January 28, 2021

Berjalan dalam Iman - KAMISAN 28.01.2021

Kita telah berhenti beriman pada akal budi, dan walaupun kita tidak bicara terus terang bahwa “otak mensekresi pikiran sama seperti liver mensekresi empedu”, tapi tetaplah otak jasmaniah dan bukannya akal budi spiritual yang menjadi sasaran kita dalam pendidikan; karena itu “materi duduk di pelana dan menunggangi umat manusia”,  dan kita berbalik mengimani bahwa ide atau pengetahuan tak akan bisa menjangkau akal budi anak-anak. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 259-260

Di awal karier saya sebagai seorang guru, saya hanya bermodalkan "suka anak-anak" dan mengimani bahwa anak adalah ember kosong atau kertas kosong. Yang saya tahu dan saya imani waktu itu bahwa sebagai guru, saya berperan menjadi krayon warna - warni yang mengisi si kertas kosong tadi dan berprinsip bahwa jika warna yang saya coretkan tidak baik, maka bekal masa depan anak itupun juga tidak baik.  Iman yang salah itu akhirnya membawa saya jauuh dari hakikat anak sesungguhnya yaitu children are born persons. Saya selalu berupaya "menyuapi" anak karena khawatir ilmu pengetahuan yang saya sampaikan tidak dapat menjangkau akal budi mereka, sehingga ceramah panjang dan rentetan kegiatan yang fun akhirnya menjadi modal saya dulu mengajarNamun kemudian, prinsip tersebut justru membuat saya kelelahan - bagai krayon yang mulai patah, dan sumur yang mulai kering tak bisa lagi mengisi si ember kosong - exhausted

Namun seorang guru tentu tidak digerakkan oleh kesombongan, melainkan oleh hasrat untuk melayani. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 260

Sadar bahwa modal saya "suka anak-anak" kurang untuk menjadi guru, maka saya membuka diri untuk belajar - ditawari berbagai macam pelatihan saya selalu "iya", "mau". Tujuan awalnya memang karena sadar bahwa modal saya kurang, saya ingin memperlengkapi diri untuk dapat melayani anak-anak itu. Sayangnya, tujuan itu waktu itu tidak disertai dengan sikap kerendahan hati. Setelah sadar bahwa "ilmu" yg tadinya untuk memperlengkapi diri berubah menjadi kesombongan, saya butuh dua tahun untuk mendetoks kesombongan - merasa sudah tahu lebih banyak dibanding di awal saya menjadi guru - tahu banyak metode, tahu bahwa anak bukan kertas kosong, dsb. Saya tersesat untuk kedua kalinya. 

picture from here

Imanilah akal budi dan biarkan pendidikan menyambar langsung bagaikan petir ke akal budi siswa. Konsekuensinya, buku-buku harus digunakan, karena siapa yang berani menyombong bahwa dia mampu mengajarkan semua mata pelajaran dengan kurikulum lengkap dengan pemikiran yang orisinil dan pengetahuan yang tepat seperti yang ditunjukkan oleh para penulis buku yang menulis tentang bidang yang mereka geluti seumur hidup? ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 260

Berjalan di jalan yang salah sebanyak dua kali itu melelahkan. Saya harus berputar balik ke jalan awal untuk dapat menemukan jalan yang benar. Kalaupun sekarang sudah mulai berada di jalur yang benar, tetap saja jalannya tertatih karena benturan untuk menjadi rendah hati dan membuka diri untuk menjadi pembelajar abadi membuat langkah yang diambil menjadi tidak ringan - belum lagi usaha untuk mengendalikan diri sendiri yang terus masih harus dilatih. Setiap orangtua memiliki kesulitannya sendiri - saat mendengar Bu Ellen mengatakan hal itupun saya juga merasa bahwa memang kita tidak seharusnya menggunakan alat ukur yang sama untuk membandingkan diri sendiri dengan orangtua yang lain - sama halnya ketika saya memutuskan untuk tidak membandingkan Keona dengan anak lain, karena tentu saja perkembangan tiap anak pasti berbeda. Satu hal yang membuat saya lega adalah saat ini saya memiliki teman seperjalanan sehingga jalan panjang menemani Keona dalam proses belajarnya menjadi terasa lebih ringan. 

