
"Put..bangunn...kamu mimpi apa sampe nangis gitu?"
...
"ma,pa, Putri pergi dulu ya sama Otte,kalau ada apa-apa sms aja..." Otte sudah mengeluarkan BMW hijau lumut dari garasi saat saya keluar rumah, "yuk,jalan Te".
Belum sampai ketempat tujuan, ada sms dari mama,
'Te, Tri, cepetan pulang, papa udah ga ada'
Rasanya seperti tersambar petir, kuberi tahu Otte untuk memutar balik mobil kembali ke rumah.
Sampai di rumah, sudah banyak orang menyesaki, kami mencoba dari pinggir ke pinggir masuk ke kamar papa. Yang kami dapati, papa terbujur kaku di pangkuan mama. Saat itu, seorang saudara menawarkan diri untuk mendoakan jenazah papa, "eda, saya mau mendoakan papa Putri karena saya tak bisa lama-lama, mau ke Manurung"..
Baru saja doa akan dimulai, tiba-tiba papa membuka mata, "maaa, papa melek", teriakku histeris. Papa berkata lirih, "Tri, tangan kanan papa sakit..tolong lurusin"...
...
"Kak...kamu mimpi apa? Sampe pipinya banjir airmata begitu?"
Pagi-pagi benar, saya menceritakan mimpi saya kepada mama dan Demi yang membangunkan saya. Begitu nyata dan terlihat jelas di mata saya, papa, tapi bukan papa yang meninggal di kasur rumah sakit, bukan papa yang sakit kanker, bukan papa yang butuh bantuan alat pernafasan. Ini papa yang sudah tua renta dimakan usia, papa yang melihat saya membeli mobil BMW, papa yang meninggal bukan karena kanker..
Penyesalankah ini? Karena kalah berjuang mempertahankan papa hidup? Ini bahkan kesekian kalinya saya memimpikan papa, tapi belum pernah ada yang sejelas ini.
Saya masih menyesal, penyesalan bertambah ketika mama yang mendengar cerita saya menangis dan berkata "Put, baru tadi malam mama tau ternyata harga ventilator tidak sampe 20juta seperti yang dibilang **** ****, cuma 600ribu saja", "mama nyesel dulu ga mempertahankan papa hidup, menyerah begitu saja karena sadar kita sudah tidak punya apa-apa lagi".
Enam ratus ribu... ternyata itu harga penyesalan kami. Bodoh memang percaya begitu saja akan kata kata seorang saudara yang menakuti-nakuti kami dengan biaya rumah sakit yang membengkak..
Lagi dan lagi penyesalan menghantui malam-malam saat tidurku. Sampai kapan kami harus dihantui penyesalan ini? Penyesalan mengalah dengan keadaan, tak berjuang mempertahankan papa..
Mungkin kalau papa berhasil melalui masa kritisnya kemarin, hari ini, saya masih bisa melihat beliau tersenyum bangga kepada Demi yang baru saja menang KEJURDA SENIOR pertamanya dan meninggal di atas kasur rumah karena usia, bukan kasur rumah sakit karena kanker dan gagal pernafasan..
...glo...
-picture from http://jardindhiver.tumblr.com/post/16903517696
Published with Blogger-droid v2.0.4