August 07, 2020

KAMISAN - Geografi part II 06.08.2020

"Peta dan garis kontur semacam itu bukanlah esensi dari geografi, melainkan simpulan-simpulan yang lambat laun akan diperoleh oleh siapapun ketika akal budinya sudah intim dengan suatu wilayah." ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm 227


Minggu ini, kami membahas pelajaran Geografi untuk Tingkat III. Jika pada tingkat sebelumnya anak belajar mengenal lingkungan terdekatnya, kali ini anak mulai "menjelajahi" negara di sekitar negaranya. Pendidik membantu anak untuk membayangkan gambaran dari negara tersebut yang diawali dari survey tentang negara-negara tersebut. Dalam diskusi, saya menangkap adanya perbedaan antara pembelajaran Geografi dan Sejarah. Jika Sejarah yang mempelajari waktu tertentu dimulai dengan cakupan yang luas lalu mengerucut kecil, sebaliknya, Geografi yang mempelajari ruang dimulai dari lingkungan terkecil lalu mencangkup lingkungan besar di sekitarnya. Seperti yang disampaikan oleh Mba Putri dengan mengaitkan hal tersebut dengan kondisi Indonesia, yaitu jika pada tingkat sebelumnya anak belajar mengenai Indonesia, pada Tingkat III ini, anak belajar bagaimana posisi Indonesia di dunia (Asia Tenggara, Asia, dst) dan negara di sekitarnya. Sehingga sampai di sini saya dapat memahami bagaimana peta bukanlah merupakan esensi utama belajar Geografi namun membantu kita untuk menarik simpulan dari setiap tempat yang sudah dijelajahi baik lewat tulisan maupun saat berhadapan menjelajahi secara langsung.

"Dari petilan itu terlihat bagaimana fakta-fakta geografis diperkenalkan secara santai, seolah-olah cerita seorang musafir yang bepergian melintasi negara itu." 
~ Charlotte Mason, vol.6, hlm 226


Bagian ini mengingatkan saya tentang seorang kawan yang merupakan penulis novel fiksi. Saat menggarap novel-novelnya, ia selalu mengambil waktu untuk travelling. Ia sering bercerita tentang tempat yang ia kunjungi dan berharap suatu hari dapat mengunjungi Semarang juga. Saya pernah bertanya padanya, jika ia terlalu repot mengurus naskah dan lain-lain, mengapa masih harus meluangkan waktu menjelajah Indonesia. Waktu itu, Mba Enno (ya nama novelis kawan saya itu Mba Enno atau biasa disebut dengan nama pena nya yaitu Kireina Enno) mengatakan bahwa untuk menulis novel fiksi saja, ia tetap perlu memetakan lokasi yang ia pakai sebagai setting cerita dalam naskah novelnya. Ia menambahkan bahwa ia mau pembacanya mendapat sensasi sedang menjelajah tempat tersebut saat membaca novel fiksi nya sekalipun itu novel dengan genre roman. 

Maka, ketika membaca lagi petikan kalimat bahan diskusi kemarin, saya menyimpulkan bahwa membaca itu perlu, namun sebaiknya tetap disertai dengan pengalaman menjelajah langsung (baik langsung berhadapan dengan tempat yang dipelajarai, maupun mengimajinasikannya seperti yang dikatakan bu Ellen tentang gundukan pasir yang diibaratkan Gunung Sahara). Jika sebelum ini perjalanan saya keluar kota hanya sebatas perjalanan pekerjaan atau hiburan jalan-jalan semata, lain waktu saya berharap dapat diberi Tuhan kesempatan menjelajah lagi bersama Keona dan suami tentunya selain hiburan jalan-jalan, saya tahu saya punya tujuan lebih mulia yaitu mengenalkan dunia ini pada Keona.

Bromo, 27 Juni 2017


Terakhir, semoga pandemi ini segera berakhir sehingga cita-cita mulia para orangtua lain yang akan mengenalkan dunia ini kepada anaknya akan segera terlaksana. 


Sudah rindu jalan-jalan,



No comments:

Post a Comment

your comment makes me smile :) can't wait to hear from you... please leave your web link too, so I can visit u back.... thank you.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...