November 27, 2020

괜찮아 - gwaenchana - Pendidikan Liberal part II (KAMISAN 26.11.2020)

Meskipun demikian, protes keras tentang “Eton tidak mengajarkan padaku hal-hal yang aku ingin ketahui” layak untuk diperhatikan. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.253
Setelah resign, setiap pagi dan sore saya memiliki rutinitas baru - menemani Keona bersepeda/main keluar rumah di sekitaran komplek (tentu saja dengan protokol kesehatan ya - pake masker & pulang langsung mandi). Ada beberapa tempat favorit kami, taman yang ada ayunannya dan di belakang masjid komplek yang bisa melihat pemandangan sore yang indah. Suatu hari, saat akan mampir ke tempat ayunan, ada dua orang anak perempuan yang sedang bermain ayunan. Keona melihat saya, matanya seakan bertanya "gimana nih ma? Aku mau main tapi ada yang mainin?", Saya reflek "gapapa, yok muter dulu aja sampai mereka selesai apa mau duduk di sini nunggu giliran?". Keona belum menjawab, namun salah seorang anak yang bermain ayunan meneriakinya "weeekk, ga boleh, ini punya aku!", sambil menjulurkan lidah. Lagi, Keona melihat saya kali ini dengan mata berkaca. Saya sesaat hanya berkata "gapapa, yuk jalan lagi aja.". Namun baru beberapa langkah, saya berhenti karena teringat belum memvalidasi Keona. Saya menanyainya, "Keona sedih?", ia mengangguk, saya memeluknya. Lalu "uda ga sedih ma, yok gowes lagi". Sampai di rumah, saya mengobrol dengannya selesai mandi "Keona tadi sedih kenapa?", "Temennya tadi ga bolehin Ona main, Ona mau main.", Saya tanya lagi "berarti Keona ga suka ya dibegitukan?", "Ga suka ma, Ona sedih.", "Kalau Ona nda suka, berarti orang lain kalau dibegitukan juga suka ga kira kira?" "Nda.. mama nangis nda ma?", ia malah balik menanyai saya. "Mama nda nangis sih, tp mama ga suka dibegitukan.". Ia terdiam, lalu "berarti Ona nda boleh begitu ya? Nanti orang lain sedih juga kaya Ona?", saya mengangguk, tersenyum, kemudian memeluknya.

Kalau dulu hanya berkata "Tidak apa-apa" saat Keona sedih, sekarang kami belajar untuk memaknai peristiwa itu - sesuatu yang sekolah tidak ajarkan namun orangtua acapkali lupa akan perannya dan mengira bahwa dengan membayar uang sekolah saja maka perkara pendidikan anak sudah beres. 

Keona beberapa waktu yang lalu saat sedang di rumah oma.
Mengkritik sekolah itu mudah, tetapi faktanya adalah setiap anak manusia terlahir dengan hasrat untuk mengetahui banyak hal tentang segala hal. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.253

Lalu beberapa hari yang lalu, saat sedang menginap di rumah oma nya Keona, Keona bermain bersama beberapa teman sepantaran tetangga oma. Teman-temannya ini, juga Keona membawa masing-masing mainannya. Sepulang dari bermain, oma bercerita tentang kejadian saat bermain dimana Keona tampak cuek saja, padahal temannya berusaha memancingnya agar mengambil mainan teman tersebut. Lalu saat Keona mendekati mainan itu, ia sudah dimarahi temannya "jangan pegang, itu punya aku!". Diberitahu seperti itu, kata oma, Keona lantas meninggalkan mainan yang baru akan dihampirinya itu lalu bermain dengan mainannya sendiri. Oma bertanya "katanya sekolah, tapi kenapa anak-anak itu begitu sih kak? Untung Keona woles-woles aja loh, mama juga heran, itu anak-anak gampang banget bertengkar rebutan mainan, tapi anakmu ya woles woles aja loh ga kepancing.". Saya lega mendengarkan cerita oma, tapi juga "ya nda salah sekolah juga ma... bukan karena dia sekolah terus kelakuannya jadi baik, emang semua sekolah ngajari? kan paling cuma bilang sharing ya mainannya tapi ga kasih value kenapa mesti sharing dan lain-lain. Mama lo neg HP mu dikon share sama orang lain mau nda?". "Makanya di situ peran orangtua, sekolah ngajarin ilmu macem-macem, tapi ndak bisa orangtua pasrah bongkok an sama sekolah, ada hal-hal kaya masalah Keona dan temannya itu tadi yang mestinya orangtua yang ajarin, yang tahu persis anaknya kan orangtua.". Lalu oma manggut-manggut sambil "iya ya, ya susah juga kalo nuntut gurunya buat ngurusin hal-hal yang semestinya bagian orangtua.".

