November 18, 2021

Nutrisi Intelektual - KAMISAN, 18 Nov 202

Pengetahuan itu bukan pelatihan, informasi, kajian akademis, atau hafalan di luar kepala. Pengetahuan diteruskan bagai api obor, dari akal budi ke akal budi, dan nyalanya hanya bisa dikobarkan dalam akal budi yang betul-betul berpikir. Kita tahu bahwa pikiran melahirkan lebih banyak pikiran; hanya pada saat ada ide memantik akal budi kita, maka akal budi itu akan tergugah untuk melahirkan ide-idenya sendiri, dan ide-ide kita itu akan melahirkan perilaku keseharian kita. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 303

Hari ini hari pertama diskusi dalam grup kecil. Masuk ke halaman 303 membahas tentang bagaimana pengetahuan masuk ke dalam akal budi. Dalam bacaan dituliskan bahwa pengetahuan ibarat api obor yang diteruskan dari satu akal budi ke akal budi lain-dan hanya dapat berkobar pada akal budi yang betul-betul berpikir. Pengetahuan itu juga nantinya yang akan mempengaruhi perilaku keseharian kita.

picture from here

Bagi kebanyakan orang, perjumpaan itu bisa dilakukan terutama lewat bukubuku; dan kalau kita ingin tahu seberapa jauh suatu sekolah menyediakan nutrisi intelektual bagi para siswanya, kita tinggal melihat daftar buku materi bacaan siswa selama periode belajar tersebut. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 303

Lalu pada bagian berikutnya, digambarkan bahwa buku merupakan "jembatan" antara akal budi orang dewasa dengan anak. Mudah bagi kita mengukur sebuah sekolah (dalam konteks ini kita orangtua yang berperan sebegai guru) seberapa jauh nutrisi intelektual diberikan kepada anak-lihat daftar bukunya.

Berdasarkan bahan bacaan hari ini, saya mencatat beberapa kriteria buku yang dimaksud :

1. daftarnya tidak boleh pendek (artinya tidak boleh hanya sedikit buku yang diberikan),

2. bukunya bervariasi (banyak pun akan menjadi tidak baik saat jenis buku yang diberikan itu itu saja-ditulis bahwa kekuatan kehendak siswa tidak akan berkembang secara holistik),

3. buku yang bukan berbentuk ringkasan,

4. buku yang merupakan tulisan asli pemikir,

5. tidak menggurui dan tidak menyimpulkan (agar siswa tetap berpikir dan mencerna apa yang dibaca),

6. berbentuk sastrawi seperti terutama puisi.

Sama seperti makanan jasmani yang terbagi dalam jenis menyehatkan (kadang tidak enak) dan yang tidak menyehatkan, buku dan kebiasaan pun juga terbagi dalam dua jenis seperti itu, dan padahal biasanya anak cenderung memilih "permen" yang tidak sehat sebagai kudapan mereka sehari-hari. Lalu bagaimana? dipaksa? Tetap paparkan anak dengan nutrisi yang menyehatkan, tetap beriman bahwa anak suatu saat akan "makan" yang sehat yang selalu kita paparkan. Lalu bagaimana dengan "permen" nya? perlu dibatasikah?

Dari diskusi, saya mencatat poin seperti "jangan mencobai anak" artinya, jangan paparkan anak terhadap "permen" itu tadi. Tapi kemudian, kita juga tidak bisa terus-terusan menjauhkan anak dari paparan "permen" itu kan? Menggunakan ilustrasi Putri Tidur dimana ia "dihindarkan" dari jarum pintal oleh raja karena kutukan jarum pintal, saya berpikir bahwa anak semestinya juga "diedukasi" tentang keberadaan "permen" tersebut walaupun kita tidak menyediakan "permen" di rumah. Edukasi bukan berbentuk larangan atau ceramah, tapi bantu anak untuk berpikir sendiri baik buruknya "permen" tadi. Lalu dari ilustrasi tentang Adam dan Hawa yang tetap makan buah terlarang walaupun sudah diedukasi, saya berpikir bahwa sebagai orangtua kita perlu tetap "memberikan supervisi" agar anak tetap dapat melalui cobaan (terutama di awal-awal ia tahu tentang "permen pencobaan" tadi).

 Anak harus membaca agar mendapatkan pengetahuan dan tugas guru adalah memastikan dia tahu. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 303

Jika sudah memenuhi kriteria tersebut di atas, lalu selanjutnya adalah kita sebagai "guru" bertugas untuk memastikan anak "tahu" dengan meminta anak menarasikan bacaan yang ia baca tanpa ceramah, menjelas-jelaskan, apalagi memberi pertanyaan komprehensif. Tapi yang kemudian terpikir adalah, jika tugas guru adalah MEMASTIKAN ANAK TAHU, bagaimana jika dalam narasinya, guru mendapati anak tersebut "belum tahu", apa yang mesti dilakukan jika bertanya komprehensif maupun menjelas-jelaskan tidak dianjurkan?

Dari cerita kawan-kawan, saya belajar bahwa saat mendapati anak yang dari narasinya tampak ia belum tahu, pertama yang mesti kita pastikan adalah akar penyebab mengapa anak tidak tahu, apakah saat membaca anak belum fokus, jika belum fokus, maka kita "benahi" dl bagian itu. Tapi bolehkah kita bertanya "namanya tokohnya siapa?" untuk memastikan anak paham? Sebaiknya jangan. Jika anak mengalami kesulitan mengingat nama tokoh misalnya (padahal dalam beberapa paragraf yang lalu kita tahu bahwa siswa-siswa Charlotte dapat menghafal ratusan nama dengan ejaan yang tepat), kita dapat membantu anak dengan beberapa metode seperti meminta anak mencatat nama yang muncul dalam bacaan yang ia baca. Prinsipnya tetap, kita tidak boleh merendahkan anak menganggap mereka tidak paham apa yang kita pahami lalu berusaha menjelas-jelaskan.


Wah, diskusinya dalam sekali ya, ngalor ngidul dari dongeng sampai Adam dan Hawa, tapi seru, terima kasih kawan-kawan CMid Semarang,



November 04, 2021

(bukan) Dunia Yang Jahat!

pict. from here

"Dunia ini jahat." Begitu kata lebih dari separuh penduduk penghuninya. "Dunia ini jahat." Itu juga yang dikatakan mereka yang di sekitarku.

"Aku tak peduli," Begitu kubilang saat mereka khawatir. "Tenang saja aku bisa jaga diriku koq," Tetap saja mereka khawatir.

Katanya, aku polos Mereka kira aku bakso? Polos tanpa mie? Mereka kira aku kain kafan? Polos tak bernoda? "Ah, bisa bisanya mereka saja itu!" Kataku memganggap remeh

"Tapi dunia memang jahat!" Rutukku saat malam tiba- Malam setelah ratusan malam saat banyak orang mengkhawatirkanku. "Dunia memang jahat!" Pikirku saat dunia memaku ku ke dalam lubang terdalamnya. "Dunia memang jahat!" Kata akal rasionalku ketika ia kembali dari jeratan si emosi.

"Dunia memang jahat!" Kata pikiranku yang ingin aku tidur tapi tak bisa karena sibuk memikirkan dunia yang jahat.

Tapi lalu aku berpikir lagi, "Ah, bukan dunia yang jahat! Tapi orang orangnya! Yea ga semua, tapi banyak!"
dan
"Ahhh pantas saja aku lebih suka film dengan musuh zombie ketimbang psikopat, karena MANUSIA MENYERAMKAN!"
Tapi setidaknya, dengan adanya yang jahat, aku jadi tahu bahwa yang baik juga ada.


