hari ini Dia akan membuat batu bata
Bukan sembarang batu bata
Dia ingin batu bata yang kokoh,
yang kuat,
yang baik dalam segala cuaca dan musim
tidak akan retak,
tidak akan goyah,
walau petir dan badai menghantam sekaligus.
Segala bahannya sudah disiapkan,
yang Dia perlukan hanya menempa tanah
tanah liat terbaik yang nantinya dapat menjadi batu bata.
Kini saatnya,
tanah itu dibanting,
diangkat lalu dibanting lagi,
diinjak
terus saja sampai peluh membasahi tubuhNya, si Pengrajin Batu Bata itu
hingga sampai saatnya tanah itu,
yang sudah berbentuk namun belum keras,
dibakar
cukup lama untuk membuatnya keras,
tapi tidak terlalu lama agar tidak rusak
si Pengrajin harus berhati-hati
ada waktu-waktu khusus agar batu batanya nantinya menjadi yang terbaik.
Batu bata kini telah siap,
siap untuk di jual dan di gunakan untuk membangun.
Sang Pengrajin tahu betul kualitasnya
Dia tahu batu batanya kini sudah kuat
cukup kuat untuk menopang beban berat
...
![]() |
| picture from here |
Maaf kalau aku pernah begitu,
mengasihani diri sendiri,
merasa lemah, tak berarti,
merasa sudah habis masaku,
masa berjuang, melewati semua.
Sekarang aku,
Aku,
Aku belajar kuat,
belajar menerima ,
melajar memahami,
bahwa saat ini, Sang Pengrajin itu sedang menempaku,
menginjak injak,
bukan karena Dia jahat,
bukan karena Dia tak sayang,
tapi supaya Dia yakin bahwa aku akan lebih kuat
lebih tangguh,
lebih kokoh,
melewati badai, topan dunia
Semarang, 14 Agustus 2011,
Aku si Batu Bata itu,