Kita harus paham bahwa di balik perlawanan yang keras kepala itu, ada rasa lapar akan pengetahuan – bukan hanya untuk  jenis pengetahuan tertentu yang disukai anak (karena setiap jenis pengetahuan sebetulnya akan anak sukai) – tetapi pengetahuan yang diajarkan dengan cara yang benar, dan kita tahu bahwa tidak semua cara mengajarkan pengetahuan itu cara yang benar. Charlotte Mason, vol.6, hlm.253

Saya juga bercerita ke oma Keona tentang kejadian di ayunan komplek beberapa minggu yang lalu dan bersyukur bahwa dengan begitu, oma juga semakin paham mengapa saya akhirnya memilih untuk mengambil peran seutuhnya sebagai pendidik Keona. Selain memberinya ilmu, saya mau Keona belajar bahwa ia tidak perlu menjadi ikut pahit karena orang lain memberinya hal pahit tanpa perlu menghakimi orang tersebut, karena kitapun tidak pernah tahu apa yang sedang dialami orang itu kan? - dan hal ini hanya dapat terjadi jika saya mendampingi penuh proses belajar Keona-setidaknya jika suatu hari nanti Keona harus menempuh pendidikan formal di sekolah seperti anak lain, saya berharap tetap akan mendampinginya seperti saat sekarang ini karena memang semestinya keluarga dan sekolah berjalan bersama dalam proses tumbuh kembang anak - bukan hanya sekedar saling menuntut.

Selamat berakhir pekan,



November 20, 2020

Being (in)Secure - Pendidikan Liberal part I (KAMISAN 19.11.2020)

“Gajilah tinggi para guru, maka mutu pendidikan akan terjamin” menjadi resep populer saat ini, lalu kita melihat di salah satu sekolah desa, gurunya digaji £350 dan diberi fasilitas rumah, sedang seorang guru lainnya, lulusan Oxford, yang juga berkualifikasi tinggi, dengan tanggungan anak-istri, tidak mendapat rumah dan diharapkan hidup dengan £150 setahun! ~ Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 250

Jika dikira menaikkan gaji guru akan meningkatkan kualitas pendidikan, saya yang pernah menjadi guru kurang setuju dengan resep populer yang ada pada masa Charlotte Mason. Pada dasarnya, seseorang yang memang mengabdikan dirinya sebagai guru tidak akan terpengaruh kinerjanya hanya dari apa yang ia dapat.

Namun, kerja itu sesuatu yang lebih dari soal upah, maka menganggap masalah utamanya adalah guru harus digaji tinggi, itu secara tersirat adalah penghinaan pada para guru. ~ Charlotte Mason,  vol. 6, hlm. 250

Realitanya  memang banyak sekali guru (atau profesi lain) yang akan bekerja sesuai berapa ia digaji, datang asal pekerjaan selesai, digaji, lalu pulang. Dulu, sewaktu masih bekerja, saya selalu berpikir, "mengapa begitu?", apalagi saat saya bertanya pada rekan "kamu ga bikin ...?", yang kemudian dijawab "sssttt, ga usah, ngapain, wong digaji cuma sgitu njaluk e aneh-aneh", karena jelas itu bertentangan dengan prinsip yang sejak dulu ditanamkan papa almarhum dan menjadi pegangan saya ketika bekerja "bekerjalah sebaik mungkin, bukan untuk uang, karena jika kamu sudah bekerja dengan baik, maka uang akan mengikutimu.". Namun terlepas dari perilaku kebanyakan guru yang bekerja sesuai berapa ia digaji, datang dan pulang asal selama menurutnya pekerjaannya sudah selesai, saya lalu menjawab pertanyaan "mengapa begitu?" yang awalnya terus mengganjal hati saya. Hal ini terjadi karena masyarakat sendiri yang sudah membentuk sistem seperti ini, ada realita bahwa guru juga memiliki tanggungan atau kewajiban lain selain kewajibannya di tempat kerja. Contoh ilustrasinya seperti ini, ada guru yang memiliki anak dititipkan di sebuah daycare dan sudah ada perjanjian dengan daycare jam berapa ia harus menjemput anaknya, maka ketika ada pekerjaan tambahan yang mengharuskan guru ini bekerja lebih dari jam kerjanya, ia tidak punya pilihan selain memilih pulang tepat waktu karena sudah ditunggu anaknya di daycare, kalau ia tidak tepat waktu, ia membayar denda, sedangkan jika ia memilih pekerjaan pun juga tidak akan ada tambahan uang lembur seperti pekerjaan lain (tidak semua pekerjaan dibayar uang lembur, salah satunya guru) - dari sudut pandang teman-teman sekerjanya, si guru ini adalah orang tepat waktu yang hanya sekedar datang, kerja, pulang. Maka, tidak adil juga rasanya jika kita hanya melihat satu sisi menaikkan gaji guru atau menuntut guru mengabdikan dirinya sepenuhnya - karena menurut saya yang ideal bukanlah menggaji tinggi, atau menggaji seadanya, tapi menggaji DENGAN PANTAS. Pantas bukan perkara nominal, pantas juga tentang apresiasi - menghargai usaha, karena ketika usaha sekecil apapun diperhitungkan, pekerjaan dengan beban yang berat (bagaimana tidak berat ketika orangtua menjadi pihak yang pasrah sepenuhnya pada sekolah karena mereka sibuk bekerja) kemudian akan terasa lebih ringan.

