May 20, 2021

Fondasi Kurikulum yang Prinsipiil (2) - SEJARAH, Kamisan 20 Mei 2021

Seperti kita ketahui, mendapatkan buku bacaan yang ideal itu tidak selalu memungkinkan, jadi kami memakai buku terbaik yang bisa kami temukan, dengan suplemen esai-esai historis yang berkualitas sastrawi. - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 274

Pada tulisannya, Charlotte Mason menulis bahwa Sejarah sepatutnya dipelajari menggunakan buku-buku sastrawi. Saya membayangkan pelajaran Sejarah layaknya kisah kisah puitis dan cerita menarik mengenai sebuah peristiwa. Maka, saya menyimpulkan bahwa Sejarah BUKANLAH hafalan. Semasa sekolah dulu, masih teringat bagaimana saya mempelajari Sejarah (yang mungkin juga sama dialami oleh anak-anak lain yang juga bersekolah), guru meminta kami membaca satu bab, lalu mengadakan ulangan tentang materi tersebut. Permasalahannya ada 2 :

1. Buku yang dipakai dalam pelajaran tersebut bukanlah buku Sejarah yang berkualitas Sastrawi

Layaknya buku-buku pelajaran lain yang dipakai sekolah, buku pelajaran Sejarah yang waktu itu kami gunakan kebanyakan hanya membeberkan fakta seperti misalnya "tahun.... terjadi perang...."ditambah lagi cara guru waktu itu mengajar hanya mencacat ringkasan sebuah peristiwa. 

2. Model ujian bersifat komprehensif.

Yang saya alami saat sekolah dulu, soal ujian/ulangan Sejarah adalah pertanyaan komprehensif seperti "Pada tahun berapa Perang Dunia dimulai?". Secara tidak langsung, hal ini membuat anak-anak terpancang HARUS HAFAL pada materi yang diujiankan.

Ada seorang kawan yang pernah bercerita bahwa ia menyukai pelajaran Sejarah karena gurunya selalu berkata bahwa mereka sedang "bergosip" tentang orang-orang di masa lampau. Bergosip adalah kegiatan bercerita dari mulut ke mulut, sehingga dalam hal ini, walaupun kualitas buku bacaannya waktu itu kurang memadai, teman saya mendapat porsi narasi yang cukup lewat kegiatan "bergosip" tersebut.

Setiap masa, setiap periode sejarah, punya pujangga-pujangganya sendiri yang bisa menangkap intisari zaman, dan berbahagialah orang yang hidup di zaman ketika tokoh seperti Shakespeare, Dante, Milton, Burns muncul untuk mengumpulkan dan merawat makna zamannya sebagai harta warisan buat dunia. -  Charlotte Mason, vol.6, hlm. 274

Kemudian ada pernyataan tentang penulis Sejarah yang mungkin memiliki kepentingan pada sebuah peristiwa, sehingga apa yang ia tulis, bisa saja hanya berat satu sisi sesuai sudut pandang penulis tersebut. Saya teringat pernah mengikuti kelas kajian Kitab Injil Alkitab (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dimana pada saat itu, saya belajar bahwa walau keempat Kitab tersebut berisi tulisan mengenai peristiwa-peristiwa mulai dari Yesus lahir sampai Yesus wafat, namun mengapa beberapa tulisan terasa berbeda padahal kisahnya sama. Jawabannya karena masing-masing penulis memiliki tujuan tertentu serta sudut pandang yang berbeda tentang peristiwa yang ditulis - waktu penulis menulis juga mempengaruhi tulisan tersebut. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes hidup di era tahun yang berbeda serta masing-masing memiliki tujuan audiens tertentu yang ingin mereka tuju. Maka, penting bagi kita sebagai fasilitator untuk membantu anak untuk selain mempelajari Sejarah peristiwa, kita perlu menggali sejarah penulisnya sendiri karena itu saling berkaitan. 

picture from here

Lalu, bagaimana aplikasinya? Bagaimana memulainya? Mulai dari buku apa?

