July 03, 2020

KAMISAN - Seni II (02.07.2020)

... dan mereka cepat melakukan koreksi ketika gambar mereka tidak sesuai dengan yang mereka lihat di dunia nyata. ~ Charlotte Mason (vol.6, hlm. 217)


...

Saat sesi Kamisan kemarin, saya seperti diingatkan lagi tentang kekeliruan saya tahun lalu menggunakan "Habit of Perfect Excecution" sebagai pembenaran diri untuk setiap ketelitian yang saya tuntut dari orang di sekitar saya. Waktu itu saya baru kenal Charlotte Mason hanya kulit luarnya saja, istilahnya kalau baca Alkitab ya baru baca seayat tapi sudah sok kotbahin orang lain seakan tahu isi seluruh kitab suci. Maka, tahun lalu saya mencoba belajar bahwa standart sempurna setiap orang berbeda dan Habit of Perfect Excecution juga bukan tentang standart sempurna itu namun bagaimana sesuatu dikerjakan dengan maksimal sesuai kapasitas individu sehingga setiap orang pasti memiliki standart yang berbeda. Sejak tahun lalu, saya mulai belajar untuk tidak menuntut pekerjaan orang lain atau anak untuk berada di standart saya. Jika saya sanggup menggunting 7 gambar orang dalam satu jam, belum tentu orang lain akan mampu mengerjakan hal yang sama bisa jadi dalam satu jam orang lain dapat mengerjakan hanya 5 atau bahkan dapat menyelesaikan lebih dari 10. Hal ini saya refleksikan lagi kemarin dalam Kamisan dalam topik bahasan seni. Karena sudah setahun belajar untuk tidak menerapkan standart saya pada orang lain, kalimat "....dan mereka cepat melakukan koreksi ketika gambar mereka tidak sesuai dengan yang mereka lihat di dunia nyata." membuat saya tenang karena walaupun tidak dituntut memenuhi standart orang lain (dalam konteks ini guru dan orangtua yang menjadi guru anak pertama di rumah), anak tetap belajar untuk mengoreksi sendiri kesalahannya dengan menggunakan standart dunia nyata. Intinya, sebenarnya kita para guru atau orangtua tidak perlu loh cape cape cerewetin anak ini itu jika kita sudah menunjukkan hal yang benar kepada anak, karena anak akan otomatis memperbaiki kesalahannya jika sudah memperhatikan hal yang benar tersebut. Lalu, tugas penting yang mesti kita emban sebagai pendidik adalah bagaimana kita menunjukkan hal benar tersebut dan memaparkannya kepada anak, tidak hanya seni, tapi juga seluruh aspek kehidupan anak. Gampang? Raising children, raising ourselves, kuncinya kita juga harus upgrade dan banyak banyak "ngaca".
Selesai Kamisan, Keona lanjut baca Alkitab yang sudah kami lakukan tiga hari ini sambil mendiskusikannya. Kami baru sampai pada Kejadian 1 : 10 kemarin, lalu mendapat ide untuk meminta Keona menggambarkan yang ia tangkap melalui bacaan tersebut. Kumpulan air ia gambar dengan bentuk lingkaran yang ia bilang "kolam renang" lalu tak lupa ia juga menambahkan  "prosotan". Pada saatnya nanti, saya percaya, ia akan menertawai sendiri hasil gambarnya masa kecil ini. 
hasil gambar Keona tentang "kumpulan air", ia juga merelasikannya dengan bekas ompol di kasur.


Lalu setelah itu, topik bahasan berlanjut pada topik musik. Saat menerima bahan bacaan beberapa hari sebelumnya, saya cukup kaget karena bacaan tentang musik ini hanya sedikit. Tapi dari bacaan pendek tersebut, saya berhasil kembali pada masa kecil saya dulu. Saat itu, orangtua saya terbiasa memaparkan anak-anaknya dengan musik. Setiap pagi, kami anak-anaknya disetelkan hymn lagu lagu gereja dengan alasan "supaya anak-anak bangun". Tapi efek jangka panjang dari pemaparan musik-musik itu saya rasakan pada saat saya berada dalam titik terendah hidup. Entah darimana datangnya, rasanya masa-masa sulit dapat dilalui dengan tenang saat mengingat penggalan-penggalan lirik lagu-lagu hymn yang saya dengar sewaktu saya kecil itu. Energi yang dihasilkan mampu membuat saya bangkit dan melalui hari-hari berat tersebut. Merasakan efek positif dari pemaparan lagu-lagu itu, saya melanjutkannya dengan membiasakan memasang lagu hymn atau rohani di pagi hari dengan harapan efek positif yang sama akan dirasakan Keona kelak. Lalu, belajar dari begitu kuatnya sebuah lagu membantu saya saat itu melalui masa sulit, selain memperdengarkan hymn dan lagu rohani di pagi hari, saya dan suami membuat sebuah program "pemaparan lagu" ke Keona dengan cara lain. Setiap malam, setelah berdoa tidur, Keona kami ajari sebuah lagu sekolah minggu yang sederhana selama satu bulan, dan setiap bulannya akan diajarkan lagu baru sambil tetap mereview lagu bulan sebelumnya. Waktu itu tujuan kami sederhana, Keona suka sekali bernyanyi, maka kami ingin ia menyanyikan lagu sekolah minggu karena kami berharap saat ia sedang bermain (dan mungkin waktu itu adalah titik terendah kami) ia bernyanyi lagu yang tanpa sadar menguatkan kami. Tiga bulan yang lalu, Keona kami ajarkan lagu Allahku Besar dengan lirik seperti ini :