Aku, masih berkutat dengan pikiranku,



October 07, 2021

Banteogapepra - KAMISAN, 7 Oktober 2021

"Soal pendidikan, kondisi kita memprihatinkan. Beberapa waktu lalu di Across the Bridges, kita membaca tentang seorang siswa cerdas dan bersemangat yang telah lulus sekolah dengan predikat memuaskan tapi setelahnya mengalami penurunan kondisi yang drastis." ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 300

 Membaca bagian ini mengingatkan saya masa ketika saya menjadi guru. Waktu itu, saya menjadi wali kelas anak dari pemilik yayasan sekolah. Mendengar dari guru sebelumya bahwa anak ini memiliki "bakat" untuk membully temannya bahkan berani mengancam guru "I'll tell my mom so she will deduct your sallary." saya waktu itu bersemangat sekali untuk "mendidik" anak ini supaya tidak hanya tumbuh jadi anak yang cerdas tapi juga punya hati - bajik dan bijak kalau meminjam istilah yang sering Bu Ellen katakan. Entah karena beruntung atau apes, kecelakaan dan "cacat" pada kaki saya di tengah tahun ajaran mengajar anak tersebut seperti menumbuhkan empatinya. Saya tidak mendapati anak itu mengancam saya selama setahun saya menjadi wali kelasnya, ibunya yang ketua yayasan pun sering memanggil saya bukan untuk dihukum tapi bertanya seperti "Ms. Glo, yang kemarin Ms Glo cerita soal wisata ke anak-anak itu dimana?" juga hal seperti "Batik yang Ms.Glo ceritakan tu Batik yang dari mana?". Saya bersyukur waktu itu tidak hanya berhasil menerapkan "smart is nothing when you dont have attitude." tapi juga dapat membuat anak itu "melokal" dengan membicarakan wisata lokal, produk lokal, saat sebelumnya topik obrolan anak-anak hanya seputar piknik ke Disneyland dan destinasi lainnya di luar negri. 

"Kharisma wajah adalah manifestasi dari pemikiran, perasaan, inteligensi; tapi ketiganya sudah tak kita lihat lagi terpancar dari wajah-wajah yang hidup di hari ini, yang ada hanyalah orang-orang yang secara fisik sehat tapi dingin, acuh tak acuh." ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 301

Kalau ditanya bagaimana anak itu setelah bertahun-tahun saya resign dari sekolah, kabar yang saya dengar adalah ia "berhasil" membuat seorang temannya keluar dari  sekolah karena tidak tahan menjadi sasaran bullying terus. Waktu mendengar berita itu, saya kaget, bagaimana bisa seorang anak kelas satu SD (atau 2 kurang ingat pastinya), terpikir untuk mengambil tempat pensil temannya, membawanya lari sambil dikejar temannya yang memiliki tempat pensil itu lalu begitu sampai di lantai teratas, ia menjatuhkannya dan berkata "tuh ambil". Padahal saya ingat betul bagaimana manisnya anak itu saat masih TK. 

Tapi lalu bagian bacaan hari ini juga mengingatkan saya tentang bagaimana orangtua juga berperan penting pada pertumbuhan anak. Guru yang hanya bertemu 3-5 jam sehari di sekolah tidak akan banyak pengaruhnya dibanding orangtua yang memiliki lebih banyak waktu dengan anak di rumah. Pemikiran ini juga yang akhirnya membawa saya untuk sepenuhnya mengambil peran dalam pengasuhan Keona. Saya tidak bisa pasrah hanya pada sekolah saja karena ada banyak hal yang semestinya menjadi porsi orangtua. Jika banyak orangtua beranggapan bahwa belajar adalah "mengerjakan lembar kerja", sejak mengenal banyak metode pendidikan (Charlotte Mason salah satunya), ternyata belajar itu adalah semua hal yang dilakukan anak. Anak dapat belajar kapan saja dan dimana saja termasuk hal kecil seperti mencuci piring misalnya.

Maka ketika ada banyak orangtua mengeluhkan tentang anaknya "yang tidak peka", pertanyaan berikutnya adalah "apakah pernah orangtuanya memadamkan kemauannya belajar lewat rasa ingin tahunya?" seperti misalnya "ga usah nyuci piring, nanti mama harus nyuci 2 kali malah repot" - tanpa sadar, kalimat itu akan "memadamkan" tidak hanya rasa ingin tahu dan kemauannya belajar tapi juga "kepekaan" dan "empati" anak.

pict from here

banteogapepra [ban-teo-ga-pe-pra]

noun.  orang dengan banyak teori namun tidak pernah mempraktekannya ~ Stephen 

Mendengar sebuah kata tadi di dalam diskusi, banteogapepra, kata itu seakan menampar saya, mengingatkan betapa saya hafal dan tahu banyak teori pengasuhan anak, tapi NOL BESAR dalam hal PRAKTEK ke anak sendiri - masih tertatih untuk bajik dan bijak berjalan beriringan terutama dalam pengasuhan anak. Maka, lagi-lagi kajian Kamisan mengingatkan saya akan tujuan saya memilih "sepenuhnya" mengasuh Keona. 

Terima kasih teman-teman untuk diskusinya,



September 17, 2021

Awas Manusia! - Nature Walk Kamis, 16 Sept 2021

photo from here

Beberapa hari yang lalu, buku pesanan PO dari bulan lalu akhirnya datang. Buku yang saya pesan dari kawan di CMid Semarang yang saya pesan berjudul AWAS, MANUSIA! ini ternyata memiliki sekitar 40 halaman, cukup banyak untuk "dilahap" Keona dalam sekali sesi "reading aloud".
Keona baru saja menyelesaikan membaca buku itu bersama saya tadi malam. Keona yang dulu selalu takut binatang (khususnya serangga), sekarang mulai perlahan luntur.


2019, ketika beberapa bagian rumah kami terkena rayap, saya sempat terpikir satu hal :
"Sebenarnya, kalau mau dirunut, yang seharusnya marah bukan saya tapi si rayap, kan memang mereka sudah lebih dulu ada di tanah ini, saya yg membangun rumah di atas lahan yang sebenarnya milik mereka loh.", Sejak itu, kalau melihat Keona takut pada binatang, saya selalu bilang "harusnya mereka loh yang takut sama Keona, wong Keona lebih besar, bisa menyakiti mereka."

Nah, selesai baca buku Awas, Manusia! ini semalam, Keona terpikir kata2 saya ttg binatang sejak 2019 itu ttg binatang yg justru takut sama dia. Keona teringat saat nature walk kemarin pagi saat saya berusaha mengambil gambar capung unik yg sayapnya kalau mengembang berwarna biru metalik, "oh, pantas ya ma, capungnya klo pas mau dipegang malah lari.". Mungkin capungnya juga bilang "Awas, Manusia!" kali ya 🤭

Tp saya senang sekali lo ada kupu2 yang mau hinggap di pundak dan tangan saya kmrn, 🤭


PeeR kami skrng, "kalau kita jd ... (orang lain atau makhluk di sekitar kita), apakah kita akan nyaman pd diri kita sekarang?"
Respon orang memang di luar kendali kita, tapi perilaku kita ada di dalam kendali kita... Begitu kan?

Happy Friday (sudah tak sabar menunggu nature walk berikutnya),

📸:

 Buku "Awas, Manusia!"

