July 08, 2026

Tiga Jalan Memetakan Kerajaan Jiwa - Kajian Rabu, 8 Juli 2026

picture from here

Tentang Volume IV, Bab II, Matematika, Filsafat, dan Sastra

Semula aku mengira Charlotte Mason sedang memperkenalkan mata pelajaran. Matematika, Filsafat, Sastra yang masing-masing dengan wilayahnya sendiri. Namun tiba-tiba aku merasa bahwa ia sedang memperkenalkan cara sebuah jiwa bertumbuh. Ada kalanya kita mendaki pegunungan matematika, tempat setiap langkah meminta pijakan yang kokoh. Ada kalanya kita memasuki hutan filsafat, tempat tidak semua jalan segera memperlihatkan ujungnya, berkabut, bahkan terkadang pijakannya tidak kokoh walau mungkin berada di pegunungan yang sama. Dan ada saatnya kita singgah di 'pasaraya' sastra, tempat kita belajar melihat dunia melalui kehidupan orang lain.

Mungkin menjadi manusia yang dewasa bukanlah memilih salah satu dari ketiganya. Mungkin menjadi manusia bukan berarti selalu memiliki jawaban yang benar. Kita membutuhkan matematika agar tidak kehilangan pijakan, filsafat agar tidak berhenti bertanya, dan sastra agar tidak kehilangan belas kasih. Terlalu mengejar kepastian dapat membuat kita menutup diri terhadap misteri kehidupan. Sebaliknya, terlalu nyaman dalam kemungkinan dapat membuat kita kehilangan arah. Tanpa sastra, kita bahkan bisa lupa bahwa di balik setiap pendapat ada seorang manusia dengan cerita yang tidak seluruhnya kita pahami sama seperti tokoh-tokoh dalam bacaan kita yang mungkin saling berprasangka, padahal kita tahu intensi yang mereka miliki untuk satu sama lain, mereka tidak.

Tak satu pun dari perjalanan itu ditempuh dalam sehari. Seperti mendaki gunung, kita perlu berlatih, jatuh, mengatur napas, lalu mencoba lagi. Kemampuan bernalar, menimbang, membayangkan, dan berempati tidak lahir dari satu pelajaran, melainkan dari kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit. Pendidikan, rupanya, bukan perlombaan untuk cepat sampai, tetapi latihan seumur hidup agar langkah kita semakin matang, tidak terengah-engah.

Dan mungkin inilah yang sedang dibangun Charlotte Mason: bukan anak yang pandai mengerjakan soal, bukan pula anak yang pandai berpendapat, atau gemar membaca semata. Ia sedang membayangkan manusia yang mampu berpijak pada kebenaran, rendah hati di hadapan pertanyaan, dan tetap memiliki hati yang cukup luas untuk memahami kehidupan orang lain.

Sebab pada akhirnya, ketiga perjalanan itu selalu bermuara ke tempat yang sama: Kerajaan Jiwa. Semakin jauh kita mendaki, semakin berani kita menjelajah, dan semakin banyak kehidupan yang kita jumpai, semakin utuh pula cara kita mengenali diri sendiri dan semakin bijaksana kita belajar hidup bersama sesama, dan bahwa pendidikan yang sejati bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan tentang bagaimana kita mengenal diri sendiri dan seperti apa kita mau dibentuk.



July 01, 2026

Perkara Kata - Yang Sulit Diterjemahkan

picture from here


Orang-orang bilang,
buku adalah jendela dunia,
dan membaca itu 
menambah kosakata.

Tapi hari ini aku menemukan
sesuatu yang menarik,
tentang membaca, kata, dan bahasa.

Mengutak-atik bunyi,
membalik kata,
hingga Mirror of Erised
berubah menjadi Cermin Tarsah
karena bahkan 'hasrat'
ingin diberi rumah
dalam bahasanya sendiri.

Lucunya,
dibelahan bumi yang lain,
ada yang begitu fasih mengucapkan
'memanusiakan manusia'
namun melihat manusia
tak lebih dari sebuah vas
punya nilai selama belum retak.

Lebih lucu lagi,
seseorang yang lain
mengira bahwa semua waktu
adalah panggung untuk bercanda.
Seolah air mata dan tai mata
hanya dipisahkan oleh satu pilihan kata.

Lucu.

Betapa mudahnya
bahasa menjadi indah,
namun gagal menjadi hangat.

Lalu aku tersadar satu hal,
kemampuan berbahasa
ternyata bukan hanya tentang
seberapa banyak buku yang dibaca
seberapa indah tulisan yang dicerna
juga bukan tentang
seberapa banyak kata yang dikuasai.

Melainkan,
bagaimana bacaan dan kata yang dicerna
membuat manusia menghormati makna
membuat manusia melihat
manusia lainnya
secara utuh.



------------
sebuah obrolan di sela2 buku-buku di toko buku dengan Pramesti berbuah sebuah puisi wkwkwkkwkwk...



June 24, 2026

Setelah Membaca Peta yang Sama Berkali-kali - Kajian 24 Juni 2026, CM Vol. 4, Bag II, Bab 1

picture from here


Dulu, aku kira mengenal diri
adalah menghafal hal-hal sederhana
apa yang kusukai,
apa yang kutakuti,
apa yang membuatku bertahan
di hari-hari yang panjang.

Ternyata tidak.

Ternyata ia lebih mirip
membaca sebuah peta wilayah yang luas,
lalu menyadari
betapa banyak bagian yang belum kumengerti.
Ada batas-batas yang selama ini
ingin kuubah menjadi jalan.
Ada sungai yang selalu meluap
setiap kali harapan bertemu kenyataan.
Ada daerah yang tampak tenang dari jauh,
namun selalu bergemuruh di dalam.
Dan ada musim-musim tertentu
yang datang tanpa bisa dicegah.

Malam ini aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku mengira
aku sedang memperjuangkan keadilan.
Padahal mungkin
aku sedang berhadapan
dengan batas-batas diriku sendiri.

Dengan kenyataan bahwa
tidak semua hal bisa kuatur sesuai mauku
hanya karena aku menginginkannya.
Tidak semua pintu terbuka
hanya karena aku sudah menunggu lama.
Tidak semua perjalanan
memiliki lintasan yang sama.

Mungkin pengendalian diri
bukan tentang mematikan keinginan.
Melainkan tetap bersikap lembut dan tenang
ketika keinginan itu tidak menemukan jalannya.
Tetap menjaga hati
ketika dunia berjalan
dengan ukurannya sendiri.

Dan mungkin karena itulah
mengenal diri terasa begitu penting.
Karena suatu hari,
anak yang sedang kutuntun
akan memiliki peta dirinya sendiri
menemukan batas-batasnya sendiri.

Dan aku berharap,
saat hari itu tiba,
aku tidak mengajarinya
cara memenangkan segala sesuatu.
Aku berharap aku bisa mengajarinya
cara tetap utuh
ketika tidak semua hal dapat dimenangkan.



June 06, 2026

Kangen #3

picture from here


Dulu pernah ada kalimat
yang diucapkan sambil lalu,
lalu menetap bertahun-tahun
seperti paku kecil di dinding.

"Nanti kamu akan mengerti."

Dan ternyata waktu memang suka menang.

Pagi ini, entah kenapa,
kalimat itu datang lagi.
Bukan bersama suaranya,
bukan bersama wajahnya,
hanya datang sendiri
saat matahari belum benar-benar tinggi.

Ada rindu yang aneh.

Bukan rindu untuk bertemu.
Bukan rindu untuk mendengar cerita lama.

Hanya rindu pada seseorang
yang pernah begitu yakin
tentang sulitnya hidup.

Dan hidup memang tidak sedang ramah.

Ada langkah-langkah yang terasa lebih berat
karena jalan ini pernah dilalui orang lain terlebih dahulu.
Ada pintu-pintu yang terbuka
karena nama yang ditinggalkan.
Ada pula yang diam-diam terasa harus dijaga
meski pemiliknya sudah lama pergi.

