March 03, 2011

The Stupid Mistake, Sweet Effect

“Jadi menurutmu, aku harus senang atau sedih?” tanyaku pada Nuri usai menceritakan masalahku, “Cuma hatimu yang tahu jawabannya!” balasnya.

Namaku Graci, maksudku orang memanggilku Graci karena aku tak suka dipanggil Ella, sejujurnya nama lengkapku Graciella. Umurku 16tahun dan aku sekolah di tempat yang populer di kotaku, Semarang. Tapi menurutku, bukan hanya sekolahku yang populer, aku rasa dirikupun begitu. Bukannya aku GR, tapi semua orang di sekolahku tau namaku, termasuk para guru. Aku tidak pintar, masuk rangking 10 besar saja belum pernah. Aku rasa semua cewek di sekolahku ingin menjadi seperti aku, tiap hari di antar supir, belum pernah kehabisan uang, dan yang paling membuat mereka iri, kecantikanku. Aku belum pernah merasa aku cantik, tapi para lelaki di sekolahku bilang begitu. Dan aku heran, mengapa cewek-cewek di sekolahku iri akan sesuatu yang tidak pernah aku banggakan. Sampai sekarang, mungkin sudah 20 cowok yang aku pacari, dan menurutku itu bukan suatu kebanggaan, tapi penderitaan.

“nanti malam aku jemput kamu jam 7 ya!” Donny memberitahuku sambil berlalu begitu saja. Sebenarnya aku sudah ada janji malam ini dengan Ardi, tapi kata-kata Doni tadi mengagetkanku. “Don!” teriakku memanggilnya, “kayaknya nanti malam aku ga bisa deh, lain kali aja ya kita jalan?” “aku sudah janji menemani mama malam ini, karena papa pergi”, lanjutku berbohong, “maaf ya? Lain kali deh, aku janji” Aku sudah lupa, sudah berapa kali aku berbohong kepada Donny, padahal dia begitu menyayangiku pacarnya.

“Hai cantik, lagi apa?” kubaca sms dari Ardi. Aku tak bermaksud membalasnya, tapi Donny yang akhir-akhir ini sibuk hingga tak pernah sms lagi membuatku membalas sms dari Ardi. “Lagi bengong, ga ada kerjaan!” tanpa menunggu lama, Ardi membalas smsku, “kalo gitu ngobrol sama aku ya?” Belum sempat aku membalasnya, Ardi menelponku. Awalnya pembicaraan kami menyenangkan, saling menjelek-jelekkan guru masing-masing. Ardi memang bukan teman satu sekolahku, berbeda dengan Donny yang kakak kelasku di sekolah. Pembicaraan kami sempat terhenti karena Ardi mendapat telpon dari orang lain, lalu, “hayooo, telpon dari ceweknya ya?” godaku, dan “ngarang kamu, itu temanku.” “Oh”, ujarku lega. Entah ada apa denganku, mengapa aku lega dengan pernyataan seorang playboy seperti Ardi. “Eh, gimana kamu dengan cowokmu?” “Baik-baik saja”, jawabku spontan, “kamu gimana?udah ada pacar atau gebetan nih?” lanjutku lagi. Dia terdiam cukup lama, “wah, sayang ya, udah ada sih, tapi gebetanku udah punya pacar.” Penasaran dengan pernyataannya aku bertanya lagi, “Oya? Siapa cewek beruntung itu kali ini?” “Graciella”, jawabnya singkat. “Oh, ternyata di dunia ini ada yang namanya sama denganku ya? Kukira aku saja yang namanya Graciella.” Lalu dia menjawab lagi, “sayangnya temanku yang bernama Graciella hanya satu, kamu!” Aku diam mendengar kata-katanya, lalu “Eh, udah dulu ya, PR ku belum selesai. Dah!” Tanpa menunggu jawabannya kumatikan handphoneku.
Kami sudah berteman lama, jauh sebelum aku mengenal Donny, tapi tak ku sangka dia berani mengatakan hal seperti tadi.

sejak telponnya yang terakhir, aku tidak pernah membalas sms Ardi lagi. Bukan karena aku jahat, tapi aku menjaga perasaannya, juga Donny. Kubiarkan saja sms-sms darinya masuk, hingga, “Graci, ada telpon buat kamu!” mama memanggilku. Dengan malas aku menuju meja telpon, kukira Nuri yang menelpon, sampai akhirnya kudengar lagi suara itu, “hai, lagi ngapain?” Ardi, itu suaranya. “Ada apa kamu telpon? Kenapa ga telpon ke Hpku?” dengan ketus aku balik bertanya kepadanya. “Kamu ga pernah balas smsku dan ga pernah angkat telponku, jadi aku telpon rumahmu.” “Aku minta maaf soal yang waktu itu, kamu mau maafin aku kan?” lanjutnya. Aku diam sejenak memikirkan kata-katanya, lalu kujawab lagi, “oke, aku maafin, tapi jangan diulang lagi ya!” “Kalau gitu, sebagai permohonan maafku, kamu aku traktir deh, anggap aja traktirannya sekaligus traktiran ulang tahunku kemaren. Mau ya?” tanyanya dengan nada begitu berharap. “Oke, penawaran diterima”, jawabku riang. “Besok kamu aku jemput jam 7 ya?” lanjutnya, dan kujawab, “oke”.