2 Keona asik banget mainan batu, disusun, ambruk, susun lagi, campur pasir, kasih air, and repeat.

saya yg kegirangan dihinggapi kupu2 🤭 mungkin kupu yg hinggap itu namanya Park Jae Eon #ups ðŸ˜‚😂😂

August 19, 2021

Mempersiapkan Pembelajaran yang Merdeka - KAMISAN, 19 Agustus 2021

Baru dua hari yang lalu, seluruh rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan, dalam bacaan hari ini saya sedikit merelasikannya dengan peristiwa besar Bangsa Indonesia ini ya.

Namun kita bukannya tanpa harapan. Suatu ladang menakjubkan telah dibukakan bagi kita; ribuan anak di sekolah-sekolah kita menunjukkan aneka prestasi dalam kemerdekaan dan sukacita. Mereka telah menjadi pemegang kendali atas proses pendidikan mereka sendiri dan rakus akan pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri, pengetahuan dalam ketiga bidang yang tadi aku sebut. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 290

Kemudian jadi memikirkan lagi apa sesungguhnya makna "merdeka belajar" dan "pembelajar  yang merdeka" yang selama ini digadang gadang oleh Mentri Pendidikan kita yang baru. Kemudian, pertanyaan berikutnya adalah, "apakah yang selama ini saya kerjakan sudah memerdekakan anak?"

Mendengarkan diskusi teman-teman memberikan insight tersendiri bagi saya yang baru seujung kuku menapaki dunia homeschooling. 

Coleridge tidak menganggap akal budi yang menerima ide-ide besar ini sebagai akal budi yang hebat, tidak ada kualifikasi yang berbeda, hanya saja, katanya, mereka itu “telah sejak lama dipersiapkan untuk menerima ide-ide besar itu”. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 290

Dari bagian ini, saya menangkap bahwa pada dasarnya semua anak memiliki porsi akal budi dan kapasitas yang sama, yang membedakan hanyalah bagaimana akal budi ini dipersiapkan untuk menerima ide. Lalu bagaimana cara mempersiapkan akal budi ini agar dapat menerima ide? Beragam pendapat disampaikan oleh kawan-kawan CMId Semarang tadi, saya masih mencerna diskusi dan bacaan sambil meraba-raba. Lalu saat mulai mengetik narasi tertulis ini, saya terpikirkan bagaimana selama ini saya mempersiapkan Keona menerima ide.

Beberapa hari yang lalu, saya sedang berdiskusi dengan Rina (salah seorang anggota CMId Semarang juga) tentang keterkaitan peran seorang aktor dan aktris dalam drama Korea. Dalam drama yang sebelumnya, si aktor adalah pria baik yang tersakiti, namun dalam drama yang sedang kami bahas si aktor ini jadi pria yang suka mempermainkan wanita. Simpel, awalnya saya hanya komen "wah fakboi ternyata berasal dari goodboy yang tersakiti.", lalu obrolan panjang hingga Cinta Yang Berpikir masuk kedalamnya (bab2, halaman 19, tentang potensi anak menjadi baik atau buruk - setiap orang punya potensi untuk menjadi baik atau buruk tergantung bagaimana lingkungannya, terlebih bagaimana ia bereaksi akan peristiwa yang terjadi pada dirinya).

Intinya, sebagai orangtua, saya merasa harus menggarisbawahi dulu hakikat anak, sadar betul-betul bahwa ia bukan ember kosong atau kertas kosong, ia punya potensi menjadi baik atau buruk - dengan kesadaran ini, sudah pasti input "sajian perjamuan akal budi" yang diberikan orangtua bukanlah sajian yang hanya mengenyangkan tapi juga "mengandung gizi". Kemudian, setelah memahami hakikatnya tersebut, persiapkan dengan kemampuan berefleksi juga, sehingga saat ada ide masuk, anak mampu mengolahnya bukan hanya sekedar "informasi" belaka. Kemudian, narasi akan membantu orangtua mengukur bagaimana akal budi benak anak mengolah informasi tadi.

gambar dari sini

Sama halnya dengan mempersiapkan makan bersama keluarga, perlu adanya sesi persiapan, merapikan meja makan, membumbui bahan masakan, mengolah bahan, sebelum makanan tersebut dapat dinikmati, maka sebelum ide dapat dicerna dan diolah anak, saya sebagai orangtua, perlu mempersiapkannya matang-matang.

Terima kasih kawan-kawan atas diskusinya yang mencerahkan pikiran tadi,

July 22, 2021

Pengayaan Akal Budi - KAMISAN, 22 Juli 2021

"Banyak ya!", begitu pikir saya saat hendak menulis narasi ini lalu membaca lagi bacaan diskusi tadi pagi. Banyak, dua halaman dan menyisakan satu halaman untuk minggu depan - tidak seperti minggu-minggu sebelumnya yang biasanya hanya 2-3 paragraf saja.

Saat membaca bagian tentang Denmark dan sektor pertaniannya yang menghasilkan kualitas mentega yang baik secara nasional, saya kembali ke bacaan beberapa minggu lalu 

"Bangsa kita tidak lebih buruk dibanding bangsa lain, dan bukan hal yang keliru membanggakan bangsa sendiri, sebab kebanggaan nasional dan kerendahan hati personal bisa berjalan beriringan; di masa damai kita suka mengkritik orang-orang negeri kita sendiri, tapi kita tetap punya kebanggaan pada watak bangsa kita dibanding watak buruk bangsa lain,..." - Charlotte Mason, vol.6, hlm.282

Saya membayangkan bagaimana jika suatu saat saya berada di belahan dunia yang lain lalu sedang menikmati teh sore dengan kukis buatan mentega Indonesia. Muluk? Mungkin kalau dibayangkan sekarang iya, tapi mengingat Indonesia adalah negara agraris dan maritim, dari segi sumber daya alam nya saja, sebenarnya kita bisa lakukan hal yang sama. Nah, pertanyaannya, lalu bagaimana SDM yang mengelolanya?

"Bukankah di luar negeri kita ada juga para provokator yang kerjanya menebarkan benih ketidakpuasan di tengah massa yang benaknya melompong? Mereka yang benaknya berisi tidak akan terpengaruh, tapi mereka yang berotak kosong akan meraup tawaran pemikiran baru apa saja dengan super antusias, dan sulit disalahkan atas sikap itu; benak yang kelaparan melahap apa saja yang bisa diperolehnya, bahkan pemilik toko roti biasanya tidak tega menghukum berat orang yang mencuri roti karena kelaparan." - Charlotte Mason, vol.6, hlm.286

Familiar dengan kondisi dari sepenggal bacaan di atas? Saya koq membacanya teringat betapa "jahatnya" jempol netijen hingga ada yang berkata "Kalau baca berita atau konten media sosial, lebih seru klo  kamu baca bagian komen terutama komen orang-orang Indonesia.". Banyak hal yang membuat kebiasaan membaca generasi muda semakin bergeser, salah satunya adalah kecanggihan teknologi. Rasanya berbagai bacaan dapat diakses sekarang ini, sayangnya kecanggihan teknologi ini tidak diikuti dengan kemampuan memfilter bacaan, mana hoax, mana berita, mana yang bisa ditelan mentah-mentah, mana yang harus dikunyah dan dicerna dulu. Makanya ga heran benak yang kelaparan itu kalau isinya "junk food" ya outputnya juga junk.