Allahku besar, kuat dan perkasa, tiada yang mustahil baginya o..o.. )2x
Gunung miliknya, sungai miliknya, bintang-bintang ciptaannya o..o..
Allahku besar, kuat  dan perkasa, tiada yang mustahil baginya o..o..

Kami belum merasakan efeknya secara langsung, namun energi positif tersebut justru terbawa ke eyang Keona yang bulan lalu sakitnya memasuki stadium lebih tinggi. Sejak sakitnya semakin parah, kami berusaha membawa Keona ke rumah eyang sebagai suntikan semangat untuknya. Tanpa disadari, Keona yang menunggui eyang sambil bermain ini menyanyikan lagu tersebut saat bermain. Lagu itu terdengar oleh eyangnya dan menjadi semacam lagu wajib sehingga selalu dinyanyikan oleh seluruh anggota keluarga. Tentu saja, lagu tersebut membawa energi luar biasa dan mendatangkan pengharapan untuk keluarga terutama eyang yang sakit.

... apresiasi musik tidak ada hubungannya dengan bisa bermain piano. ~ Charlotte Mason (vol 6, hlm. 218)

Walau begitu, kami masih berharap suatu hari nanti Keona berkata "ma, aku mau les piano".
Thank you CMers untuk diskusinya..






June 26, 2020

KAMISAN - Seni 25.06.2020

Kita belajar melihat keindahan sesuatu setelah sesuatu itu dilukis. ~ Charlotte Mason (vol 6, hlm. 215)


picture from here
Bacaan Kamisan kemarin yang saya baca ulang lagi sebelum menuliskan narasi ini membawa ke kenangan saat mengajar anak-anak di sekolah tahun lalu. Waktu itu, anak-anak pertama kali dikenalkan lukisan karya Henri Matisse berjudul The Red Room. Waktu itu awalnya saya berpikir "duh, ni anak bakal respon kaya apa tentang lukisan ini". Tapi setelah masuk minggu kedua dan ketiga dengan lukisan yang sama, diskusi kami semakin menarik. Di situ saya bisa melihat input seperti apa yang anak-anak dapat dari orangtua atau orang dewasa di sekitarnya saat mereka mengintrepetasikan lukisan itu. Ada yang mengintrepetasikan lukisan sebagai suasana seram karena memperhatikan detil sulur berwarna gelap. Lalu ada juga yang bercerita  tentang zombie yang ada di luar jendela sehingga perempuan yang di dalam ruangan menyiapkan banyak makanan untuk dirinya sendiri karena ternyata sering menonton serial zombie dengan orangtuanya. Hal menarik lain contohnya ada seorang siswi yang mengatakan perempuan di dalam lukisan adalah laki-laki, yang setelah dikonfirmasi dengan orangtuanya memang siswi tersebut pernah menonton serial TV dengan laki-laki bercepol. Lucunya bahkan kelas Picture Study ini membuat saya tiba-tiba merasa berguna. Kenapa? Karena selama bertahun-tahun, saya selalu merasa bahwa pendidikan saya di Sastra Inggris tidak berguna di pekerjaan saya sebagai guru selain ilmu bahasanya itu sendiri. Namun, lewat kelas ini, ilmu mengapresiasi karya seni (waktu itu saya belajarnya karya sastra) saya terasa berguna. Minggu ke minggu selama satu semester itu, saya menikmati diskusi dengan anak-anak mengenai lukisan-lukisan karya Henri Matisse. Awalnya, anak-anak yang hanya memperhatikan salah satu unsur pada lukisan, lama-kelamaan mereka mulai memperhatikan detil-detil pada lukisan temasuk sulur di ujung lukisan (bukan inti dari lukisan itu sendiri) Matisse The Goldfish yang di kenali sebagai pegangan tangga. Saat itu, saya pun dalam hati berkata "oh iya bener, kan ada tangga yang pegangannya begitu ya, ada pernah lihat di ....".