Aku masih memikirkan kebohonganku kepada Donny tadi siang, haruskah aku memberitahu alasan sebenarnya bahwa tadi malam aku menerima ajakan Ardi.
Sekarang sudah pukul enam sore, dan satu jam lagi Ardi menjemputku. Aku masih memikirkan Donny, tapi, toh ardi berniat baik, lebih baik sekarang aku mandi saja.

“Aku ga sangka, kamu bisa setega itu sama aku! Kamu bilang nemeni mamamu, tapi apa? Kamu malah pergi sama orang lain!” Belum sempat aku menjelaskan apa yang terjadi, Donny melanjutkan “aku cape kalo terus-terusan begini, kita putus aja, kamu pikirin baik-baik keputusan ini!”
Saat itu, aku hanya bisa menangis melihat kepergian Donny dari rumahku. Dia menungguku yang tak ada di rumah hingga aku pulang bersama Ardi.

Sudah dua minggu aku putus dari Donny, dan aku masih berpikir untuk datang meminta maaf darinya. Aku masih terus menimbang-nimbang, menelpon Donny atau tidak. Belum sempat aku menelpon, Hpku berbunyi dan nama Ardi ada di layarnya. Kuangkat telpon dari Ardi itu, “halo”, ujarku malas. “Hai, aku di depan rumahmu nih! Cepat buka dong, dari tadi tidak ada yang buka in pintu!” Heran, kemana orang serumah, dan aku juga baru menyadari ada suara bel dari pintu depan. Aku langsung beranjak dari tempat tidur, menuju ruang tamu dan membuka pintu. “Surprise!!” Ardi bersama beberapa teman SMP ku mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Aku terharu karenanya, aku sendiri lupa ini hari ulang tahunku. Aku meniup lilin pada kue yang mereka bawa dan mempersilahkan mereka masuk. Kulihat ada sekitar sepuluh orang yang datang, lalu, “aku buatkan minum ya, pasti haus kan?” semua serempak menjawab “iya.” Ardi menawarkan diri membantuku, kami ke dapur dan Ardi mulai percakapan, “maafin aku ya soal malam itu, aku ga sangka…” Ardi belum menyelesaikan kalimatnya karena ternyata, ya Tuhan, aku menangis. Dia berhenti membuat minuman, datang padaku dan memelukku, membiarkanku menangis dalam pelukannya. “Kamu ga salah Di, tapi aku, aku ga bilang sama Donny soal malam itu dan aku malah berbohong”. Ardi merenggangkan pelukannya, “udah ah, jangan nangis, nanti cantikmu hilang tertutup airmatamu”, “aku boleh bikin kamu ketawa lagi?” tanyanya dan aku jawab, “boleh aja, kenapa ngga.” Ardi diam sejenak, lalu “kalau gitu, kamu mau jadi pacarku? Aku janji ga akan bikin kamu nangis seperti ini, seperti yang Donny lakukan padamu.” “Di, aku ga tau aku harus jawab apa. Kamu mau kasih aku kesempatan buat mikir kan?”

Aku memantapkan langkahku, dan mengingat jawaban Nuri malam itu, jawabannya membuatku berani mengambil keputusan ini.
“Di”, panggilku pada Ardi di sekolahnya. “Lho, kamu ga cerita mau kesini, ada apa? Ke kantin aja yuk!” ajaknya. Di kantin, “tawaranmu yang dulu masih berlaku?” tanyaku setelah pelayan kantin membawakan pesanan kami. “Oh..Gimana? kamu mau kan jadi pacarku?” tanyanya bersemangat. Aku berpikir sejenak, memikirkan kata-kata yang akan kuucapkan, “aku mau kamu bikin aku ketawa lagi, tapi, bukan berarti kita harus pacaran kan? Aku lebih nyaman begini. Maaf ya.” “Oke, gapapa koq, tapi jangan salahin aku kalau kamu putus lagi sama pacarmu ya..”  Spontan kami tertawa mendengar kata-kata Ardi barusan. Yah, Ardi bisa membuatku tertawa dan nyaman, tapi bukan sebagai pacar kurasa, melainkan sebagai seorang sahabat.


gambar dari sini




4 comments:

Frey L said...

bagus! aku suka yg model cerita begini...

gloriaputri said...

suka gmn kak? pengalaman pribadi yaaaa???xixixixixix

Vita Riangsari said...

bagus mba glo ceritanya. udh mba glopindah profesi jadi pengarang novel aja :)

gloriaputri said...

@vita: hahahahaha.....uda nyicil oq dek...aq skrng klo nulis dmn2 aq bilang profesi ku blogger bukan karyawan....hohohohohohooh...thanks yaaa

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...