"Apa yang disebut makanan akal budi yang layak, kita telah mendiskusikannya. Asumsi kita adalah bahwa pendidikan haruslah membuat anak-anak kita “kaya di hadapan Allah” (mari ingat kembali perumpamaan dalam Lukas 12 tentang orang kaya yang bodoh, yang tidak selamat karena dia tidak “kaya di hadapan Allah”), yang memajukan masyarakatnya, juga memajukan dirinya sendiri." - Charlotte Mason, vol.6, hlm.281

Bacaan tanggal 1 Juli ini relate sekali dengan bacaan hari ini bagian :

"Lebih berharga karena di sana karakter dan perilaku, inteligensi dan inisiatif, muncul sebagai hasil dari pendidikan humanistik yang menempatkan pengenalan akan Tuhan sebagai prioritas. " - Charlotte Mason, vol.6, hlm.287

Pengetahuan tentang Tuhan Allah ini bukan berarti ekstrim menjadi religius, namun bagaimana saat kita berada di dalam dunia, tapi bukan menjadi bagian dari dunia. Kita tidak dapat memisahkan hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan dengan sekuler, karena semua aspek dalam kehidupan ini dan juga tujuan hidup kita adalah bagian dari untuk menjadi "kaya di hadapan Allah".

Ini sepertinya masih bakal berlanjut lagi, karena beberapa kali saja bagian bacaan hari ini membawa saya ke Kamisan tanggal 1 dan 8. Jadi, bersambung ya :))

picture from here


Eh, sudah sore, yuk menghalu dulu makan kukis buatan Indonesia yang sudah mendunia,



June 17, 2021

Worth Living - Kamisan, 17 Juni 2021

Prussia menjadi pelopor reformasi pendidikan. Yang menjadi sasaran pertama-tama bukanlah
kanak-kanak, melainkan para pemuda. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 279

Saat membaca ulang dan mengetik kalimat di atas, saya teringat salah satu ucapan Bung Karno mengenai pemuda "...beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.". Lalu jadi berpikir panjang sekali mengenai kalimat ini. Saya mencari di beberapa sumber, tidak ada yang menyebutkan karakter atau kriteria dari 10 pemuda yang dimaksud oleh Bung Karno. Lalu berpikir lagi, apakah pemuda pada masa Bung Karno berbeda dengan pemuda di masa sekarang?

Memangnya ada apa dengan pemuda di masa sekarang?

Beberapa bulan yang lalu, saya dimintai tolong oleh seorang kenalan, masih muda, baru saja lulus Sarjana. Adik ini bertanya pada saya "Mengapa saya sudah memasukkan banyak lamaran namun satupun panggilan belum saya dapatkan?". Penasaran, saya bertanya tentang bagaimana bentuk lamaran yang ia kirimkan dan memintanya mengirimkan kepada saya. Selanjutnya saya dibuat kaget, karena ia mengirim lamaran hanya email kosong dan lampiran di dalamnya - tidak ada badan surat email. Menghela napas panjang, saya berpikir, "okelah, mungkin dia baru pertama jadi belum tahu cara mengirimkan email lamaran yang pantas." lalu saya memberikan waktu saya untuk mengajarinya cara mengirim email yang pantas saat melamar kerja. Beberapa waktu kemudian, adik itu datang lagi kepada saya, bertanya jika ia ditanya berapa gaji yang diharapkan, dia harus menjawab apa? Saya memancingnya dengan banyak pertanyaan seperti "berapa biaya kos di kota tersebut? berapa biaya hidupnya? berapa banyak harus menabung? " dengan harapan saat menemukan nominal gaji yang diharapkan, ia akan memiliki STRONG WHY. Tapi, ending percakapan kami sungguh membagongkan, ia malah menelan mentah mentah contoh ilustrasi yang saya buat dengan berkata "oh jadi aku minta lima juta aja ya mba?". Saya lemas...

Itu baru satu contoh, saya sudah bertemu ada lebih dari 3 pemuda yang seperti itu, bahkan sudah bertemu juga dengan yang jelas-jelas tidak tahu arah hidupnya kemana - tidak tahu mau melanjutkan ke perguruan tinggi jurusan apa.

Lalu apakah pemuda yang dimaksud Bung Karno sesungguhnya memiliki kriteria tertentu agar dapat mengguncang dunia? Hanya saja belum terucap oleh Bung Karno di saat beliau mengatakan kalimat tersebut?

Dalam panduan filosofi Johann Gottlieb Fichte, dan di bawah pemerintahan Karl Stein, terbentuklah Tugendbund, liga pemuda yang tersohor itu. Prussia sedang miskin-miskinnya, tapi alih-alih memusatkan perhatian pada perbaikan ekonomi, pendidikannya difokuskan pada filsafat yang memberi pemahaman tentang prinsip-prinsip danpada sejarah yang memberi kisah-kisah teladan. Ternyata pendekatan ini berhasil baik untuk negeri itu. 
~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 279

Lalu kriteria pemuda seperti apa yang dapat mengguncangkan dunia?

Lewat bacaan Kamisan hari ini, saya belajar bahwa filsafat tidak hanya dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa jurusan filsafat. Filsafat bukan hanya tentang mempelajari tokoh-tokoh filsuf terkenal - lebih dari itu, yang saya tangkap dari bacaan hari ini adalah anak harus bisa memikirkan banyak hal. Kebiasaan berpikir diperlukan agar anak dapat berefleksi dan bereaksi dengan tepat. Hal kecil seperti berapa biaya hidup yang kita butuhkan saja, jika tidak dipikirkan dengan matang akan membuat hidup kita beratakan tidak tertata. Masalahnya kebiasaan ini tidak dipupuk sejak kecil. Banyak anak tidak dipantik kemampuan berpikirnya, contoh banyak orangtua saat memberi tahu anaknya tentang sesuatu hal biasanya berkata "yowes pokok e gitu, km nurut aja!" - padahal alih-alih menjelaskan alasan panjang lebar, orangtua bisa loh memancing daya berpikir anak dengan melempar pertanyaan balik "menurutmu kalau .... kira-kira yang akan terjadi bagaimana?".

Namun, para pemikir terbaik di negeri itu telah lama sadar bahwa “pendidikan yang didorong oleh kuatnya kepentingan ekonomi, motivasinya rentan menyempit jadi terlalu utilitarian dan kehilangan elemen idealisme yang justru menjadi kunci kekuatan pendidikan dalam membentuk karakter.” ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 280

Kan anak sudah disekolahkan? Masa masih tidak bisa berpikir?

Entahlah, hal ini rumit kalau mau diurai masalahnya karena sebenarnya tujuan orang bersekolah saat ini bukan untuk memberdayakan kemampuan berpikirnya tapi untuk mendapat nilai dan ijazah, benar bukan? Maka, walaupun anak sudah disekolahkan (even sekolah di tempat termahal sekalipun) tidak akan menjamin kemampuan berpikirnya berjalan dengan sebagaimana semestinya. Sehingga, bagian inipun tetap menjadi tanggung jawab orangtua untuk membantu anak menggunakan daya berpikirnya agar dapat berefleksi dan bereaksi dengan tepat dalam segala kondisi. Mengobrol dan membicarakan kejadian sehari hari, merefleksikannya dapat dilakukan sebagai tahap awal membantu memberdayakan kemampuan berpikirnya, sesederhana saat beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan Keona perihal bajunya yang tampak punggungnya sedikit :

Keona : "Ma, aku besok ga mau pakai baju ini lagi kata temanku Keona SARU."

Saya : "Memangnya SARU itu apa?"

Keona : "SARU itu ga pake baju!"

Saya : "Lhah, memangnya Keona tidak pakai baju?"

Keona : "pakai kok!"

Saya : "Berarti SARU ga?"

Keona : "ehh engga ya berarti!"

Lalu ia kembali tersenyum keluar rumah dan bermain lagi karena sudah berhasil berpikir bahwa baju yang ia pakai "TIDAK SARU".

