February 23, 2011

The Unspoken Love part 2

Tik… tik… tik… tik…, suara detak jam dinding menemanikuyang terjaga malam ini. Sudah pukul 01.10 dini hari saat kulihat jam untuk kesekian kalinya. Satu hal yang membuatku belum bisa terlelap malam ini.


“Put”, panggil mama dari luar kamar menghentikanku yang sedang membaca novel. “Ya Ma, ada apa?” jawabku dan “ada telpon nih, dari Radith”, lanjut mama lagi. Oh, dia menelponku, orang yang dulu pernah ada di hatiku, sekarang muncul lagi.

Beberapa jam kami habiskan berbasa basi saling menanyakan kabar. Aku rindu celotehnya. Candaannya membuatku teringat akan masa sewaktu aku masih mengaguminya. “Put”, panggilnya dari seberang telpon, “ya”, jawabku. “Koq diem aja?” tanyanya lagi. “Oh, gapapa kamu ngoceh aja terus, aku dengerin koq”, lanjutku.
Obrolan kami pun berlanjut, dia menceritakan kehidupannya di Surabaya, suka duka nya sebagai mahasiswa kost yang sering kelaperan seperti saat dia menelponku sekarang. Aku terus mendengarkan ceritanya, suaranya, tapi tetap aku coba membatasi diriku karena aku yang sekarang sudah berbeda dengan yang dulu.
Ia juga bercerita mengenai pacarnya. Saat ini katanya ia sedang ada masalah dengan pacarnya, diam-diam pacarnya itu berkirim-kirim pesan melalui dunia maya dengan pria lain. Aku mendengarkannya bercerita sambil berkata dalam hati, “andai aku yang jadi pacarmu, ga akan aku sia-siain kamu, tapi sayang, aku ga pernah punya kesempatan itu.”
Menit demi menit berlalu, sudah berjam-jam kami mengobrol di talpon dan kini giliranku yang bercerita, bercerita soal lelaki yang dulu pernah ada di hatiku semasa SMA. Dia, Radith, aku menceritakan tentang dirinya sendiri, tanpa perlu aku sebut namanya. Aku bercerita bagaimana perasaanku saat itu dan bagaimana dia tidak menyadari adanya perasaan spesialku padanya. Aku tak tau, apa aku sanggup tuk menahan diri saat itu, menahan diri tak menyebut nama lelaki spesialku itu di telinganya, dan nyatanya aku mampu, aku mampu bercerita kepadanya tentang lelaki pujaanku yang tak lain adalah dirinya sendiri.


Sudahlah Put, kan sudah ada Denis”, kata Mima menasihatiku setelah mendengar curhatku tentang kemunculan kembali Radith. “Tapi apa aku harus pendam terus Mim?” Mima diam saja mendengar pertanyaanku.


aku jatuh cinta, t’lah jatuh cinta, cinta kepadamu, kujatuh cinta, I am fallin’ in love, I’m fallin’ in love with you…..
Aku mendengarkan lagu I am Fallin’ in Love milik sebuah grup band itu di dalam dekapan Denis. Aku menikmati lagu yang mengalun itu serta dekapan erat Denis, tapi disaat bersamaan, aku teringat akan pelukan hangat Radith. Harus kuakui, aku merindukannya.


Maaf Dith, aku ga sempat balas smsmu, semalam aku langsung tidur sepulang dari nonton konser sama pacarku.
Aku mengirimkan pesan singkat itu melalui ponselku. Tak lama setelahnya ada balasan pesan darinya; Put, nanti malam tlp2an lagi kita?
Segera saja kubalas; Oke


Berjam-jam sudah kami mengobrol, tapi belum ada rasa bosan di antara kami malah, “Put, kita ngobrol ampe subuh yok”, ajaknya, tapi “Dith, maaf, bukannya aku ga bolehin kamu talpon aku, tapi aku harus mulai membatasi diriku, aku udah ga kayak dulu lagi yang bisa temenan sama siapa saja, aku kan udah punya pacar, jadi aku sendiri juga mesti membatasi pertemanan dengan teman laki-laki. Kamu ngerti maksudku kan, Dith?” dan dia menjawab, “oke Put, nyantai aja, aku ngerti koq”. Jujur, sewaktu dia berkata begitu aku berteriak dalam hati berkata, “please, besok-besok telpon aku lagi ya…”
Dia memutuskan menyudahi pembicaraan kami di telpon. Sebelumnya, dia sempat berjanji tidak akan menelponku lagi. Aku sudah akan berkata bahwa dia adalah orang yang pernah ada di hatiku, tapi tiba-tiba keberanianku menguap begitu saja, dan aku hanya sanggup berkata, “oke, met malem juga”.


Malam itu pikiranku melayang entah kemana. Aku bingung dengan diriku sendiri.
Dith, bukan maksudku ga mau kamu telpon, tapi keadaanku membuatku harus membatasi diriku. Maaf  ya. Tapi aku bersedia koq kalau sewaktu-waktu kamu butuh seseorang buat dengerin ceritamu lagi.
Sudah pukul 01.50 dini hari ketika pesan itu kukirim. Aku tak tau apa nantinya ia akan menelponku lagi, karena kalau tidak, selamanya perasaanku ini tidak akan pernah sampai kepadanya.

gambar dari sini

2 comments:

Matias Chosta said...

Real kagak ne?
ya setiap pilihan pasti ada salah satu yang dipilih..setiap kesempatan ada suatu makna..
jgn sampe menyesal saat tak ada kesempatan yang sama..
tapi klo udah mantap sama pilihan, ya mantapkanlah..jangan goyah...

gloriaputri said...

iya pak guru.....whohohohohoho....aq koq bs kelewatan comment mu yg ini ya?

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...