October 16, 2020

Berdampak - Penerapan Teori part V (KAMISAN 15.10.2020)

"Guru membaca dengan itikad membantu anak-anak paham, karenanya, dia membaca dengan jelas, lantang, dan pengucapan yang saksama; guru berusaha membantu sebaik-baiknya, meski tentu saja guru tetap berhati-hati agar pemikiran si pengarang dan bukan pikirannya sendiri yang dia sajikan." - Charlotte Mason, vol.6, hlm.244

Jelas sekali dalam bacaan tersebut bahwa anak dibacakan bacaan terlebih dahulu sebelum menarasikan bacaan. Guru atau orangtua yang membacakan juga diminta untuk berhati-hati agar menyajikan pesan penulis dengan baik. Bahasa tertulis tidaklah sama dengan bahasa lisan, maka perlu sekali bagi orang dewasa yang membacakan tulisan untuk anak mengerti betul isi tulisan tersebut, berhenti dan bernada turun saat titik, dan memperhatikan tanda baca lainnya - karena kalimat yang sama jika dibaca dengan letak tanda baca yang berbeda pun akan menjadi berbeda artinya, contoh :

Menurut kabar burung, Andi sedang sakit.

Coba saja membaca tanpa jeda atau jeda tidak pada letak koma yang ada pada kalimat tersebut, pasti kalimat tersebut akan memiliki arti yang lain. Menurut saya, melatih diri untuk dapat membaca sesuai dengan tanda baca dan pesan yang ingin disampaikan penulis perlu dilakukan orangtua atau guru yang mendampingi anak belajar - sehingga lagi-lagi dalam bacaan inipun saya tertegur apakah sudah membacakan bacaan untuk Keona dengan benar sesuai dengan yang dimaui penulis. Setelah saya pikir-pikir, jika kita sebagai pendidik melatih diri pada bagian ini pun akan membantu mengembangkan kemampuan sosial kita, paling mudah adalah dengan membaca pesan teks dari teman atau kerabat. Lucu, saya teringat seorang kawan yang mengira temannya sedang melucu padahal teman tersebut sedang marah, hanya karena ia tidak memperhatikan tanda baca. 

 "Banyak orang berbicara tentang mengentaskan kemiskinan, tapi sudahkah kita betul-betul menyadari bahwa, kalau diberi pendidikan yang lebih berkualitas, aneka masalah untuk mencapai kehidupan yang layak akan bisa dibereskan sendiri oleh kaum miskin itu?" - Charlotte Mason, vol.6, hlm. 245

Saya pernah melihat sebuah meme di media sosial yang isinya adalah protes seorang anak yang merasa sudah 8 jam sekolah, 4 jam les, lalu sampai di rumah baru duduk bermain sudah mendapat komplen orangtuanya "anak koq mainan aja kerjaannya, kapan belajarnya!", kemudian ada gambar si anak berkata "lha yang 8 jam sekolah sama 4 jam les itu bukan belajar?". Dari segi kuantitas, tentu saja siswa Indonesia memiliki lebih banyak jam belajar dibanding siswa di negara lain, namun kenyataannya masih saja banyak pengangguran yang datang dari kaum sarjana, atau koruptor yang datang dari kaum terpelajar (mendapat pendidikan yang layak). Lalu mengapa banyak sekali orangtua berlomba-lomba anaknya masuk sekolah favorit, anaknya jadi bintang kelas, kalau dalam prakteknya malah hasil dari pendidikan tersebut justru tidak mengentaskan kemiskinan. 

"... suatu pribadi yang berkarakter dan cerdas, warga negara yang layak dikagumi karena hidupnya terlalu penuh dan kaya, sehingga tak ada waktu untuk bikin masalah dalam masyarakat." - Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 245-246

Karena ternyata menjadi cerdas saja tidak cukup - padahal yang terjadi di masyarakat saat ini adalah banyaknya sekolah yang berlomba dengan tagline "mendidik anak menjadi generasi yang unggul", tentu saja yang dimaksud dengan unggul adalah unggul dalam hal akademis  karena disamping tagline itu ada gambar anak dengan piala juara lomba Matematika dan lomba lainnya. Saya jadi teringat pada sesi kelas gender yang saya ikuti bersama teman-teman CMid Semarang tahun lalu, saat membahas tentang istri yang memiliki penghasilan lebih besar dari suaminya - tidak akan ada masalah ketika kita duduk berdampingan dengan baik, masalah akan muncul ketika salah satu "menginjak kaki" teman duduknya karena merasa superior. Maka cerdas secara intelektual tidak menjamin seseorang hidupnya "penuh dan kaya" jika tidak diimbangi dengan karakter yang baik - rasa superior yang saya sebutkan pada kalimat sebelum ini tidak akan terjadi saat seseorang yang cerdas tadi memiliki karakter untuk mengimbangi kecerdasan yang ia miliki - sehingga tentu saja ia tidak akan membuat masalah dalam masyarakat karena tidak ada lagi rasa superior karena merasa dirinya "cerdas" tadi. 

Untuk pendidik maupun anak yang didampingi belajarnya, melatih diri untuk dapat menjadi bijak akan membawa diri menjadi pribadi yang bajik; contoh kecilnya adalah ketika kita sebagai pendidik belajar untuk tidak mengasumsikan tulisan dengan interpretasi pribadi, maka masalah yang muncul dari asumsi yang salah pun akan dengan sendirinya hilang. Menjadi individu yang berdampak bukan perkara seberapa besar cakupan dampak yang akan dihasilkan, namun bagaimana hal kecil dapat membawa pengaruh positif dimulai dari orang-orang terdekat - karena sekecil apapun dampak yang kita buat, jika dilakukan dengan hati yang tulus, tetap akan menjadi berkat bagi penerimanya.

A flower does not think of competing to the flower next to it, it just blooms.
picture from here

Terima kasih lagi-lagi kawan-kawan sepercenutan CMid Semarang untuk diskusinya, seperti biasa, membuat saya berefleksi pribadi, lagi dan belajar menjadi pribadi yang berdampak untuk orang di sekitar saya, bertumbuh tanpa harus berkompetisi menjadi yang lebih unggul.



1 comment:

your comment makes me smile :) can't wait to hear from you... please leave your web link too, so I can visit u back.... thank you.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...