The unexamined life is not worth living. ~ Socrates
picture from here


Selamat memikirkan banyak hal ya teman-teman,

May 20, 2021

Fondasi Kurikulum yang Prinsipiil (2) - SEJARAH, Kamisan 20 Mei 2021

Seperti kita ketahui, mendapatkan buku bacaan yang ideal itu tidak selalu memungkinkan, jadi kami memakai buku terbaik yang bisa kami temukan, dengan suplemen esai-esai historis yang berkualitas sastrawi. - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 274

Pada tulisannya, Charlotte Mason menulis bahwa Sejarah sepatutnya dipelajari menggunakan buku-buku sastrawi. Saya membayangkan pelajaran Sejarah layaknya kisah kisah puitis dan cerita menarik mengenai sebuah peristiwa. Maka, saya menyimpulkan bahwa Sejarah BUKANLAH hafalan. Semasa sekolah dulu, masih teringat bagaimana saya mempelajari Sejarah (yang mungkin juga sama dialami oleh anak-anak lain yang juga bersekolah), guru meminta kami membaca satu bab, lalu mengadakan ulangan tentang materi tersebut. Permasalahannya ada 2 :

1. Buku yang dipakai dalam pelajaran tersebut bukanlah buku Sejarah yang berkualitas Sastrawi

Layaknya buku-buku pelajaran lain yang dipakai sekolah, buku pelajaran Sejarah yang waktu itu kami gunakan kebanyakan hanya membeberkan fakta seperti misalnya "tahun.... terjadi perang...."ditambah lagi cara guru waktu itu mengajar hanya mencacat ringkasan sebuah peristiwa. 

2. Model ujian bersifat komprehensif.

Yang saya alami saat sekolah dulu, soal ujian/ulangan Sejarah adalah pertanyaan komprehensif seperti "Pada tahun berapa Perang Dunia dimulai?". Secara tidak langsung, hal ini membuat anak-anak terpancang HARUS HAFAL pada materi yang diujiankan.

Ada seorang kawan yang pernah bercerita bahwa ia menyukai pelajaran Sejarah karena gurunya selalu berkata bahwa mereka sedang "bergosip" tentang orang-orang di masa lampau. Bergosip adalah kegiatan bercerita dari mulut ke mulut, sehingga dalam hal ini, walaupun kualitas buku bacaannya waktu itu kurang memadai, teman saya mendapat porsi narasi yang cukup lewat kegiatan "bergosip" tersebut.

Setiap masa, setiap periode sejarah, punya pujangga-pujangganya sendiri yang bisa menangkap intisari zaman, dan berbahagialah orang yang hidup di zaman ketika tokoh seperti Shakespeare, Dante, Milton, Burns muncul untuk mengumpulkan dan merawat makna zamannya sebagai harta warisan buat dunia. -  Charlotte Mason, vol.6, hlm. 274

Kemudian ada pernyataan tentang penulis Sejarah yang mungkin memiliki kepentingan pada sebuah peristiwa, sehingga apa yang ia tulis, bisa saja hanya berat satu sisi sesuai sudut pandang penulis tersebut. Saya teringat pernah mengikuti kelas kajian Kitab Injil Alkitab (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dimana pada saat itu, saya belajar bahwa walau keempat Kitab tersebut berisi tulisan mengenai peristiwa-peristiwa mulai dari Yesus lahir sampai Yesus wafat, namun mengapa beberapa tulisan terasa berbeda padahal kisahnya sama. Jawabannya karena masing-masing penulis memiliki tujuan tertentu serta sudut pandang yang berbeda tentang peristiwa yang ditulis - waktu penulis menulis juga mempengaruhi tulisan tersebut. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes hidup di era tahun yang berbeda serta masing-masing memiliki tujuan audiens tertentu yang ingin mereka tuju. Maka, penting bagi kita sebagai fasilitator untuk membantu anak untuk selain mempelajari Sejarah peristiwa, kita perlu menggali sejarah penulisnya sendiri karena itu saling berkaitan. 

picture from here

Lalu, bagaimana aplikasinya? Bagaimana memulainya? Mulai dari buku apa?

Karena Keona masih tahap pembentukan karakater, saya menyimak saran teman-teman yang sudah lebih dulu membantu anaknya belajar Sejarah. Dimulai dari memperkenalkan sejarah keluarga anak, lalu juga biografi orang orang terkenal seperti pada Seri Pustaka Dasar. Ahhh, menyebut buku itu, saya jadi teringat tokoh favorit saya sewaktu kecil yaitu Jacques Cousteau . Sewaktu kecil, karena membaca buku Seri Pustaka Dasar, saya mengidolakan beliau dan perkampungan di laut yang ia buat. 

Terima kasih kawan-kawan CMid diskusinya,



May 06, 2021

Fondasi Kurikulum yang Prinsipiil (1) - AGAMA, Kamisan 6 Mei 2021

Pengetahuan tentang Tuhan adalah pengetahuan yang prinsipiil, dan pelajaran Alkitab apa pun yang tidak menambah pengetahuan tentang Tuhan pada dasarnya tidak berguna untuk keagamaan. - Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 272

picture from here


Kemudian muncul pertanyaan apakah kalimat tersebut berarti saat membaca buku seperti Miller atau buku-buku cerita agama non Alkitab akan menjadi sia-sia?

Dari diskusi, saya mencatat bahwa :

1. Sebagai orangtua atau pendamping, kita tidak perlu menyederhanakan kata-kata yang ada di Kitab Suci, tidak perlu disampaikan dengan cara menakut-nakuti. Lalu bagaimana dengan Living Book yang tidak secara gamblang menggambarkan situasi "keagamaan"? Selama bacaan yang dipilih tepat, anak tetap dapat mencerna makna "keIlahian" dalam bacaan tersebut. 

2. Kitab Suci sifatnya kontekstual - hal ini menjadikan pengetahuan tentang Tuhan terlebih dari Kitab Suci adalah pengetahuan yang prinsipiil karena satu bacaan dibaca dalam waktu dan konteks yang berbeda akan tetap dapat terasa pemahamannya sesuai dengan kondisi tersebut. 

3. Belajar agama BUKAN hafalan, melainkan pemahaman dari proses menyerap bacaan. Sehingga penting bagi anak-anak untuk membaca dengan panjang bacaan yang tepat sesuai usia dan kemampuan anak. Saat anak sudah dapat menarasikan dari pemahamannya, kemampuan berikutnya yang ikut terasah adalah kemampuan anak untuk dapat mempraktekan serta merefleksikannya.

4. Ayat hafalan dibaca setiap hari selama beberapa hari agar anak hafal dengan sendirinya. Cara ini hampir sama dengan cara resitasi puisi - melakukan pengulangan secara terus menerus.

Metode pengajaran ini terutama akan berguna untuk mempelajari sejarah Injil, siapa saja yang tekun membaca porsi bacaan Alkitab harian yang ditentukan oleh Gereja tak akan gagal tercerahkan oleh realitas bahwa Taurat dan tulisan para nabi masih sangat relevan menjelaskan pada kita soal kehendak Tuhan, dan kita akan merugi kalau kita meremehkan Taurat dan tulisan para nabi (Perjanjian Lama) itu sebagai panduan hidup yang sudah usang. - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 273

Pernah dalam sebuah diskusi Alkitab dengan teman-teman Gereja, saya mencatat kalimat dari pembimbing "kita tidak boleh mengambil satu ayat tanpa mengindahkan ayat-ayat lain dalam perikop tersebut terutama jika ayat tersebut digunakan untuk menghakimi orang lain.". Dari situ, saya belajar bahwa tiap bagian Alkitab atau Kitab Suci saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Kita tidak bisa "baca Perjajian Baru saja ah" tanpa membaca "riwayat" cerita pada Perjanjian Lama - tanpa memahami pesan yang disampaikan dalam perikop yang lainnya.