Karena Keona masih tahap pembentukan karakater, saya menyimak saran teman-teman yang sudah lebih dulu membantu anaknya belajar Sejarah. Dimulai dari memperkenalkan sejarah keluarga anak, lalu juga biografi orang orang terkenal seperti pada Seri Pustaka Dasar. Ahhh, menyebut buku itu, saya jadi teringat tokoh favorit saya sewaktu kecil yaitu Jacques Cousteau . Sewaktu kecil, karena membaca buku Seri Pustaka Dasar, saya mengidolakan beliau dan perkampungan di laut yang ia buat. 

Terima kasih kawan-kawan CMid diskusinya,



May 06, 2021

Fondasi Kurikulum yang Prinsipiil (1) - AGAMA, Kamisan 6 Mei 2021

Pengetahuan tentang Tuhan adalah pengetahuan yang prinsipiil, dan pelajaran Alkitab apa pun yang tidak menambah pengetahuan tentang Tuhan pada dasarnya tidak berguna untuk keagamaan. - Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 272

picture from here


Kemudian muncul pertanyaan apakah kalimat tersebut berarti saat membaca buku seperti Miller atau buku-buku cerita agama non Alkitab akan menjadi sia-sia?

Dari diskusi, saya mencatat bahwa :

1. Sebagai orangtua atau pendamping, kita tidak perlu menyederhanakan kata-kata yang ada di Kitab Suci, tidak perlu disampaikan dengan cara menakut-nakuti. Lalu bagaimana dengan Living Book yang tidak secara gamblang menggambarkan situasi "keagamaan"? Selama bacaan yang dipilih tepat, anak tetap dapat mencerna makna "keIlahian" dalam bacaan tersebut. 

2. Kitab Suci sifatnya kontekstual - hal ini menjadikan pengetahuan tentang Tuhan terlebih dari Kitab Suci adalah pengetahuan yang prinsipiil karena satu bacaan dibaca dalam waktu dan konteks yang berbeda akan tetap dapat terasa pemahamannya sesuai dengan kondisi tersebut. 

3. Belajar agama BUKAN hafalan, melainkan pemahaman dari proses menyerap bacaan. Sehingga penting bagi anak-anak untuk membaca dengan panjang bacaan yang tepat sesuai usia dan kemampuan anak. Saat anak sudah dapat menarasikan dari pemahamannya, kemampuan berikutnya yang ikut terasah adalah kemampuan anak untuk dapat mempraktekan serta merefleksikannya.

4. Ayat hafalan dibaca setiap hari selama beberapa hari agar anak hafal dengan sendirinya. Cara ini hampir sama dengan cara resitasi puisi - melakukan pengulangan secara terus menerus.

Metode pengajaran ini terutama akan berguna untuk mempelajari sejarah Injil, siapa saja yang tekun membaca porsi bacaan Alkitab harian yang ditentukan oleh Gereja tak akan gagal tercerahkan oleh realitas bahwa Taurat dan tulisan para nabi masih sangat relevan menjelaskan pada kita soal kehendak Tuhan, dan kita akan merugi kalau kita meremehkan Taurat dan tulisan para nabi (Perjanjian Lama) itu sebagai panduan hidup yang sudah usang. - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 273

Pernah dalam sebuah diskusi Alkitab dengan teman-teman Gereja, saya mencatat kalimat dari pembimbing "kita tidak boleh mengambil satu ayat tanpa mengindahkan ayat-ayat lain dalam perikop tersebut terutama jika ayat tersebut digunakan untuk menghakimi orang lain.". Dari situ, saya belajar bahwa tiap bagian Alkitab atau Kitab Suci saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Kita tidak bisa "baca Perjajian Baru saja ah" tanpa membaca "riwayat" cerita pada Perjanjian Lama - tanpa memahami pesan yang disampaikan dalam perikop yang lainnya.

Selamat mendampingi anak mengenal Tuhan,


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...