Kadang-kadang kebahagiaan datang.

Sederhana saja.
Secangkir kopi yang hangat.
Kabar baik yang tak diduga.
Tawa yang lolos begitu saja.

Tapi selalu ada sesuatu
yang berdiri di ambang pintu,
seolah bertanya,

"Benarkah semua ini boleh?"

Lalu,
Pagi ini air mata jatuh juga.

Bukan karena kehilangan.
Bukan karena ingin memanggil pulang
yang sudah tak mungkin pulang.

Melainkan karena tiba-tiba ingin bertanya:

Jika seseorang meninggalkan begitu banyak jejak,
apakah orang yang berjalan setelahnya
boleh merasa ringan?

Ataukah sebagian dari hidup
memang harus dijalani
dengan menoleh ke belakang?

Aku tidak tahu.

Yang kutahu,
rindu kali ini tidak berbentuk wajah.

Rindu kali ini berbentuk jeda
di antara syukur dan sesak.

Dan untuk pertama kalinya,
aku menyadari:

mungkin yang paling kurindukan
bukan orangnya

melainkan izin
untuk hidup tanpa merasa sedang meninggalkannya.
_____________________________

baca juga Kangen dan Kangen#2 di sini dan di sini

May 25, 2026

Perempuan Milenial

Perempuan milenial lahir
di sela dua dunia.

Dibesarkan oleh generasi
yang percaya perempuan baik
tidak banyak bertanya,
tidak pulang terlalu malam,
dan terlalu keras tertawa
untuk disebut anggun.

Tapi tumbuh di zaman
yang membuat perempuan akhirnya berani berkata:
“aku lelah,”
“aku marah,”
“aku ingin hidup untuk diriku sendiri.”

Lalu semua itu disebut
terlalu modern,
terlalu banyak teori,
terlalu standar TikTok.

Perempuan milenial belajar mencintai diri sendiri
di sela mencuci piring,
mengantar anak sekolah,
membalas pesan pekerjaan,
dan pura-pura baik-baik saja
karena hidup tetap harus berjalan besok pagi.

Memeluk anaknya erat-erat,
sambil diam-diam
masih mencoba menyembuhkan
anak kecil di dalam dirinya sendiri.

Ingin bebas,
ingin punya ruang sendiri,
ingin bisa berdiri tanpa rasa takut—
namun berkali-kali diingatkan
bahwa dunia masih sering
memihak siapa yang membawa nafkah pulang.

Perempuan milenial pernah duduk
di depan tape recorder,
mencatat lirik
Backstreet Boys
dengan tombol pause-play-pause
berulang kali,
takut ada satu kata yang tertinggal.

Dan mungkin sejak dulu
hidup memang terasa seperti itu:
mengulang banyak hal,
mengoreksi diri berkali-kali,
berusaha menjadi cukup
untuk semua orang.

Terlalu modern untuk diam,
terlalu diajari bertahan
untuk benar-benar pergi.

Mengerti tentang healing,
boundaries, self worth,
namun masih merasa bersalah
saat memilih dirinya sendiri sebentar saja.

Perempuan milenial hidup
dengan banyak kontradiksi di kepalanya.
Kuat, tapi lelah.
Mandiri, tapi tetap bergantung pada banyak hal.
Ingin sederhana,
namun tumbuh di dunia
yang terus menuntut lebih.

Meski begitu,
ia tetap menemukan tenang
di hal-hal kecil:
teh hangat yang diminum pelan-pelan,
bau baju yang baru dijemur,
tawa anak-anak di ruang tengah,
dan keyakinan kecil
bahwa mungkin—
generasi setelahnya
tidak perlu sekeras ini
untuk merasa berharga.

picture from here

Untuk semua perempuan milenial, dari seorang perempuan milenial,



May 14, 2026

Bahaya dalam Kerajaan Jiwa - Kajian, 13 Mei 2026 (Bab 2, Vol. 4)

picture from here

tentang hal-hal kecil yang diam-diam menguasai manusia

Kadang kita membayangkan jiwa manusia sebagai sesuatu yang indah dan megah, penuh kemungkinan, penuh kehidupan. Namun seperti kerajaan mana pun, ia juga bisa retak dari dalam. Dan sering kali, kerusakan itu tidak datang sekaligus. Ia datang pelan-pelan, dari hal-hal yang dibiarkan.

Ada masa ketika seseorang masih menjalani hidup seperti biasa, tetapi sebenarnya sudah kehilangan daya hidupnya. Bukan tidak bergerak, justru mungkin terlalu sibuk. Namun ada bagian dalam dirinya yang perlahan mati rasa. Ia berhenti merasa ingin tahu, berhenti merawat hal-hal yang dulu ia cintai. Mungkin itulah bentuk kemalasan yang paling sunyi, ketika jiwa tidak lagi benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri.

Lalu ada “api-api kecil” yang tampaknya sepele seperti amarah singkat, iri hati kecil, luka yang tidak dibereskan. Tetapi beberapa kehancuran besar justru dimulai dari percikan yang dianggap tidak penting. Dan anehnya, manusia sering lebih waspada terhadap ancaman dari luar dibanding terhadap hal-hal yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya sendiri.

Kerajaan jiwa juga bisa jatuh sakit karena hal-hal yang menumpuk terlalu lama. Pikiran yang dibiarkan kusut, kecewa yang dipendam, kelelahan yang diabaikan. Bukankah banyak orang baru menyadari dirinya sedang runtuh setelah semuanya terasa terlalu berat untuk dibawa?

Namun tidak semua bencana hanya membawa kehancuran. Ada masa-masa yang meluap seperti banjir yang tampak seperti mengacaukan hidup, memaksa banyak hal berubah. Tetapi kadang justru setelah itu seseorang menjadi lebih jujur terhadap dirinya sendiri. Mungkin beberapa bagian dalam diri memang perlu dihancurkan agar sesuatu yang baru bisa bertumbuh.

Ada juga musim-musim tandus ketika usaha tidak langsung menghasilkan apa-apa. Saat seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri: “Apa gunanya terus berjalan?” Tetapi mungkin jiwa juga memiliki musimnya sendiri. Tidak semua hal tumbuh secepat yang kita inginkan.

Dan mungkin salah satu penderitaan terbesar manusia adalah ketika ada terlalu banyak suara di dalam dirinya. Keinginan yang saling bertabrakan. Idealisme melawan kenyamanan. Kewajiban melawan kelelahan. Kadang perang paling melelahkan bukan yang terjadi dengan dunia, tetapi dengan diri sendiri.

Lalu datanglah kegelapan itu, bukan selalu dalam bentuk tragedi besar, melainkan kabut yang perlahan menutup cahaya. Seseorang kehilangan arah, kehilangan makna, lalu mulai percaya bahwa memang tidak pernah ada terang sejak awal. Barangkali itu sebabnya harapan begitu penting: bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena manusia membutuhkan sesuatu untuk tetap dilihat ketika semuanya terasa gelap.

Pada akhirnya, setiap orang sedang memimpin “kerajaan” di dalam dirinya sendiri. Dan mungkin pertanyaan yang paling penting bukan apakah hidup kita sempurna, melainkan: bagian mana dari jiwa kita yang diam-diam sedang meminta untuk diperhatikan?


Lucunya, lagi-lagi aku merasa seperti baru saja ditegur pelan oleh pikiranku sendiri,



April 22, 2026

Sketsa Dua Diri - Kajian, 22 April 2026

pict. from here

Aku..

Ada aku yang berdiri tegak,
menatap lurus ke arah terang,
dan ada aku yang bersembunyi,
menggenggam bayangannya sendiri.

Kami hidup dalam tubuh yang sama
yang satu ingin memimpin,
yang satu selalu menarik ke belakang,
seperti ombak yang tak pernah sepakat dengan lautnya.

