March 20, 2012

After the Rain

Sudah gelap, ketika masih tampak di mataku sinaran yang tersisa. Tetap saja gelap, karena tak ada abu-abu di tengah terang dan gelap.

Sudah gelap, ketika terlihat olehku senyuman terakhirmu,yang baru kusadari itu tanda perpisahan, firasat.

Sudah gelap, saat yang lainnya terlelap dalam mimpi, sedang aku masih terbayang wajahmu..

Sudah gelap, saat ada bau tanah basah kesukaanmu, dan aku bertanya.. "di luar hujan ya?"

...


"Cik, aku boleh nanya??"

"Apa?"

"Rasanya ga punya papa gimana cik?"

"Koq tau-tau tanya begitu?"

"Aku habis bertengkar sama ayah, terus ayah bilang kalau aku masih ga nurut, aku disuruh nanya ke cik Glo rasanya ga punya papa gimana."


Rasanya galau, akut melebihi putus cinta. Rindu, karena setiap kali kau ingin memeluknya, hanya ada foto yang dapat kau pandangi. Resah, ketika kau punya masalah tapi tidak berani cerita ke mama karena tau mama pasti akan panik dan hanya papa yang bisa menenangkan. Takut, saat rasanya semua beban di letakkan di atas bahumu, kalau kau anak pertama. Khawatir, ketika mama bilang duit habis padahal kalender masih menunjukkan tanggal 18. Sia-sia, ketika kau membangun mimpi, menikah dengan adat Jawa yang jelas membutuhkan sosok ayah mempelai wanita, tapi tak ada ayah di sana. Capek, ketika banyak orang menuntut ini dan itu, tentu saja alasannya lagi-lagi karena anak pertama. Muak, saat mereka yang tidak tahu rasanya tapi sok tahu dengan berkata, sabar ya. Gemas, ketika saudara yang seharusnya ada, justru menghilang dan malah berkata kau yang menjauh. Merana, saat melihat murid yang dijemput ayahnya, sedangkan kau tak punya ayah yang akan menyambutmu pulang kerja. Sedih, saat membeli buku di toko buku langganan tanpa papa, padahal dulu, selalu ada pensil kuning keluaran terbaru yang akan papa belikan saat sedang ke toko buku.

Bohong kalau kubilang aku tegar, padahal sampai detik inipun papa masih sering membuatku menangis sendirian tengah malam. Aku hanya berusaha terlihat tegar, supaya orang tak perlu khawatir, berusaha menahan diri tidak posting lagi tentang papa, berusaha menjadi Gloria yang kuat nyatanya tidak.


"Ngga enak rasanya.."

"Susah jelasinnya, lebih baik kamu pulang, lalu minta maaf sama ayah kamu, dan peluk dia supaya lega"

...

Kenangan akan papa banyak sekali, dan kalau kemarin saya menolak untuk memberi kesaksian di Gereja, saya minta maaf, masih tak sanggup membuka lagi lembar-lembar pahit yang Tuhan suruh saya cicipi di tahun 2011 lalu.

Satu lagi, saya benci lihat anak yang masih punya ayah tapi seenak-enaknya saja membentak seakan ayahnya tak ada lagi harganya di matanya.


Glo


*picture is taken from http://xlifeisbeautiful.tumblr.com/post/16065567775


Published with Blogger-droid v2.0.4

3 comments:

Cut Maha Ratu said...

Peluk duluuuuu......... Tetap Glo, walaupun nggak suka, aku akan bilang, sabaarr...... Walaupun orang nggk mengerti gimana rasanya. Tetap saja, "Sabar sayaang....." Ini semua udah jalannya. Jangan buat papa sedih disana yaaa.... Kita yang ditinggalkan harus tegar, kuat, semangat. Mereka pergi ke tempat yang indah, tapi pasti buat mereka juga merasa berat ninggalin kita. So.....nggak mau kan papa jadi sedih kalo tau yang ditinggalkannya beneran sedih, susah, sedikit putus asa sepeninggalnya? Come on Glo....bangkit sayang. Aku nggak tau seperti apa rasanya ada di posisi Glo krn posisi kita beda. Aku cuma berpikir tantangan yang harus dihadapi Harsya dan Syifa nanti saat usia mereka beranjak dewasa tanpa ayah. Apakah seperti yang Glo rasakan saat
inikah....? Mungkin skrg mereka masih kecil, jd blm banyak berpikir seperti Glo. Aku cuma berharap aku bisa buat mereka gak akan merasa kesepian tanpa ayahnya. Ayo Glo.... Dampingin mamah hadapi semua ini ya......Glo pasti kuat. #hug selalu...

IT'S ME.... said...

Glow......

obat herbal kanker hati said...

sabar,,,,,,,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...