Terima kasih kawan-kawan CMid Semarang untuk diskusinya yang menggetarkan jiwa hari ini, 




January 14, 2021

Tidak Merendahkan Anak - KAMISAN pertama 2021

Dalam pengajaran sains juga kita perlu menyadari bahwa jalan menuju rahasia-rahasia alam bukanlah melalui kawat berduri teori-teori yang bergulung-gulung rumit sebagaimana biasanya diajarkan, melainkan lewat terjun ke lapangan (field work) atau cara-cara pengamatan langsung lainnya, disertai ilustrasi dan pencerahan dari buku-buku sastrawi. ~ Charlotte Mason - vol 6, hlm. 256

Keracunan sekolah yang sempat dibahas dalam diskusi hari ini, saya definisikan dengan terbiasa membaca buku pelajaran sekolah dan terbatas paham teori saja. Jika mundur kembali ke masa persekolahan dulu, saya tertawa saat mengingat diri saya sendiri membaca buku paket olahraga, menghafal berapa panjang dan lebar lapangan badminton serta teori lainnya yang porsinya jauh lebih banyak daripada prakteknya. Buku yang dibacapun hanya sekedar membeberkan fakta tanpa disertai penulisan sastrawi. Lalu, saya juga jadi teringat beberapa waktu lalu juga sempat berbincang tentang Sejarah Joseon Raja CheolJong dengan teman masa sekolah dulu. Betapa lucunya saat mengingat buku catatan sejarah saya dibuang oleh Guru Sejarah karena ketauan dipakai mencontek :)) ya, akibat terbiasa membaca fakta pendek dan sekedar menghafal lalu lupa, membuat saya sampai hari ini masih berjuang untuk dapat comprehend terutama saat sesi membaca bersama Keona :D saya berjuang.

Bersyukurnya, buku-buku yang disebut living book itu memiliki kata-kata yang tidak disederhanakan agar dapat ditelan oleh anak. Dengan begitu, sayapun belajar, karena banyak kata-kata yang lalu kemudian menjadi pertanyaan bagii Keona "ini artinya apa ma?" atau "itu apa ma maksudnya?". Saya bersyukur karena meski tertatih berlatih kemampuan comprehend tadi, setidaknya melalui diskusi diskusi kami, selain bonding, kami juga belajar banyak hal.

Kita pikir kita akan lebih didengar kalau kita mengulang-ulang dan menekan-nekankan, menjelas-jelaskan dan bercerita panjang lebar. Semua itu kita lakukan bukannya karena kita suka mendengar suara kita sendiri, tapi kita merendahkan pengetahuan, kita merendahkan anak-anak, dankita tidak paham bahwa akal budi dan pengetahuan adalah dua tapi satu yang terikat bagaikan bola mata dan rongganya, tidak bermakna jika berdiri sendiri-sendiri. ~ Charlotte Mason - vol 6, hlm. 258

Lalu, jika kitapun sudah memilih untuk belajar dan melalui proses belajar mengajar menggunakan buku-buku yang hidup yang disertai bahasa sastrawi tadi dengan alasan buku tersebut tidak merendahkan anak, maka kali ini pertanyaannya kembali ke diri sendiri sebagai teman anak belajar. 

"Jika buku ini tidak merendahkan anak dengan menggunakan kata dan kalimat yang seperti bubur sudah dikunyahkan dulu, apakah lantas kita juga sudah tidak merendahkan anak? Mengunyahkan buku yang ia baca agar mudah ia telan?"

 Sepanjang diskusi, saya memikirkan pertanyaan ini (beruntung hari ini peserta diskusi banyak ya, jadi perenungan saya bisa dalam sambil tetap mendengarkan narasi teman-teman, hehehe). Seringkali tanpa saya sadari, sayapun "mengulang ulang" sebuah penjelasan karena merasa Keona belum paham. Wah... rasanya dengan begini, saya tertegur secara tidak langsung untuk tidak mengulanginya.

pict from here

Seberapa kaya diet bagi akalbudi ini telah aku sampaikan dan kita ingat betapa Dr. Arnold mendesak disediakannya “bacaan yang sangat bervariasi” di ketiga bidang pengetahuan: pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan tentang manusia, dan pengetahuan tentang alam semesta. Charlotte Mason - vol 6, hlm. 257

Pada akhirnya (sebenarnya itu bagian tengah bacaan ding, cuma sengaja saya letakkan di akhir supaya jadi kesimpulan akhir), Charlotte Mason menegaskan sekali lagi  bahwa bacaan yang diberikan ke anak harus bervariasi di seputar pengetahuan tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta. 