Aku bertanya
jika seorang guru tak mampu mengajar
disebut tak cakap,
lalu bagaimana dengan manusia
yang gagal menjadi manusia?

Apakah itu sekadar salah arah,
atau kegagalan yang lebih sunyi
yang tak pernah diberi nama?

Di dalam diriku ada suara
yang tahu apa yang benar,
dan ada yang pura-pura lupa,
yang memilih jalan mudah
meski tahu ujungnya gelap.

Ada diri yang mengamati,
dan diri yang diam-diam diamati
canggung, keras, ingin dipuji,
takut ditolak,
dan diam-diam merasa… mengerikan.

Ia bukan monster,
hanya terlalu sadar
akan setiap retak kecil
yang orang lain mungkin tak lihat.

Ia tumbuh dari pengetahuan
buah yang pernah kita makan
saat kita berhenti menjadi anak-anak
dan mulai mengenal diri
sebagai sesuatu yang bisa gagal.

Namun di tempat yang sama,
di tanah yang belum dijelajahi itu,
ada sesuatu yang lain
diam, luas, tak tergesa.

Diri yang agung.

Bukan karena ia selalu baik,
tapi karena ia mungkin.
Karena ia menyimpan
segala yang hal yang kita pikir itu baik.

Tapi batasnya kabur
yang agung bisa jatuh,
yang mengerikan bisa belajar berdiri.
Keduanya saling menyelinap,
saling meminjam wajah.

Dan kita
terjebak di antaranya,
mencoba menjadi nahkoda
bagi kapal yang bahkan
tak kita kenali sepenuhnya.

Mungkin tugas kita sederhana,
meski tak pernah mudah:
bukan memusnahkan salah satunya,
melainkan belajar mengemudi
di antara Scylla dan Charybdis
yang kita bawa dalam dada.

belajar memegang kemudi
tanpa membenci lautnya.

Karena menjadi manusia
bukan tentang menjadi utuh
melainkan tentang berani melihat
kedua wajah itu,

dan tetap memilih
untuk menjadi manusia seutuhnya.


tentang Bab Pendahuluan Charlotte Mason Vol.4,



May 11, 2023

Hati Hati Gunakan Mulutmu - KAMISAN, 11 Mei 202

"Bangsa Yunani lebih paham dibanding kita bahwa kata-kata lebih dari sekadar benda, lebih dari sekadar peristiwa;" ~ Charlotte Mason, vol.6. hlm. 331

pict. from here

Setelah sebelumnya membahas tentang akal budi yang diibaratkan seperti gurita spiritual yang akan menjulurkan tentakel-tentakelnya ke segala arah untuk menarik banyak asupan yang nantinya akan dijadikan pengetahuan, kemudian topik berlanjut mengenai bagaimana asupan tersebut diolah dan keluar dalam bentuk ucapan seseorang. 

Hati-Hati Gunakan Mulutmu, saya langsung teringat lagu Sekolah Minggu ini ketika berbicara mengenai bagaimana ucapan dan pikiran kita sebenarnya berdampak besar, mulai dari "nilai diri" misalnya, hal sepele seperti berkata "Aku tuh ga lucu soalnya." ternyata dapat begitu mempengaruhi bagaimana tubuh ini selanjutnya bekerja.

Hati hati gunakan mulutmu ) 2x

 Allah Bapa di Surga melihat ke bawah

Hati hati gunakan mulutmu

Nyatanya berhati hati dalam berucap bukan cuma perkara "takut dilihat Allah" tapi lebih dari itu yaitu bertanggung jawab atas diri sendiri dengan segala ucapan yang keluar dari mulut.


Terima kasih reminder nya ya teman-teman,


February 23, 2023

Live the Life to the Fullest - narefleksi KAMISAN, 9 dan 23 Februari 2023

Membaca judul bagian V dari volume VI ini tentang Pendidikan dan Kepenuhan Hidup membawa saya pada sebuah kata yang akhir-akhir ini populer - YOLO.

YOLO yang merupakan singkatan You Only Live Once sebenarnya sejalan dengan istilah carpe diem yang berarti seize the day atau live to the fullest yang merupakan ajakan untuk menjalani hidup sepenuhnya, serta mencoba banyak hal baru dalam hidup (take every opportunity). Selain definisi mengambil semua kesempatan, YOLO juga dapat menjadi alasan atas perilaku "bodoh" yang pernah dilakukan (or to excuse something stupid that you have done). (sumber definisi dari sini)

Sayangnya pengertian ini disalahartikan oleh banyak orang menjadi hidup semaunya, sesukanya, tak jarang malah menimbulkan kerugian untuk orang tersebut hingga orang di sekitarnya. Alih-alih mengisi hidup dengan mencoba hal baru yang positif, YOLO digunakan untuk alasan atas perilaku semaunya seenaknya live my life to the fullest dengan pembenaran "Lha wong urip mung sepisan koq digawe angel!" atau "Hidup cuma sekali, yaudah lah puas-puasin!".

pict. from here

Lalu bagaimana untuk mendapatkan kepenuhan hidup ala Charlotte Mason?

Saya menghighlight beberapa poin dari empat paragraf pertama bagian lima volume enam ini dituliskan bahwa untuk dapat hidup dengan kepenuhan hidup, kita tetap dapat menjalani banyak hal, mencoba banyak hal dengan memperhatikan hal berikut :

1. tidak merugikan kepentingan umum, tidak mengorbankan sesamanya (kalau merugikan kepentingan umum saja tidak dianjurkan, maka jika hal tersebut merugikan diri sendiri juga mestinya bikin mikir sih ya, kan diri kita juga bagian dari masyarakat umum) 

2. menikmati prosesnya, tidak hanya berorientasi pada hasil karena kegembiraan-kegembiraan yang dihasilkan dari proses akan sesuatu juga dapat membuat kita merasakan kepenuhan hidup

Semuanya itu tentu saja tetap berlandaskan pada pengetahuan yang didapatkan dari pengenalan akrab terhadap sesama, alam dan penciptanya yang disajikan dalam bentuk sastrawi sebagai nampan peraknya (pernah tulis soal nampan perak ini di sini).

Akhirnya, obrolan ngalor ngidul soal rumah makan padang pun membuat saya merasa kepenuhan bahagia dengan membayangkan rendang dan kuahnya di atas nasi panas yang mengepul, jadi lapar :D

October 27, 2022

Pengetahuan dan Akal Budi - KAMISAN 13 dan 27 Oktober 2022

Dikatakan bahwa pengetahuan datangnya dari karunia Allah (Charlotte Mason, vol.6, hlm.322), orang-orang Florentine pada masa itu percaya bahwa ada Tiga Kebajikan Injili (iman, pengharapan, dan kasih), juga ada Empat Kebajikan Utama (kesederhanaan, keadilan, hikmat, ketabahan) di bawahnya, serta kepercayaan akan roh Allah memiliki kuasa untuk mengajar, setiap ide bersumber dari Illahi.

Setuju atau tidak, namun ini beberapa manfaat saat kita percaya bahwa pengetahuan bersumber dari Illahi:

Yang pertama, ada ketenangan dan perasaan lega saat kita tahu bahwa pengetahuan dibagikan kepada kita sesuai dengan kesiapan kita.

Yang berikutnya adalah tidak ada lagi mengkotak-kotakan pengetahuan berdasarkan kesakralannya (sakral atau sekuler), seberapa besar pengetahuan itu (atau seberapa sepelenya pengetahuan itu), juga praktis dan teoritis - karena semua pengetahuan bersifat suci dan dibagikan sesuai kesiapan masing-masing individu untuk menerimanya. Semua pengetahuan penting, tidak ada yang lebih penting dari yang lainnya karena pengetahuan itu sebuah kumpulan kesatuan yang besar (bukan potongan kecil-kecil) yang keseluruhannya indah mencangkup Allah, manusia, dan alam semesta.

pict. from here

Manfaat yang ketiga yaitu bahwa pengetahuan dan akal budi ibarat paru-paru dan udara - tanpa pengetahuan, akal budi tidak dapat bertumbuh, lemah, dan kemudian mati. Maka, kita butuh pengetahuan itu, orangtua tidak dapat memilihkan jenis pengetahuan tertentu saja yang boleh diterima akal budi anak, semua pengetahuan layak masuk sesuai porsinya.