Selamat mendampingi anak mengenal Tuhan,


April 23, 2021

Akrab dengan Buku - KAMISAN, 22 April 2021

Beberapa hari yang lalu, Keona melontarkan pernyataan "Mama, Keona mau dong belajar baca.". Saat saya menelisik lebih dalam mengenai alasan Keona minta diajari membaca, ia mengatakan bahwa ia ingin bisa baca karena teman bermainnya sudah bisa membaca - juga ada mantan siswa mamanya yang sudah fasih membaca. Baru saja menginjak usia 5 tahun, saya awalnya mengira keinginan untuk bisa baca hanya karena teman-temannya saja. Namun setelah diabaikan beberapa hari, ia tiba-tiba mengutarakan lagi keinginannya untuk belajar baca - kali ini alasannya karena ia capai kalau setiap mau membaca buku harus menunggu mamanya selesai dengan pekerjaan rumah terlebih dahulu, ia mau dapat membaca kapan pun ia mau tanpa harus menunggu jam membaca bersama mamanya. Dengan alasan yang berbeda kali ini, saya akhirnya mantap mengajarkannya membaca. 
"Lagipula, tidak mungkin mengajari anak mengeja kalau mereka tidak membaca sendiri. Kami mendengar keluhan betapa sulitnya pelajaran mengeja, betapa guru-guru terpaksa “membantai” bahasa kesayangan kita hanya supaya membuat pelajaran mengeja jadi mudah; tapi pada ribuan siswa di sekolah kami, kami dapati bahwa anak-anak yang akrab dengan buku bisa mengeja dengan baik karena memvisualisasikan kata-kata yang mereka baca." ~ Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 271
"170 buku setiap cawu", oh PR banget buat saya saat membaca bagian ini.
picture from here


Sepanjang diskusi hari ini, saya mendengarkan pengalaman kawan-kawan CMid Semarang dengan buku dan saat mengajari anak-anak membaca. Dalam diskusi , saya mencatat beberapa poin penting, seperti :

1. Modal penting dalam pengajaran adalah buku.

Charlotte Mason menulis bahwa anak-anak yang akrab dengan buku dapat mengeja dengan lebih baik. Bahasan berikutnya adalah bagaimana jika ada dari kita yang memiliki kendala dengan ketersediaan buku - memikirkan berbagai kemungkinan mengenai pinjam meminjam buku yang kemudian berujung pada pemikiran "bagaimana jika buku yang dipinjamkan tidak kembali?". Dalam skala kecil, hal ini mungkin terjadi, namun tetap butuh tanggung jawab si peminjam.

Jika ada anggapan bahwa buku yang digunakan adalah buku yang sulit dicari, sejauh ini menurut kawan-kawan di timkur, buku-buku yang direkomendasikan timkur adalah buku yang masih beredar dan dapat dicari.

2. Kemerdekaan tidak berarti BEBAS, namun tetap ada yang disebut pembagian spesialisasi.

"... tapi bukankah itu sama seperti bersikeras bahwa semua orang merdeka mesti menyediakan sendiri semua kebutuhannya, sampai ke membuat sepatunya juga? Peradaban kita ditandai oleh adanya pembagian kerja atau spesialisasi." ~Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 272

Bukan dalam rangka mengintervensi kerja guru (dalam konteks keluarga homeschoolers ini adalah orangtua), namun dengan adanya bantuan daftar buku yang direkomendasikan, justru akan mempermudah kerja pendidik. Kemerdeaan di sini bukan bebas memilih buku apa saja, namun memilih buku rekomendasi sesuai dengan kebutuhan keluarga.

Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan buku, dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku. 

Quote yang sempat dilontarkan Pak T dalam diskusi tadi, juga membuat saya berpikir. Bukan dalam konteks menjadi pelit, namun untuk dapat menghargai buku lebih baik karena tidak semua orang dapat memiliki berkat, pengetahuan, dan kesempatan untuk membeli atau memiliki buku-buku bagus. Sharing kawan-kawan dalam diskusi tadi membantu saya mendapat banyak poin tambahan terutama dalam proses membantu Keona belajar membaca.

Terima kasih diskusinya,



March 18, 2021

Anak - Anak = Masa Depan Negara - KAMISAN 18 Maret 2021

demokrasi/de·mo·kra·si/ /démokrasi/ n Pol 1 (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat; 2 gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara;
sumber : KBBI online

Dalam bacaan disebutkan bahwa dengan adanya demokrasi yang baru (yang tidak lagi mengompori sebatas kepentingan atau keuntungan diri sendiri agar mereka tergerak melakukan tindakan publik dan menyentuh rasa puitis dan heroism, yang berkuasa menggugah hati sebagian besar orang) yang nantinya akan dapat membangun "Yerusalem baru" - sebuah penggambaran akan wilayah hijau nan subur. Namun berbicara mengenai demokrasi yang terjadi saat ini, demokrasi yang ada adalah kebenaran yang berdasarkan penilaian publik - yang dianggap publik benar, maka itulah demokrasi. Sehingga membantu anak untuk setidaknya paham politik untuk dapat memenangkan suara publik atas ide ide baik yang dimiliki menjadi hal essensial - tidak melulu tentang terjun langsung ke dunia politik, tapi paling tidak anak mengenal politik baik maupun buruk yang terjadi di masyarakat. 

Mengedukasi anak mengenai politik selain mempersiapkan anak - anak untuk menjadi individu yang dapat memenangkan suara publik, juga agar dapat anak dapat memiliki pemikiran kritis yang dapat menyuarakan ide baik sehingga adanya kontrol pada kekuasaan pemerintahan yang sedang berlangsung.

Untuk mencapai itulah, kita semua perlu membaca buku-buku yang sama - dalam bahasa ibu kita, bukan dalam bahasa Latin atau Yunani, karena toh mayoritas warga kita tidak akan punya waktu belajar bahasa-bahasa klasik itu sampai fasih, dan – terus terang – begitu juga rerata siswa-siswa kita di sekolah yang terbaik sekalipun. .....

memasukkan daftar buku yang semua anak harus ketahui, semua lukisan yang harus diakrabi, pengetahuan sejarah dan riwayat perjalanan yang perlu diakrabi, semua pemahaman tentang fenomena alam yang semua harus siap hadapi sewaktu-waktu. 

~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 265 & 266 

Maka jelas sudah bagaimana cara mengedukasi anak-anak itu yaitu dengan menghidangkan buku berkualitas agar anak dapat belajar. Bu Ellen juga sempat menceritakan tentang isi buku Trilogi Cicero yang membahas tentang demokrasi - kemudian memberi ilustrasi juga lewat tokoh dalam buku tersebut. 

Proses pemerataan dimulai dari diri sendiri dulu - menjadi aneh dengan ide ide baiknya), stand out of the box, lalu ketika kita punya pengaruh dalam masyarakat maka tularkan semangat aneh tersebut.

picture from here

Agaknya bahasan Kamisan kali ini membuat saya sedikit pening :D sehingga poin-poin yang saya catat tidak terlalu banyak. Oh tapi ada quote dari mba Putri yang saya catat untuk menutup dan meringkas bahasan Kamisan kali ini :

"Membentuk karakter anak adalah cara membentuk karakter negara."