Dari pengalaman tersebut, saya belajar selain melatih anak untuk memperhatikan detil dan mengapresiasi seni, kegiatan ini bagi saya sendiri membantu saya melihat sebuah perspektif lain dari sebuah objek yang terkadang tidak saya sadari walau sudah dilihat berkali kali. Sama seperti saat memperhatikan sebuah lukisan lokal di galeri yang saya kunjungi beberapa tahun lalu. Ada sebuah lukisan seorang penjual tua dengan baju kain batik yang saya juga pernah lihat motif batik yang sama yang sering dipakai seorang kenalan. Sepintas, terlihat biasa, tapi lewat lukisan tersebut saya memperhatikan detil motif batik yang saya baru sadar ternyata bentuknya unik.


#masihdirumahaja,


July 13, 2019

I am (NOT) Okay

A year ago, everything was different. And now that I look back, I realize that a year can do a lot to a person. ~
I am okay to be alone rather than in a crowd going to wrong direction.
picture from here

...

"Kamu yang diajak papa pergi tuh", ujar mama dengan nada lirih.

"Lha mama ga ikut?" tanyaku kemudian.

"Ngga, lha wong papa ngajak kamu alesannya kamu doang yang punya paspor koq, mama kan ga punya", mama sedikit mengomel kemudian.

"Yahh, kalo gitu Keona aq bawa ya ma," pintaku sambil berusaha mengambil Keona dari gendongan mama.

"Ngga usah, Keona biar temenin mama", mama menghindari tanganku.

Lalu kemudian papa dan saya naik pesawat. Papa diam saja selama proses check in, sehingga saya yang setengah sedih karena lihat Keona menangis minta ikut jadi ikut diam saja. Saya masuk ke pesawat, duduk, dan termenung. Kemudian saya sadar satu hal, SAYA SALAH NAIK PESAWAT, karena papa tidak ada di samping saya ketika pesawat lepas landas.

....


Terbangun dari tidur, lagi, saya mimpi tentang papa yang mengajak saya pergi. Terakhir rasanya sudah beberapa tahun yang lalu ketika saya bermimpi papa mengajak saya pergi naik bis tapi lalu saya ketinggalan bis.
Dua hari terakhir memang saya memikirkan papa. Teringat jelas kata-kata beliau "nanti kamu kalau sudah jadi dewasa baru tahu rasanya" setiap saya merengek sewaktu kecil. Saya mewarisi idealis papa. Aneh, hal sama yang orang lontarkan kepada saya dan papa dengan dua masalah berbeda. Kami sama-sama punya cara pandang tertentu mengenai kebenaran. Pernah suatu saat papa bercerita tentang korupsi yang dilakukan oleh atasannya, namun saya tak tahu ending dari cerita tersebut, apa yang akhirnya papa lakukan saat itu.

Saya kepikiran papa bukan sedang kangen, tapi saya penasaran, kalau papa jadi saya dengan permasalahan saya baru-baru ini, kira-kira papa bakal ngapain. Melihat sesuatu yang tidak benar terjadi di depan mata sungguh tidak enak, mau "go againts" posisi lemah, mau menyerah, kok tidak rela karena tahu harusnya bagaimana 😢

Ah papa, saya belum minta dijemput sekarang, kalau nanti malam datang lagi lewat mimpi, tolong kasih tahu saja anakmu ini mesti gimana... Bukan malah ngajak pergi 😢

Katanya, galau itu baik, pertanda saya masih berpikir, tapi galau yang kali ini meresahkan :(

April 13, 2019

OBEY not OBEY

Prinsip otoritas dan ketaatan harus dibatasi oleh respek pada kepribadian anak. Otoritas bukanlah lisensi untuk menyakiti anak. Orangtua dilarang mempermainkan rasa cinta, rasa takut, sugesti, atau kharisma, atau hasrat – hasrat alamiah anak lainnya. ~ Butir keempat dari 20 butir filosofi pendidikan Charlotte Mason

Keona yang sedang memotret papa mamanya waktu liburan beberapa minggu yang lalu.


