March 11, 2011

When I've Cried

when you're gone, the pieces of my heart are missing you, when you're gone the face I came to know is missing too, when yo're gone the words I need to hear to to always get me through the day, and make it okay, I miss u..

Aku mendengarkan lagu itu dalam tangisku. tak satupun peduli, tak satupun mendengar, tahu keberadaanku saat ini.
...

"Ma, Tiara berangkat sekolah dulu ya", pamitku kepada mama. Aku melangkah dengan riang pagi itu, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ra, lo udah buat PR belom?" tanya Giana sahabatku. "Udah sih, tapi belom selesai. Pinjam punyamu dong!" langsung saja kusambar bukunya. Dengan terburu-buru, kusalin semua yang ada di buku PR Giana.
...
"Teng Teng Teng" kudengar bel sekolah berbunyi. "Hore pulang juga", kataku dalam hati. "Sial benar aku hari ini. Banyak PR, ternyata baru 1 yang kukerjakan. Kena hukuman oleh Bu Tut lagi deh," rutukku dalam hati. Sebenarnya nama guru ku bukan Bu Tut, namun karena namanya Bu Tuti serta gaya kuno aneh nya, semua siswa di sekolahku menjuluk i nya Bu Tut.
Dalam perjalanan pulang kubayangkan masakan mama yang sudah siap di meja makan.
Tapi berbeda dengan bayanganku, ketika aku sampai dirumah aku mendapati suara tangisan mama dan bentakan papa. "Kenapa lagi ini?" aku bertanya dalam hatiku.
...
"Gi, papa mamaku tadi siang bertengkar lagi," rengekku pada sahabatku. "Aku harus buat apa?" "Sabar ya Ra, semuanya indah pada waktuNya, mungkin Tuhan sedang menguji mu," hiburnya.
...
Andai aku diberi kesempatan memilih, aku akan memilih lahir dari keluarga sederhana tapi damai ada diantara kami. Setiap hari aku hanya bisa menangis jika papa pulang dalam kondisi mabuk, lalu marah marah. Bukan hanya kepada mama, tapi juga kepada seisi rumah. Papa memang begitu, selalu marah. Yang aku tak mengerti, mengapa mama bisa dengan sabar menghadapi papa. Papa sangat membenciku. Aku benci jadi diriku sekarang. Namun mengapa banyak yang iri kepadaku? Mereka cuma tau Tiara yang selalu ceria, tanpa pernah melihat Tiara yang sedang menangis seperti sekarang ini. Aku takut akan sosok pria. Papa yang selalu memukul mama membuat trauma mendalam bagiku.
...
"Jadi kamu mau jadi pacarku?" tanyanya dengan wajah yang begitu serius. Aku tertawa melihat wajahnya, lalu dengan sedih dia berkata, "Pasti gak mau ya? Maaf aku sudah ganggu kamu." Rio hendak meninggalkanku sampai akhirnya, "Rio, tunggu, kata siapa aku gak suka, aku suka koq, aku mau jadi pacarmu" Rio menatapku dengan wajah tak percaya yang membuatku semakin tertawa melihatnya. "Tapi kenapa kamu tertawa? Kamu bercanda ya?" tanyanya. Masih sambil tertawa aku menjawab, "Ngga koq,..Aku tertawa soalnya wajahmu itu lucu."  "Jadi, yang tadi beneran kan? serius kan?" tanyanya lagi. "Iya dong..Kenapa? Perlu bukti?" belum sempat Rio menjawab, kucium pipi kanannya yang membuat dia semakin salah tingkah. "Makasih ya buat jawabannya," katanya.

...

Rio, nama itu yang selalu ada di lamunanku. Aku selalu berdoa semoga ia bisa menghargai wanita. Terlebih aku sebagai pacarnya. Tapi,
"Ra, aku baru aja pulang dari mall sama mama tau gak aku lihat siapa?" suara Giana di telepon begitu menggebu-gebu. Dengan polosnya kujawab, "ngga tau lahh, kan aku gak ikut ke mall. Emang ketemu siapa? Rio Febrian ya? Segitu hebohnya.." aku tahu, sahabatku ini salah satu penggemar berat Rio Febrian, penyanyi favoritnya katanya, jadi kugoda saja dia. "Mmmm, sama-sama Rio sih, tapi yang aku temui gak pake Febrian. Ini Rio, Rio pacarmu. Tebak, aku lihat dia sama siapa?" kali ini Giana benar-benar membuatku penasaran, "siapa? Rio sama siapa?" Dengan santai Giana menjawab, "sama cewek pake seragam SMA, tapi kayaknya gak satu sekolah sama kita deh." Aku tertawa, "ya ampun, paling sama kakaknya." Tapi suara Giana semakin serius, "kakaknya?? hallo!! Rio kan udah kuliah semester 3, kayaknya impossible banget kalau kakaknya masih SMA juga." Aku masih saja tak percaya, karena aku yakin, Rio tak seperti cowok-cowok lainnya.

...

::10 hari kemudian::
"Ra, kayaknya kita putus saja deh," wajah Rio kali ini benar-benar tak lucu. "Kenapa? Kamu udah gak sayang aku lagi?" Sepertinya Rio menyadari ada nada kecewa dalam pertanyaanku, karena "bukan begitu, aku merasa aku gak pantas buat kamu. Kamu terlalu sempurna buat aku, dan aku yakin ada seseorang yang lebih baik dariku untukmu." Aku langsung menangis, "kamu jahat!!"  dan meninggalkan Rio sendiri merenungi kata-katanya kepadaku.

...

Ada banyak hal terjadi hari ini dihidupku. Pertama, aku melihat Rio di mall sedang bermesraan dengan "cewek SMA". Aku melihatnya setelah siang itu dia putuskan hubungan kami. Giana mencoba menghiburku, mengajakku berjalan-jalan di mall. Tapi bukan hiburan yang kudapat, hatiku malah semakin hancur melihat Rio.
Kedua, saat sampai di rumah, aku mendapati papa memukuli mama lagi, entah apa lagi yang kini jadi masalah, seperti biasa, mama hanya menangis sementara papa tak berhenti membentak. Kontan aku masuk kamar, membanting pintu dan menangis sejadi jadinya. Giana berusaha menghubungiku, tapi kudiamkan saja HP yang sudah berdering sejak sore tadi.

"Nah, itu tadi satu lagu dari Avril Lavigne buat yang sudah request, dan ini ada satu lagu lagi............."
Penyiar itu berbicara lagi, seolah pertanda lagu tadi sudah berakhir, tapi, mengapa sampai sekarang air mataku belum berakhir?


2 comments:

Pramudita Puspita said...

hi.is the story real?
waw, great artwork. I love making art project too, may be i'll share it in my next post^^
keep read mine, dear =)

http://pramuditapuspitatemi.blogspot.com/

gloriaputri said...

this is 100% fiction dear :)
inspired by a song i've heard from a radio :) hahahaha

yeah..i read yours also :)
keep read mine too :)
xo, glo

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...