March 18, 2021

Anak - Anak = Masa Depan Negara - KAMISAN 18 Maret 2021

demokrasi/de·mo·kra·si/ /dĂ©mokrasi/ n Pol 1 (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat; 2 gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara;
sumber : KBBI online

Dalam bacaan disebutkan bahwa dengan adanya demokrasi yang baru (yang tidak lagi mengompori sebatas kepentingan atau keuntungan diri sendiri agar mereka tergerak melakukan tindakan publik dan menyentuh rasa puitis dan heroism, yang berkuasa menggugah hati sebagian besar orang) yang nantinya akan dapat membangun "Yerusalem baru" - sebuah penggambaran akan wilayah hijau nan subur. Namun berbicara mengenai demokrasi yang terjadi saat ini, demokrasi yang ada adalah kebenaran yang berdasarkan penilaian publik - yang dianggap publik benar, maka itulah demokrasi. Sehingga membantu anak untuk setidaknya paham politik untuk dapat memenangkan suara publik atas ide ide baik yang dimiliki menjadi hal essensial - tidak melulu tentang terjun langsung ke dunia politik, tapi paling tidak anak mengenal politik baik maupun buruk yang terjadi di masyarakat. 

Mengedukasi anak mengenai politik selain mempersiapkan anak - anak untuk menjadi individu yang dapat memenangkan suara publik, juga agar dapat anak dapat memiliki pemikiran kritis yang dapat menyuarakan ide baik sehingga adanya kontrol pada kekuasaan pemerintahan yang sedang berlangsung.

Untuk mencapai itulah, kita semua perlu membaca buku-buku yang sama - dalam bahasa ibu kita, bukan dalam bahasa Latin atau Yunani, karena toh mayoritas warga kita tidak akan punya waktu belajar bahasa-bahasa klasik itu sampai fasih, dan – terus terang – begitu juga rerata siswa-siswa kita di sekolah yang terbaik sekalipun. .....

memasukkan daftar buku yang semua anak harus ketahui, semua lukisan yang harus diakrabi, pengetahuan sejarah dan riwayat perjalanan yang perlu diakrabi, semua pemahaman tentang fenomena alam yang semua harus siap hadapi sewaktu-waktu. 

~ Charlotte Mason, vol.6, hlm. 265 & 266 

Maka jelas sudah bagaimana cara mengedukasi anak-anak itu yaitu dengan menghidangkan buku berkualitas agar anak dapat belajar. Bu Ellen juga sempat menceritakan tentang isi buku Trilogi Cicero yang membahas tentang demokrasi - kemudian memberi ilustrasi juga lewat tokoh dalam buku tersebut. 

Proses pemerataan dimulai dari diri sendiri dulu - menjadi aneh dengan ide ide baiknya), stand out of the box, lalu ketika kita punya pengaruh dalam masyarakat maka tularkan semangat aneh tersebut.

picture from here

Agaknya bahasan Kamisan kali ini membuat saya sedikit pening :D sehingga poin-poin yang saya catat tidak terlalu banyak. Oh tapi ada quote dari mba Putri yang saya catat untuk menutup dan meringkas bahasan Kamisan kali ini :

"Membentuk karakter anak adalah cara membentuk karakter negara."

Selamat menjelang akhir pekan,



 

February 25, 2021

Buku yang Menyatukan Kita - KAMISAN 25.02.2021

"Mau kemana, Glo?"
"Perpus, ikut?"
"Mau, sekalian bahas tugas yok."
"Buku apa yang kita bahas nanti?"
"Drama apa yang mau untuk presentasi?"
...

Kamu suka genre gothic
Aku suka genre romantis
Kamu mendengarkanku bercerita kisah manis karya Shakespeare
Aku mencatat hal menarik dari ceritamu tentang Mary Shelley dan Frankenstein-nya
Kamu dan intepretasimu tentang kehidupan
Aku dan intepretasiku tentang perjuangan

Kita menghabiskan waktu mengobrol tentang banyak hal dari buku yang kita baca bersama
Kamu bilang Frankenstein kasihan,
aku justru kasihan dengan penulisnya dan latar belakang kehidupannya

Wah ternyata ada perbedaan dari intrepetasi kita tentang buku yang sama-sama kita baca untuk tugas kuliah waktu itu ya,
kukira kamu akan satu pemikiran denganku,
kamupun mengira aku akan sepemikiran,
tapi ternyata intepretasi kita berbeda, padahal bukunya sama
dan karena berbeda interpretasi itu maka presentasi tugas kita jadi hidup, kaya akan ide
Kamu dapat nilai A,
Aku juga

Lalu kita seakan ketagihan,
menghabiskan waktu menunggu jam jam kuliah berikutnya di kamar kos mu untuk membaca buku bergantian,
atau duduk di perpustakaan dengan setumpuk buku yang akan dibaca.
Begitu hingga akhirnya kita dapat menyelesaikan 4 tahun bersama.