Dalam bukunya, bu Ellen menulis :
Charlotte mengkritik keras orangtua yang menyelewengkan otoritasnya. Otoritas, kata Charlotte, seharusnya diabdikan untuk memberi manfaat dan melayani kepada pihak yang berada di bawah otoritas itu. “Orangtua yang sewenang-wenang, yang rewel, yang menuntut sikap hormat dan ketaatan semata-mata karena dia adalah orangtua, demi kebanggaan dan kesombongannya sendiri, sama payahnya dengan orangtua yang (tidak bisa menjalankan otoritas sama sekali dan) menghamba kepada anak-anaknya” (Vol. 2, hlm. 13).
Batasan yang jelas terhadap otoritas orangtua adalah kedudukan anak sebagai pribadi yang unik, istimewa, dan berharga. Menaruh respek pada kepribadian anak berarti orangtua secara tulus memberi ruang kepada anak untuk menjadi dirinya sendiri, menghargai hak anak untuk memilih dan menjadi individu yang autentik. Orangtua melanggar batas – batas otoritasnya jika mulai memanipulasi rasa takut anak (“Kalau kamu ga nurut, mama ga sayang lagi sama kamu!”), rasa cinta atau kekaguman anak terhadapnya (“kalau kamu sayang mama, nurut dong!”), dst.
~ Cinta Yang Berpikir, halaman 24 dan 26

Jika membaca buku tulisan bu Ellen secara utuh, saya merefleksikannya dengan perilaku orangtua (mungkin saya pun masih sesekali begitu) yang “memanfaatkan” cinta anak untuk meMENANGkan kepatuhan mereka.
Belum sampai di situ karena yang menggangu pikiran saya adalah ketika saya merelasikan butir keempat tadi dengan relasi saya dengan orang dewasa (tidak hanya dengan anak-anak). Hal ini kemudian membawa saya pada ingatan menonton episode MasterChef (baca kisahnya di sini) beberapa minggu yang lalu ketika dua peserta harus keluar karena inti dari masakan mereka (daging ayam dan bebek) belum matang. Jika dirunut, kesemua butir filosofi ini sebenarnya membantu kita menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik, seperti misalnya habit of perfect execution yang saya bahas pada post sebelum ini.
Ada seorang peserta lain yang saya perhatikan, yaitu Rama. Saat juri sedang menilai hasil masakan dua peserta yang dagingnya belum matang tersebut, Rama berkata hal semacam “wah kalau dia lolos padahal dagingnya belum matang, besok lagi saya bakal masak enak tapi dagingnya ga perlu matang gapapa”. Statement tersebut sudah mengganggu saya untuk lebih dari seminggu saya pikirkan. Mari berefleksi, berapa dari kita yang masih suka “aku bakal begitu, kalau kamu begini”?

Butir keempat filosofi Charlotte Mason ini menjawab sudah kegundahan hati saya saat mendengar statement Rama tersebut. Ketaatan/ kepatuhan/ kebaikan/ habit tertentu TIDAK BOLEH TERPENGARUH pada perilaku orang lain, let me simplify, kalau mau baik ya baik aja ga usah nunggu orang lain baik dulu. Rama kalau mau baik, mau masak dengan sempurna, ya buat aja sempurna, ga perlu terpengaruh sama hasil orang lain yang mungkin ga sempurna tapi diterima. In addition, kita tidak boleh menjadikan “ketidaksempurnaan” orang lain untuk menjadi “excuse” kita agar bisa “ikutan” tidak sempurna juga. Contoh, di tempat kerja (yang lama), suami hanya berdua saja di kantor dengan partmernya karena itu adalah kantor cabang. Tidak ada bos, teman kantor yang satu-satunya sering telat, menggoda sekali untuk suami ikut-ikutan “ga patuh” dan ikut terlambat. Tapi waktu itu, suami memilih untuk tetap datang tepat waktu dengan alasan sederhana yang dia bilang “ya neg aku mau ontime ya ontime aja, ngopo ngenteni mas *** ontime sik” (translate : ya kalau saya mau datang tepat waktu ya tepat waktu aja, ga perlu menunggu si teman kantor untuk datang tepat waktu juga.).

Conclusion : kalau kita sudah punya metal “GA TERPENGARUH” dengan perilaku orang lain ini, mau habit dan kebiasaan baik apapun pasti tidak akan sulit dilakukan.
So, readers be good all the time to all people no matter what.



Xoxo, 



PS : kemarin saya dapat mention di akun Instagram saya dari seorang reader blog saya ini. Terima kasih buat semua yang sudah baca tulisan - tulisan saya ini, semoga tulisan saya bisa terus bermanfaat buat teman-teman ya :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...