Lalu apakah itu berarti pengetahuan tentang yang buruk juga perlu diberikan?

Manusia dianugrahi akal budi untuk menimbang, kita tidak dapat menghindarkan anak-anak dari hal-hal buruk, tapi bukan berarti hal tersebut harus diajarkan, alih-alih mengajarkan hal itu, orangtua dapat membantu anak untuk memiliki kemampuan berefleksi tentang hal baik/buruk itu.

Tidak boleh membatasi pengetahun bukan tentang menjadi asal-asalan "asal pengetahuan diberikan" tidak memilah mana yang baik dan buruk, tidak boleh membatasi maksudnya adalah anak-anak berhak menerima asupan pengetahuan yang baik sebanyak yang mereka mampu terima, contoh membatasi misalnya seperti ini, ada orangtua yang musisi kemudian mereka membatasi anak-anak mereka hanya boleh menerima pengetahuan tentang musik saja dengan mengesampingkan pengetahuan lainnya. 

Lalu apakah mungkin terjadi "over asupan pengetahuan"?

Tidak akan terjadi "over pengetahuan" itu karena pada dasarnya pengetahuan adalah sesuatu yang diserap, bukan ditimbun, dan akal budi akan menerima pengetahuan yang siap diterima.


Yah, begitulah, dibuat berpikir dan bertanya-tanya lagi oleh Ibu Charlotte Mason, terima kasih diskusinya kawan-kawan.... Happy Thursday,



August 11, 2022

Tuhan Tahu Isi Hatiku - Refleksi Kamisan, 11 Agustus 2022

Seandainya memutuskan sebuah perkara sesimpel memilih buku apa yang akan dibaca hari ini...
pict from here

tentang paragraf terakhir Charlotte Mason volume 6, halaman 320
--------------------------------------------------
Aku sering bergumul dalam hatiku
Benarkah ini, salahkah aku?
Pagi ini pun aku serasa dikuliti
Oleh sebaris paragraf yang kubaca

Aku takut melangkah
Aku takut jalanku salah
Aku takut pilihanku tak benar
Aku takut
Aku takut
Aku takut
Banyak takutku

Sering aku berpikir,
aku mau seperti ini
tapi kadang aku merasa ada tembok yang bernama realita berdiri kokoh di depanku

Aku tahu kalau manusia hidup tidak hanya dari roti saja
Aku tahu kalau manusia butuh spiritualitas di hidupnya
Tapi aku juga tahu bahwa untuk hidup aku butuh roti
apakah aku hidup untuk mencari roti saja?

Aku takut
Takut kalau kebutuhanku mencari roti saja membuatku lupa akan esensi jadi manusia
Aku takut

Tapi aku lega saat aku tahu bahwa manusia hanya dapat melihat perilaku tanpa tahu motivasi seseorang
Aku takut perilakuku salah
Tapi aku lega saat mendengar hanya manusia masing-masing yang dapat menilik motivasinya

Aku butuh roti,
tapi aku lega Tuhan tahu isi hatiku
Tuhan tahu motivasiku


Aku lega,




-------------------------------------------
note : aku selalu takut, apakah yg kukerjakan ini baik dsb, tapi lega saat mendengar c Lydia dalam diskusi bilang "ya orang kerja, dapat upah untuk hasil pekerjaannya kan", itu mengingatkanku lagi atas perkataan alm. papa yg kasih pesan di hari pertamaku bekerja "Jangan kerja karena uang, nikmati pekerjaannya, kalau kamu menikmatinya, dan pekerjaanmu serta skill mu bertambah, UANG AKAN MENGIKUTI dengan sendirinya."... dan dengan pernyataan mba Tiur bahwa kita bisa melihat perbuatan seseorang, tapi kita tidak bisa tau motivasinya selain orang itu sendiri, aku legaaaa....Thanks all, diskusinya melegakan.......

July 28, 2022

"Apa Untungnya Buatku?" - KAMISAN, 14 dan 28 Juli 2022

Dua minggu yang lalu, bahasan sains masih berlanjut. 
Namun, lebih sering kita mendapati sains itu dingin, tidak membuat kita terinspirasi; kegunaan dari temuan-temuan ilmiah tidak memantik keluhuran dalam diri kita, meskipun sangat memikat dan terasa mendesak godaannya bagi hasrat-hasrat rendahan kita. Namun yang salah bukanlah sains itu sendiri - secara religius, bisa kita bilang sains sebagai modus pewahyuan kebenaran yang dikaruniakan pada generasi kita? - melainkan cara kita mempresentasikan sains lewat fakta dan angka dan demonstrasi yang maknanya bagi audiens betul-betul sebatas pernyataan ilmiah itu saja, tanpa pernah mepertunjukkan keajaiban dan agungnya cakupan makna dari hukum alam yang disingkapkannya. ~Charlotte Mason, vol.6, hlm.318

Sains nya ga salah, gapapa loh belajar sains, tapi di sini Charlotte Mason menegaskan bahwa menjadi salah jika cara belajarnya hanya berfokus pada fakta, angka, dan demonstrasi saja tanpa menunjukkan keajaiban alam semesta karena sejatinya selain menjadi sebuah ilmu, sains itu sendiri disebut sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran hukum alam. Indah banget ya penggambaran bu Charlotte soal sains ini.

Hari ini, bahasan itu semakin diperdalam lagi.

bahwa kita semua ikut bersalah bahkan untuk pelanggaran yang dilakukan individu tertentu; dan sedikit banyak kita meyakini omongan itu karena para leluhur kita telah mengatakannya; demikianlah dulu para nabi merendahkan diri mereka di hadapan TUHAN, dan meratapi dosa bangsanya sebagai dosanya sendiri yang amat besar. Kita pun merunduk saat menerima hajaran, tapi sejatinya sikap kita masih kabur dan, dalam hal ini, tidak tulus. ~Charlotte Mason, vol.6, hlm.318-319

Kosong, disebutkan bahkan moment pertobatan sudah terasa jadi cuma rutinitas saja cuma tradisi - merunduk menerima hajaran tapi sikapnya tidak berubah karena tidak tulus.

Maka proses belajarpun juga diibaratkan serupa - cuma sebagai tradisi turun temurun diterima ilmunya, sudah cukup. Kehampaan melahirkan kehampaan, begitu tulis Charlotte Mason pada paragraf berikutnya, maka tradisi "kosong" seperti ini ya terus berlanjut dari generasi ke generasi. Manusia semakin lupa bahwa hidup bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani saja (dalam bacaan disebut soal "roti"), tidak lagi menganggap penting nilai apapun kecuali uang, anak muda tak lagi punya visi, "selama ada uang di dalamnya" hayuklah kerjakan, apa itu renjana? Kalau tidak menghasilkan uang, buat apa.

selama ada uang di dalamnya! pict. from here

Semua hal dilihat dari materinya "Apa untungnya buat aku?", kalau tidak menguntungkan ya sudah buang jauh jauh hal itu. Rasanya miris saat membaca bagian berikutnya yang membahas soal serikat pedagang yang awalnya memiliki watak cara kerja yang fair, transaksi yang jujur dan setia pada perjanjian pun pada akhirnya luntur karena dominasi gilda dagang yang menganggap hal itu tidak berguna dan lenyap di dalam tong sampah (vol.6, hlm.320). Kemudian rasa miris itu berubah jadi refleksi diri. Teringat beberapa waktu yang lalu menonton drama Korea, ada satu episode saat si pengacara sadar bahwa klien yang ia bela ternyata salah dan hanya mengejar keuntungan pribadi. Walaupun kliennya kalah waktu itu, tapi dia merasa bersalah dengan lawan karena meskipun lawan menang, lawan mengalami kerugian lewat kasus hak cipta mesin ATM itu, padahal sebelumnya pihak lawan sempat berusaha mengajaknya bicara, bertanya apakah kamu nantinya hanya mau jadi pengacara yang sukses di lapangan atau pengacara yang mengungkap kebenaran. Dia sedih karena akhirnya dia "kalah" bukan dari segi materinya, tapi ia kalah karena tidak bisa memperjuangkan kebenaran itu.