"Sudah baca Charles Dickens, Glo?"
"Sudah, aku baru beli bukunya kemarin."

Aku bersyukur minatku akan buku meningkat,

Terima kasih, kawan.

julukan dosen waktu itu untuk kami bertiga adalah "trio mini". Diskusi hari ini mengingatkan saat-saat mengerjakan tugas kuliah bersama, satu buku namun kaya ide menjadikan presentasi kami menjadi kaya.

teman-teman seangkatan literatur dulu, sesaat sebelum presentasi - sampai sekarangpun masih in touch khususnya kalau membahas buku, drama, dan karya sastra lain.

Friendship is born at that moment when one person says to another:
"What! You too? I thought I was the only one." ~ C.S. Lewis

Dulu, saya kira saya satu-satunya kutu buku aneh yang suka nongkrong berlama-lama di toko buku, ternyata karena buku dan karya sastra, saya justru punya kawan sesama pecinta buku, hehehehe. Setiap mengobrol selalu isinya "bedah buku", sampai selalu kalimat kami "bedah aja sekalian semuanya, bedah, bedah!".

Jadi kangen masa memburu buku baru, naik bis dari kampus ke mall cuma buat beli buku, dan nongkrong berlama-lama di perpustakaan,


February 18, 2021

I Know that I Know Nothing - KAMISAN 18.02.2021

Diskusi panjang hari ini dipersembahkan oleh bacaan satu paragraf - yang karenanya sayapun jadi ikut-ikutan mikir panjang.

tujuannya untuk membekalkan pengetahuan yang relatif mendalam untuk dua tiga bidang saja supaya siswa lulus sebagai manusia Inggris yang beres; dengan kata lain, guru memandang sekolah sebagai tempat mengasuh dan membentuk watak (warga negara) alih-alih sebagai tempat memperoleh pengetahuan. ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.264

Awalnya saat membaca bagian akhir bacaan ini, saya teringat kutipan yang dibagikan oleh bu Ellen beberapa waktu yang lalu, isinya demikian :

If children started school at six months old and their teachers gave them walking lessons, within a single generation people would come to believe that humans couldn't learn to walk without going to school. ~Geoff Graham

Saya yang dulu  (dan mungkin banyak orangtua) selalu beranggapan bahwa anak butuh sekolah - saya teringat bagaimana saya membuat sesi pelajaran dulu semasa menjadi guru seperti stimulus motorik kasar kepada anak di bawah dua tahun seakan hal tersebut adalah sesuatu yang memang dilakukan di sekolah - tidak bisa dilakukan di rumah. Saat diskusi, saya merenung betapa menyedihkannya diri saya karena tanpa sadar membuat orangtua berpikir bahwa "untuk belajar seperti berjalan saja harus memasrahkan anak ke sekolah." - juga tanpa sadar mengintimidasi salah satu orangtua dengan berkata "kalau bapak dapat menstimulus anak bapak sesuai dengan capaian usianya secara mandiri di rumah, ya silahkan, tandanya bapak tidak perlu menyekolahkan anak bapak terlalu dini, namun kalau bapak merasa bapak tidak dapat memberi stimulus yang sesuai dengan usia anak bapak, ya saran saya disekolahkan saja." saat ditanya "kenapa saya harus menyekolahkan anak saya sejak dini?"

picture from here

Diskusi berlanjut dengan pendapat dan beberapa pertanyaan yang dilontarkan teman-teman CMers Semarang. Saya mencatat beberapa point penting sebagai simpulan dari diskusi tadi, yaitu :

1. Mendengar 

Jika dalam diskusi minggu lalu "mendengar" diperlukan sebagai skill dalam menjalin komunikasi, dalam diskusi kali ini, mendengar diperlukan untuk menemukan blind spot yang seringkali tidak kita lihat terutama dalam menjalani proses belajar - dan untuk itu diperlukan kerendahhatian untuk mau mendengar kritik, saran, atau pendapat orang lain yang bisa saja tidak terpikirkan oleh kita karena tidak tampak di mata kita - blind spot. 