Selamat menjalani tahun 2021 dengan membaca dan mendampingi anak ya (ngomong ke diri sendiri - dan ke yang baca juga boleh, hehehe),



December 18, 2020

(don't) Take Someone For Granted - refleksi Drama Korea "18 Again

Saat Bulan Oktober 2020, selain Start Up, feed saya dipenuhi oleh postingan cuplikan drama berjudul 18 Again. Melihat cuplikan-cuplikan yang kebanyakan menyoroti pemain-pemain drama yang masih muda dan setting lapangan basket sekolah membuat saya mengira drama tersebut bercerita tentang anak muda dalam masa sekolahnya. Namun, awal Desember ini saya mencoba menonton drama tersebut, hanya iseng penasaran awalnya lalu saya kaget bahwa ternyata tema drama ini secara keseluruhan adalah keluarga - memang pemainnya masih muda-muda karena menceritakan pasangan anak SMA yang 18 tahun lalu terpaksa mengubur mimpi karena memiliki anak kembar. Singkatnya, pasangan ini 18 tahun kemudian di ambang perceraian karena masing-masing menyesali pilihannya untuk bersama 18 tahun lalu sehingga semua mimpi terkubur. Si ayah yang jengkel dituntut cerai, melampiaskan kejengkelannya dengan bermain basket di lapangan, dan tiba-tiba ia kembali ke tubuhnya saat berusia 18 tahun - yang membuatnya terpaksa bersekolah di sekolah yang sama dengan anak kembarnya. 
picture from here
Hong Dae Young dan Jung Da Jung 18 tahun yang lalu saat masih berpacaran

Melalui hari-hari sebagai anak SMA lagi, si ayah awalnya berpikir untuk meraih mimpinya menjadi pemain basket yang tertunda 18 tahun lalu karena harus bertanggung jawab akan kehamilan pacarnya. Tapi, alih-alih mengejar mimpi, ia justru 'sibuk membantu' kedua anak kembarnya saat kesulitan dan menjadi teman bagi si kembar.

Dari cerita drama ini, saya banyak berefleksi :

1. DON'T take someone for granted
Ini ga cuma antar relasi dengan pasangan, tapi juga anak ke orangtua, orangtua ke anak, dan teman. Banyak banget scene yang ngegambarin gimana (hampir semua) tokoh menyesal karena pernah ga bersyukur memiliki keluarga dan seenaknya aja.

2. Omongan bisa jadi PETAKA kalau tidak hati-hati - yang tersisa hanya kenangan dan kita ga bisa balik ke kenangan itu lagi.
Hong Dae Young sempet bingung, apa alasan istrinya minta cerai. Kalau karena hidup susah, mereka sudah hidup susah dari awal, aneh kalau setelah 18 tahun baru nuntut cerai. Ia baru tahu dari sahabatnya kalau alasan istrinya minta cerai adalah karena kata-kata yang ia lontarkan saat sedang mabuk. Selain itu, hubungan antara ayah anak juga tidak baik karena di mata anak-anak, si ayah hanya bisanya mengomel. Petaka terjadi ketika kita tidak dapat menjaga lidah.

3. Ketika kita tidak dapat memilih keputusan yang benar, maka buatlah keputusan yang kita pilih jadi benar - jangan disesali kemudian hari
Pesan tersirat yang saya dapat dari drama ini adalah hidup menjadi orang baik saja tidak cukup, kita juga mesti berhikmat terutama memilih apa yang mesti dilakukan atau tidak dilakukan. Dae Young dan Da Jung keduanya digambarkan sebagai orang baik yang menyenangkan, namun karena pilihan-pilihan yang mereka buat dalam hidup tidak disertai dengan keyakinan akan kebenarannya, maka sifat baik mereka terasa sia-sia - yang ada hanya hidup dalam penyesalan.

4. Kita adalah cermin bagi pasangan kita.
Saat menonton drama ini saya teringat percakapan Barrack Obama dan Michelle Obama yang beberapa waktu lalu sempat booming, kira-kira seperti ini :
Barrack Obama dan Michelle makan di restaurant yang ternyata milik mantan Michelle Obama. Barrack Obama meledek istrinya dengan berkata "Wah, kalau kamu menikah sama dia (si pemilik resto), pasti kamu sekarang bakal puas setiap hari makan makanan enak.". Candaan suaminya itu dibalas Michelle dengan, "Salah... Justru kalau aku menikah dengan dia, sekarang yang jadi Presiden Amerika bukan Barrack Obama tapi dia.".
Maka, jika ada kaum suami yang mengeluh istrinya sekarang sudah jelek, gembrot, dan bau bawang, cobalah bercermin dan bertanya "berapa gaji yang kuberi? cukupkah untuk dia perawatan ke salon? pernahkah aku memberinya waktu sebentar saja hanya untuk bersenang-senang? pernahkah aku memberinya pakaian bagus?" jika jawaban dari semua pertanyaan itu tidak, maka jangan harap "angan-angan" memiliki istri cantik paripurna menjadi nyata. Vice versa, jika ada istri yang mengeluh tentang pengahasilan suami, suami yang tidak betah di rumah, suami tidak sukses di pekerjaan, cobalah merenung pertanyaan sederhana seperti "sudah sejauh apa aku mendukungnya? apakah aku mengatur keuangan dengan baik, mari lihat catatan pengeluaran! Apakah aku memperhatikan suamiku sama seperti aku memperhatikan anakku?" - nah jawab sendiri ya... Intinya, kalau pasanganmu buruk, coba ngaca dulu alih-alih salahin keburukan pasangan.

