June 24, 2026

Setelah Membaca Peta yang Sama Berkali-kali - Kajian 24 Juni 2026, CM Vol. 4, Bag II, Bab 1

picture from here


Dulu, aku kira mengenal diri
adalah menghafal hal-hal sederhana
apa yang kusukai,
apa yang kutakuti,
apa yang membuatku bertahan
di hari-hari yang panjang.

Ternyata tidak.

Ternyata ia lebih mirip
membaca sebuah peta wilayah yang luas,
lalu menyadari
betapa banyak bagian yang belum kumengerti.
Ada batas-batas yang selama ini
ingin kuubah menjadi jalan.
Ada sungai yang selalu meluap
setiap kali harapan bertemu kenyataan.
Ada daerah yang tampak tenang dari jauh,
namun selalu bergemuruh di dalam.
Dan ada musim-musim tertentu
yang datang tanpa bisa dicegah.

Malam ini aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku mengira
aku sedang memperjuangkan keadilan.
Padahal mungkin
aku sedang berhadapan
dengan batas-batas diriku sendiri.

Dengan kenyataan bahwa
tidak semua hal bisa kuatur sesuai mauku
hanya karena aku menginginkannya.
Tidak semua pintu terbuka
hanya karena aku sudah menunggu lama.
Tidak semua perjalanan
memiliki lintasan yang sama.

Mungkin pengendalian diri
bukan tentang mematikan keinginan.
Melainkan tetap bersikap lembut dan tenang
ketika keinginan itu tidak menemukan jalannya.
Tetap menjaga hati
ketika dunia berjalan
dengan ukurannya sendiri.

Dan mungkin karena itulah
mengenal diri terasa begitu penting.
Karena suatu hari,
anak yang sedang kutuntun
akan memiliki peta dirinya sendiri
menemukan batas-batasnya sendiri.

Dan aku berharap,
saat hari itu tiba,
aku tidak mengajarinya
cara memenangkan segala sesuatu.
Aku berharap aku bisa mengajarinya
cara tetap utuh
ketika tidak semua hal dapat dimenangkan.



June 06, 2026

Kangen #3

picture from here


Dulu pernah ada kalimat
yang diucapkan sambil lalu,
lalu menetap bertahun-tahun
seperti paku kecil di dinding.

"Nanti kamu akan mengerti."

Dan ternyata waktu memang suka menang.

Pagi ini, entah kenapa,
kalimat itu datang lagi.
Bukan bersama suaranya,
bukan bersama wajahnya,
hanya datang sendiri
saat matahari belum benar-benar tinggi.

Ada rindu yang aneh.

Bukan rindu untuk bertemu.
Bukan rindu untuk mendengar cerita lama.

Hanya rindu pada seseorang
yang pernah begitu yakin
tentang sulitnya hidup.

Dan hidup memang tidak sedang ramah.

Ada langkah-langkah yang terasa lebih berat
karena jalan ini pernah dilalui orang lain terlebih dahulu.
Ada pintu-pintu yang terbuka
karena nama yang ditinggalkan.
Ada pula yang diam-diam terasa harus dijaga
meski pemiliknya sudah lama pergi.

Kadang-kadang kebahagiaan datang.

Sederhana saja.
Secangkir kopi yang hangat.
Kabar baik yang tak diduga.
Tawa yang lolos begitu saja.

Tapi selalu ada sesuatu
yang berdiri di ambang pintu,
seolah bertanya,

"Benarkah semua ini boleh?"

Lalu,
Pagi ini air mata jatuh juga.

Bukan karena kehilangan.
Bukan karena ingin memanggil pulang
yang sudah tak mungkin pulang.

Melainkan karena tiba-tiba ingin bertanya:

Jika seseorang meninggalkan begitu banyak jejak,
apakah orang yang berjalan setelahnya
boleh merasa ringan?

Ataukah sebagian dari hidup
memang harus dijalani
dengan menoleh ke belakang?

Aku tidak tahu.

Yang kutahu,
rindu kali ini tidak berbentuk wajah.

Rindu kali ini berbentuk jeda
di antara syukur dan sesak.

Dan untuk pertama kalinya,
aku menyadari:

mungkin yang paling kurindukan
bukan orangnya

melainkan izin
untuk hidup tanpa merasa sedang meninggalkannya.
_____________________________

baca juga Kangen dan Kangen#2 di sini dan di sini

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...