Dalam diskusi, Bu Ellen juga memaparkan bagaimana masyarakat sendiri yang membentuk sistem seperti ini - kebiasaan bertanya "kerja dimana sekarang?" atau "gajinya berapa?" membuat uang menjadi tujuan akhir dari bekerja - membuat masyarakat menjadi merasa tidak aman jika kondisinya tidak sesuai dengan sistem yang dibentuk oleh masyarakat. Segalanya butuh uang, tapi uang bukan segalanya, mungkin jika lingkaran setan ini dapat kita putus mulai dari diri sendiri, maka sistem yang sudah terbentuk di masyarakat ini akan luntur, sehingga orangtua yang semestinya menjadi partner sekolah (terutama dalam proses pendidikan anak), akan menjadi partner yang tidak hanya sekedar membayar uang sekolah (dan merasa tugasnya hanya mencari uang) tapi juga menjadi teman bagi anak saat mereka melalu proses tumbuh kembangnya - juga membantu anak mengerti akan esensi dari bekerja dan uang serta kepada siapa mereka mengabdikan hidup mereka.

"Ga bisa juga hanya idealisme doang tapi ga punya uang." ~ Bu Ellen, 19.11.2020
picture from here


Pada akhirnya, pada masa pandemi ini, saya mendoakan semoga guru-guru tetap dapat mengerjakan tugasnya sebaik-baiknya (seburuk apapun kondisinya, bahkan jika sampai penghasilan dipotong karena diskon uang sekolah) - juga orangtua tetap dapat membagi waktunya bekerja dan menemani anak bersekolah di rumah (karena saya mengalami dan tahu pasti, homeschooling itu berat, tapi tak seberat sekolah di rumah dengan kondisi masih harus bekerja).

Selamat menyambut akhir pekan,



November 13, 2020

Pendidikan Universal bagian terakhir - KAMISAN, 12.11.2020

Kamisan minggu ini, saya mencatat setidaknya ada lima poin kemampuan dasar yang butuh dimiliki anak saat memulai kegiatan terstrukturnya (atau ke sekolah), yaitu 

  1. daya memperhatikan, 
  2. minat besar pada pengetahuan, 
  3. kejernihan pikiran, 
  4. kemampuan bagus dalam memilah buku bacaan bahkan sebelum mereka bisa membaca,
  5. kapasitas untuk mencerna banyak mata pelajaran
pict. from here

Kelima kemampuan dasar tersebut, ternyata sudah ada dimiliki anak sejak mereka lahir (given), hanya saja tugas kita sebagai orang dewasa yang mendampingi anak belajar adalah memastikan kemampuan yang sudah ada diberikan oleh Tuhan ini tetap terjaga dan selalu terasah. Maka, peran lingkungan menjadi penting dan jauh lebih menentukan - atmosfer, struktur, dan sistem. Masalahnya adalah ketika kita kembali ke masa saat masih sekolah dulu, berapa dari kita yang memiliki kelima kemampuan dasar tersebut? Kalau bertanya pada diri sendiri, jelas, poin ke 2, 3, 4, dan 5 pun tidak saya miliki. Minat besar pada pengetahuan misalnya, saat sekolah minat saya justru ke hal lain selain mata pelajaran sekolah-yang-menurut-orang-penting, saya lebih tertarik pada olahraga, musik, dan ketrampilan menjahit. Lalu kejernihan pikiran, saat sekolah, mendengarkan guru sama sekali tidak membuat saya tertarik, saya justru memikirkan hal seperti "saat istirahat nanti mau beli jajan apa ya?" yang juga berpengaruh pada kemampuan untuk mencerna banyak mata pelajaran - pada jam mata pelajaran terakhir, saat perut kenyang saya sudah tak mampu menahan kantuk daripada mendengarkan guru. Memilah buku bacaan, saat sekolah pilihan buku bacaan saya juga bukan buku pelajaran tapi novel fiksi dan biografi. Sehingga, saat mendapati diri sendiri pun tidak memiliki kualifikasi seperti itu, lalu saya berpikir bagaimana bisa saya membantu Keona menjaga kemampuan dasar tersebut serta mengembangkannya. Namun setelah didiskusikan kemarin, saya lega, karena hal yang saya alami saat sekolah tersebut tidak sepenuhnya karena diri sendiri tidak mengembangkan kemampuan dasar tersebut tapi karena sistem - pelajaran sekolah yang tidak menarik, tentu tidak akan membuat pikiran menjadi jernih dan siap menerima pelajaran. 