5. Untuk para kaum muda, drama ini membawa pesan "hidup seperti apa yang akan kamu jalani jika saat muda kamu ga hati-hati".

pict from here
si papa muda dan kenangannya saat menemani salah satu anaknya berkegiatan di sekolah-padahal seharusnya di usia itu ia sedang mengalami masa keemasan menjadi pemain basket namun harus pupus karena punya anak.

Wahhh, panjang sekali refleksi kali ini dan rasanya masih banyak pesan tersirat dari drama ini, coba deh nonton sendiri aja karena saya bersyukur memiliki waktu untuk merenungi drama ini lebih dari sekedar hura-hura karena pemainnya tampan-tampan :D

Happy Weekend, people


December 11, 2020

Secangkir Latte - Menutup Diskusi Kamisan Terakhir di tahun 2020

Sama luar biasanya juga kemampuan anak-anak untuk memusatkan perhatian, menyimpan pengetahuan, dan merespons secara cerdas diet mental yang mereka konsumsi. Kekuatan besar yang langsung terlihat aktif bekerja adalah tentu saja atensi, dan setiap anak dari segala usia, bahkan anak-anak yang dibilang “terbelakang” pun, tampak memiliki daya perhatian tak terbatas yang bekerja tanpa harus ada nilai, hadiah, ranking, pujian, atau ancaman. ~ Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 255

Beberapa minggu yang lalu juga bacaan Kamisan membahas tentang kemampuan alami yang pada dasarnya sudah dimiliki anak (lihat tulisan yang ini). Lalu kali ini diulangi lagi dengan pernyataan bahwa jika kemampuan ini dikenali dengan baik, guru akan dapat melakukan  hal besar. Guru juga tidak perlu memberikan hadiah, pujian, atau hukuman dan ancaman kepada anak untuk dapat membuatnya mau belajar. Jika kemampuan dasarnya terstimulus dengan baik, maka dengan sendirinya anak akan dapat belajar dengan perasaan senang. 

Kita tidak perlu fun learning, atau menggantikan proses belajar dengan kegiatan seni dan prakarya atau senam atau berenang atau kegiatan fisik heboh lainnya, hanya karena dibilang anak-anak lelaki suka itu dan mereka tidak suka belajar. ~ Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 255

Sebelum mengenal metode Charlotte Mason, saya selalu beranggapan bahwa belajar yang menyenangkan harus disertai dengan rancangan pembelajaran fun learning sehingga untuk mencapai tujuan tersebut, saya biasanya memutar otak membuat kegiatan dengan tema-tema menyenangkan. Ternyata yang dulu saya yakini benar ini belum benar. Membuat anak menjadi senang belajar tidaklah sama dengan menyiapkan kegiatan yang menyenangkan sebagai "bungkus" dari kata belajar. 

Kurikulum luas yang saya gagas dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan tertentu ini-itu dari akal budi, dan menariknya adalah dalam menerima kurikulum yang berisi banyak mata pelajaran, siswa sama sekali tidak bingung, tidak membuat kesalahan konyol, dan tidak pernah mencampuradukkan, misalnya, fakta dari pelajaran bahasa Inggris dengan fakta dari pelajaran sejarah Prancis. ~ Charlotte Mason, vol. 6, hlm. 256

Maka, hasilnya adalah anak dapat "mencerna" pengetahuan dengan baik jika ide yang hidup yang disajikan, disertai dengan mengembangkan bagian-bagian akal budi (Charlotte Mason, vol.6, hlm. 255). Saat anak dapat mencerna dengan baik pengetahuan yang ia dapat, maka anak tidak akan melakukan kesalahan kecil nan konyol seperti kutipan di atas.

picture from here

Menulis paragraf di atas membawa saya pada imajinasi membuat latte. Ide yang hidup dan pengembangan akal budi seperti halnya esspresso dan steamed milk yang diaduk jadi latte, komposisi yang pas akan menciptakan sesapan yang nikmat.

Terima kasih untuk diskusi terakhir di tahun 2020 ini kawan-kawan CMid Semarang :)





LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...