Selamat menjelang akhir pekan,



 

February 25, 2021

Buku yang Menyatukan Kita - KAMISAN 25.02.2021

"Mau kemana, Glo?"
"Perpus, ikut?"
"Mau, sekalian bahas tugas yok."
"Buku apa yang kita bahas nanti?"
"Drama apa yang mau untuk presentasi?"
...

Kamu suka genre gothic
Aku suka genre romantis
Kamu mendengarkanku bercerita kisah manis karya Shakespeare
Aku mencatat hal menarik dari ceritamu tentang Mary Shelley dan Frankenstein-nya
Kamu dan intepretasimu tentang kehidupan
Aku dan intepretasiku tentang perjuangan

Kita menghabiskan waktu mengobrol tentang banyak hal dari buku yang kita baca bersama
Kamu bilang Frankenstein kasihan,
aku justru kasihan dengan penulisnya dan latar belakang kehidupannya

Wah ternyata ada perbedaan dari intrepetasi kita tentang buku yang sama-sama kita baca untuk tugas kuliah waktu itu ya,
kukira kamu akan satu pemikiran denganku,
kamupun mengira aku akan sepemikiran,
tapi ternyata intepretasi kita berbeda, padahal bukunya sama
dan karena berbeda interpretasi itu maka presentasi tugas kita jadi hidup, kaya akan ide
Kamu dapat nilai A,
Aku juga

Lalu kita seakan ketagihan,
menghabiskan waktu menunggu jam jam kuliah berikutnya di kamar kos mu untuk membaca buku bergantian,
atau duduk di perpustakaan dengan setumpuk buku yang akan dibaca.
Begitu hingga akhirnya kita dapat menyelesaikan 4 tahun bersama.

"Sudah baca Charles Dickens, Glo?"
"Sudah, aku baru beli bukunya kemarin."

Aku bersyukur minatku akan buku meningkat,

Terima kasih, kawan.

julukan dosen waktu itu untuk kami bertiga adalah "trio mini". Diskusi hari ini mengingatkan saat-saat mengerjakan tugas kuliah bersama, satu buku namun kaya ide menjadikan presentasi kami menjadi kaya.

teman-teman seangkatan literatur dulu, sesaat sebelum presentasi - sampai sekarangpun masih in touch khususnya kalau membahas buku, drama, dan karya sastra lain.

Friendship is born at that moment when one person says to another:
"What! You too? I thought I was the only one." ~ C.S. Lewis

Dulu, saya kira saya satu-satunya kutu buku aneh yang suka nongkrong berlama-lama di toko buku, ternyata karena buku dan karya sastra, saya justru punya kawan sesama pecinta buku, hehehehe. Setiap mengobrol selalu isinya "bedah buku", sampai selalu kalimat kami "bedah aja sekalian semuanya, bedah, bedah!".

Jadi kangen masa memburu buku baru, naik bis dari kampus ke mall cuma buat beli buku, dan nongkrong berlama-lama di perpustakaan,


February 18, 2021

I Know that I Know Nothing - KAMISAN 18.02.2021

Diskusi panjang hari ini dipersembahkan oleh bacaan satu paragraf - yang karenanya sayapun jadi ikut-ikutan mikir panjang.

tujuannya untuk membekalkan pengetahuan yang relatif mendalam untuk dua tiga bidang saja supaya siswa lulus sebagai manusia Inggris yang beres; dengan kata lain, guru memandang sekolah sebagai tempat mengasuh dan membentuk watak (warga negara) alih-alih sebagai tempat memperoleh pengetahuan. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.264

Awalnya saat membaca bagian akhir bacaan ini, saya teringat kutipan yang dibagikan oleh bu Ellen beberapa waktu yang lalu, isinya demikian :

If children started school at six months old and their teachers gave them walking lessons, within a single generation people would come to believe that humans couldn't learn to walk without going to school. ~Geoff Graham

Saya yang dulu  (dan mungkin banyak orangtua) selalu beranggapan bahwa anak butuh sekolah - saya teringat bagaimana saya membuat sesi pelajaran dulu semasa menjadi guru seperti stimulus motorik kasar kepada anak di bawah dua tahun seakan hal tersebut adalah sesuatu yang memang dilakukan di sekolah - tidak bisa dilakukan di rumah. Saat diskusi, saya merenung betapa menyedihkannya diri saya karena tanpa sadar membuat orangtua berpikir bahwa "untuk belajar seperti berjalan saja harus memasrahkan anak ke sekolah." - juga tanpa sadar mengintimidasi salah satu orangtua dengan berkata "kalau bapak dapat menstimulus anak bapak sesuai dengan capaian usianya secara mandiri di rumah, ya silahkan, tandanya bapak tidak perlu menyekolahkan anak bapak terlalu dini, namun kalau bapak merasa bapak tidak dapat memberi stimulus yang sesuai dengan usia anak bapak, ya saran saya disekolahkan saja." saat ditanya "kenapa saya harus menyekolahkan anak saya sejak dini?"

picture from here

Diskusi berlanjut dengan pendapat dan beberapa pertanyaan yang dilontarkan teman-teman CMers Semarang. Saya mencatat beberapa point penting sebagai simpulan dari diskusi tadi, yaitu :

1. Mendengar 

Jika dalam diskusi minggu lalu "mendengar" diperlukan sebagai skill dalam menjalin komunikasi, dalam diskusi kali ini, mendengar diperlukan untuk menemukan blind spot yang seringkali tidak kita lihat terutama dalam menjalani proses belajar - dan untuk itu diperlukan kerendahhatian untuk mau mendengar kritik, saran, atau pendapat orang lain yang bisa saja tidak terpikirkan oleh kita karena tidak tampak di mata kita - blind spot

2. Tidak ekstrim kanan kiri

Dalam mempelajari banyak hal, terkadang kita menemukan sesuatu yang kita anggap benar kemudian meyakininya dengan keyakinan kuat bahwa hal tersebut sudah yang paling benar. Saat itu terjadi, biasanya kita akan menjadi abai pada sisi yang tidak kita yakini kebenarannya tersebut. Sengaja saya mengambil ilustrasi gambar langit dilihat dari dua jendela di atas. Dari jendela satu dengan jendela yang lainnya, langit tampak berbeda, padahal langit yang dilihat hanya satu - tapi tampak berbeda jika dilihat menggunakan perspektif ekstrim kanan maupun kiri. Kesimpulan yang saya catat dari diskusi tadi adalah bukan untuk menjadi seseorang yang berada di tengah tanpa menjadi ekstrim kanan atau kiri, namun ada yang namanya kebenaran yang utuh - tidak ekstrim kanan kiri, kebenaran yang melingkupi segala sesuatu, semua ada sesuai pada porsinya bukan untuk saling menutupi satu sama lain - karena pemilik kebenaran ini sendiri adalah Tuhan. 

"The only thing that I know is I know nothing." ~ Socrates

Saya menutup refleksi dan perenungan saya siang ini dengan sebuah kalimat dari Socrates yang tadi juga sempat diucapkan Bu Ellen. Dengan rendah hati menyadari bahwa kita tidak tahu apa-apa, bahkan dibandingkan dengan kebesaran Tuhan, maka semoga proses belajar tetap menjadi proses yang menggairahkan untuk terus dilakukan. 