"Izinkan saya menambahkan lagi bahwa prinsip-prinsip dan metode-metode yang saya ceritakan di atas terutama cocok untuk kelas-kelas besar; ada faktor “semangat akibat jumlah” (sympathy of numbers) yang akan menstimulasi suatu kelas, sehingga muncul daya dorong tambahan dalam prosesnya: setiap anak jadi bersemangat untuk memberikan narasi lisan atau tertulis dengan baik." - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 247

Bagian ini sempat membuat kami bingung, namun kemudian Bu Ellen membantu dengan penjelasan bahwa anak  dapat terpacu untuk dapat belajar lebih baik ketika berada di dalam kelas karena mendapat dorongan dari performance teman lain yang akan memacu mereka untuk perform dengan baik juga. Menurut Bu Ellen, hal ini masih mungkin diterapkan dalam proses pembelajaran homeschooling jika mengelompokkan anak-anak berdasarkan buku yang sama-sama sedang mereka baca.

“Sama seperti hanya ada satu Kebenaran yang berlaku untuk semua orang, begitu pula hanya ada satu Pendidikan yang berhasil untuk semua orang. Dalam hal mendidik suatu bangsa, satu-satunya pertanyaan adalah: Bagaimana supaya pendidikan universal ini bisa dikembangkan dalam kondisi semiskin apa pun dan jumlah massa sebanyak apa pun? Bisa memenuhi tuntutan itu akan menjadi kriteria penentu pendidikan sejati.” - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 249

Pada akhirnya, kita ditantang untuk dapat menerapkan hal ini dalam proses pembelajaran anak. Saat sudah menerapkan, lalu merasa resah dengan pembelajaran anak - anak lain, paling tidak kita dapat mengendapkannya terlebih dulu sambil membagikan hal yang kita tahu benar.


Selamat Hari Jumat tanggal 13,


 

November 05, 2020

Practice the Theory - Penerapan Teori VII (KAMISAN 05.11.2020)

"Akal budi butuh asupan seperti halnya tubuh agar tumbuh dan menjadi kuat, soal ini semua orang tahu." - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 246

Seperti pada bagian awal bacaan hari ini, memang benar bahwa akal budi itu membutuhkan asupan. Kita tidak bisa diam diam saja kalau mau anak berkembang - saat kita merasa anak orang mungkin lebih baik dari anak sendiri, alih-alih merasa anak tidak memiliki kemampuan, bukankah sebaiknya kita menilik diri sendiri dulu : "apa anakku sudah terstimulus dengan baik?".

Beberapa tahun yang lalu, beberapa orangtua yang anaknya seumur dengan Nastusha (anak Chelsea Olivia- waktu itu berusia 1 tahunan) heboh dengan postingan Chelsea yang menunjukkan bahwa anaknya sudah dapat rote counting  satu hingga sepuluh dalam bahasa Inggris. Waktu itu, saya ditanya oleh sesama orangtua yang anaknnya seumur Keona dan Nastusha, "Glo, anakmu dah bisa counting?". Respon saya waktu itu "oh iya, anakku belom bisa iq ternyata", tapi untungnya waktu itu disertai dengan pemikiran "ya iyalah, mbok e sibuk kerja sing nemenin sehari-hari pengasuh yang ga ada basic Bahasa Inggris koq njaluk anak e podo". Maka, saat saya dicurhati teman-teman lain tentang anaknya koq belum bisa begini begitu kaya si ini si itu, pertanyaan saya hanya "sudah sejauh apa stimulus yang kamu kasih untuk anakmu jadi seperti si ini itu?". Jadi, jangan harap seorang ibu yang hobi ngescroll gawai berharap anaknya bisa mau tertarik membaca.

