![]() |
| pict. from here |
tentang Vol. IV, Bab VII, Akal Budi Harus Diberi Makan hingga Hasrat Akan Keunggulan
_______________________________________
Di dalam diri, ada hasrat yang diam-diam menggerakkan langkah.
Ingin diakui, ingin dihargai,
ingin menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Tak semuanya buruk.
Kadang, senyum seseorang membuat kita berani mencoba lagi.
Kadang, melihat orang lain melangkah lebih jauh
membuat kita ingin ikut bertumbuh.
Namun, hasrat juga tahu cara menyesatkan.
Kita bisa begitu sibuk ingin dilihat
hingga lupa apa yang sebenarnya perlu dilakukan.
Kita bisa begitu ingin menjadi yang terbaik
hingga tak lagi peduli apa yang sedang kita pelajari.
Seperti pedang bermata dua
dengannya, tak hanya bisa menjaga diri,
tapi juga bisa melukai diri sendiri dalam perlombaan memenangkan kerajaan diri
yang tak pernah benar-benar selesai.
Sama seperti prinsip YOLO
you only live once
yang bisa menjadi keberanian untuk menjalani hidup,
tetapi juga alasan untuk bertindak tanpa berpikir panjang.
Satu dorongan, dua kemungkinan.
Maka, bukan hanya hasratnya yang perlu diperiksa,
melainkan juga ke mana ia membawa kita.
Sebab mungkin yang perlu kita tanyakan
bukan sekadar seberapa jauh kita telah melangkah,
seberapa tinggi kita telah berdiri,
atau berapa banyak mata yang memandang kita.
Melainkan:
Apa yang sedang kita kejar,
dan apakah itu sungguh layak dikejar?
Aku jadi memeriksa diri, ternyata
aku ingin tetap punya hasrat untuk bertumbuh,
tanpa harus selalu mengalahkan orang lain.
Ingin diakui, tanpa kehilangan harga diri.
Ingin menjadi lebih baik,
tanpa lupa bahwa belajar bukan sekadar perlombaan.
Barangkali, hasrat memang perlu diberi makan.
Tetapi ia juga perlu diberi arah
agar aku tidak menghabiskan hidup
untuk menjadi unggul dalam hal-hal
yang sebenarnya tak perlu kumenangkan.