Sebenarnya mau di sektor apapun yang namanya realita "butuh uang" itu pasti ada, tapi tinggal bagaimana kita melatih diri (dan anak) untuk menjadi tuan atas uang bukan sebaliknya. Segalanya butuh uang, tapi uang bukan segalanya. 

Ga gampang, tapi jika dijalani dengan benar sesuai prinsip-prinsip kebenaran, benturan realita dapat kita hadapi, SEMANGAT..


 

June 23, 2022

Renjana - KAMISAN, 23 Juni 2022

Sains berkata pada Sastra, “Aku tidak butuh kamu!” padahal sains adalah bintang pujaan di zaman kita. Semua materi pelajaran wajib dikuliti sampai ke tulang, sementara ruh kehidupan yang ada dalam dagingnya justru dibuang: dalam proses ini sejarah tersia-sia, puisi tak bisa lahir, agama sekarat; kita duduk menghadapi tulang-tulang garing pengetahuan ilmiah dan berkata: Inilah pengetahuan, semua pengetahuan yang dapat diketahui ada di sini. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.317

Sejak era saat Charlotte Mason hidup, rupanya pengelompokan jenis bidang study sudah terjadi. Kalau sekarang sastra dikesampingkan (fakultas diganti nama jadi Fakultas Ilmu Budaya alih alih Fakultas Sastra contohnya) di era Charlotte Mason pun demikian. 

Di luar sains, sulit mengukur kebenaran, sehingga banyak orang "mendewakan" sains. Sains nya tidak buruk, namun saat orang tidak memberi ruang untuk pengetahuan yang lain, maka nantinya akan ada "ekstrim kanan" dan "ekstrim kiri". 

Dalam diskusi, Bu Ellen memberi contoh Mendel-seorang biarawan yang juga "membuka" matanya untuk ilmu pengetahuan dengan menyusun konsep dasar genetika. Sedikit sekali orang yang saat sudah mendalami agama misalnya, terbuka juga untuk pengetahuan alam, vice versa. Yang terjadi kebanyakan justru "perebutan otoritas" mana yang benar, agama atau sains. 

Dalam tulisannya, Charlotte Mason mengibaratkan dengan "tulang-tulang garing pengetahuan", padahal jelas, tubuh yang hanya terdiri dari tulang tanpa ruh dan daging bukanlah tubuh yang hidup. Lalu apa ruh dan dagingnya? Yang tertulis "justru dibuang"?

“Aku pikir, ini luar biasa sekali,” tulis seorang anak perempuan di kertas ujian setelah berusaha menguraikan mengapa daun berwarna hijau. Anak ini telah mendapatkan ruhnya – kekaguman, rasa takjub – yang membuat sains itu hidup. Tanpa rasa takjub, nilai tertinggi seorang ilmuwan tidak lagi spiritual, melainkan utilitarian. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.317

Rasa takjub membuat sains itu hidup. Rasa takjub ini juga yang kebanyakan dianggap tidak penting dan dibuang. Utilitarian lebih mengedepankan prosedur dan teknis sehingga esensi dari pengetahuan itu sendiri terbuang. Rasa takjub akan memunculkan kesenangan belajar, kesenangan belajar akan memunculkan rasa "aku ternyata banyak tidak tahunya ya", dan perasaan itu akan tumbuh menjadi kerendah hatian. Tanpa rasa takjub, ego kita jadi besar.

Teringat perjalanan kami ke Jakarta minggu lalu, saat itu saya harus menghadiri rapat di hotel besar. Saat di toilet, Keona takjub akan sistem flush toilet itu - alih-alih menggunakan pencetan untuk flush, pengguna toilet hanya tinggal berdiri dan flush akan terjadi secara ototmatis. Bagi orang dewasa yang sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi saat ini, hal itu mungkin akan biasa saja. Tapi bagi Keona, itu menimbulkan ketakjubannya "Lohh, koq bisa ya ma?" dan "Dia tahu darimana kalau kita sudah selesai pakai lalu harus flush?". Kami menghabiskan waktu sedikit lebih lama di kamar mandi untuk menjawab rasa takjub Keona itu. 

"Ojo gumunan!" - begitu kata proverb Jawa terkenal yang dilontarkan mba Putri dalam diskusi. Menarik, karena sepintas rasanya pepatah itu kontras sekali dengan yang disampaikan Charlotte Mason dalam tulisannya. Tapi kalau saya boleh satukan, yang dimaksud dengan "ojo gumunan" itu adalah jika kita hanya nggumun saja, tanpa memaknai peristiwa nggumun atau takjub itu. Kalau Keona cuma takjub "wahhh bagus yaa ma!" dan stop sampai di situ saja itu yang dimaksud dengan "ojo gumunan!", lebiih dari itu, seharusnya ketakjuban akan memunculkan RENJANA atau hasrat untuk tahu lebih dalam apa dan mengapa hal itu terjadi.


pict. from here
Yang dilihat orang = anak mainan pasir
Yang dirasakan anak = belajar bermain hati-hati, pasir kalau kena mata sakit, belajar bentuk partikel pasir yang semakin digenggam semakin lepas, belajar memasukkan pasir pakai sekop, belajar bahwa tangannya dapat kotor kalau bermain pasir, dan masih banyak lagi belajar lainnya jika pendamping mau mendampingi proses belajarnya serta MEMAKNAI setiap kegiatannya.

Belajar tidak hanya sekedar memasukan ilmu itu ke dalam diri kita, tapi bagaimana kita dapat menikmati proses belajar itu menjadi sesuatu yang menyenangkan - RENJANA.

Ahhh, senang sekali rasanya hari ini lagi-lagi diingatkan oleh Charlotte Mason untuk terus berproses, setia pada proses karena nantinya hasil akan mengikuti proses tersebut. 

Thank you kawan diskusi CMers,



May 20, 2022

Nampan Perak - Narefleksi KAMISAN, 19 Mei 2022

Sikap dan nasib manusia dibentuk oleh pengetahuan, maka kita perlu paham apa saja yang disebut pengetahuan itu. Agar mudah dipahami orang awam, Matthew Arnold mengklasifikasikan pengetahuan menjadi tiga, yaitu pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan tentang manusia, dan pengetahuan tentang alam - atau istilah lainnya Ketuhanan, Humaniora, dan Sains.

picture from here

Namun menurut Charlotte Mason, walaupun bukan sebagai "menu utama", Sastra sama pentingnya, terutama untuk menyajikan ketiga pengetahuan tadi - diibaratkan bahwa jika ketiga pengetahuan tadi adalah menu utamanya, Sastra adalah nampan perak atau buli-buli pualam wadah minyak yang digunakan untuk meminyaki kaki Yesus. 

Namun, aku pikir kita bisa melangkah lebih jauh dan berpendapat bahwa Sastra, andai tidak bisa dibilang sebagai konten utama pengetahuan (seperti yang saya sampaikan sebelumnya), paling sedikit adalah wadah untuk menyajikan buli-buli pualam yang berisi minyak wangi (NB : seperti yang dipakai oleh perempuan yang meminyaki kaki Yesus).   ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.316

Dari sini saya jadi berpikir "Ohh, pantas saja, dalam proses belajarnya, anak-anak CM disarankan untuk menggunakan living book. Sama-sama terlihat indah (buku-buku twaddle dan living book) namun kualitas kedua wadah parfum ini berbeda".