"Kita berbuat keliru ketika kita membiarkan teknik-teknik mengajar kita yang luar biasa itu malah menjadi penghalang antara anak-anak dan pengetahuan yang dibutuhkan akal budi mereka." - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 247

Namun, Charlotte Mason menekankan bahwa hasrat akan pengetahuan adalah landasan dari semua upaya yang dilakukan orangtua atau guru. Jangan sampai justru stimulus yang kita berikan untuk anak justru menjauhkannya dari hasrat akan pengetahuan itu sendiri dan justru mendekatkannya pada hasrat lain seperti misalnya hasrat menjadi nomor satu (emulation), hasrat mendapat hadiah (avarice) hasrat mendapat kekuasaan (ambition), hasrat mendapat pujian (vanity) - vol.6, hlm.247. Maka, saat melihat anak oranglain sudah lebih terstimulus seperti contoh Nastusha yang sudah bisa berhitung urut satu sampai sepuluh itu, saat kita mengajarkan anak hal serupa, sebelumnya tilik tujuannya dulu, apakah kita melakukan itu demi pride - keren klo anakku masih setaun sudah bisa, atau demi pengetahuan.

Bahwa anak terlahir sebagai pribadi - kalimat yang selanjutnya muncul dalam bacaan ini kemudian menjadi sebuah pedoman lagi dalam kita menjalani proses memberi asupan untuk akal budi anak. Saat kita beranggapan bahwa anak adalah pribadi utuh, maka yang terjadi kemudian bukanlah kehendak semau kita saat memberinya asupan - juga bukan sikap seolah sedang mengisi ember kosong. Dua sikap yang barusaja saya tulis itu nantinya hanya akan membuat kita sebagai pendidik anak merasa capai exhausted karena merasa anak belum tahu apa apa sehingga kita berhak memberikan ilmu yang kita asumsikan dibutuhkan anak. Saya kemudian teringat pada pertemuan Kamisan tahun lalu yang membahas tentang gender - saat itu ada poin yang saya catat yaitu cinta tidak memiliki. Ketika saya kaitkan hal tersebut dengan kesadaran bahwa anak terlahir sebagai pribadi, saya lalu memikirkan "mengapa saat dengan anak orang lain, saya bisa sabar tapi dengan anak sendiri saat ia meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya koq saya bisa meledak?". Waktu itu kesimpulan saya adalah "karena anak orang lain bukan anak saya, mana mungkin saya mengomeli anak orang lain kan?" - jadi saat ada rasa memiliki ini, maka saya merasa bebas melakukan apa saja pada anak saya. Rasa memiliki ini juga berlawanan dengan prinsip anak terlahir sebagai pribadi - saat kita menganggap anak adalah milik, secara tidak langsung, kita menganggapnya bukan sebagai pribadi melainkan benda yang bisa kita apakan saja. Sehingga dalam prakteknya, saya selalu mengulang mantra "Keona bukan milikku, dia titipan Tuhan." saat saya sudah diambang amarah - dengan mantra itu, saya berhasil melalui hari-hari berdua saja dengan Keona di rumah tanpa teriakan marah (kalau ditanya kapan terakhir marah ke Keona, saya lupa. Mungkin sudah 2-3 bulan yang lalu).

picture from here

Pada akhirnya, saat bu Ellen membeberkan tentang tantangan menjadi orangtua dan berkata bahwa beliau sudah melalui (tidak hanya sekedar bicara teori) hal-hal tidak menyenangkan saat menjalani peran sebagai orangtua pertama kali, bahwa memiliki anak bukan sekedar memenuhi tuntutan sosial "habis nikah trus anaknya mana?", saya teringat akan tanaman telang saya yang baru kemarin tunasnya tumbuh setelah sebelumnya saya gagal dua kali dalam proses penyemaian. Dua kali gagal saat itu padahal saya menggunakan langkah sesuai teori, disemai terlebih dahulu - ternyata tunas yang berhasil tumbuh justru malah yang hanya diletakkan di tanah tanpa proses apa-apa (hanya mengandalkan proses alami). Sama seperti tanaman telang saya yang dibekali Tuhan untuk tumbuh tanpa harus melalui proses penyemaian, saat dipercaya menjadi orangtua, manusia dibekali Tuhan dengan kemampuan menjadi orangtua, namun terkadang kita terjebak dengan teori sehingga merasa proses menjadi orangtua terasa menjadi berat sekali. Saat saya belajar banyak sekali teori parenting namun gagal mempraktikannya dengan anak sendiri, rasanya sama seperti saat menyemai telang dua kali namun gagal - filosofi dan teori tidak hanya untuk dipelajari, namun juga dihayati dan dipraktikan.


Masih terus belajar untuk mempraktikan tanpa terjebak teori,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...