2. Tidak ekstrim kanan kiri

Dalam mempelajari banyak hal, terkadang kita menemukan sesuatu yang kita anggap benar kemudian meyakininya dengan keyakinan kuat bahwa hal tersebut sudah yang paling benar. Saat itu terjadi, biasanya kita akan menjadi abai pada sisi yang tidak kita yakini kebenarannya tersebut. Sengaja saya mengambil ilustrasi gambar langit dilihat dari dua jendela di atas. Dari jendela satu dengan jendela yang lainnya, langit tampak berbeda, padahal langit yang dilihat hanya satu - tapi tampak berbeda jika dilihat menggunakan perspektif ekstrim kanan maupun kiri. Kesimpulan yang saya catat dari diskusi tadi adalah bukan untuk menjadi seseorang yang berada di tengah tanpa menjadi ekstrim kanan atau kiri, namun ada yang namanya kebenaran yang utuh - tidak ekstrim kanan kiri, kebenaran yang melingkupi segala sesuatu, semua ada sesuai pada porsinya bukan untuk saling menutupi satu sama lain - karena pemilik kebenaran ini sendiri adalah Tuhan. 

"The only thing that I know is I know nothing." ~ Socrates

Saya menutup refleksi dan perenungan saya siang ini dengan sebuah kalimat dari Socrates yang tadi juga sempat diucapkan Bu Ellen. Dengan rendah hati menyadari bahwa kita tidak tahu apa-apa, bahkan dibandingkan dengan kebesaran Tuhan, maka semoga proses belajar tetap menjadi proses yang menggairahkan untuk terus dilakukan. 


Selamat Hari Kamis,



February 11, 2021

Dua Telinga Satu Mulut - KAMISAN 11.02.202

Kita semua pernah memiliki pengalaman seperti itu, dan dengan malu mengakui bahwa kita juga pernah membuat orang lain kesulitan karena tak berhasil-berhasil menemukan topik yang menarik minat kita. Ini satu persoalan yang mesti guru pertimbangkan. Ada ribuan topik yang bisa kita pelajari secara memadai sampai bisa membicarakannya secara cerdas; tapi kok kita malah menyiapkan kertas ujian dengan pertanyaan komprehensif yang umum, sehingga yang para siswa kita cari sebatas informasi sepotong-sepotong supaya bisa menuliskan jawaban esai yang ala kadarnya? ~ Charlotte Mason, vol.6, hlm.261

Sampai sebelum diskusi, saya meyakini bahwa mudah saja bagi seseorang dengan karakter ekstrovert untuk memulai sebuah pembicaraan - jauh lebih baik daripada orang - orang dengan karakter introvert. Namun, dalam bahan bacaan diskusi kali ini, Charlotte Mason menegaskan sekali lagi pentingnya pengetahuan dalam kehidupan sosial kita - jelas sudah mengapa memberikan pertanyaan komprehensif (yang minggu lalu dibahas), menjadi kurang relevan dalam membangun kemampuan anak seperti kemampuan sosialnya. Saya membayangkan percakapan orang yang terbiasa menjawab soal komprehensif seperti ini :

A : "wah, kamu kerja dimana?"

B : "di kantor bla bla..., kalo kamu?"

A : " aku di bla bla bla."

Lalu saat A dan B sama sama hanya memiliki kemampuan komprehensif, maka pembicaraan hanya sebatas tanya jawab saja, tanpa relasi mendalam (apalagi jika tujuannya mengobrol adalah untuk bonding, maka bonding tersebut tidak akan terjadi - terbayang dalam benak saya kalau Keona kelak pacaran dan hanya punya kemampuan komprehensi, ya kira-kira percakapan dengan pacarnya hanya seputar tanya jawab "uda makan belom?" :D - membagongkan kalau istilah anak muda jaman sekarang).

picture from here

Belum cukup di situ, saat diskusi saya juga mencatat skill penting yang sama pentingnya selain pengetahuan itu. Sepanjang diskusi hari ini, saya merenungkan tentang mengapa Tuhan menciptakan lebih banyak telinga daripada mulut - terutama saat saya "curhat" tentang kesulitan saya menjalin komunikasi dengan orang yang memiliki interest  yang berbeda dari saya. Saya cenderung menghindari obrolan yang "menurut saya" hanya bersifat "ngomongin orang" - lebih baik tidak ikut-ikut lah. Namun diskusi tadi mencerahkan :)). Dalam sebuah obrolan, penting bagi kita menentukan tujuan obrolan tersebut, maka jika tujuannya adalah untuk menjalin relasi yang baik, tidak ada salahnya jika kita tetap memberikan telinga untuk mendengarkan meskipun obrolan tersebut terasa tidak nyaman. Di situ saya merenung "oh iya bener ding, makanya Tuhan kasih 2 telinga satu mulut karena supaya manusia bisa lebih banyak mendengarkan daripada bicara - hal yang kadang orang-orang ekstrovert macam saya lupakan saat mengobrol dengan orang lain. 

Maka, menyeimbangkan seluruh organ saat mengobrolpun juga bisa menjadi hal yang esensial.

Jangan hanya mau didengar, tapi coba mendengarkan.


lagi-lagi tertampar, tertohok, dan tertusuk, terima kasih diskusinya kawan-kawan



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...