Pertanyaan selanjutnya adalah kalau begitu apakah belajar menggunakan non living book menjadi sia-sia? Padahal ada subjek yang membutuhkan penjelasan presisi sepeti Matematika misalnya, apakah bahasa sastrawi perlu selalu dipakai untuk belajar ilmu pengetahuan itu? Karena seperti Matematika, tidak semua konsepnya bisa disajikan dengan Sastra, contoh lainnya adalah Ilmu Hukum misalnya, adakalanya ide yang disampaikan harus presisi agar tidak ada tafsir yang membuat salah paham.

Kapan atau apa indikatornya kita sebaiknya menggunakan bahasa sastrawi atau presisi? Apakah usia anak saat diberikan asupan sastrawi dan presisi akan mempengaruhi? Diberikan secara bertahap? Ataukah living book seperti "jembatan" yang dapat membantu kita memahami buku presisi "yang garing"?

Dari diskusi, saya menyimpulkan bahwa kecintaan anak pada ilmu pengetahuan lebih penting daripada memikirkan teknis "pakai buku apa". Karena, saat anak tertarik pada ilmu pengetahuan apapun, jika buku itu garing sekalipun akan tetap "dilahap". Jangan sampai yang teknis malah menjadi prinsip. 

Bertahap, efektif, dan efisien adalah tiga hal yang saya catat sebagai indikator teknis penggunaan buku dalam mendampingi anak belajar. Sebagai fasilitator anak belajar, kita punya kewajiban untuk memfasilitasi anak agar cinta pada pengetahuan itu sendiri, tidak terpaku pada teknisnya saja.


Terima kasih diskusinya,



March 31, 2022

Nalar, Nurani, dan Kehendak - narefleksi KAMISAN, 31 Maret 2022

Apa yang sudah kita kerjakan dalam mengupayakan pendidikan? Pada paragraf pertama bagian III ini, Charlotte Mason bertanya apakah benar bahwa karakter generasi saat ini adalah generasi dengan kurangnya rasa tanggung jawab padahal sistem pendidikan sudah dibentuk sedemikian rupa - pendidik disebutkan berusaha menggali, menyiangi, dan menyirami. 
Tapi tetap saja pohon dan buahnya bermasalah, apa yang salah?

Butuh waktu yang tidak sedikit untuk "memeriksa" bagian mana yang salah sehingga buahnya tidak baik - orang yang mementingkan kepentingan pribadi, merusak properti orang lain, hingga memprovokasi orang lain. Padahal, mereka yang disebut "buah yang tidak baik" ini adalah mereka dengan gelar sarjana, mahir menulis dan berorasi, berpikir logis hingga memiliki aneka ketrampilan. 

Kita tidak perlu mendetilkan apa saja pasangan untuk tiap ciptaan, tapi tampaknya memang nalar yang kaku, saat mencoba mencari kebenaran akan suatu isu, cenderung selalu dikawani oleh pemberontakan. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 314

 Memang benar bahwa anak (bahkan diri kita sendiripun) perlu melatih nalar - memberi kebiasaan baik untuk berpikir logis. Tapi kemudian nalar ini bisa jadi sangat berbahaya apalagi jika kita melakukan sesuatu yang tidak benar lalu melakukan pembenaran diri atas dasar nalar.

Berpikir logis tidak melulu tentang menghasilkan simpulan yang mutlak benar. Nalar seharusnya menjadi pelayan, bukan tuan, sehingga nalar tidak berakhir sebagai pembenaran atas apa yang diingini kehendak ingin yakini.

Saya tiba-tiba teringat akan fenomena "kaum pelangi" yang sering saya dapati di media sosial belakangan ini. Saat melihat konten tentang "kaum pelangi" ini, saya tertarik untuk memperhatikan kolom komen, memperhatikan pandangan orang mengenai "kaum pelangi" ini. Banyak sekali komen menghakimi seperti "Tuhan menciptakan hanya laki-laki dan perempuan, kamu apa?", atau saat berita Dorce tutup usia, alih alih melihat komen turut berduka cita, saya malah banyak mendapati komen sejenis "dia dikubur jenis kelaminnya apa tuh?". Yang berkomentar sudah pasti sekolah (lha wong bisa ketik komen), punya pengetahuan (sudah pasti-lha wong bisa menyebutkan basis dasar yang ia yakini benar), terus apa yang kurang?

Nurani. Rasanya saat nalar berjalan sendiri tanpa diiringi nurani, sia-sia saja pengetahuan. Saat membuat komen pada konten-konten tentang "kaum pelangi", jika nalar berjalan berdampingan dengan nurani, maka ketika menemukan hal yang tidak sesuai dengan prinsip sekalipun, kita akan tetap dapat menghargai orang lain sebagai SESAMA MANUSIA.

pict from here

nalar manusia akan berupaya membenarkan dengan segala macam bukti untuk setiap gagasan yang telah dia putuskan untuk pertahankan. Kita tak bisa membebaskan diri dari kecenderungan ini, tak ada jalan pintas mengatasinya. Seni butuh waktu panjang, terutama menguasai seni hidup.~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 314

Bagian akhir dari bacaan hari ini jadi penutup diskusi bulan Maret ini. Kita tidak bisa lepas dari kecenderungan untuk melakukan "pembenaran diri" ini, butuh waktu panjang untuk mendidik nurani dan melatih nalar agar keduanya dapat menjadi pelayan yang baik bagi tuannya yaitu kehendak.

Perih setelah dikuliti bu Charlotte Mason hari ini,



February 11, 2022

Menjadi R̶a̶t̶a̶ ̶-̶ ̶R̶a̶t̶a̶Bagian Dari Sistem (Sebuah Refleksi - KAMISAN, 10 Februari 2022)

Sebagian orang memang cocok menjadi akademisi, sesuai dengan kapasitas kepala mereka. Kita yang lain senang melihat kecemerlangan itu, tapi tidak perlu iri hati, sebab menjadi akademisi bukanlah prestasi tertinggi dalam hidup ini, dan tidak menjamin seseorang tergugah pikirannya oleh pengetahuan dan perjumpaan dengan ide hidup. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 310

Seringkali saat melewati beberapa ruas jalan, ada banyak baliho iklan sekolah-sekolah apalagi jika dekat-dekat tahun ajaran baru. Isinya hampir sama walau beda kalimat, yaitu mempromosikan bagaimana sekolah tersebut akan mencetak generasi-generasi unggul di masa depan. Iklan-iklan tadi membawa saya pada kenangan saat masih memberi les privat untuk beberapa murid - "miss, tolong ya miss, masa dia nilainya tujuh, temannya yang lain ada yang delapan." dan "ini badannya agak hangat miss, tapi gapapa tetap les aja, biar ga ketinggalan pelajaran.". Jadi ya begitulah isi di dalamnya, anak mendapat tuntutan untuk menjadi yang terbaik seakan memiliki nilai 100 adalah prestasi tertinggi dalam hidup.  

Bahkan kisah pasaran, pentas wayang, atau bunga pinggir jalan sudah bisa memantik semangat belajar mereka, kita tidak perlu mengkhawatirkan mereka, Kita pikirkan dulu anak dari kelompok rata-rata. Anak rata-rata ini juga butuh belajar Bahasa Yunani dan Latin, tapi ada jalan lebih mudah untuk itu. Gadis-gadis kecil di surat yang tadi aku kutip sudah mendapatkan poinnya. Ada seorang anak perempuan, murid kesayangan Vittorino, yang bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Latin dengan "kemurnian menakjubkan" pada usia 12 tahun, karena dia telah belajar sejak masih lebih kecil lagi - kita yakin dia bukan produk sekolahan elit. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 310-311

Lalu bagaimana dengan anak dari kelompok rata-rata? Dalam diskusi Kamis kemarin,  saya terpikirkan "apa indikator anak disebut rata-rata?", teringat bagaimana para orangtua membandingkan anaknya dengan anak lain, melabeli yang tidak unggul dengan rata-rata, serta menggunakan nilai untuk mengukur. Saya bersyukur bertemu dengan banyak teman seperjalanan yang meyakini bahwa semestinya membandingkan anak adalah dengan diri anak itu sendiri (lihat pada progressnya) bukan dengan teman sebayanya, karena kita tahu bahwa anak adalah pribadi yang utuh yang masih-masing memiliki fitrahnya sendiri. 

