknya kisah kisah puitis dan cerita menarik mengenai sebuah peristiwa. Maka, saya menyimpulkan bahwa Sejarah BUKANLAH hafalan. Semasa sekolah dulu, masih teringat bagaimana saya mempelajari Sejarah (yang mungkin juga sama dialami oleh anak-anak lain yang juga bersekolah), guru meminta kami membaca satu bab, lalu mengadakan ulangan tentang materi tersebut. Permasalahannya ada 2 :

1. Buku yang dipakai dalam pelajaran tersebut bukanlah buku Sejarah yang berkualitas Sastrawi

Layaknya buku-buku pelajaran lain yang dipakai sekolah, buku pelajaran Sejarah yang waktu itu kami gunakan kebanyakan hanya membeberkan fakta seperti misalnya "tahun.... terjadi perang...."ditambah lagi cara guru waktu itu mengajar hanya mencacat ringkasan sebuah peristiwa. 

2. Model ujian bersifat komprehensif.

Yang saya alami saat sekolah dulu, soal ujian/ulangan Sejarah adalah pertanyaan komprehensif seperti "Pada tahun berapa Perang Dunia dimulai?". Secara tidak langsung, hal ini membuat anak-anak terpancang HARUS HAFAL pada materi yang diujiankan.

Ada seorang kawan yang pernah bercerita bahwa ia menyukai pelajaran Sejarah karena gurunya selalu berkata bahwa mereka sedang "bergosip" tentang orang-orang di masa lampau. Bergosip adalah kegiatan bercerita dari mulut ke mulut, sehingga dalam hal ini, walaupun kualitas buku bacaannya waktu itu kurang memadai, teman saya mendapat porsi narasi yang cukup lewat kegiatan "bergosip" tersebut.

Setiap masa, setiap periode sejarah, punya pujangga-pujangganya sendiri yang bisa menangkap intisari zaman, dan berbahagialah orang yang hidup di zaman ketika tokoh seperti Shakespeare, Dante, Milton, Burns muncul untuk mengumpulkan dan merawat makna zamannya sebagai harta warisan buat dunia. -  Charlotte Mason, vol.6, hlm. 274

Kemudian ada pernyataan tentang penulis Sejarah yang mungkin memiliki kepentingan pada sebuah peristiwa, sehingga apa yang ia tulis, bisa saja hanya berat satu sisi sesuai sudut pandang penulis tersebut. Saya teringat pernah mengikuti kelas kajian Kitab Injil Alkitab (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dimana pada saat itu, saya belajar bahwa walau keempat Kitab tersebut berisi tulisan mengenai peristiwa-peristiwa mulai dari Yesus lahir sampai Yesus wafat, namun mengapa beberapa tulisan terasa berbeda padahal kisahnya sama. Jawabannya karena masing-masing penulis memiliki tujuan tertentu serta sudut pandang yang berbeda tentang peristiwa yang ditulis - waktu penulis menulis juga mempengaruhi tulisan tersebut. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes hidup di era tahun yang berbeda serta masing-masing memiliki tujuan audiens tertentu yang ingin mereka tuju. Maka, penting bagi kita sebagai fasilitator untuk membantu anak untuk selain mempelajari Sejarah peristiwa, kita perlu menggali sejarah penulisnya sendiri karena itu saling berkaitan. 

picture from here

Lalu, bagaimana aplikasinya? Bagaimana memulainya? Mulai dari buku apa?

Karena Keona masih tahap pembentukan karakater, saya menyimak saran teman-teman yang sudah lebih dulu membantu anaknya belajar Sejarah. Dimulai dari memperkenalkan sejarah keluarga anak, lalu juga biografi orang orang terkenal seperti pada Seri Pustaka Dasar. Ahhh, menyebut buku itu, saya jadi teringat tokoh favorit saya sewaktu kecil yaitu Jacques Cousteau . Sewaktu kecil, karena membaca buku Seri Pustaka Dasar, saya mengidolakan beliau dan perkampungan di laut yang ia buat. 

Terima kasih kawan-kawan CMid diskusinya,



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...