November 20, 2020

Being (in)Secure - Pendidikan Liberal part I (KAMISAN 19.11.2020)

“Gajilah tinggi para guru, maka mutu pendidikan akan terjamin” menjadi resep populer saat ini, lalu kita melihat di salah satu sekolah desa, gurunya digaji £350 dan diberi fasilitas rumah, sedang seorang guru lainnya, lulusan Oxford, yang juga berkualifikasi tinggi, dengan tanggungan anak-istri, tidak mendapat rumah dan diharapkan hidup dengan £150 setahun! ~ Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 250

Jika dikira menaikkan gaji guru akan meningkatkan kualitas pendidikan, saya yang pernah menjadi guru kurang setuju dengan resep populer yang ada pada masa Charlotte Mason. Pada dasarnya, seseorang yang memang mengabdikan dirinya sebagai guru tidak akan terpengaruh kinerjanya hanya dari apa yang ia dapat.

Namun, kerja itu sesuatu yang lebih dari soal upah, maka menganggap masalah utamanya adalah guru harus digaji tinggi, itu secara tersirat adalah penghinaan pada para guru. ~ Charlotte Mason,  vol. 6, hlm. 250

Realitanya  memang banyak sekali guru (atau profesi lain) yang akan bekerja sesuai berapa ia digaji, datang asal pekerjaan selesai, digaji, lalu pulang. Dulu, sewaktu masih bekerja, saya selalu berpikir, "mengapa begitu?", apalagi saat saya bertanya pada rekan "kamu ga bikin ...?", yang kemudian dijawab "sssttt, ga usah, ngapain, wong digaji cuma sgitu njaluk e aneh-aneh", karena jelas itu bertentangan dengan prinsip yang sejak dulu ditanamkan papa almarhum dan menjadi pegangan saya ketika bekerja "bekerjalah sebaik mungkin, bukan untuk uang, karena jika kamu sudah bekerja dengan baik, maka uang akan mengikutimu.". Namun terlepas dari perilaku kebanyakan guru yang bekerja sesuai berapa ia digaji, datang dan pulang asal selama menurutnya pekerjaannya sudah selesai, saya lalu menjawab pertanyaan "mengapa begitu?" yang awalnya terus mengganjal hati saya. Hal ini terjadi karena masyarakat sendiri yang sudah membentuk sistem seperti ini, ada realita bahwa guru juga memiliki tanggungan atau kewajiban lain selain kewajibannya di tempat kerja. Contoh ilustrasinya seperti ini, ada guru yang memiliki anak dititipkan di sebuah daycare dan sudah ada perjanjian dengan daycare jam berapa ia harus menjemput anaknya, maka ketika ada pekerjaan tambahan yang mengharuskan guru ini bekerja lebih dari jam kerjanya, ia tidak punya pilihan selain memilih pulang tepat waktu karena sudah ditunggu anaknya di daycare, kalau ia tidak tepat waktu, ia membayar denda, sedangkan jika ia memilih pekerjaan pun juga tidak akan ada tambahan uang lembur seperti pekerjaan lain (tidak semua pekerjaan dibayar uang lembur, salah satunya guru) - dari sudut pandang teman-teman sekerjanya, si guru ini adalah orang tepat waktu yang hanya sekedar datang, kerja, pulang. Maka, tidak adil juga rasanya jika kita hanya melihat satu sisi menaikkan gaji guru atau menuntut guru mengabdikan dirinya sepenuhnya - karena menurut saya yang ideal bukanlah menggaji tinggi, atau menggaji seadanya, tapi menggaji DENGAN PANTAS. Pantas bukan perkara nominal, pantas juga tentang apresiasi - menghargai usaha, karena ketika usaha sekecil apapun diperhitungkan, pekerjaan dengan beban yang berat (bagaimana tidak berat ketika orangtua menjadi pihak yang pasrah sepenuhnya pada sekolah karena mereka sibuk bekerja) kemudian akan terasa lebih ringan.

Dalam diskusi, Bu Ellen juga memaparkan bagaimana masyarakat sendiri yang membentuk sistem seperti ini - kebiasaan bertanya "kerja dimana sekarang?" atau "gajinya berapa?" membuat uang menjadi tujuan akhir dari bekerja - membuat masyarakat menjadi merasa tidak aman jika kondisinya tidak sesuai dengan sistem yang dibentuk oleh masyarakat. Segalanya butuh uang, tapi uang bukan segalanya, mungkin jika lingkaran setan ini dapat kita putus mulai dari diri sendiri, maka sistem yang sudah terbentuk di masyarakat ini akan luntur, sehingga orangtua yang semestinya menjadi partner sekolah (terutama dalam proses pendidikan anak), akan menjadi partner yang tidak hanya sekedar membayar uang sekolah (dan merasa tugasnya hanya mencari uang) tapi juga menjadi teman bagi anak saat mereka melalu proses tumbuh kembangnya - juga membantu anak mengerti akan esensi dari bekerja dan uang serta kepada siapa mereka mengabdikan hidup mereka.

"Ga bisa juga hanya idealisme doang tapi ga punya uang." ~ Bu Ellen, 19.11.2020
picture from here


Pada akhirnya, pada masa pandemi ini, saya mendoakan semoga guru-guru tetap dapat mengerjakan tugasnya sebaik-baiknya (seburuk apapun kondisinya, bahkan jika sampai penghasilan dipotong karena diskon uang sekolah) - juga orangtua tetap dapat membagi waktunya bekerja dan menemani anak bersekolah di rumah (karena saya mengalami dan tahu pasti, homeschooling itu berat, tapi tak seberat sekolah di rumah dengan kondisi masih harus bekerja).

Selamat menyambut akhir pekan,



No comments:

Post a Comment

your comment makes me smile :) can't wait to hear from you... please leave your web link too, so I can visit u back.... thank you.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...