Yang menarik adalah saat ada "celetukan" dari ci Indri "kalau kita selalu ingin jadi yang terbaik, ga akan ada habisnya karena bila di satu tempat kita menjadi yang terbaik, lalu pindah ketempat lain, pasti ada yang lebih baik kan?". Mau sampai kapan jika tolak ukur menjadi pribadi terbaik adalah orang lain dan bukan diri sendiri dan semangat belajar diri sendiri?

Kita tahu mereka dinikahkan di usia dini, tapi mereka sudah tahu banyak tentang karya-karya klasik (meski tidak membacanya utuh), mereka bisa bercakap dalam dua tiga bahasa modern, bisa merawat orang terluka, merawat orang sakit, membuat obat-obatan herbal, memanajemen rumah tangga dengan banyak pelayan, menunggang kuda, bahkan menangkap buruan! Mereka juga bisa menjahit dan merenda dengan pola yang rumit. ~Charlotte Mason, vol.6, hlm. 311

Bagian ini mengingatkan saya pada satu bahasan di buku CYB halaman 162. Di situ saya memberi tanda pada skill yang saya belum dan sudah saya kuasai. Dulu, sewaktu membaca list itu, saya tertawa dan berpikir, semestinya list ini kalau dibuat pribadi masih bisa lebih panjang lagi karena ternyata banyak skill dasar yang saya sendiri belum kuasai - apakah anak yang termasuk "di atas rata-rata" sudah menguasai skill itu? 

Kalau semua orang menjadi dokter, lalu siapa yang menjadi petani menghasilkan bahan pangan yang dibutuhkan manusia? Kalau semua orang pintar memasak dan jadi chef, lalu siapa yang menerbangkan pesawat terbang. Rasanya saat konsep "children are born persons" sungguh dihidupi tiap orangtua, orangtua akan sanggup menerima bahwa semua jenis pekerjaan adalah baik. Seorang teman yang tinggal di Jerman bercerita pada saya bahwa anak - anak Jerman misalnya yang bercita-cita menjadi supir truk sampah saja tetap akan didukung cita-citanya, karena orangtua tahu bahwa tanpa supir truk sampah, sampah-sampah mereka tidak akan terkelola dengan baik. Semua pekerjaan baik dan saat anak dapat mengambil bagian dalam sistem kemasyarakatan dan menjadi berguna sesungguhnya itu adalah prestasi tertinggi tanpa harus menjadi unggul dari yang lainnya. 

picture from here
sekali-sekali ya pakai ilustrasi gambar hewan buat gambarin ilustrasi
orangtua adalah support system anak

Kalau sudah sadar sepenuhnya tentang konsep "children are born persons", pertanyaan berikutnya adalah, siapkah orangtua (saya) mendukung apapun cita-cita anak kelak?



November 18, 2021

Nutrisi Intelektual - KAMISAN, 18 Nov 202

Pengetahuan itu bukan pelatihan, informasi, kajian akademis, atau hafalan di luar kepala. Pengetahuan diteruskan bagai api obor, dari akal budi ke akal budi, dan nyalanya hanya bisa dikobarkan dalam akal budi yang betul-betul berpikir. Kita tahu bahwa pikiran melahirkan lebih banyak pikiran; hanya pada saat ada ide memantik akal budi kita, maka akal budi itu akan tergugah untuk melahirkan ide-idenya sendiri, dan ide-ide kita itu akan melahirkan perilaku keseharian kita. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 303

Hari ini hari pertama diskusi dalam grup kecil. Masuk ke halaman 303 membahas tentang bagaimana pengetahuan masuk ke dalam akal budi. Dalam bacaan dituliskan bahwa pengetahuan ibarat api obor yang diteruskan dari satu akal budi ke akal budi lain-dan hanya dapat berkobar pada akal budi yang betul-betul berpikir. Pengetahuan itu juga nantinya yang akan mempengaruhi perilaku keseharian kita.

picture from here

Bagi kebanyakan orang, perjumpaan itu bisa dilakukan terutama lewat bukubuku; dan kalau kita ingin tahu seberapa jauh suatu sekolah menyediakan nutrisi intelektual bagi para siswanya, kita tinggal melihat daftar buku materi bacaan siswa selama periode belajar tersebut. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 303

Lalu pada bagian berikutnya, digambarkan bahwa buku merupakan "jembatan" antara akal budi orang dewasa dengan anak. Mudah bagi kita mengukur sebuah sekolah (dalam konteks ini kita orangtua yang berperan sebegai guru) seberapa jauh nutrisi intelektual diberikan kepada anak-lihat daftar bukunya.

Berdasarkan bahan bacaan hari ini, saya mencatat beberapa kriteria buku yang dimaksud :

1. daftarnya tidak boleh pendek (artinya tidak boleh hanya sedikit buku yang diberikan),

2. bukunya bervariasi (banyak pun akan menjadi tidak baik saat jenis buku yang diberikan itu itu saja-ditulis bahwa kekuatan kehendak siswa tidak akan berkembang secara holistik),

3. buku yang bukan berbentuk ringkasan,

4. buku yang merupakan tulisan asli pemikir,

5. tidak menggurui dan tidak menyimpulkan (agar siswa tetap berpikir dan mencerna apa yang dibaca),

6. berbentuk sastrawi seperti terutama puisi.

Sama seperti makanan jasmani yang terbagi dalam jenis menyehatkan (kadang tidak enak) dan yang tidak menyehatkan, buku dan kebiasaan pun juga terbagi dalam dua jenis seperti itu, dan padahal biasanya anak cenderung memilih "permen" yang tidak sehat sebagai kudapan mereka sehari-hari. Lalu bagaimana? dipaksa? Tetap paparkan anak dengan nutrisi yang menyehatkan, tetap beriman bahwa anak suatu saat akan "makan" yang sehat yang selalu kita paparkan. Lalu bagaimana dengan "permen" nya? perlu dibatasikah?

Dari diskusi, saya mencatat poin seperti "jangan mencobai anak" artinya, jangan paparkan anak terhadap "permen" itu tadi. Tapi kemudian, kita juga tidak bisa terus-terusan menjauhkan anak dari paparan "permen" itu kan? Menggunakan ilustrasi Putri Tidur dimana ia "dihindarkan" dari jarum pintal oleh raja karena kutukan jarum pintal, saya berpikir bahwa anak semestinya juga "diedukasi" tentang keberadaan "permen" tersebut walaupun kita tidak menyediakan "permen" di rumah. Edukasi bukan berbentuk larangan atau ceramah, tapi bantu anak untuk berpikir sendiri baik buruknya "permen" tadi. Lalu dari ilustrasi tentang Adam dan Hawa yang tetap makan buah terlarang walaupun sudah diedukasi, saya berpikir bahwa sebagai orangtua kita perlu tetap "memberikan supervisi" agar anak tetap dapat melalui cobaan (terutama di awal-awal ia tahu tentang "permen pencobaan" tadi).

 Anak harus membaca agar mendapatkan pengetahuan dan tugas guru adalah memastikan dia tahu. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 303

Jika sudah memenuhi kriteria tersebut di atas, lalu selanjutnya adalah kita sebagai "guru" bertugas untuk memastikan anak "tahu" dengan meminta anak menarasikan bacaan yang ia baca tanpa ceramah, menjelas-jelaskan, apalagi memberi pertanyaan komprehensif. Tapi yang kemudian terpikir adalah, jika tugas guru adalah MEMASTIKAN ANAK TAHU, bagaimana jika dalam narasinya, guru mendapati anak tersebut "belum tahu", apa yang mesti dilakukan jika bertanya komprehensif maupun menjelas-jelaskan tidak dianjurkan?