Selamat Hari Kamis,



February 11, 2021

Dua Telinga Satu Mulut - KAMISAN 11.02.202

Kita semua pernah memiliki pengalaman seperti itu, dan dengan malu mengakui bahwa kita juga pernah membuat orang lain kesulitan karena tak berhasil-berhasil menemukan topik yang menarik minat kita. Ini satu persoalan yang mesti guru pertimbangkan. Ada ribuan topik yang bisa kita pelajari secara memadai sampai bisa membicarakannya secara cerdas; tapi kok kita malah menyiapkan kertas ujian dengan pertanyaan komprehensif yang umum, sehingga yang para siswa kita cari sebatas informasi sepotong-sepotong supaya bisa menuliskan jawaban esai yang ala kadarnya? ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.261

Sampai sebelum diskusi, saya meyakini bahwa mudah saja bagi seseorang dengan karakter ekstrovert untuk memulai sebuah pembicaraan - jauh lebih baik daripada orang - orang dengan karakter introvert. Namun, dalam bahan bacaan diskusi kali ini, Charlotte Mason menegaskan sekali lagi pentingnya pengetahuan dalam kehidupan sosial kita - jelas sudah mengapa memberikan pertanyaan komprehensif (yang minggu lalu dibahas), menjadi kurang relevan dalam membangun kemampuan anak seperti kemampuan sosialnya. Saya membayangkan percakapan orang yang terbiasa menjawab soal komprehensif seperti ini :

A : "wah, kamu kerja dimana?"

B : "di kantor bla bla..., kalo kamu?"

A : " aku di bla bla bla."

Lalu saat A dan B sama sama hanya memiliki kemampuan komprehensif, maka pembicaraan hanya sebatas tanya jawab saja, tanpa relasi mendalam (apalagi jika tujuannya mengobrol adalah untuk bonding, maka bonding tersebut tidak akan terjadi - terbayang dalam benak saya kalau Keona kelak pacaran dan hanya punya kemampuan komprehensi, ya kira-kira percakapan dengan pacarnya hanya seputar tanya jawab "uda makan belom?" :D - membagongkan kalau istilah anak muda jaman sekarang).

picture from here

Belum cukup di situ, saat diskusi saya juga mencatat skill penting yang sama pentingnya selain pengetahuan itu. Sepanjang diskusi hari ini, saya merenungkan tentang mengapa Tuhan menciptakan lebih banyak telinga daripada mulut - terutama saat saya "curhat" tentang kesulitan saya menjalin komunikasi dengan orang yang memiliki interest  yang berbeda dari saya. Saya cenderung menghindari obrolan yang "menurut saya" hanya bersifat "ngomongin orang" - lebih baik tidak ikut-ikut lah. Namun diskusi tadi mencerahkan :)). Dalam sebuah obrolan, penting bagi kita menentukan tujuan obrolan tersebut, maka jika tujuannya adalah untuk menjalin relasi yang baik, tidak ada salahnya jika kita tetap memberikan telinga untuk mendengarkan meskipun obrolan tersebut terasa tidak nyaman. Di situ saya merenung "oh iya bener ding, makanya Tuhan kasih 2 telinga satu mulut karena supaya manusia bisa lebih banyak mendengarkan daripada bicara - hal yang kadang orang-orang ekstrovert macam saya lupakan saat mengobrol dengan orang lain. 

Maka, menyeimbangkan seluruh organ saat mengobrolpun juga bisa menjadi hal yang esensial.

Jangan hanya mau didengar, tapi coba mendengarkan.


lagi-lagi tertampar, tertohok, dan tertusuk, terima kasih diskusinya kawan-kawan



February 04, 2021

Tidak Merendahkan Anak (part 2) - KAMISAN 04.02.202

Asalkan bukunya berkualitas sastrawi dan tepat untuk usianya, anak-anak akan tahu cara mencernanya tanpa harus dijelas-jelaskan. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 260

Seakan menegaskan sekali lagi, pada bagian inipun Charlotte Mason mengingatkan bahwa ceramah tidaklah diperlukan untuk anak - asal sudah "disuguhi" buku berkualitas sastrawi cukup.

Tentu saja mereka tidak akan bisa menjawab pertanyaan komprehensi, karena pertanyaan seperti itu adalah bentuk sikap meremehkan yang semua kita benci, tapi mereka akan bisa menceritakan padamu semua isi buku itu dengan sedikit sentuhan pribadi individual dalam narasi mereka.  ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 260

Kemudian kalimat berikutnya seakan menampar saya. Komprehensi - sebuah kegiatan yang selama ini selalu saya lakukan dengan tujuan "tahu sampai dimana pemahaman anak" - ahhh dan ternyata itu salah, itu merendahkan anak. Diskusi tadi siangpun membawa pada ingatan semasa masih sekolah, saat stereotype "hafalan" menempel pada subjek-subjek ilmu sosial seperti Sejarah misalnya. Setelah dipikir-pikir, stereotype itu ada karena soal ujian yang kebanyakan bersifat komprehensi itu - maka siswa merasa terbeban merasa "harus menghafal". Tertawa dalam hati saya berpikir "pantas saja, saya dulu anak IPS tapi tidak suka menghafal dan pelajaran yang terasa seperti menghafal - ternyata penyebabnya adalah soal-soal komprehensi itu yang membuat saya merasa terbeban - yang justru malah saya teruskan ke siswa maupun Keona sampai kemarin. Di akhir narasinya, saya masih sering "bertanya" mengenai bacaan - untung hari ini tertegur. Semoga belum terlambat bagi saya mengubah kebiasaan komprehensi ini, karena kalau dipikir-pikir, dampak jangka panjang yang saya alami sangat buruk. Dulu, saat SD-SMP, saya dapat menghabiskan novel-novel tebal hanya dalam 2-3 hari, namun sejak SMA saya butuh lebih dari seminggu bahkan untuk buku yang tipis saja, dan belum lama, saat membaca Pendidikan Yang Memiskinkan tulisan Pak Darmaningtyas saja saya butuh 4 hari untuk satu bab karena terbiasa membaca dengan beban "menghafalkan" saya jadi lambat karena melihat angka-angka tahun serasa baca buku pelajaran Sejarah dan mau ulangan - hahahaha.... 

Biarkan anak itu membaca dan menjadi tahu, dalam arti, kalau diminta dia bisa menceritakan kembali yang dia telah baca.  ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 261

Jadi, kalau efek jangka panjang yang saya alami sudah seburuk itu, saya tidak bisa membiarkan efek yang sama "merasa bersalah kalau tidak hafal" membebani Keona kelak. Sayapun harus berlatih menahan diri untuk tidak memberi pertanyaan yang bersifat komprehensi mengenai bacaan. Maka kemudian muncul pertanyaan, "kemampuan dasar apa yang perlu dimiliki fasilitator dalam mendampingi anak membaca?" - untuk saya saat ini, hal yang perlu saya latih adalah kemampuan menahan diri bertanya komprehensi tentang bacaan, skill dasar yang kalau saya luput, efek jangka panjangnya besar.

picture from here


Perlakukan anak-anak dengan metode ini, akal budi bertemu akal budi; bukan akal budi guru bertemu akal budi anak,–– itu malah berarti mendesakkan pengaruh yang tak semestinya, melainkan akal budi dari para pemikirlah yang harus bertemu dengan si anak, akal budi bertemu akal budi, lewat buku-buku mereka, sementara guru menjalankan peran elegan memperkenalkan akal budi antusias pengarang di satu pihak dengan akal budi antusias anak di pihak lain.  ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 261

Kutipan di atas jadi kesimpulan refleksi saya sore ini - tidak merendahkan kemampuan anak dengan memberi pertanyaan yang bersifat komprehensi dan juga membiarkan anak bertemu guru yang sesungguhnya yaitu si pengarang buku.



 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...