Dari cerita kawan-kawan, saya belajar bahwa saat mendapati anak yang dari narasinya tampak ia belum tahu, pertama yang mesti kita pastikan adalah akar penyebab mengapa anak tidak tahu, apakah saat membaca anak belum fokus, jika belum fokus, maka kita "benahi" dl bagian itu. Tapi bolehkah kita bertanya "namanya tokohnya siapa?" untuk memastikan anak paham? Sebaiknya jangan. Jika anak mengalami kesulitan mengingat nama tokoh misalnya (padahal dalam beberapa paragraf yang lalu kita tahu bahwa siswa-siswa Charlotte dapat menghafal ratusan nama dengan ejaan yang tepat), kita dapat membantu anak dengan beberapa metode seperti meminta anak mencatat nama yang muncul dalam bacaan yang ia baca. Prinsipnya tetap, kita tidak boleh merendahkan anak menganggap mereka tidak paham apa yang kita pahami lalu berusaha menjelas-jelaskan.


Wah, diskusinya dalam sekali ya, ngalor ngidul dari dongeng sampai Adam dan Hawa, tapi seru, terima kasih kawan-kawan CMid Semarang,



November 04, 2021

(bukan) Dunia Yang Jahat!

pict. from here

"Dunia ini jahat." Begitu kata lebih dari separuh penduduk penghuninya. "Dunia ini jahat." Itu juga yang dikatakan mereka yang di sekitarku.

"Aku tak peduli," Begitu kubilang saat mereka khawatir. "Tenang saja aku bisa jaga diriku koq," Tetap saja mereka khawatir.

Katanya, aku polos Mereka kira aku bakso? Polos tanpa mie? Mereka kira aku kain kafan? Polos tak bernoda? "Ah, bisa bisanya mereka saja itu!" Kataku memganggap remeh

"Tapi dunia memang jahat!" Rutukku saat malam tiba- Malam setelah ratusan malam saat banyak orang mengkhawatirkanku. "Dunia memang jahat!" Pikirku saat dunia memaku ku ke dalam lubang terdalamnya. "Dunia memang jahat!" Kata akal rasionalku ketika ia kembali dari jeratan si emosi.

"Dunia memang jahat!" Kata pikiranku yang ingin aku tidur tapi tak bisa karena sibuk memikirkan dunia yang jahat.

Tapi lalu aku berpikir lagi, "Ah, bukan dunia yang jahat! Tapi orang orangnya! Yea ga semua, tapi banyak!"
dan
"Ahhh pantas saja aku lebih suka film dengan musuh zombie ketimbang psikopat, karena MANUSIA MENYERAMKAN!"
Tapi setidaknya, dengan adanya yang jahat, aku jadi tahu bahwa yang baik juga ada.


Aku, masih berkutat dengan pikiranku,



October 07, 2021

Banteogapepra - KAMISAN, 7 Oktober 2021

"Soal pendidikan, kondisi kita memprihatinkan. Beberapa waktu lalu di Across the Bridges, kita membaca tentang seorang siswa cerdas dan bersemangat yang telah lulus sekolah dengan predikat memuaskan tapi setelahnya mengalami penurunan kondisi yang drastis." ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 300

 Membaca bagian ini mengingatkan saya masa ketika saya menjadi guru. Waktu itu, saya menjadi wali kelas anak dari pemilik yayasan sekolah. Mendengar dari guru sebelumya bahwa anak ini memiliki "bakat" untuk membully temannya bahkan berani mengancam guru "I'll tell my mom so she will deduct your sallary." saya waktu itu bersemangat sekali untuk "mendidik" anak ini supaya tidak hanya tumbuh jadi anak yang cerdas tapi juga punya hati - bajik dan bijak kalau meminjam istilah yang sering Bu Ellen katakan. Entah karena beruntung atau apes, kecelakaan dan "cacat" pada kaki saya di tengah tahun ajaran mengajar anak tersebut seperti menumbuhkan empatinya. Saya tidak mendapati anak itu mengancam saya selama setahun saya menjadi wali kelasnya, ibunya yang ketua yayasan pun sering memanggil saya bukan untuk dihukum tapi bertanya seperti "Ms. Glo, yang kemarin Ms Glo cerita soal wisata ke anak-anak itu dimana?" juga hal seperti "Batik yang Ms.Glo ceritakan tu Batik yang dari mana?". Saya bersyukur waktu itu tidak hanya berhasil menerapkan "smart is nothing when you dont have attitude." tapi juga dapat membuat anak itu "melokal" dengan membicarakan wisata lokal, produk lokal, saat sebelumnya topik obrolan anak-anak hanya seputar piknik ke Disneyland dan destinasi lainnya di luar negri. 

"Kharisma wajah adalah manifestasi dari pemikiran, perasaan, inteligensi; tapi ketiganya sudah tak kita lihat lagi terpancar dari wajah-wajah yang hidup di hari ini, yang ada hanyalah orang-orang yang secara fisik sehat tapi dingin, acuh tak acuh." ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 301

Kalau ditanya bagaimana anak itu setelah bertahun-tahun saya resign dari sekolah, kabar yang saya dengar adalah ia "berhasil" membuat seorang temannya keluar dari  sekolah karena tidak tahan menjadi sasaran bullying terus. Waktu mendengar berita itu, saya kaget, bagaimana bisa seorang anak kelas satu SD (atau 2 kurang ingat pastinya), terpikir untuk mengambil tempat pensil temannya, membawanya lari sambil dikejar temannya yang memiliki tempat pensil itu lalu begitu sampai di lantai teratas, ia menjatuhkannya dan berkata "tuh ambil". Padahal saya ingat betul bagaimana manisnya anak itu saat masih TK. 

Tapi lalu bagian bacaan hari ini juga mengingatkan saya tentang bagaimana orangtua juga berperan penting pada pertumbuhan anak. Guru yang hanya bertemu 3-5 jam sehari di sekolah tidak akan banyak pengaruhnya dibanding orangtua yang memiliki lebih banyak waktu dengan anak di rumah. Pemikiran ini juga yang akhirnya membawa saya untuk sepenuhnya mengambil peran dalam pengasuhan Keona. Saya tidak bisa pasrah hanya pada sekolah saja karena ada banyak hal yang semestinya menjadi porsi orangtua. Jika banyak orangtua beranggapan bahwa belajar adalah "mengerjakan lembar kerja", sejak mengenal banyak metode pendidikan (Charlotte Mason salah satunya), ternyata belajar itu adalah semua hal yang dilakukan anak. Anak dapat belajar kapan saja dan dimana saja termasuk hal kecil seperti mencuci piring misalnya.

Maka ketika ada banyak orangtua mengeluhkan tentang anaknya "yang tidak peka", pertanyaan berikutnya adalah "apakah pernah orangtuanya memadamkan kemauannya belajar lewat rasa ingin tahunya?" seperti misalnya "ga usah nyuci piring, nanti mama harus nyuci 2 kali malah repot" - tanpa sadar, kalimat itu akan "memadamkan" tidak hanya rasa ingin tahu dan kemauannya belajar tapi juga "kepekaan" dan "empati" anak.

pict from here

banteogapepra [ban-teo-ga-pe-pra]

noun.  orang dengan banyak teori namun tidak pernah mempraktekannya ~ Stephen 

Mendengar sebuah kata tadi di dalam diskusi, banteogapepra, kata itu seakan menampar saya, mengingatkan betapa saya hafal dan tahu banyak teori pengasuhan anak, tapi NOL BESAR dalam hal PRAKTEK ke anak sendiri - masih tertatih untuk bajik dan bijak berjalan beriringan terutama dalam pengasuhan anak. Maka, lagi-lagi kajian Kamisan mengingatkan saya akan tujuan saya memilih "sepenuhnya" mengasuh Keona. 

Terima kasih teman-teman untuk diskusinya,



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...